<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4523739979911660558</id><updated>2011-08-10T06:57:51.138-07:00</updated><category term='kisah cerita'/><category term='tentang...'/><category term='harapan'/><category term='bunda'/><category term='islami'/><category term='kisah cinta'/><title type='text'>hanya Cerita</title><subtitle type='html'>Sebuah anugerah terindah dari inspirasi-inspirasi yang tercipta hingga terucap kata-kata dari lubuk hati yang paling dalam</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4523739979911660558/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>my love</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03585437615001367745</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1UvEn9BN05M/Smle78z0p2I/AAAAAAAAAPk/-R5VUz4OxWs/S220/Foto091.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>20</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4523739979911660558.post-4598226499373935887</id><published>2009-07-13T05:40:00.000-07:00</published><updated>2009-07-13T06:13:16.934-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah cerita'/><title type='text'>GIVES THANKS TO ALLAH</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namaku Jimmy. Aku lahir di Surabaya keturunan Tionghoa. Terlahir dalam keadaan kafir sejak lahir hingga aku berusia 16 tahun. Saat beranjak 17 tahun aku mulai mencari jati diriku. Aku bagitu bimbang dengan agama yang ku anut. Tak mengerti apa yang sedang aku rasakan. Saat ku tanyakan kepada seorang pastur di Gereja dimana tempat aku memuja kepercayaanku. Beliau menjawab, cobalah untuk berpindah agama, usiaku adalah usia emas, usia dimana aku mulai mencari diriku sendiri. Ya, aku merasa berhak untuk itu. Setelah semua agama aku pelajari, tak satupun agama yang ajarannya membuatku hilang dari kebimbangan. dan saat aku berpindah antara agama satu ke agama yang lain, kuceritakan masalah kebimbanganku dalam menjalani kehidupan. Semua menjawab dengan jawaban yang tak jauh berbeda, menyuruhku untuk masuk Islam. Sedangkan kedua orang tuaku tak menyetujui hal itu. Bilapun aku mempelajari Islam, mereka tak akan menganggapku lagi sebagai keluarga, dan mencoretku dari garis ahli warisnya. Aku anak pertama dari dua bersaudara. Adikku masih berumur 7 tahun. Dia masih belum tau apa-apa mengenai hal ini.&lt;br /&gt;Mulai ku pelajari agama Islam secara diam-diam. Bahkan Ayah dan Ibuku pun tak tahu aku mulai mempelajarinya. Setiap hari kesekolah sendirian dalam perpustakaan. Banyak disitu buku-buku yang menjelek-jelekkan Islam. Dan aku mulai penasaran.&lt;br /&gt;Hari demi hari ku lalui. Setiap buku-buku novel hingga pelajaran-pelajaran tentang setiap perilaku dalam Islam yang ku baca aku mulai sadar, kenapa semua pemimpin setiap agama menyarankanku masuk Islam. Ilmu dalam Islam begitu menyeluruh. Anehnya, mereka yan lebih tau, kenapa mereka masih menganut agamanya?&lt;br /&gt;Surabaya, 25 September. Hari ulang tahunku. Hari dimana aku memulai umurku yang bertambah. Genap 18 tahun. Saat itu pukul 17.35 WIB. Aku berada di sebuah masjid klenteng bersama seorang guru, dan orang Islam menyebutnya Ustadz. Dihadapannya ku ceritakan pengalaman hidupku. Dia hanya tersenyum dengan kelembutan hatinya. Kudengar dan kulirik pula seorang yang kira-kira seumuran denganku, sedang membaca kitab sucinya, yakni Al-Qur’an. Begitu indah. Mungkin memang aku tak bisa mengartikan apa yang sedang dia baca, tapi aku merasa, bahwa didalam kata-katanya yang tersebut didalam Al-Qur’an tersimpan makna yang begitu mendalam.&lt;br /&gt;Ku ucapkan “Asyhadu’alla ila ha illallah wa asy hadu’anna muhammadarrasulullah” di depan Ustadz Ali Mudzakkir. Beliau menyaksikan dua kalimat syahadatku. Kini aku memeluk agama Islam. Dan beliau mulai mengajariku membaca Al-Qur’an.&lt;br /&gt;Dua bulan aku menyembunyikan jati diriku di hadapan orang tuaku. Aku menunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya pada mereka.&lt;br /&gt;Kulipat sajadahku sembari diriku sholat dhuhur.&lt;br /&gt;“Jimmy...!!”, Ibuku membuka pintu kamarku perlahan, “waktunya mak... an...”, Ia terkejut melihatku melipat sejadah. “Apa yang telah kau lakukan?”&lt;br /&gt;Aku bingung. Gagap. Panik. “i... ini....ini...”&lt;br /&gt;“Kau sedang melakukan apa?”, ibuku mulai curiga. Ia melihat sekelilingku. Melihat ruangan tempat dimana aku melaksanakan sholat di setiap hariku.&lt;br /&gt;“Tidak... aku tidak melakukan apa-apa...”, aku menjawab dengan panik seraya berpikir,’Ya Allah... Ampuni aku... Aku berbohong pada kedua orang tuaku...’&lt;br /&gt;Di tariknya sajadah dari tanganku. “Pa-pa....!!!!”, teriak Ibuku memanggil Ayah.&lt;br /&gt;Aku hanya bisa terdiam.&lt;br /&gt;Ayah menuju kamarku. Ia melihat Ibu sedang menggenggam sajadahku. Dengan wajah seram, Ayah menggeledah seluruh isi kamarku.&lt;br /&gt;Aku menepi ketakutan. Tubuhku gemetaran. Yang ada dalam fikiranku saat ini hanya berdzikir menyebut nama Allah. ‘Ya Allah... berikan hambamu ini kekuatan dan perlindungan...’, kulihat raut wajah Ayah benar-benar menggambarkan raut wajah yang membara, beliau benar-benar marah.&lt;br /&gt;“APA INI????”, di pegangnya sebuah buku yang berukuran kecil. Itu adalah Mus’haf Al-Qur’anku. Kemudian Beliau membuka isi dari buku itu. “SEJAK KAPAN KAMU BELAJAR KITAB INI????”.&lt;br /&gt;Aku tak mampu berkata. Kini aku benar-benar bingung. Apa yang harus aku katakan. Yang ku rasakan saat ini adalah ketakutan.&lt;br /&gt;Tanganku di genggam dengan erat. Aku di seret menuju gudang. Tanganku diikat dengan kencang pada sebuah tiang kayu yang berukuran lumaan besar. Semuanya terasa gelap. Yang ada hanya sinar kecil dari celah genting atap yan terbuat dari kaca. Aku menggigit gigiku sendiri. Menggeram. Menahan sakit. Ayahku memukuliku dengan cambuk tua yang telah lama disimpan di gudang. “ALLAH... ALLAH... ALLAH...”, Kuteriakkan dengan menahan sakit.&lt;br /&gt;“SEJAK KAPAN KAMU MASUK ISLAM?”, Beliau mencambukku dengan isak tangis yang mendalam. Antara tega dan tidak memukuliku. “SEJAK KAPAN ANAKKU MASUK ISLAM??? JAWAB ANAKKU...!!!!”, Beliau menangis.&lt;br /&gt;Sedangkan aku tak menjawab. Aku masih bingung. Haruskah ku beri tahu mereka? Tapi...&lt;br /&gt;“ANAKKU...!!! JAWAB!!!! SEJAK KAPAN KAU MASUK ISLAM??? BUKANKAH KAU TAHU APA AKIBATNYA BILA MEMBANTAH AYAH???!!!”, Ayah masih mencambukku sambil bercucuran air mata.&lt;br /&gt;Saat inilah perjuanganku mempertahankan kepercayaanku, yang selama ini membuatku merasakan betapa bahagianya aku dengan Islam. Serasa damai. Aku teringan akan cerita Ustadz Ali. Beliau menceritakan tentang perjuangan para mujahid terdahulu mempertahankana Islam. Bilal, salah satunya. Ia adalah seorang budak dari orang yang kafir. Akan tetapi kemudian memeluk Islam dan disiksa mati-matian oleh orang-orang kafir, dimana ia didadanya terapat batu yang sangat besar menindihnya di bawah terik matahari yang begitu menyengat tubuhnya. Ia memperjuangkan agamanya hingga rela mati, sebab ia tahu bahwa berperang di jalan Allah SWT adalah jalan menuju Surga. Aku percaya akan hal itu. Aku harus bisa memperjuangkan Islam. Biar bagaimanapun caranya. Dan aku yakin Allah selalu bersamaku dan melindungiku.&lt;br /&gt;“ANAKKU...!!!! KENAPA KAU HANYA DIAM??? JAWAB PERTANYAAN AYAHMU!!!! SEJAK KAPAN KAMU MASUK ISLAM???”, Ia masih bercucuran air mata dan tidak ada hentinya mencambuk punggungku hingga memerah dan berdarah.&lt;br /&gt;Dan mungkin saat inilah aku harus mengucapkan kejujuranku padanya.&lt;br /&gt;“JAWAB ANAKKU!!!”, Beliau masih menagis. Cambuknya terus dan terus mendarat di tubuhku yang mulai melemah. Aku tak bisa lagi menahan sakit, perih dan panasnya cambukan ayahku.&lt;br /&gt;“Iya Ayahku... aku akan menjawab pertanyaan Ayah...”&lt;br /&gt;Ayah menghentikan cambukannya. “sejak kapan kamu masuk Islam Anakku...???”, Dia bertanya pelan seraya menangis melihatku penuh dengan luka di tubuhku karenanya.&lt;br /&gt;Sambil ku usap air mataku dan menahan betapa perihnya luka-luka yang memar di tubuhku, “se... jak... hari... ulang... tahunku...”, aku menutup dan mengerutkan mataku menahan sakit, “yang... ke... de... la...pan...belas... ke...marin...”. dengan gagap ku ucapkan perlahan seraya menahan sakitku. Aku menangis tak tertahankan. Betapa besarnya dosaku membohongi kedua orang tuaku. Aku benar-benar menyesal, seharusnya sejak awal aku jujur kepada mereka.&lt;br /&gt;Ayahku terkejut. Beliau mulai mencambukku kembali. Semakin keras. Berkali-kali mencambukku. “KENAPA KAU MASUK ISLAM ANAKKU... KEMBALILAH BERSAMA KELUARGAMU... KEMBALILAH PADA AGAMAMU YANG DULU...!!!”, Ayah terus menerus mencambukku meskipun dengan menangis.&lt;br /&gt;‘Duk... duk... duk...’, tederdengar dari pintu sedang di pukul-pukul oleh adikku. Seraya menangis, ia mengucapkan,”Ayah.... udah yah... kasihan kakak... dia kesakitan Yah... kasihan kakak...”&lt;br /&gt;Ayahku tak kuasa menahan tangisnya. Beliau menghentikan cambukannya. Dihempaskannya kelantai cambuk dari tangannya. Dilihatnya darah tak henti bercucuran dari tubuhku. Ia berjalan keluar, membukakan pintu untuk adikku. Di peluknya tubuh kecilnya dengan erat seraya membisikkan di telinga kecil Anji, ‘maafkan ayah terhadap kakakmu...’, beliau masih menagis.&lt;br /&gt;Anji kecil pun tak henti menangis. Ayah melepas pelukannya. Anji berlari menuju tempatku diikat. Tak tega melihat tubuhku penuh dengan luka. Ia melepaskan ikatan tali yang mengikat di tanganku. Dia memelik tubuhku. Kubalas pelukannya. Dengan lemas aku mencoba untuk berdiri.&lt;br /&gt;Ibu masuk ke ruangan. Ia menarik tangan Anji kecil keluar gudang. Anji mencoba untuk tidak melepas genggamannya untukku. Ia masih kecil. Menangis.&lt;br /&gt;Tubuhku lebam. Darah tak henti bercucuran. Mataku mulai terasa perih. Semuanya menjadi gelap. Aku tak berdaya dengan semua yang ku rasakan kini. Tubuh memerah. Darah. Lebam. Dan aku mulai tak saarkan diri. Semuanya menjadi gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan ku coba membuka mataku. Entah berapa lama aku tertidur tak sadarkan diri. Berapa jam sholat yang tak ku kerjakan. Tubuhku terasa berat ku gerakkan. “Ya Allah... beriku kekuatan...”, kugerakkan tubuhku. Aku mencoba berdiri. Aku berjalan menuju kamarku.&lt;br /&gt;“Baju-bajumu sudah kami kemasi!”, Ayah memandangku seakan aku bukan lagi anaknya, “pergi dan jangan kembali lagi selama kamu masih belum mengubah pemikiranmu untuk masuk Islam! Anggap kami tak pernah ada dalam kehidupanmu...”.&lt;br /&gt;Aku hanya terdiam. Aku berjalan pelan menuju kamarku.&lt;br /&gt;Kulepas pakaianku yang penuh dengan robekan dan bekas darah yang mengering. Ku lihat sejenak mus’haf Al-Qur’anku. Ku pegang dan ku cium. ‘Allah lindungilah aku...’.&lt;br /&gt;Ku ambil air wudhu dari kamar mandi di kamarku. Ku basuh semua lukaku. Masih terasa perih. Sakit. Saat ini waktunya shalat dhuhur. Pintu ku biarkan terbuka. Toh biarpun mereka melihatku, tak mengapa. Mereka sudah tau aku masuk Islam. Aku seorang Muallaf.&lt;br /&gt;Setelah shalat, aku berpamitan kepada kedua orang tuaku. Tapi tak di hiraukannya. Aku keluar rumah. Berat. “Aku tak akan melupakan ayah dan ibu, aku akan selalu merindukan ayah an ibu... Semoga Allah selalu menyertai kalian...”.&lt;br /&gt;Mereka hanya diam.&lt;br /&gt;Kulangkahkan kakiku menuju pintu depan.&lt;br /&gt;Anji berlari menghampiriku dari dalam rumah.”Kakak...!!!”, teriaknya.&lt;br /&gt;“Anji??...”, kuhentikan langkahku dan ku peluk erat tubuh kecil adikku, “ada apa adikku?”.&lt;br /&gt;“ini untuk kakak...”, ia memberiku mainan dinosaurusnya, “janan lupakan kami ya kak?! kakak sehat ya...!!!”. ia tersenyum.&lt;br /&gt;“ya... kakak ngga akan pernah melupakan adik”, kupeluk erat kembali tubuhnya, “kakak sayang sama adik”.&lt;br /&gt;Tergambar raut wajah yang menyimpan kesedihan. Tapi ia berusaha menutupinya dengan senyuman yang di paksakan.&lt;br /&gt;“Adik baik-baik di rumah ya...!!”&lt;br /&gt;“Ya kak...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulajukan mobilku dengan tanpa tujuan.&lt;br /&gt;Berhari-hari aku mencari tempat untuk tinggal. Dan saat itu pulalah aku mulai memperdalam ilmuku mengenai ajaran Islam. Berguru pada imam-imam di masjid-masjid besar. Hingga suatu saat aku berhenti di pondok pesantren Al-Islam. Aku mengikuti pengajaran hanya selama 2 tahun. Setelah itu aku di tugaskan mencari tempat yang tak pernah disentuh dengan ajaran Islam di daerah terpencil. Daerah pelosok.&lt;br /&gt;Masih banyak pelajaran yang harus aku dapatkan. Terus aku mencari. Di tanah Indonesia banyak tempat-tempat yang mengajarkan agama Islam. Tpi banyak pula yang belum mendapatkan pelajaran tentang Islam.&lt;br /&gt;Seminggu aku mencari pedesaan yang terpencil. Daerah Kabupaten Kediri. Kecamatan Sumber Agung.&lt;br /&gt;Di tengah-tengah hutan yang terpencil. Ku lewati sebuah kuburan kecil yang memang di buat untuk masyarakat kampung setempat. Aku berjalan kaki, sebab mobilku tak bisa melewati jalan setapak yang berukuran kecil. Hanya motor dan sepeda yan bisa melaluinya. Aku berjalan berharap ada motor yang mau memberiku tumpangan menuju perkampungan tersebut.&lt;br /&gt;Jam tangan menunjukkan waktu shalat Maghrib. Akhirnya aku sampai di perkampungan tersebut. Tapi sepi. Bahkan tak ada suara adzan yang di lantunkan sebagai panggilan untuk menjalankan shalat.&lt;br /&gt;Ku ketuk pintu di salah satu rumah. “Assalamu’alaikum...”, hingga tiga kali ku ucapkan salam. Akhirnya dibukalah pintu rumah seseorang tersebut.&lt;br /&gt;“Wa’alaikum salam...”, jawabnya, seorang lelaki yang kira-kira berumur 40 tahun ke atas. “Sopo yo? Nggoleki sopo?”&lt;br /&gt;“Mboten... namung bade tangled, ten mriki musholla ten pundi nggeh?”, sambil tersenyum aku menanyakan.&lt;br /&gt;“oh... yo, sampean mlaku lurus teros.... nek wes ketemu pertelon, menggo’o ngiri titik, yo wes nak kono engko onok musholla...”.&lt;br /&gt;“nggeh... matur nuwun mbah...”, aku sekalian berpamitan.&lt;br /&gt;“Yo...”&lt;br /&gt;Aku mulai berjalan menuju ke tempat tersebut.&lt;br /&gt;Ku lihat tulisan Masjid Ar-Rahman paa sebuah papan nama tua yang sepertinya telah lama rusak tak terawat. Tek jauh kulihat pula sebuah taman dengan alang-alang yang tinggi. Di sana kumelihat sebuah bangunan yang berukuran lumayan besar. Itulah masjidnya. Penuh dengan tumbuhan rambat. Bangunan tua. Benalu-benalu pada setiap diningnya. Lumut di setiap sudut-sudut dinding. Bangunan ini benar-benar tak terawat. Penuh dengan tanaman rambat yang tak beraturan.&lt;br /&gt;Ku bersihkan sedikit wilayah yang aku pakai untuk sholat.&lt;br /&gt;Masjid ini benar-benar menyedihkan. Tak berpenghuni. Entah apa yang sedang terjadi di masjid ini. Benar-benar tak terawat. Kulangsungkan sholat maghribku dan ku sambung dengan isya’. Setelah itu, aku menuju rumah kepala desa. Kutanyakan mengapa masjid di sini tak terawat lagi. Tapi Ia bilang, semenjak wafatnya Ustadz Abu, sang ulama yang membangun masjid itu di kampung ini, masyarakat tidak mau melaksanakan ibadah lagi.&lt;br /&gt;“Kenapa begitu pak?”, tanyaku penasaran.&lt;br /&gt;“Ya... karena setelah wafatnya beliau, tak ada lagi yang mau mengajarkan agama lagi di kampung ini”, Pak Sardi menjelaskan, “sebab itulah masyarakat mulai malas melaksanakan ibadah, tidak ada lagi yang mau jadi imam dan guru ngaji di masjid itu”.&lt;br /&gt;“Tapi, kenapa mereka tidak merawat masjid itu?”, aku semakin penasaran.&lt;br /&gt;“Itulah masalahnya nak, disini mulai tidak mau merawat masjid itu karena percuma tidak ada ang mau lagi menjadi imam di masjid itu”.&lt;br /&gt;“Mmmm... Kalau boleh tau, saat bapak dan masyarakat yang lain mencari Ustadz atau imam, apa alasannya kenapa mereka tidak mau menjadi Ustadz dan imam di sini?”&lt;br /&gt;“Kebanyakan alasannya itu, karena disini adalah tempat terpencil. Jauh dari fasilitas apapun...”, wajahnya begitu resah melihat keadaan masyarakatnya yang semakin jauh dari Agama.&lt;br /&gt;Aku terdiam sejenak. Raut wajahnya juga membut aku ikut dalam keresahannya. Benar-benar memilukan. Pantas saja kampung ini begitu sepi.&lt;br /&gt;“Mmmm... begini pak, apa boleh saya menempati masjid itu?”, ku coba untuk meminta izin dengan gemetar.&lt;br /&gt;“Oh... boleh... Saya malah senang kalau ada yang menempati masjid itu”, Ia terdiam sejenak, “tapi masalahnya...”&lt;br /&gt;“Kenapa pak?”.&lt;br /&gt;“Tempatnya kan kotor, apa kamu sanggup membersihkannya?”.&lt;br /&gt;“Ohhh.... Kalau itu bukan masalah pak”.&lt;br /&gt;Pak Sardi tersenyum.&lt;br /&gt;Tiiiiit...tiiiiit.... tiiiiiiit....&lt;br /&gt;Suara HandPhoneku bunyi. “maaf pak, saya angkat telfon dulu...”, ku pasang wajah senangku, “ya halo?”&lt;br /&gt;“Kakak?”, suara mungil yang tidak asing bagiku.&lt;br /&gt;“Adek?”, aku terkejut.&lt;br /&gt;“Iya kak, ini adek...”&lt;br /&gt;“Beneran ini adek?”&lt;br /&gt;“Iya kak...”&lt;br /&gt;“Adek kok berani telfon kakak?”&lt;br /&gt;“Ya, Ayah sama Ibu lagi keluar... Adek di rumah sendirian, kesepian kak.”&lt;br /&gt;“Mmmm... Adek gimana kabar?”&lt;br /&gt;“Baik kak...”&lt;br /&gt;“Adek sebentar ya?”&lt;br /&gt;Aku berpamitan kepada bapak kepala desa. “makasih ya pak, permisi, Assalamu’alaikum...”, aku tersenyum.&lt;br /&gt;“Ya dek... sama-sama... Wa’alaikumsalam...”, beliau membalasku dengan senyuman pula.&lt;br /&gt;Aku keluar dari rumahnya sambil mengankat telfonku.&lt;br /&gt;Ku ceritakan semua pengalamanku selama aku keluar dari rumah. Semuanya. Yang kufikirkan saat aku keluar dari rumah hanyalah keselamatan keluarga, yakni, Ayah, Ibu, dan Adikku. Aku takut jika mereka tidak di selamatkan oleh pertolongan Allah. Sebab mata mereka tertutup akan keyakinan yang bohong. Kenyataan yang begitu pahit. Hanya kedustaan yang dan kebohongan yang terlukis di setiap kehidupan. Memilukan. Aku benar-benar takut akan neraka yang menjadi tempat kembali. Memang sih, semua agama menyatakan bahwa dengan keyakinan mereka, mereka akan selamat dari siksa neraka. Tapi tidak di jelaskan kesalahan apa saja yang dapat menjerumuskan mereka dalam neraka. Islam tidak. Islam menjelaskan keseluruhan dalam menjalankan kehidupan di dunia. Pemikirannya bukan hanya mengenai dunia, tapi hingga akhirat pun di jelaskan dalam kitab sucinya pun diceritakan semuanya. Bukan bohongan. Kitab yang mulai dari zaman nabi Muhammad saw. hingga kini tak pernah berubah, sebab kitab Al-Qur’an ini memang benar-benar diturunkan oleh Allah SWT kepada umatnya. Sedangkan kitab yang pernah ku pelajari sebelum aku masuk Islam, hanya buatan manusia. Setiap tahunnya direvisi atau untuk di daur ulang dan di perbarui. Kuceritakan semuanya kepada adikku. Dan tak lupa ku beri alamat dimana aku tinggal saat ini.&lt;br /&gt;“Mmmm... O iya, kak aku punya Hpe sekarang, jadi kalau mau tanya kabar ayah sama ibu, telfon langsung saja ke nomorku...”&lt;br /&gt;“O ya? Berapa nomornya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku bersihkan seluruh isi masjid, perlahan, hingga dua hari ku bersihkan seluruhnya. Ternyata ada beberapa orang masyarakat di kampung tidak secuek yang pernah ku fikirkan. Mereka mau membantuku.&lt;br /&gt;Waktu itu dhuhur. Kulantunkan adzan sekeras mungkin.&lt;br /&gt;Masyarakat sebagian senang akan adanya pengurus kembali di Masjid, di sisi lain ada yang terkejut.&lt;br /&gt;Meskipun begitu, ma’mum yang datang hanya lima orang. Mungkin mereka masih terbuasa an senang dengan kebiasaannya yang telah lama tidak menjalankan ibadah. Aku dan jema’ah yang lain mencoba untuk sabar.&lt;br /&gt;Setelah kita leksanakan shalat, kita mengadakan tadarus Al-Qur’an.&lt;br /&gt;Dua bulan berlalu, jema’ah hanya bertambah tiga orang. Kini hanya menjadi delapan. Setelah rapat sebentar, akhirnya terfikirkan dalam benak Udin, pemuda yang getol dalam belajar agama, “gimana kalau kita buat dari perkumpulan ini menjadi Remas?”.&lt;br /&gt;“Maksud kamu apa Din?”, yanya Angga salah seorang pemuda dari tiga pemuda.&lt;br /&gt;“Ya kita buat Remas, Remaja Masjid...”&lt;br /&gt;“Wah boleh itu... “, sahut pak Sardi sang kepala desa.&lt;br /&gt;Akhirnya dari delapan orang kita membuat organisasi kemasyarakatan dan keagamaan, yakni, Remas atau remaja masjid. Kita berencana mengadakan pengajian akbar, untuk kampung dan beradiah. Di jamin gratis.&lt;br /&gt;Mungkin memang langkah awal, untuk menarik perhatian masyarakat. Kita gunakan hadiah untuk menarik perhatian mereka. Ku kabari Ponpes Al-Islam, tempat dimana aku belajar agama. Mereka bersedia membantu, asal untuk dakwah Islam, apa salahnya?&lt;br /&gt;Alhamdulillah, sangat memuaskan meskipin tubuh benar-benar lelah. Begitu indah bila segalanya berjalan dengan lancar.&lt;br /&gt;Beberapa bulan kemudian, jema’ah semakin bertambah. Dan para pemuda pun semakin banyak yang ikut serta dalam organisasi Remas Ar-Rahman. Berbagai macam kesenian Islam di ajarkan di sana. Dan mendapat pengajian intensif  yang bertujuan betapa pentingnya ajaran Agama Islam dalam kehidupan mereka. Meskipun di tinggal sang Ustadz selamanya, mereka dilatih agar tidak berhenti dalam memperjuangkan Agamanya. Bahkan pembangunan jalan pintas dari jalan raya menuju pedesaan pun kini telah di perbaiki dan di perlebar, sehingga mobil bisa masuk. Semenjak berjalannya kembali Remas, banyak pembangunan-pembangunan yang di perbarui.&lt;br /&gt;Satu bulan berlalu. Udin menemukan ruang rahasia di dalam kamarku di masjid. Dia menanyakan padaku kamar apa ini? Aku pun baru tau kalau ada kamar rahasia di kamarku. Seluruh anak Remas menyelidiki. Setelah membongkar-bongkar ruang rahasia tersebut, akhirnya kami menyimpulkan bahwa tempat itu adalah tempat dimana Ustadz Abu merenung dan ber do’a. Di situ ditemukan selembar surat yang tulisannya menggunakan huruf arab pego:&lt;br /&gt;“engkau tunggu hingga pertengahan malam. Dimana saat kau melaksanakan tahajjut. Aku tak akan membiarkanmu menjaga mereka alam agama keyakinanmu. Dan aku tak mempercayaimu dan aku tidak mempercayai agama apapun. Semua agama hanyalah kepalsuan. Kebohongan. Semua agama adalah hal yang munafik dan dusta.”.&lt;br /&gt;Isi surat yang singkat ini membuat kami semua bergetar.&lt;br /&gt;Kutanyakan kepada Pak Sardi, bagaimana keadaan Ustadz Abu saat meninggal. Tapi mereka menjawab, penyebabnya tidak di ketahui. Saat meninggal, matanya memutih, tubuhnya kaku, tak dapat di gerakkan.&lt;br /&gt;Kemudian Anton menemukan gelas plastik yang meleleh di dapur masjid.&lt;br /&gt;Semuanya membuktikan bahwa Ustadz Abu meninggal karena dibunuh dengan menggunakan racun yang benar-benar mematikan hingga melelehkan gelas plastik.&lt;br /&gt;Keresahan kembali pada diri-diri kita semua. Setelah sekian lama, tapi mengapa baru terungkap sekarang? Ini membuktikan pula bahwa ada orang yang tidak suka dengan penyebaran agama Islam dan agama yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tok... tok... tok...&lt;br /&gt;Terdengar suara ketukan pintu dari luar rumah Pak Sardi. Kami berkumpul untuk membicarakan masalah pembunuhan atas Ustadz Abu.&lt;br /&gt;“Assalamu’alaikum...”, terdengar suara halus lembut dari luar.&lt;br /&gt;“Wa’alaikumsalam...”, jawab bu sardi, “Sebentar...”&lt;br /&gt;“Wa’alaikumsalam...”, kami ikut serta alam menjawab salam orang dari luar.&lt;br /&gt;Di bukanya pintu oleh Bu Sardi, “Ehhh... anak manis sudah pulang...”&lt;br /&gt;Seorang wanita dengan gaun yang benar-benar mencerminkan bahwa dia seorang Muslimah. Senyumannya terlantun dari bibirnya. Wajahnya begitu bersinar. Bercahaya. Subhanallah... Ciptaan Allah yang benar-benmar sempurna.&lt;br /&gt;“Bapak... Nining pulang...”, teriak Bu Sardi kegirangan melihat putri semata wayangnya pulang dari Malang untuk menjalankan pendidikan kuliah.&lt;br /&gt;Keluarga yang bahagia. Aku jadi merindukan ayah, ibu dan adikku. Begitu senangnya saat aku pulang disambut gembira oleh seluruh keluarga. Aku dan teman-teman yang lain hanya diam melihat kebahagiaan mereka.&lt;br /&gt;“Wonten nopo niki buk? Kok rameh ngeten?”, tanya Nining sambil tersenyum senang.&lt;br /&gt;“Iki... ono rapat arek-arek Remas”, Busardi begitu senang.&lt;br /&gt;“Oalah... sak niki pun wonten Remase?”, Ia kebingungan, “terakhir kulo ten mriki kan dereng wonten seng purun ngajar ngaji ten mriki maleh?”.&lt;br /&gt;“Iyo... iku biyen... tapi sajake enek Mas Jimmy...”, Bu Sardi menunjuk ke arahku, “... kabeh akhire gelem ngurusi masjid maneh...”&lt;br /&gt;Ia tersenyum kepadaku.&lt;br /&gt;Ku sambut pula senyumannya. Subhanallah... Sungguh agung kuasamu. Beriku kekuatan untuk menjaga martabatku ini. Dalam hati ku fikirkan.&lt;br /&gt;Hingga akhirna kita melanjutkan membahas masalah kematian Ustadz Abu. Jadi benar ini memang adalah suatu siasat pembunuhan. Tapi siapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian.&lt;br /&gt;“Mas... Mbak.. ini ada makanan... silahkan...”, Nining memberikan beberapa jenis makanan saat rapat berlangsung.&lt;br /&gt;“Oo... iya... makasih ya... Jazakallahukhoiran...”&lt;br /&gt;“Amin...”.&lt;br /&gt;Ku lihat keluar ruang pertemuan, ada seorang yang tua, ia sedang memperhatikan setiap perilaku kita. Mulai pertama kali kita membuat Organisasi Remas, aku sering melihat orang itu selalu memperhatikan dengan wajah seram.&lt;br /&gt;Saat ku tanakan kepada Jefry siapa orang itu sebenarnya, ia menjelaskan semua tentang orang itu. Dulu adalah seorang penjaga Masjid sekaligus pembantu setianya Ustadz Abu. Tapi entah kenapa saat pemakaman Ustadz Abu pun, ia sama sekali tak terlihat. Mungkin karena terlalu sedih hingga tak sanggup menyaksikan pemakaman. Aku mulai ingin mencari tau. Apa yang sedang terjadi sebenarnya.&lt;br /&gt;Tak lama kemudian. Pak Sardi mengajak orang itu ikut dalam kepengurusan Remas. Ia sebagai pengawas.&lt;br /&gt;Semakin mudah untuk aku menyelidiki orang itu. Bukannya su’udhon, tapi aku merasakansuatu yang mengganjal. Tapi bukan hanya aku saja yang punya prasangka seperti itu. Yang lainnya pun demikian. Sebab itulah Pak Sardi mengajak orang itu masuk dalam kepengawasan Remas. Namanya Pak Darsono. Kecurigaan ini bukan karena tak beralasan.&lt;br /&gt;Akhirnya kita mulai rencana penyelidikan kepada Pak Darsono. Setiap hari selalu kami menyinggung masalah kematian Ustadz Abu. Dan Ia selalu hanya memilih untuk terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Halo... kakak...!!!”, terdengar dari sebrang telpon.&lt;br /&gt;“Ya.. adik.. ada apa?”, tanyaku tersenyum lebar.&lt;br /&gt;“Adik kangen...”&lt;br /&gt;“Ya sama... gimana keadaan Ayah sama Ibu?”&lt;br /&gt;“Baik... “&lt;br /&gt;“Kamu lagi dimana?”&lt;br /&gt;“Lagi dijalan kak...”&lt;br /&gt;“Pantesan suaranya ramai banget”.&lt;br /&gt;“Iya... Kak...”&lt;br /&gt;“Ya??”&lt;br /&gt;“KAKAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAKKKK.........AAAAAAAAAAAAAGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHH...........!!!!!!!!”&lt;br /&gt;“Adek... Adek ngga apa-apa kan????”, Aku mulai panik.&lt;br /&gt;Terdengar dari sebrang telponku suara tabrakan. Apa yang sedang terjadi pada adikku? Ya Allah lindungilah dia... . Pikirku. Tiba-tiba terputus...&lt;br /&gt;Entah apa yang sedang terjadi. Berhari-hari aku memikirkan. Aku terduduk sendiri didepan pintu masuk masjid.&lt;br /&gt;“Assalamu’alaikum...”, Suara lembut menyapaku.&lt;br /&gt;“Wa’alaikumsalam...”, Jawabku, ku toleh ke arah suara itu, “Astaghfirullah...”.&lt;br /&gt;“...”, Ia terkejut pula, “Afwan Ya Akhi...?”&lt;br /&gt;“La... ngga apa kok....”, aku gugup, “Jarak... hehehe...”.&lt;br /&gt;“Ya.. Ana tau”, Ia duduk dua meter di sebelah kananku, “Afwan... Kenapa Antum sendirian disini?”&lt;br /&gt;“Ana sedang memikirkan Adikku...”.&lt;br /&gt;“Pasti ngga cuma itu saja kan?”&lt;br /&gt;Aku hanya tersenyum.&lt;br /&gt;“Afwan, bukannya ana ikut campur, tapi masalah dihadapi jangan hanya cuma dengan terdiam saja, tapi dengan aplikasi yang pasti. Dengan perbuatan yang tepat, perlahan, sabar”.&lt;br /&gt;Aku terdiam.&lt;br /&gt;“...”, Ia menatapku sejenak, “Afwan kalau ngganggu...”, Ia memalingkan wajah. Ia beranjak menjauh.&lt;br /&gt;“Ukhti...”, panggilku, “Jazakallahukhoiron...”.&lt;br /&gt;Ia kembali menatapku dengan tersenyum, “Amin...”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya.&lt;br /&gt;Sebuah mobil menuju ke masjid Ar-Rahman. Berhenti. Kedua pintu depan terbuka. Di pintu sebelah kanan, seorang lelaki tua ang tubuhnya masih sehat, dan di pintu sebelah kiri, seorang wanita dengan mengenakan jilbab putih dan bersih, auratnya benar-benar tertutup. Wajah yang tidak asing. Sepertinya aku mengenal mereka. Mereka bertanya kepada Udin, menanyakan tentang aku. Aku keluar masjid untuk memastikan siapa yang datang ke masjid saat ini. Subhanallah...&lt;br /&gt;Mereka menangis melihatku.&lt;br /&gt;Aku pun terkejut. Ayah dan Ibu. Ku hampiri mereka. Ku peluk tubuh mereka. Ku teriakkan takbirku kepada Allah SWT. Rasa syukur yang tak bisa dibalas hanya dengan kata-kata. Mereka menjadi Mu’allaf sepertiku. Mereka menceritakan semua mengenai Adikku dan cerita tragisnya. Aku menangis tak tertahankan. Air mata ini tak bisa terhenti keluar dari mataku. Begitu sakit, sedih mendengar semuanya. Semoga Allah selalu melindungi adikku yang kecil. Semoga selalu ada di sisiNya dan dalam perlindunganNya. Aku tak lagi bisa menahan betapa sedihnya kehilangan seorang adik yang benar-benar di sayangi. Ayah dan Ibuku meminta maaf kepadaku. Tapi sesungguhnya meminta maaf bukan padaku, seharusnya meminta maaf dan ampunan hanyalah kepada Allah SWT. Dan mereka sadar bahwa Islam adalah Agama yang pengasih dan penyayang.&lt;br /&gt;Beberapa hari itu aku hanya bisa diam, tak bergairah, murung. Aku menyesal, kenapa saat adikku meninggal, aku tak datang dalam acara pemakamannya. Aku bingung, bimbang. Tapi aku selalu mencoba untuk mengikhlaskan kepergiannya. Hidup hanya sekali. Bila hanya dipakai untuk merenung saja, maka hidup tak akan berarti. Dan aku sadar, setiap orang pasti akan meninggal dan tidak tau kapan Allah akan mencabut nyawa kita. Sebab itulah kita harus berbekal ilmu Agama yang mendalam. Dan Islamlah satu-satunya Agama yang selalu mendapat keridhoan dari Allah SWT. Ayah dan Ibuku pun kini sadar. Mereka telah meyakini Islam sebagai Agama penyelamat bagi mereka. Ya, Agama dari Allah kepada Nabi Muhammad untuk Umat Manusia di seluruh dunia. Jalan yang terang. Allah menciptakan manusia bukan sebagai penghancur dunia, tapi sebagai penjaga dan di serukan untuk selalu menyembah kepadaNya an menjauhi setiap laranganNya. Allah selalu membuka lebar pintu taubat selama belum di hadirkanNya hari kiamat atau hari dimana seluruh jagat raya ini di hancurkan oleh Allah SWT. Sesungguhnya Allah Maha pengampun dan Maha penyayang. Kita sadari bahwa kita semua kelak akan kempbali kepada Allah. Bayi, Anak-anak, Remaja, Dewasa hingga Tua, kita takkan pernah tau kapan kita akan meninggal. Sebab itulah perlu persiapan diri sebagai uang saku dalam menjalankan setiap amal ibadah yang kita jalani atau malah kita tak pernah sekalipun beramal sholeh. Dan nerakalah tempat kembali yang tepat bagi mereka yang berdusta kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun berlalu.&lt;br /&gt;Pak Darsono dinyatakan tidak bersalah. Memang dialah yang memberikan minuman terakhir kepada Ustadz Abu, tapi bahkan dia tidak tau bahwa minuman itu telah di beri racun oleh salah seorang ta’mir masjid yang bernama Juki. Dia memang orang yang aneh di setiap tingkah lakunya dalam kesehariannya. Tapi Juki meninggal setelah seminggu kematian Ustadz Abu. Juki meninggal dalam tidurnya dengan tubuh yang tiba-tiba membusuk penuh dengan luka-luka bakar di tubuhnya. Entah kenapa ia tiba-tiba terkena penyakit yang aneh itu dan kemudian dapat membunuhnya. Saat di selidiki kembali di rumah Juki yang kotor dan tak berpenghuni juga jauh dari rumah-rumah tetangga, di temukan buku-buku tulis yang model tulisannya sama persis dengan tulisan pada surat ancaman yang di temukan beberapa bulan yang lalu di kamar rahasia di dalam masjid. Mungkin itu adalah adzab dari Allah. Dan itu pulalah yang menjadi pelajaran bagi kita karena ingkar kepada Allah.&lt;br /&gt;Dan alasan mengapa saat pemakaman Ustadz Abu, Pak Darsono tidak hadir karena Dia memang benar-benar tidak sanggup melihat seorang yang di hormatinya meninggal dengan tidak wajar apa penyebabnya. Ustadz Abu adalah orang yang punya peranan penting di kampung setempat. Dan pembangunan Masjid dan perluasannya pun di galakkan dengan mendapatkan dana pembangunan dari Dinas Pembangunan Kediri dan sumbangan dari Ayahku.&lt;br /&gt;Rasa syukur yang takkan pernah bisa terhenti untuk dan kepada Allah SWT. Dengan kasih sayangNya kepada umatnya, memberikan berjuta anugerah yang terindah dalam setiap kenikmatan yang tak dapat di kembalikan hanya dengan membalikkan tangan. Dan...&lt;br /&gt;TERIMAKASIH ALLAH SUBHANAHUWATA’ALA....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Iskandar-&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4523739979911660558-4598226499373935887?l=cintaku-loveme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/feeds/4598226499373935887/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/2009/07/gives-thanks-to-allah.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4523739979911660558/posts/default/4598226499373935887'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4523739979911660558/posts/default/4598226499373935887'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/2009/07/gives-thanks-to-allah.html' title='GIVES THANKS TO ALLAH'/><author><name>my love</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03585437615001367745</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1UvEn9BN05M/Smle78z0p2I/AAAAAAAAAPk/-R5VUz4OxWs/S220/Foto091.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4523739979911660558.post-3060226666108542486</id><published>2009-04-24T06:58:00.000-07:00</published><updated>2009-04-24T06:59:59.020-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah cerita'/><title type='text'>Istri Sholehah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seminggu sekali sepulang kerja biasanya aku ikut pengajian rutin sampai  menjelang maghrib. waktu itu kita masih membahas bab nikah, dan seperti biasanya  sebelum pengajian itu dimulai, guru kita membaca doa, setelah itu pengajian  dimulai dengan membaca hadist riwayat Tarmidji, yang kemudian beliau  membacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada 3 golongan yang pantas ditolong oleh Allah yaitu :&lt;br /&gt;1.  Pejuang pada jalan Allah terutama jihad melawan kafir&lt;br /&gt;2. Budak yang  membebaskan dirinya sendiri&lt;br /&gt;3. Pernikahan yang bertujuan untuk menjaga  kehormatan dirinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dunia ini laksana perhiasan dan sebaik-baik perhiasan  adalah istri yang sholeha yaitu istri yang selalu menjaga dirinya dan harta  suaminya. Bagi seorang mukmin sesudah bertaqwa pada Allah, tidak ada lagi yang  terbaik selain dari pada istri yang sholeha, yaitu apabila disuruh suaminya dia  taat, dan bila suami melihatnya akan menyenangkan hatinya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah  membaca hadist itu, seperti biasanya guru kita itu langsung bicara dan membahas  apa yang sudah dibacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lihat..nikmatnya punya istri yang sholeha.."  kata guruku sambil senyum-senyum dan kita semua masih duduk  mendengarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Harusnya yang berada di pengajian ini adalah para  laki-laki, jadi sia-sia enggak ya..kita membahas ini..?" kata  beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Enggaklah pak..itu masih ada pak zein yang ikut pengajian ini.."  kataku iseng nyeletuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hehe..iya..ya..hanya pak zein sendiri ya..?"  sadar guruku sambil tersenyum ke arah satu-satunya pria yang ada di majelis itu.  Akhirnya beliau bicara lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Istrimu itu adalah ladang bagimu, maka  datangilah dari arah manapun engkau mau." lanjut beliau sambil tersenyum-senyum  ke arah pak zein sambil menganggukkan kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pak, kalau kita jima  sama istri, itu sedekah ya pak..?" tanya pak zein pada beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh  iya..bila kita berhubungan pada istri maka itu adalah ibadah dan menjadi  sedekah.." terang guruku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hehehe..bapak jangan bilang gitu dong pak!  Kesenengan pak zein tuh. Nanti sedekahnya gituan doang dong..?" Celetukku  seperti biasanya dan membuat majelis sedikit rame karena tawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Coba  bayangkan..bila kita mempunyai istri yang sholeha, bersedia bangun malam untuk  sholat tahajud sama-sama, apalagi bila istri yang membangunkan suami untuk  bangun malam. Nikmat ya, punya istri seperti itu." senyum guruku dan masih  berlanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan istri yang sholeha pada saat ngebangunin suaminya dan  ternyata suaminya marah, pada saat dibangunkan, sang istri itu biasanya sabar  dan patuh pada suaminya walau dimarahin."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pak..ngebangunin suami,  disiram air aja ya pak, kalau enggak mau bangun..?" celetuk seorang teman  wanitaku yang disambut tawa yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hehehe..boleh dengan  memercikan air ke wajah suami/istri atau mengusap mukanya dengan air.." jawab  guruku sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau marah gimana pak..?" celetuh yang lainnya  lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya enggak apa-apakan? sholat sendiri aja, dan kita masih dapat  pahala ngebangunin sholat." kata guruku sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pak..kalau  habis ambil wudhu, bangunin suaminya di cium aja, batal enggak pak?" celetukku  disertai tawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hehehe..iya..di cium aja, gak batal wudhunya. Toh  Rasulullah pernah mencium aisyah setelah berwudhu, dan itu lebih baik, karena  enggak mungkin suami marah pada saat dibangunkan dengan ciuman, kecuali suaminya  'sakit'" jawab guruku sambil tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yeee...kalau dicium mah bisa-bisa  enggak jadi sholat pak. Malah sedekah gituan lagi dong." celetuk salah seorang  temanku lagi yang disambut tertawa oleh semua murid dan sang guru hanya  tersenyum-senym sambil mengangguk-anggukan kepalanya menyaksikan para murid yang  selalu iseng bercanda dalam belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4523739979911660558-3060226666108542486?l=cintaku-loveme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/feeds/3060226666108542486/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/2009/04/istri-sholehah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4523739979911660558/posts/default/3060226666108542486'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4523739979911660558/posts/default/3060226666108542486'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/2009/04/istri-sholehah.html' title='Istri Sholehah'/><author><name>my love</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03585437615001367745</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1UvEn9BN05M/Smle78z0p2I/AAAAAAAAAPk/-R5VUz4OxWs/S220/Foto091.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4523739979911660558.post-1985983126442191051</id><published>2009-03-21T02:20:00.000-07:00</published><updated>2009-03-21T02:24:33.397-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah cerita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah cinta'/><title type='text'>Pernikahan Simulasi</title><content type='html'>”Aku sungguh-sungguh tidak mengerti kenapa orang harus menikah,"  gerutuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan tertawa. "Ibumu menanyakan calonmu lagi?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku  mengangguk cemberut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa jawabanmu kali ini?" godanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tidak  menjawab. Aku langsung meninggalkan ruang makan dan masuk ke kamar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan  terbahak. "Kau kekanak-kanakan," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Habis jawaban apalagi yang  mesti kuberikan, Dan? Aku sudah kehabisan alasan, kehabisan stok bohong. Dan  ibuku malah makin gencar menteror."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan tersenyum . "Kau benar-benar  seperti anak-anak. Kalau kau jadi ibumu, apa kau tidak akan blingsatan kalau  anakmu belum juga menikah pada usia tiga puluh tiga."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku akan sangat  gembira kalau anakku tidak menikah seumur hidupnya," komentarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alis  Idan terangkat. "Kenapa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pernikahan hanya memperumit hidup  perempuan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pernikahan juga membuat hidup laki-laki lebih  sulit."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Persis!" potongku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untuk apa menikah kalau yang kita  dapat hanyakesulitan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mungkin karena kesulitan itu hanya efek  sampingnya, sementara keuntungannya lebih banyak?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sok tahu," cibirku.  "Kau sendiri belum menikah. Apa yang kau tahu tentang keuntungan  menikah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku sudah cukup banyak belajar, Pit. Umurku sendiri sudah tiga  puluh lima, kebanyakan teman-temanku sudah berkeluarga."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi kau tidak!  Akui sajalah. Kau setuju kan kalau hidup sudah cukup pelik tanpa perlu lagi  menikah?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan tersenyum. "Ya, memang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lebih enak hidup seperti  ini. Bebas!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setuju. Tapi ingat, aku bukan sama sekali tidak mau  menikah, lho. Aku hanya masih menunggu calon yang pas."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku menghela  nafas panjang. "Ah, ya. Calon."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu kan sebenarnya alasanmu untuk tidak  juga menikah?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, " gumamku enggan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan karena kau sama  sekali antimenikah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menggeleng. "Jangan bilang siapa-siapa, tapi  kadang-kadang aku kepingin juga digandeng seseorang saat datang ke  pesta."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi kau bisa saja bergandengan dengan salah satu pacarmu  kan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gandengan pacar itu lemah. Gampang putus," komentarku  pahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maksudku, aku mau orang yang sama menggandeng tanganku ke mana  pun aku pergi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa susahnya menggaji orang yang mau menggandeng  tanganmu ke mana-mana? Ini zaman susah. Banyak pengangguran."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Idan!"  kuayunkan tanganku, tapi begitu hapalnya ia dengan reaksiku ia menghindar sambil  tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau sadar kan kalau menikah itu lebih dari sekadar mengontrak  penggandeng tetap?" tanyanya kemudian, lebih serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya. Justru itu. Aku  tidak bisa membayangkan menikah dengan orang yang salah. Kalau saja," aku  terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau saja aku bisa yakin bahwa lelaki itu akan  tetap manis dan baik hati setelah ia berhasil menikahiku. Bagaimana seorang  perempuan bisa tahu kalau lelaki yang merayunya ternyata suami yang payah? Yang  suka memukuli, mencaci maki, menghina; orangnya pelit, cemburuan, suka berbohong  dan berkhianat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pit, laki-laki yang begitu sedikit sekali."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku  menggeleng. "Semua laki-laki binatang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana dengan aku? Aku  laki-laki."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau bukan lelaki, Dan. Kau malaikat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan  terbelalak. Didekapnya dada kirinya dan ia terkulai di kursinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Idan!"  desisku. "Nanti orang-orang memperhatikan kita!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pit, kau sadar kalau  aku belum mati? Aku harus mati dulu sebelum jadi roh dan mengajukan lamaran  menjadi malaikat," dan ia kembali terkulai, mata tertutup, lidah  terjulur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Idan, Idan," desahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau kau memang mau menikah,  berobatlah." Ia tergelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan kau. Kalau kau memang mau menikah,  percayalah setidak-tidaknya pada satu orang saja dari golongan  laki-laki."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tidak bisa, Dan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berarti kau memang tidak bisa  menikah. Tidak mungkin dan tidak akan. Dan kalau kau memaksakan diri, kau akan  merana. Dan kalau kau sengsara kau akan makan makin banyak. Dan kalau kau makan  banyak-banyak kau akan ...?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Idan!" walaupun nada suaraku keras, aku tak  bisa menahan senyum mendengar pernyataan konyol itu. Setelah dua puluh tahun  menjadi sahabatku, ia benar-benar telah memahamiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa kau pernah  berpikir tentang ibumu?" katanya kemudian. Seperti biasa ia bisa menjadi sangat  jenaka dan kemudian serius hanya dalam selang waktu sepersekian detik. "Ia pasti  sangat ingin kau segera mendapat pasangan tetap. Ia akan lebih tenang kalau tahu  kau akhirnya punya seseorang yang akan menemani dan  melindungimu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan bicara begitu," cetusku, kembali  manyun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Satu, ini hidupku, bukan hidup ibuku. Aku sedih kalau ibuku  sedih. Tapi kalau suamiku berkhianat, apa ibuku mau menanggung rasa malu dan  sakit hatiku? Kedua, aku tidak butuh pelindung. Kau tahu aku bisa mengurus  diriku sendiri. Kalau itu yang aku butuhkan, aku bisa menggaji lebih banyak  pembantu, plus bodyguard kalau perlu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baik, baik, Tuan Putri. Hamba  mengaku salah," Idan membungkuk dalam-dalam. "Jadi, dengan asumsi kau tidak sama  sekali menihilkan kemungkinan menikah, apa yang ingin kau capai dengan  itu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tertunduk lemas. "Itulah, Dan," desahku. "Aku tidak tahu.  Apalagi yang aku butuhkan saat ini? Aku punya pekerjaan dengan masa depan yang  lumayan. Jadi menikah untuk alasan ekonomi jelas-jelas bukan pilihan untukku.  Aku punya teman-teman diskusi, sahabat untuk berbagi, jadi kesepian juga bukan  alasan bagiku untuk menikah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana dengan keturunan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anak?  Apa aku harus menikah untuk punya anak? Aku bisa mengadopsi bayi, kan? Di luar  sana banyak anak-anak yang tidak diinginkan orang tuanya. Kalau aku mau, aku  bisa mengasuh satu, dua atau bahkan tiga dari mereka. Jadi tolong, jelaskan  kenapa aku harus menikah, mempertaruhkan diriku sendiri, mengambil risiko  dilukai lahir dan atau batin. Tak ada kepastian sama sekali bahwa pernikahan itu  akan bertahan sepanjang hidupku. Disamping itu, kalau pernikahan itu hancur di  tengah jalan, aku akan jadi pihak yang paling besar menanggung kerugian. Kenapa,  Dan? Untuk apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan termenung agak lama. Akhirnya ia menjawab. "Cinta  mungkin?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau terlalu banyak menonton film romantis ," olokku. "Kau tahu  berapa lama cinta bertahan dalam suatu pernikahan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berapa  lama?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Satu sampai tiga bulan. Setelah itu, toleransi, kompromi,  frustrasi dan imajinasi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Imajinasi?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau kau terjebak di  dalam penjara dengan lelaki yang kau benci sekaligus yang kau tahu membencimu,  kau harus membayangkan menikah dengan Richard Gere atau kau bisa jadi  gila."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Astaga," gumam Idan. "Kalau itu terjadi padaku, siapa menurutmu  yang harus kubayangkan? Michelle Pfeiffer atau Nicole Kidman?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gorila,"  jawabku sekenanya dan Idan meledak tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Idan," keluhku. "Berhentilah  tertawa. Aku bukan pelawak. Aku sedang membicarakan masalah serius, dan aku  sebal kau tertawai terus menerus."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajahnya serta-merta menjadi serius.  "Aku tidak menertawaimu. Kalau kau benar-benar sahabatku, kau tahu beginilah aku  menyikapi semua masalah, yang tergenting sekalipun. Termasuk soal menikah.  Cobalah. Kau akan merasa jauh lebih baik. Kalau ibumu menanyakan calonmu sekali  lagi, tertawalah.Tertawalah keras-keras."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Idan, kau benar-benar tak  tertolong lagi," gumamku. "Aku perlu solusi, dan bukan ide-ide  konyol."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan membisu. Dan untuk beberapa waktu kami berdua sama-sama  merenung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, Idan bicara dengan hati-hati. "Pit, aku tahu ini akan  kedengaran gila. Tapi dengar dulu. Aku rasa saranku ini bisa menyelesaikan kedua  masalahmu. Pertama, ketidakpercayaanmu pada ras laki-laki. Kedua,  ketidakmengertianmu kenapa kau butuh seorang suami."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk,  dalam hati bersiap-siap untuk mempertahankan mimik seriusku walaupun ide yang  akan dilontarkan Idan nantinya ternyata kelewat sinting dan karenanya teramat  sangat kocak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebelumnya, aku ingin tanya satu hal, dan ini sangat  sangat penting, jadi aku perlu jawaban terjujurmu. Apa kau percaya  kepadaku?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutatap Idan dengan dahi berkerut. Ia telah jadi sahabatku  selama puluhan tahun. Banyak yang berubah dalam hidupku, dan setidaknya enam  lelaki telah hadir dan menghilang dari hidupku. Hanya Idan yang tak berganti. Ia  seakan-akan selalu siap mengulurkan tangan menolongku, sementara sense of  humor-nya tak pernah gagal membantuku keluar dari depresi yang paling parah  sekalipun. Kalau ada satu laki-laki di dunia yang kuhadapi dengan skeptisisme  nyaris nol, hanya Idan orangnya."Ya. Aku percaya kepadamu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau  begitu, percayalah bahwa yang kulakukan ini semata-mata untuk kebaikanmu.  Percayalah bahwa aku sama sekali tidak memiliki niat jahat terselubung di balik  ideku ini. Percayalah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Idan! " potongku tandas. "Ide apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku  ingin mengajakmu mengadakan sebuah eksperimen," ia bicara dengan hati-hati,  kedua matanya terpan cang pada ekspresi wajahku. "Kita akan melakukan  pernikahan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Simulasi!" lanjut Idan sesegera mungkin.  "Tentu saja lengkap dengan semua formalitasnya, lamaran, akad nikah, kalau perlu  honey moon...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bulan madu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan mengangkat tangannya menyuruhku  diam, "Simulasi. Sekali lagi, simulasi. Setelah itu kita akan menjadi suami  istri --simulasi? sambil mempelajari kenapa kebanyakan manusia y ang normal dan  waras begitu berambisi untuk berumah tangga. Kalau pada akhir eksperimen kau  merasa yakin bahwa kerugiannya tidak sebanding dengan keuntungannya, kita  bercerai dan kau bisa hidup lajang, merdeka selama-lamanya. Kalau ternyata kau  kecanduan hidup sebagai istri, kita bercerai dan kau bisa cari suami yang paling  cocok untukmu. Anggaplah ini Sebagai tes untuk melihat apa kau akan memilih  menikah atau tidak. Tanpa komitmen, tanpa penalti. Bagaimana?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Idan,"  desisku. "Ini ide terbodoh y ang pernah kudengar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Semua gagasan jenius  selalu diolok-olok pada awalnya," sanggah Idan mantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pikirkan, Pit.  Ini satu-satunya cara supaya kita bisa belajar seperti apa pernikahan itu  sebenarnya tanpa perlu sungguh-sungguh menikah. Kau tidak mungkin melakukannya  dengan laki-laki selain aku, yang telah terbukti memiliki sifat ksatria, dapat  dipercaya dan teguh pendirian...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Serius, Idan, serius!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan  kau sama sekali tidak melakukanpengor banan apa pun. Kau tidak akan mengalami  kerugian apa pun."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kecuali jutaan yang harus keluar untuk biaya  pernikahan...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Simulasi," Idan mengingatkan sambil mengangkat  telunjuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"OK. Pernikahan simulasi," geramku. "Dan aku akan menyandang  status janda setelah kita  bercerai."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Simulasi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Idan!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Upit!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh, Tuhan,"  aku bangkit dengan marah dan beranjak keluar. Idan segera  menjejeriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Upit, kau tidak perlu semarah ini," katanya. "Apa aku  sejelek itu di matamu hingga kau bahkan tidak mau pura-pura menikah  denganku?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berhenti berjalan dan menatap wajahnya. Dan  menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Biarpun wajahmu seperti bunglon sekalipun, aku akan tetap  memujimu di depan perempuan malang manapun yang mencintaimu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matanya  berbinar. "Kau tidak marah lagi, kan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menggeleng. "Aku bukan marah  karena idemu, Dan. Aku tahu otakmu memang selalu korslet tiap kali memikirkan  jalan ke luar dari suatu problem serius. Aku mengerti. Aku hanya kesal karena  kau sepertinya tidak peduli dengan masalahku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Justru karena aku sangat  peduli aku mengusulkan ini, Pit," ekspresinya tampak begitu  tulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terima kasih. Tapi ide itu memuakkan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pikirkan ibumu,  Pit. Kalau beliau tahu kau akan segera menikah, denganku, orang yang selama ini  dikenalnya sangat baik, sopan, hormat kepada orang tua, ulet, tangguh...," ia  berhenti saat melihat raut wajahku, "Ibumu akan sangat bahagia, Pit. Pikirkan  juga dirimu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia diam sejenak. "Aku janji akan menggandeng tanganmu di  setiap pesta. Di mana pun."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapannya begitu menyentuh hatiku hingga aku  nyaris menangis terharu. Kalau saja di antara bekas-bekas kekasihku ada yang  mengatakan itu kepadaku, aku pasti sudah lama sekali menikah, pikirku sebelum  menertawai diri sendiri. Perempuan yang tidak butuh seorang pelindung, tapi haus  digandeng tangannya. Aku pasti sama kurang warasnya dengan Idan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa aku  harus menciummu?" tanyaku nyaris berbisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesekali mungkin, kalau orang  tua kita diam-diam mengawasi," matanya kembali tertawa. "Di pipi. Aku tidak akan  melewati batas. Kalau kita hanya berdua, kau bebas untuk meninjuku,  menjambakku...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Idan," teguran itu lebih lembut daripada yang  kuinginkan dan Idan tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suaranya bergetar.  "Saya terima nikahnya Puspita Kirana binti Anwar Daud dengan mas kawin tersebut,  tunai."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan wajahnya kelihatan sedikit pucat. Berapa lama ia tidur  semalam? Apa ia terjaga berjam-jam dalam gelap, memikirkan lelucon terbesarnya,  seperti aku yang nyalang nyaris sepanjang malam tadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibuku meneteskan  air mata sementara senyum lebar memenuhi wajahnya. Ibu Idan, walau menyaksikan  dari kursi rodanya, juga tampak bahagia. Seharusnya aku juga bahagia hari ini.  Idan juga. Mungkin dengan orang-orang lain. Tapi seharusnya aku merasa bahagia.  Bukan diam-diam mencatat seperti seorang ilmuwan yang teliti: perasaanku, reaksi  para tamu, wangi melati dan wajah Pak Penghulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Penghulu menyuruhku  menyalami suami baruku. (Simulasi, Upit, jangan lupa itu. Suami baru simulasi.)  Tangannya dingin. Ekspresi wajahnya aneh, kedua matanya gemerlapan dengan rasa  takjub, saat aku mendongak setelah mencium jemarinya. Ia mengecup dahiku dengan  bibirnya yang yang nyaris putih. Lalu kami berdua duduk berdampingan  mendengarkan petuah Pak Penghulu, Idan menunduk menatap pantalon putihnya dan  mataku terpaku pada kain batikku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kuberanikan diri untuk  berbisik, "Kau pucat sekali."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku lapar. Tidak sarapan tadi  pagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terlalu nervous?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Telat bangun. Aku nonton bola sampai  subuh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana aku tadi?"  bisiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Meyakinkan. Berapa lama kau latihan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hanya waktu aku  berpakaian tadi pagi. Catatan yang kau beri tercuci dengan celanaku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah,  Idan, Idan. Menikah dengannya tidak akan pernah membosankan. Simulasi. Menikah  simulasi dengannya tidak akan membosankan, koreksiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga hari pertamaku sebagai istri Idan --simulasi-- kulewatkan di rumahku  sendiri. Tiga hari berikutnya dilewatkan di rumah Idan, karena kondisi ibunya,  yang memang telah sangat lama sakit, memburuk; mungkin karena ketegangan yang  disebabkan persiapan acara pernikahanku dengan Idan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari ketujuh  kami pindah ke rumah milik Idan sendiri. Dan setelah seharian menata perabotan,  memasang tirai dan beragam pajangan, malam itu kami lewati dengan  tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok paginya, aku terbangun karena mendengar suara-suara di dapur.  Aku menemukan Idan di sana, sedang mendadar telur, sementara di atas meja  terhidang nasi goreng dan sepoci kopi yang harumnya menggoda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku ada  rapat pukul se tengah delapan," seru Idan sambil membalik dadar telurnya. "Aku  mesti berangkat sebelum setengah enam."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kucicipi nasi goreng buatannya.  "Aku tidak tahu kau pintar memasak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pramuka," komentar Idan ter senyum.  Diletakkannya telur di atas meja dan ia duduk untuk sarapan. "Aku juga pandai  tali-temali, semafor, menjahit."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Percaya, percaya. Kalau kau mau  menangani urusan masak, aku akan memperbaiki keran dan genting bocor, plus  membabat rumput."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan terbahak. "Ini hanya sekali-sekali, Pit. Aku tidak  mungkin masak setiap pagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apalagi aku. Kita perlu cari  pembantu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan," Idan menggeleng. "Ia pasti curiga kalau melihat kita  tidur di kamar berbeda."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan menggaruk kepalanya.  "Bisakah kau masak nasi tiap hari?" pintanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku punya rice  cooker."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutatap wajahnya. Dalam hati aku berpikir, haruskah? Ini hanya  sebuah permainan. Tidakkah Idan akan jadi besar kepala kalau aku mematuhinya?  Tapi di lain pihak, kalau aku benar-benar ingin tahu bagaimana rasanya jadi  seorang istri, mungkin ada baiknya aku mengikuti keinginannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau kau  mau membawakan lauk dan sayur bergantian denganku, baik."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tersenyum  dan beranjak dari meja dan kembali dengan sebuah bolpoin merah. Dilingkarinya  tanggal hari itu di kalender yang tergantung di dinding dapur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hari  pertama kita menyelesaikan suatu masalah dengan musyawarah keluarga," katanya  saat kembali ke kursinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masih banyak detil-detil seperti ini yang  mesti kita sepakati," lanjutnya. "Misalnya, aku ingin kau beri tahu aku kalau  kau akan pulang terlambat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahiku berkerut. "Untuk apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa kau  tidak melapor kepada orang tuamu kalau kau akan pulang terlambat?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku  menggeleng. "Ibuku sudah percaya bahwa aku bisa menjaga diriku sendiri dan tidak  akan melakukan hal-hal yang bodoh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi aku suamimu. Simulasi memang.  Aku perlu tahu kenapa dan di mana kau kalau pulang terlambat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau  kedengaran seperti diktator."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kurasa aku tidak minta terlalu  banyak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu terlalu banyak untukku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan meletakkan sendoknya  dan menatapku dengan mata menyala. Aku lupa kapan terakhir kali aku melihatnya  marah. Tapi aku yakin aku tak salah membaca gelagatnya kali ini. Ia benar-benar  marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ingat," lanjutku hati-hati. "Aku bukan benar-benar istrimu. Kau  tidak punya hak untuk mengaturku seperti itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menunduk lama sekali,  tangannya terkepal, buku-buku jarinya memutih. Dan ruang makan itu menjadi  sangat sunyi senyap. "Baik. Kalau itu maumu," desisnya kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami  melanjutkan sarapan dalam diam. Aku ingin mengatakan bahwa aku sama sekali tidak  menduga permainan itu akan membuat persahabatanku dengan Idan memburuk. Tapi aku  tak berani mengungkapkan itu. Aku yakin Idan akan semakin berang  karenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan meninggalkan meja tanpa mengatakan apa-apa dan pergi ke  kamarnya untuk bersiap-siap ke kantor. Tak lama ia kembali menemuiku di ruang  makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku pergi, Pit," katanya dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bangkit dari meja  menghampirinya, berniat untuk memperbaiki situasi. "Sebagian teman-temanku  menyarankan ini," ujarku sambil meraih tangan kanan Idan dan menempelkannya di  bibirku. "Kupikir ada baiknya kucoba. Oh, ya. Mereka bilang kau harus mencium  keningku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia membungkuk dan menyapu keningku dengan bibirnya yang  terkatup dan berlalu tanpa mengucapkan apa-apa lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar tidak tahu  terima kasih!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sengaja pulang terlambat malam itu. Dalam perjalanan  pulang kusinggahi suatu kafe yang belum pernah kukunjungi, sebagian untuk  memperoleh kesendirian dan sebagian untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan yang  pasti diberondongkan kawan-kawan yang biasa bersamaku menghabiskan sore  hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaanku gundah. Rasa bersalah dan kesal berkecamuk di dadaku.  Aku tahu Idan telah banyak berkorban untuk permainan ini. Tapi walau aku  sungguh-sungguh ingin mempelajari bagaimana rasanya menjadi seorang istri, mesti  kuakui bahwa aku belum terbiasa menganggap Idan sebagai suamiku. Bagiku, ia  hanya masih seorang sahabat. Dan seorang sahabat tidak boleh menuntut terlalu  banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku tertaut pada cincin emas mungil yang disisipkan Idan di  jari manisku selepas akad nikah. Ini hanya permainan, batinku. Tapi dalam  permainan ini, Idan adalah suamiku. Dan sebagai suamiku, tuntutannya wajar.  Kalau aku lantas tidak suka dengan keterbatasannya, itu hanya satu pelajaran  pertama dari permainan ini. Kupejamkan mataku dan kutarik napas dalam-dalam. Aku  benci kekalahan. Tapi kali ini aku mengalah, bukan kalah. Aku akan belajar satu  hal dari semua ini. Bagaimana mengesampingkan keakuan dan memilih kebersamaan.  Getir memang. Aku yakin Idan akan menertawaiku. Kalau ia tidak marah-marah  dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah terkejutnya aku mendapati rumah gelap dan kosong. Sudah  pukul setengah dua belas malam dan Idan belum pulang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kucoba menghubungi  ponselnya dan hanya mendapati mailbox. Dengan menggunakan berbagai tipu daya,  memperhitungkan lemahnya kondisi ibu mertuaku, kutelepon rumahnya. Aku bahkan  mencoba mengontak kantornya, tanpa hasil. Idan tidak ada di  mana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inikah balasannya atas penolakanku tadi pagi? Kekanak-kanakan  sekali!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tak urung, dengan melarutnya malam, aku jadi semakin cemas.  Apalagi hingga pagi Idan tidak kembali. Ia bahkan tidak pergi ke kantor. Aku  minta izin pulang setengah jam lebih awal dengan dalih yang  dibuat-buat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saat aku tiba di rumah, Idan tetap tidak ada. Malam itu  kulewatkan di sisi telepon, berpikir untuk menghubungi polisi dan rumah sakit.  Pukul tiga telepon berdering. Bermacam-macam kengerian terlintas dibenakku saat  aku mengangkat receiver.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Upit?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Idan?" jeritku. "Kau di  mana?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pit, aku minta maaf karena marah dan minggat begitu saja. Boleh  aku pulang?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Idan, ini rumahmu!" meskipun aku tersenyum, air mata  kelegaan mulai meleleh di pipiku. "Kau di mana?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di luar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di  luar rumah?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya. Dan aku lapar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh, Tuhan...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lari  ke luar rumah. Di gerbang kulihat Idan berdiri di sisi mobilnya. Entah sudah  berapa lama ia di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau keterlaluan! Aku sudah berpikir untuk  menelepon kantor polisi!" teriakku kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku juga rindu kepadamu!"  balas Idan tertawa. Dan mataku rasanya semakin perih melihat tawanya  lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di mana saja kau dua hari ini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di hotel kecil dekat  kantor."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia baru saja menghabiskan piring ketiga sop buntut kesukaannya.  Ia tidak berkomentar ketika melihat bahwa aku sudah membeli semua makanan  kegemarannya. Ia hanya makan dua kali lebih lahap. "Kenapa kau akhirnya  memutuskan untuk pulang?" suaraku bergetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku perlu baju bersih," ia  tertawa malu. "Laundri hotel mahal sekali."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ia mencuci piring  makannya, dengan punggungnya ke arahku, ia menyambung, "Selain itu, aku khawatir  karena kau sendirian di sini." Dan dadaku tiba-tiba terasa ngilu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku  akan pulang terlambat besok," ucapku perlahan. "Aku harus lembur. Dikejar  deadline."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berhenti membilas piring dan aku tahu ia berbalik  menatapku. Tapi mataku terpaku pada es krim di hadapanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oke," katanya.  "Kau keberatan kalau aku makan malam duluan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Asal kau sisakan cukup  untukku," aku tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paginya kulihat lingkaran merah kedua di  kalender.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bisa mentolerir kebiasaan Idan membiarkan koran yang telah  dibacanya berserakan di ruang tamu. Aku bisa memaklumi kegemarannya nonton film  action --genre yang paling tidak kuminati, dan sepak bola? olahraga yang  menurutku amat membosankan. Aku bahkan bisa memaafkan kebiasaannyamengeluarkan  pasta gigi dengan memencet bagian tengah tubenya, tidak dari bawah seperti yang  biasa kulakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya satu yang aku belum sanggup terima. Caranya  menghabiskan akhir pekannya. Setiap Minggu pagi ia berangkat sebelum pukul enam  untuk bermain sepak bola dengan teman-temannya, dan sorenya, sekitar pukul  setengah empat, ia pergi memancing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untukku yang selalu menghabiskan  waktu luang dengan pergi dari satu galeri ke galeri lain, dari satu pameran  lukisan ke yang lain, dari mal ke mal, dan berakhir dengan acara makan-makan,  kebiasaan Idan itu sama sekali tidak bisa kupahami. Aku tak sanggup menontonnya  main bola atau menemaninya memancing, karena aku dengan sangat cepat akan merasa  jemu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebulan pertama aku berusaha mengerti. Ia selalu pulang dengan mata  berbinar hingga aku tak tega mengeluh dan protes. Tapi dipekan kelima  kesabaranku tandas, dan pagi itu, saat ia tengah memasukkan botol air minum dan  kotak rotinya ke dalam tas, aku memintanya untuk tidak memancing. "Temani aku  jalan-jalan ke mal sore ini," pintaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau kan bisa pergi sendiri,"  katanya sambil memasukkan kaus bersih dan handuk kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Seingatku kau  berjanji untuk selalu menggandeng tanganku ke manapun."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tidak bisa  mangkir memancing hari ini, Pit," ia masih tetap tak memandang ke arahku, sibuk  dengan sepatu bolanya. "Aku sudah janji dengan kawan-kawanku untuk mencoba  tempat memancing baru."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau bisa mencobanya minggu depan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tadi  malam tidak ada bulan, Pit. Ikan-ikan akan sangat rakus hari ini," ia tersenyum  sambil melompat-lompat dengan sepatu bola barunya. "Aku bisa memecahkan rekor  sepuluh kilo sore nanti!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Minggu depan voucher diskon salonku sudah  tidak berlaku lagi," gumamku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pakai voucher dariku saja," sahutnya  ringan sambil mulai lari-lari di tempat. "Berapa diskon yang kau dapat dengan  voucher itu? Kalau kuberi lima belas ribu cukup?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Idan! Itu hanya cukup  untuk beli minum selama di salon."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku bisa cukur rambut plus dipijit  plus minum kopi dengan lima belas ribu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh, Tuhan!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan  berhenti berlari-lari dan berdiri di hadapanku dengan tangan di pinggang. "Pit,  kau sudah cantik begini. Tidak perlu ke salon lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku sudah cukup  yakin dengan kecantikan, terima kasih. Yang aku butuh cuma keluar dari rutinitas  harianku, dan aku memilih melakukannya dengan jalan-jalan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi? Apa  yang kau tunggu? Pergilah. Aku tidak melarangmu. Kalau kau bawakan aku  oleh-oleh, aku akan lebih tidak keberatan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini bukan masalah kau  melarang atau tidak, Dan. Apa enaknya jalan-jalan sendirian? Aku perlu  teman."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau begitu ajaklah teman-temanmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah. Mereka punya  acara sendiri-sendiri. Dengan suami-suami mereka."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan mengerutkan  keningnya. "Kau mau melewatkan hari Minggu  denganku?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa tidak bilang dari tadi. Tentu saja kau  boleh ikut ke lapangan sepak bola lagi. Aku akan senang kalau kau ada di  sana."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Idan!" jeritku. "Kau ini buta, tuli atau imbesil sih? Kau tahu  aku benci sepak bola dan lebih benci lagi memancing!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata Idan menyipit.  "Dan kau tahu aku alergi jalan-jalan ke mal," desisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kupikir sudah  waktunya kau mengalah sekali-sekali."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mengalah!" suaranya meninggi. "Apa  aku masih kurang mengalah selama ini? Pit, kau sudah menyita enam kali dua puluh  empat jam waktuku, apa kau tidak bisa memberiku...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Enam kali dua puluh  empat? Enam kali dua! Kita hanya benar-benar bertemu dan bicara satu jam saat  sarapan dan satu jam waktu makan malam!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita bisa mengobrol lebih  banyak kalau kau mau lebih banyak melewatkan waktu denganku! Tapi tidak! Kau  lebih memilih mengurung diri di kamar dengan Pavarotti dan  Flamingo...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Placido Domingo! Maaf, Dan, waktuku terlalu berharga untuk  dipakai menyaksikan orang-orang saling membunuh tiap dua menit atau dua puluh  dua orang memperebutkan satu bola kulit!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setidak-tidaknya itu lebih  jujur dan bisa dimengerti dari film-filmmu yang becek air mata itu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau  kekanak-kanakan!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan kau, Tuan Putri, kau egois!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menyambar  tasnya dan melangkah lebar-lebar keluar lewat pintu samping.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masuk ke  ruang makan dan membanting pintu di belakangku. Seperti inikah perasaan para  istri setelah bertengkar dengan suaminya? Dadaku sesak dan kepalaku sakit. Aku  benci menjadi cengeng, tapi air mata kecewa mulai membuat mataku pedih. Aku sama  sekali tidak mengira sesuatu seperti ini terjadi padaku. Aku tahu Idan melakukan  semua ini, simulasi ini, untukku, tapi selama ini aku tidak pernah menuntut apa  pun darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, aku telah berkorban banyak sekali sejak aku  menikah --simulasi-- dengannya, mengurangi jadwal clubbing-ku, pulang dari  kantor sesegera mungkin, memperhitungkan apa ia akan menyukai makanan yang  kubeli. Apa ia telah berbuat sama banyaknya untukku ? Tidak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubuka  lemari es dan kukeluarkan satu kotak es krim cokelat kesukaanku. Pagi itu  kulewatkan di depan televisi, menyaksikan film melankolis, air mataku kubiarkan  meleleh tanpa henti, dan sekotak es krim itu pun habis tanpa terasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan  kembali pukul setengah sebelas, masih cemberut. Ia langsung mandi dan tak lama  kemudian kembali ke ruang duduk sudah rapi dengan t-shirt dan celana  jins.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau kau mau ke mal, aku sarankan kau mandi dan dandan  sedikit,"katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tidak mau pergi ke mal."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau bilang tadi  pagi...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tidak mau merepotkanmu. Aku tidak mau kau gatal-gatal  karena alergimu kumat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Upit, kalau kita tidak pergi sekarang, kita bisa  pulang terlalu sore. Aku ada janji jam empat...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku bilang aku tidak  mau ke mal! Kau bisa pergi memancing sekarang kalau kau mau."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan  seperti anak kecil begini, Pit," geramnya. "Ayo!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak! Dan kalau kau  marah dan mau minggat seperti dulu lagi, silakan!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah Idan benar-benar merah sekarang. "Upit! Jangan main-main denganku! Aku  tidak mau kau menolak pergi jalan-jalan lalu menghukumku dengan cemberut  sepanjang hari begini. Mandi sekarang. Kita pergi setengah jam  lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku bukan budakmu. Jangan suruh-suruh aku. Dan aku tetap tak mau  pergi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oke. Terserah! Kalau kau mau duduk di sini seharian, makan es  krim dan cokelat sambil mengasihani diri sendiri dan melar dan melar dan melar  dan melar...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Idan!" jeritku sambil melempar kotak es krim itu ke  arahnya. Ia terlambat mengelak dan sisa es krim yang telah mencair melumuri  t-shirtnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lari ke kamarku, membanting pintunya dan melempar diri ke  ranjang, sesenggukan. Kudengar ia memaki dan menendang pintu. Saat itu aku  takut, takut sekali. Ia seperti telah menjadi manusia lain yang tak kukenali  sama sekali, asing dan mengerikan. Kututup telingaku dengan bantal dan aku terus  menangis hingga tenggorokanku yang sakit dan kepalaku yang berat memaksaku  tertidur kelelahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sorenya aku keluar mengendap-endap. Idan pasti telah  pergi memancing. Memikirkan bahwa ia pergi sementara aku masih menangis karena  kata-kata kasarnya membuatku makin marah kepadanya. Kali ini aku yakin tak ada  pilihan lain kecuali meninggalkannya dan kembali ke rumah orang tuaku. Maka  selesai mandi aku segera memasukkan semua pakaianku ke dalam kopor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat  itu Idan datang. Ia kedengaran sangat gembira, bersiul-siul sejak ia memasuki  pintu gerbang. Siulannya berhenti saat ia melihat koporku dari pintu kamar yang  terkuak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa-apaan ini, Pit? " tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku pulang ke rumah  Ibu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia masuk dan duduk di atas kasurku, mengawasi gerak-gerikku.  "Semudah ini kau menyerah?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini diluar  dugaanku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tidak mengira aku menikahi  monster."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan terdiam, menunduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku...," katanya lirih. "Aku  bawa pizza kesukaanmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku sudah terlalu gemuk."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menggeleng  dengan ekspresi bersalah, "Tidak. Kau cantik."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tidak butuh  pendapatmu. Kau bukan suamiku, ingat? Penilaianmu tidak punya arti  apa-apa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku sudah mencoba jadi suami yang baik."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau  gagal."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setidaknya aku mencoba. Kau... kau tidak melakukan apapun supaya  pernikahan kita berhasil...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Simulasi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menghela napas  panjang dan mengangguk singkat. "Simulasi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau salah, Dan. Aku sudah  melakukan terlalu banyak. Sudah belajar terlalu banyak. Dan aku sudah mengambil  keputusan. Aku tidak akan menikah. Aku tidak suka menikah. Apalagi  denganmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tak mengatakan apa-apa, lama sekali. Ketika ia keluar dari  kamarku, aku ambruk ke atas tempat tidur. Semua topeng ketegaranku hancur  berkeping-keping. Aku tak pernah menduga Idan bisa menyakitiku sehebat ini. Lama  kemudian. setelah aku bisa sedikit menguasai diri, aku bangkit. Kurapikan  dandananku dan kuseret koporku keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setidaknya tunggulah sampai hujan  reda," suara Idan menyambutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terlalu lama," gumamku. "Aku tidak bisa  tinggal denganmu selama itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak peduli hujan yang serta merta meng  guyurku basah kuyup Saat aku membuka pintu gerbang. Meninggalkan Idan  secepatnya, hanya itu yang ada di benakku. Dan ketika mobilku mulai tersendat  terendam genangan air hujan hanya lima puluh meter dari rumah, aku begitu berang  dan putus asa hingga aku keluar dari mobil dan menendang pintunya, meninju  atapnya, air mataku larut dalam siraman hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu aku melihat Idan  datang. Tanpa mengatakan apa-apa ia mencabut kunci mobilku dan mengunci mobil  itu dari luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayo pulang," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menggeleng tanpa berani  menatap wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ia mengangkatku, menggendongku, tanpa menghiraukan  perlawananku. Ia membopongku sampai ke rumah, tak memberiku kesempatan untuk  melarikan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiba di dalam, ia mengunci pintu dan menyimpan kuncinya  di saku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ganti bajumu," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Semua bajuku di dalam  kopor."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ambil bajuku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak akan pernah!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia  mencengkeram pergelangan tanganku dan menatapku lurus dengan mata berkobar, "Ini  bukan waktunya melawanku, Pit. Kau bisa sakit!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Monster,"  desisku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu suhu tubuhku menanjak naik, kepalaku sakit dan  tenggorokan nyeri. Aku masih ingat saat Idan menyuruhku menelan sebutir tablet  penurun panas dan aku membangkang. Ketika abangku datang untuk memeriksa  keadaanku, aku masih bisa menangis dan merengek minta diantar pulang ke rumah  orang tuaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu semuanya kabur. Kesadaranku kembali dalam  kelebatan-kelebatan singkat. Ketika aku terjaga dan menemukan Idan tengah  mengganti kain kompres di dahiku, sentuhannya begitu sejuk dan menenteramkan.  Ketika aku tiba-tiba tersentak dari salah satu mimpi burukku dan mendapati Idan  tengah membersihkan ceceran muntahku di lantai. Ketika aku terbangun dari  tidurku yang gelisah dan merasakan tangannya erat menggenggam  jemariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga akhirnya, entah setelah berapa lama, aku terbangun dan  nyala api dalam kepala dan dadaku telah padam. Jendela kamarku terbuka dan  cahaya matahari hangat menerobos masuk, membawa aroma melati dari rumpun di luar  kamarku. Ibuku tengah duduk di dekat jendela,  membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ibu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibuku menurunkan korannya. Senyumnya mengembang  saat ia menghampiriku. "Bagaimana? Sudah enakan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Idan mana?"  bisikku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, pertanyaan bodoh. Mungkin seharusnya aku bertanya dimana aku  sekarang atau setidak-tidaknya siapa namaku. Kenapa pertanyaan pertamaku harus  tentang Idan? rutukku pada diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masih di kantor. Sebentar lagi  juga pulang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sakit dan dia pergi ke kantor. Suami  teladan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ibu sudah berapa lama di sini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari pagi. Kau tidak  ingat ibu datang pagi tadi?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencoba menggeleng dan kepalaku serta  merta terbelah tiga. Tapi yang paling menyakitkanku adalah, Idan sama sekali tak  peduli aku sakit. Aku berbalik dan memejamkan mata. Air mataku yang panas luruh  satu-satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu ketika Idan pulang, aku berpura-pura tidur. Aku sama  sekali belum siap untuk bicara lagi dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana, Bu?" tanyanya,  suaranya mendekati tempat tidurku. Dan kemudian tangannya hinggap di dahiku,  sejuk dan membawa ketenangan. Dengan punggung tangannya ia menyentuh leherku,  dan kalaupun aku sanggup menepiskan tangannya dengan tenagaku yang nyaris nihil,  aku tak akan mau melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tadi bangun sebentar, menanyakan kamu.  Lalu tidur lagi. Tapi panasnya sudah turun dan tadi siang sudah mau minum  susu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan Idan berpindah ke bahuku dan mulai memijat dengan lembut.  Jangan berhenti, jangan berhenti, jangan berhenti, pintaku dalam hati. Tapi ia  bangkit dan merapikan selimutku sambil terus bicara dengan ibuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau  Ibu capai, Ibu bisa ambil cuti besok."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu tertawa kecil. "Kau sendiri?  Kau tidak tidur entah berapa malam dan kau mengerjakan semuanya. Mencuci,  membersihkan rumah, mengurus Upit. Apa kau tidak capai?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya pakai  baterai Energizer, Bu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu tertawa lagi, "Idan, Idan. Kau mesti  istirahat juga. Kalau kau sakit, Ibu tidak yakin Upit bisa mengurusmu sesabar  kau merawat dia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu! Idan itu hanya menantu Ibu! Cuma simulasi  pula!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah tanggung jawab saya, Bu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah  klisenya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunyi. "Kau betul-betul tidak butuh bantuan  Ibu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terima kasih. Kalau ada apa-apa, saya pasti telepon Ibu  lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baik kalau begitu. Kau tinggal menyuapinya nanti malam, jangan  lupa obatnya. Kalau ia mau, ibu sudah masak bubur di dapur. Kalau tidak, beri  saja apa yang dia mau."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, Bu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan jangan tidak tidur lagi  nanti malam. Upit sudah baikan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baik, Bu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saat itu juga aku  bersumpah akan membuat malam itu mimpi buruk untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin  menghukumnya karena kata-katanya yang menyakiti perasaanku. Aku ingin  menghukumnya karena ia melukai harga diriku. Dan aku ingin menghukumnya karena  ia membuatku benci pada diriku sendiri. Ia yang membuatku sakit dan entah berapa  lama tak berdaya, bahkan terpaksa membiarkannya mengurusku seperti  bayi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia harus membayar untuk semua penghinaan itu. Aku benci, sangat  benci padanya. Aku membuat segalanya sangat sulit untuk Idan malam itu. Aku  memberontak saat ia mencoba menyuapiku. Aku menolak saat ia memintaku makan  obat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memintanya membuka jendela karena aku kepanasan, lalu  menutupnya lagi, karena aku kedinginan, lalu membuka lagi, menutup lagi entah  berapa belas kali. Aku memintanya membuatkanku susu yang tidak kuminum,  merebuskan mi instan yang tidak kumakan, menyiapkan roti yang kubuang kelantai,  mengupaskan apel yang kubiarkan di meja hingga berubah coklat dan memasakkan  omelet yang hanya kucuil sedikit. Pijatannya dikakiku terlalu keras, terlalu  lembek, terlalu kasar, tidak terasa. Dan saat ia mulai terkantuk-kantuk di  kursi, aku membangunkannya untuk menyalakan televisi agar aku bisa menyuruhnya  mengganti saluran tiap kali ia mulai mengangguk terlelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu akan  membuatku sangat puas kalau saja Idan mau menolak, memprotes, mengeluh, atau  bahkan marah dan memakiku seperti dulu. Tapi ia sama sekali tidak mengeluh,  tidak membantah. Kesabarannya merusak segalanya. Makin lama aku makin menyadari  kelembutan dalam suaranya ? yang hanya bisa lahir dari kekhawatiran -- dan  kelelahan di matanya ? yang aku tahu hanya bisa datang dari  keputusasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dibuatnya merasa bersalah, karena aku sadar ia juga  tengah menyalahkan dirinya sendiri, menghukum dirinya sendiri, mungkin lebih  berat dari yang kulakukan. Dan kebencianku justru musnah dan berganti kasihan,  sesuatu yang sama sekali tak kuharapkan, tapi tak bisa kuelakkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang fajar, saat mengawasinya tertidur meringkuk di kursi, aku  mengingat lagi pertengkaran yang menerbitkan kebencian itu. Aku mengulang lagi  setiap kalimat yang kuucapkan, dan aku tiba-tiba merasa malu. Kenapa semuanya  harus terjadi hanya karena sesuatu seremeh itu. Selama dua puluh tahun  persahabatanku dengan Idan, hobi dan kegemarannya tak pernah membuatku merasa  terganggu. Masih banyak hal lain yang menyenangkan darinya. Kenapa aku sampai  bisa melupakan itu dan membiarkan kemarahan sesaat membutakanku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu  permintaanku wajar. Aku tahu aku berhak meminta Idan menemaniku ke mana pun. Dan  ia juga sama bersalahnya denganku karena mengobarkan pertengkaran konyol itu.  Hanya saja ia lebih berbesar hati untukmenyingkirkan pertengkaran itu sementara  aku justru memupuk dendam dan benci padanya. Jadi siapa sebenarnya pemenang  dalam kontes kedewasaan ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku terbangun esok paginya, Idan  menyambutku dengan baki sarapan pagi dan senyum lebar. Ia membantuku ke kamar  mandi dan aku tidak memprotes ketika ia memintaku untuk tidak mengunci pintu. Ia  telah menyediakan bangku di dekat wastafel agar aku tak perlu berdiri saat  menggosok gigi. Di rak ia telah menyediakan pakaian bersih untukku dan bahkan  meletakkan bedak dan sisirku, hingga saat aku keluar dari kamar mandi, aku  merasa jauh lebih segar dan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku kembali ke kamar, aku  melihat spreiku telah diganti, mejaku telah rapi kembali dan bunga di dalam vas  di dekat tempat tidurku telah diganti dengan yang baru. Ketika Idan duduk di  pinggir ranjangku, menambahkan gula pada susu cokelatku dan mengupaskan telur  sarapan pagiku, aku hampir menangis karena terharu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau tidak ke kantor?  " tanyaku mencoba membuka percakapan; kata-kata ramah pertama yang kuucapkan  padanya setelah pertengkaran kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini hari Minggu, Pit."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku  sudah sakit selama seminggu ?" bisikku tak percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya," Idan tersenyum.  "Tapi aku senang kau sudah sembuh sekarang. Aku tidak bisa tenang di kantor  memikirkanmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ibuku kan di sini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya. Aku terpaksa memintanya  datang. Aku benar-benar tidak bisa meninggalkan pekerjaanku minggu lalu.  Maaf."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menunduk, bersembunyi dari ketulusan di matanya. Kulirik jam  di atas mejaku. Pukul setengah delapan pagi. "Tidak main bola?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia  menggeleng sambil mengolesi sepotong roti lagi dengan selai nenas. "Aku mau  memberi kesempatan pada Agus. Sudah dua bulan dia cuma duduk di bangku  cadangan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dia kurang berani menyerang. Tidak  segesit aku. Maklum sudah agak gemuk. Tapi, siapa tahu," ia mengangkat bahu dan  tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau mau pergi memancing nanti sore?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menggeleng  lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku harus memberi kesempatan ikan-ikan itu  berkembang biak, Pit. Kalau kutangkapi terus, mereka bisa punah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau  kau memancing lagi, tolong sampaikan terima kasihku kepada mereka,  ya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terima kasih untuk apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menunjukkan sisi lain dari  Idan yang tidak kuketahui sebelumnya, batinku. Tapi yang keluar dari mulutku  adalah, "Karena meminjamkanmu untukku hari ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyum Idan serta merta  surut. Diulurkannya tangannya dan disentuhnya lenganku. "Lain kali kalau kau  ingin kuantar ke manapun, bisakah kau bilang minimal sehari sebelumnya? Bukannya  aku tidak mau, tapi kalau aku sudah berjanji dengan teman-temanku, aku tidak  bisa begitu saja membatalkannya kan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk dengan leher  tersumbat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku juga janji tidak akan sering nonton film action lagi,"  katanya kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita memang perlu ngobrol lebih sering. Jangan  menangis, Pit Nanti air jerukmu asin."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Selamat  ulang tahun, Pit."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terlonjak duduk dan menyalakan lampu. "Idan! Untuk  apa kau sepagi ini di kamarku!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Memberimu selamat ulang tahun," jawabnya  polos. Dan ia bangkit dari kursinya di sisi tempat tidur dan menarikku hingga  berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayo! Aku mau menunjukkan hadiah ulang tahunmu  dariku!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menyeretku ke ruang kerja dan menyuruhku duduk di depan  komputerku. Ada dua komputer di ruangan itu, satu milik Idan, yang sarat dengan  berbagai programming software yang digunakannya untuk bekerja. Dan satu lagi  milikku, lebih sederhana dan tidak secanggih milik Idan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan menyalakan  komputerku dan duduk di sebelahku dengan mata berbinar. Sambil tersenyum geli,  aku mencoba menebak apa yang telah disiapkan Idan untukku. Puisi? Personal  website, dengan foto dan lagu? Aku menggeleng dalam hati, Idan tidak cukup  romantis untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau lihat?" Idan memotong  renunganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hadiahku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keningku berkerut. Tidak ada  yang berbeda dengan tampilan komputer itu. Dengan ragu kuraih mouse dan mengklik  tombol Start. Tidak ada yang berubah. Tapi Idan kentara sekali menjadi semakin  antusias. Setelah membuka file-file-ku dan sekali lagi tidak menemukan apa pun,  aku berpaling kepada Idan dengan ekspresi tak berdaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau tidak  menemukannya?" tanya Idan, dengan setitik kecewa dalam suaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku  menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku menambah memori komputermu," akunya kemudian. Dan  melihat raut wajahku yang tak berubah, menambah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Komputermu sekarang  bisa bekerja lebih cepat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin sekali berbagi kegembiraannya. Ia  kelihatan begitu bangga dengan hadiahnya, setidaknya beberapa detik yang lalu,  sebelum ia sadar bahwa aku kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh," hanya itu yang bisa kukatakan.  "Terima kasih."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau boleh memelukku kalau mau," katanya tersenyum dan  membentangkan kedua tangannya. Kupukul lengannya dan tertawa. Dan pagi itu  berlalu seperti hari-hari kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kantor teman-temanku menyambutku  dengan ucapan selamat dan senyum pernuh arti. Ketika aku memasuki ruang kerjaku,  aku mengerti kenapa mereka tampak seperti menyembunyikan sesuatu. Di meja  kerjaku ada sebuah kotak panjang dengan tutup selofan. Setangkai mawar putih.  Sesaat jantungku rasanya berhenti berdenyut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati-hati kuambil kartu yang  menempel pada kotak itu, lupa seketika kepada teman-temanku yang pasti mengawasi  lewat kaca ruang kerjaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat ulang tahun. Masih ingatkah kau  kepadaku? Jika ya, aku menunggu di tempat biasa. Mungkinkah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku keluar  untuk makan siang lebih awal, mengabaikan godaan teman-temanku yang tak kenal  ampun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita tidak bisa bertemu lagi Pram," ujarku kepada Pram di telepon. Separuh  jiwaku rasanya terbang dan hilang saat kata-kata itu kuucapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa?  Idan melarangmu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dia tidak tahu apa-apa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa kau terus  memikirkan dia, Ta. Pikirkan dirimu sendiri. Apa kau sudi menghabiskan hidupmu  dengan orang yang tidak kau cintai, sedangkan denganku kau bisa mendapatkan  semuanya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kugigit bibir ku saat setetes air bergulir di  pipiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ita, akuilah. Aku menemukan separuh hatiku kepadamu dan hidupmu  baru akan lengkap denganku. Selama ini, aku sendirian dan kau dengan Idan, hidup  kita hanya mimpi, cacat, timpang. Dan kita baru akan memulai hidup, setelah kita  bersama. Saat ini kau tidak punya apa-apa, Ta, tidak juga masa depan, tapi  berdua, kita akan miliki segalanya...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hentikan," potongku dengan suara  bergetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau kau minta aku untuk berhenti berusaha mendapatkanmu  lagi, kau hanya buang-buang waktu dan tenaga. Kau tahu aku tidak semudah itu  disuruh mundur. Ini menyangkut sisa hidup ku dan hidupmu. Tidak ada yang lebih  penting dari itu dan aku tidak akan berhenti sampai kau kembali  denganku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tidak bisa...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa tidak?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, kenapa  tidak. Pernikahan ini hanya sebuah permainan. Menyenangkan memang. Tapi tetap  hanya sekadar sandiwara. Tapi kenapa rasanya berat sekali  memutuskannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau tidak mencintai Idan, Ta. Kau berbeda dengannya, jadi  bukan kesalahanmu kalau kau tidak bisa mencinta inya. Satu-satunya perasaan yang  layak kau simpan untuknya cuma iba, karena ia tidak akan pernah bisa mendapatkan  hatimu dan ia akan selamanya menikah dengan perempuan yang mencintai lelaki  lain."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Akuilah, Ta, kau mencintaiku. Kebersamaan kita  adalah takdir."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kututup mikrofon dengan tanganku dan menghela napas  panjang. Seluruh tubuhku rasanya terbakar dan lunglai dan dunia seperti berputar  makincepat. Kupejamkan mataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tidak mencintaimu,"  gumamku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lebih keras lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tidak mencintaimu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau  berbohong."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama sekali aku terdiam sebelum akhirnya sanggup mengucapkan,  "Ya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ita," suara Pram gemetar. "Aku berjanji untuk selalu membuatmu  bahagia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu sejak awal bahwa permainanku dengan Idan akan  berakhir, cepat atau lambat. Tapi hatiku tetap enggan berdamai dengan kenyataan  bahwa aku harus bicara padanya tentang perpisahan. Aku sadar bahwa Idan sendiri  tidak berhak dan tidak mungkin menghentikanku. Bahkan, mungkin ia akan merasa  lega dengan keputusanku itu, karena akhirnya ia bisa membenahi hidupnya sendiri  lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mustahil ia akan menolak berpisah denganku. Apalagi, aku juga tahu  ia sangat menyayangiku dan ingin aku bahagia. Dan aku tahu, keputusan untuk  kembali kepada Pram adalah yang terbaik untukku dan masa depanku, sesuatu yang  pasti akan didukung oleh Idan. Aku yakin keputusanku itu tidak merugikan siapa  pun. Kenapa aku harus segan menyampaikannya pada Idan? Mula-mula aku berjanji  kepada diriku sendiri untuk mencari waktu yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saat itu tak  pernah datang. Setiap kali, aku dilanda keraguan dan akhirnya membatalkan  niatku. Pram tidak bisa mengerti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku ingin kita menikah sebelum  aku kembali ke Jerman, Ta. Dan kau harus menempuh masa idahmu dulu. Belum lagi  kita harus memikirkan pendapat orang lain yang pasti berkomentar kalau kau  menikah denganku segera setelah masa idahmu selesai. Dan aku hanya di sini  sepuluh bulan lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tahu. Aku juga berpikir begitu. Tapi...  Entahlah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa kau tidak yakin aku akan membuatmu  bahagia?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku...." aku tergagap dan menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi, bicaralah  dengan Idan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu, aku pulang dengan hati berat. Aku sudah bertekad  untuk bicara dengan Idan malam itu juga. Aku tak akan menundanya lagi. Begitu  aku tiba di rumah, Idan sudah menungguku di teras. Matanya berbinar dan wajahnya  berseri saat aku mendekati teras, hingga aku jadi berpikir, ada apa  sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa kau sudah di rumah?" tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan  menyilangkan telunjuknya di depan bibir dan menggandeng tanganku ke dalam  rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sst!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia membawaku ke serambi samping.  Dengan bangga dikembangkannya tangannya. Di sana ada sebuah ayunan rotan  berwarna putih, cukup lebar untuk tiga orang, dengan bantal-bantal yang  kelihatan sangat mengundang, berwarna hijau dengan gambar... mawar  putih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini hadiah ulang tahun pertama perkawinan kita,"  katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku beralih cepat dari ayunan rotan itu. Wajah Idan  benar-benar sumringah. Di matanya ada sekelumit keheranan melihat wajahku yang  pasti telah berubah warna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku... aku tidak punya hadiah apa-apa,"  gumamku sambil kembali menatap ayunan itu, menyembunyikan kalutku. "Aku  lupa...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan tertawa. "Kau bahkan tidak ingat ulang tahunmu sendiri,"  katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia duduk diayunan itu. "Ayo," katanya sambil menarik  tanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku duduk disampingnya, tak tahu mesti mengatakan apa. Aku  benar-benar tidak ingat bahwa setahun lalu hari itu, aku dan Idan menikah,  simulasi. Kenapa Idan harus menganggap hari itu demikian istimewa sementara aku  sendiri sama sekali tak mengingatnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan mulai berayun-ayun pelan  sambil menggenggam tanganku. Ia sedang menceritakan sebuah kejadian lucu di  kantornya, tapi aku sama sekali tak mendengarkan. Di kepalaku berdenging ribuan  kata-kata yang akan segera kuucapkan padanya. Aku telah berlatih dalam hati  untuk mengutarakan segalanya, tegas dan jelas. Tapi sekarang, semua ketetapan  hati yang telah kubangun runtuh berserpihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pit, kau tidak menyimak  kata-kata Pak Guru, anak nakal," teguran Idan membuyarkan renunganku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutatap matanya. "Dan, Pram pulang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahinya  berkerut. "Pram?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pacarku yang pergi ke Jerman."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh," ia  mengangguk. "Kapan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebulan lalu, waktu aku ulang tahun."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia  mengangguk lagi. Aku tak bisa mengucapkan apa-apa setelah itu. "Dia sudah  menikah?" tanya Idan, seperti mendorongku bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku  menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lalu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dia ingin menikah denganku," ujarku  cepat-cepat, tanpa memandang wajahnya. "Ia hanya di sini sepuluh bulan lagi.  Karena itu, aku ingin kita segera bercerai."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan tak  mengatakan apapun selama beberapa saat. Pertanyaan berikutnya ia ajukan dengan  ringan, seolah-olah sambil lalu, "Kau yakin ia mencintaimu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku  mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau yakin akan bahagia dengannya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi aku  hanya mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau begitu, selamat," ketulusannya terdengar hangat.  "Aku ikut bahagia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuberanikan diri untuk menatap wajahnya. Dan aku  tidak menemukan setitik pun kekecewaan di sana. Rasa lega meruahi  hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan bertanya beberapa hal tentang Pram dan semuanya kujawab  dengan antusiasme gadis belasan tahun yang mabuk asmara. Tapi setelah beberapa  waktu, aku sadar kalau ia tidak sungguh-sungguh memperhatikan  ceritaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan?" tegurku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau tidak mendengarkan.  Apa yang sedang kau pikirkan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku sedang berpikir, gadis mana yang bisa  kuajak selingkuh, supaya kau punya alasan untuk bercerai  denganku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu aku terbangun saat Idan  mengguncang bahuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pit, bangun!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada apa?" gumamku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam  alarm di sisi ranjangku baru menunjukkan pukul tiga lima belas dini  hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ganti baju cepat, kita mesti ke rumah sekarang. Mama  meninggal."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terlonjak duduk. "Apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ganti baju," perintah  Idan sambil meninggalkan kamarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terpaku sejenak sebelum akhirnya  lari mengejar. "Kapan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baru saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rumah. Ganti  bajumu. Kita berangkat lima menit lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Idan...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia membanting  pintu kamar di depanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali ke kamarku dan bergegas mengganti  piyamaku dengan baju yang pantas. Ketika aku keluar, semua lampu belum menyala  dan pintu depan masih tertutup. Juga pintu kamar Idan. Kuketuk pintu itu  perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan, aku sudah siap."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku  menyelinap masuk. Kamar Idan gelap, tapi dengan cahaya samar lampu taman aku  bisa melihatnya meringkuk di sudut, wajahnya tersembunyi dibalik kedua  tangannya. Ia menepis tanganku, bahkan mendorongku terjungkal saat aku menyentuh  bahunya. Tapi ketika untuk ketiga kalinya kuulurkan tanganku, ia tidak lagi  menghindar, dan dalam rangkulanku ia menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saat itu Idan tidak  bisa mengontrol emosinya. Setelah itu ia kembali menjadi Idan yang rasional dan  berkepala dingin, yang mengurus pemakaman, menerima para tamu dan menghibur  keempat kakak perempuannya dengan ketenangan yang nyaris  mengerikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore harinya, saat aku tengah membantu  merapikan kembali ruang tamu, kakak tertua Idan, Kak Ira,  menghampiriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pit, bawa Idan pulang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa tidak sebaiknya dia  di sini dulu, Kak?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kak Ira menggeleng. "Coba lihat sendiri," katanya  sambil menunjuk ke halaman belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan kutemukan di sana, sedang  mengisap sebatang rokok. Ia sudah tujuh belas tahun berhenti merokok dan  melihatnya kembali pada kebiasaan itu membuatku sadar ia sedang bergelut dengan  kepedihan yang lebih dalam dari yang ditunjukkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku mendekat,  kulihat asbak di sampingnya telah penuh dengan puntung rokok dan kotak di atas  meja tinggal berisi sebatang. Kucabut rokok itu dari antara jemarinya dan  kubunuh di asbak. Idan tidak memprotes, ia bahkan tidak menatapku. Aku sadar Kak  Ira memang benar. Aku harus segera membawa Idan jauh-jauh dari semua kenangan  tentang ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku mau pulang, Dan, " ujarku sambil memegang tangannya.  Ia menggeleng pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku akan menginap di sini. Kau pulanglah sendiri.  Besok aku pulang naik bus saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tidak mau sendirian di  rumah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan menghela napas berat dan akhirnya bangkit. Ia berpamitan  kepada kakak dan iparnya dan keluar untuk mengambil mobil. Saat itu Kak Ira  menggamit tanganku dan berbisik, "Aku senang Idan sudah menikah denganmu. Kau  pasti bisa menghiburnya dalam saat-saat seperti ini. Ia paling merasa kehilangan  dengan meninggalnya Mama. Kau tahu, ia tinggal dengan Mama selama tiga puluh  tiga tahun."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terpana sesaat. Dadaku ngilu. Kupeluk Kak Ira dengan  hati menggigil. Bagaimana bisa kukatakan kepadanya bahwa aku dan Idan sudah  sepakat untuk mengakhiri pernikahan ini  secepatnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampai di rumah, Idan langsung menuju ke  kamarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau mau kumasakkan nasi goreng, Dan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nanti saja. Aku  tidak lapar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau tidak makan apa-apa dari kemarin subuh. Nanti kau  sakit. Mau ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan mengangguk dengan mata hampa. Aku jadi semakin  khawatir melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tunggu di sini," ujarku lagi. "Aku tidak akan  lama."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku baru saja mengambil telur dari lemari es, aku mendengar  suara Idan di kamar mandi. Ia kutemukan membungkuk di wastafel, menangis dan  muntah hampir bersamaan. Untuk sesaat kepanikan melumpuhkanku dan aku hanya bisa  terpaku diambang pintu, tak pasti apa yang harus kulakukan. Insting pertamaku  adalah lari keluar mencari bantuan. Tapi aku tidak mungkin meninggalkan Idan  dalam keadaan seperti itu. Kuhampiri Idan dengan ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan kuelus  punggungnya dan sentuhanku agaknya sedikit menenangkannya, dan lambat laun  isaknya mereda. Ini membuatku lebih yakin dengan apa yang mesti kulakukan  selanjutnya. Kupijat tengkuknya dan kuseka keringat di dahinya. Tapi tiba-tiba  saja ia terkulai lemas, dan kalau aku tidak segera meraihnya ke dalam pelukanku,  ia pasti akan terpuruk ke lantai. Pelan-pelan kupapah ia ke kamar dan  kubaringkan di ranjang. Kubuka kemejanya yang basah dan kuselimuti badannya yang  menggigil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf, Pit," bisiknya. "Aku tidak bisa menangis di depan  kakak-kakakku. Mereka...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tahu. Tidak apa-apa," tanganku masih  gemetar saat aku mengelus rambutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku buatkan teh panas, nanti kau  minum, ya." Ia mengangguk dan aku beranjak meninggalkannya. Ketika aku kembali,  ia kelihatan agak lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dihirupnya sedikit teh yang kubawa.  Wajahnya tidak lagi pucat setelah itu. Ketika aku merapikan kembali selimutnya,  ia memegang tanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terima kasih."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau pernah melakukan lebih  dari ini untukku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan untuk tehnya. Untuk tidak memberiku pernapasan  buatan," ia tersenyum nakal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh, kau!" aku ikut tersenyum,  lega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan untuk menikah denganku," lanjut Idan kemudian, ekspresinya  begitu serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setidak-tidaknya sebelum meninggal, Mama bisa tenang  karena mengira aku sudah beristri. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tertegun sesaat. Suaraku goyah  dan terbata saat aku bicara, "Aku yang mesti berterima kasih  kepadamu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untuk apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untuk setahun yang kau lewati denganku.  Untuk kesabaranmu. Pengorbananmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan tersenyum kecil. "Aku tidak  melakukan apapun yang tidak kusukai. Ini setahun yang sangat menyenangkan  untukku. Seharusnya aku yang berterima kasih."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan memaksa," aku  mencoba bercanda. "Aku yang harus berterima kasih. Mengalahlah  sedikit."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan tersenyum dan mencubit hidungku. Tangannya tidak sedingin  tadi dan itu melenyapkan sisa-sisa kekhawatiranku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku masih tidak  mengerti kenapa kau akhirnya mau terlibat dengan ide gilaku ini,"  katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Entahlah, Dan," aku tertawa kecil. "Mungkin aku sudah sangat  capai berkilah tiap kali ibuku merongrong soal perkawinan. Dan aku melihat  usulmu itu sebagai jawaban yang paling jitu untuk menyelesaikan dua masalah  sekaligus, keenggananku untuk menikah, karena tidak ada calon yang pas; dan  keinginan ibuku yang menggebu-gebu untuk segera melihatku menikah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa  yang kau dapat setelah setahun kita menikah?" tanyanya dengan mimik lebih  serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terdiam sejenak. "Banyak," jawabku akhir nya. "Aku belajar  bahwa aku tidak menikah dengan malaikat atau monster, tapi dengan manusia, yang  punya kekurangan yang harus kumaafkan dan keistimewaan yang tidak bisa  kuabaikan. Aku belajar bahwa dalam pernikahan, bila kita tidak mendapatkan apa  yang kita inginkan tidak selalu berarti kekalahan, tapi boleh jadi suatu  kemenangan bersama."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin menambahkan bahwa pernikahan membutuhkan  cinta dan kesetiaan seperti gurun memerlukan air, tapi aku tidak punya nyali  untuk menyatakan semua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau memang selalu pintar bicara," Idan  tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau sendiri? Apa ya ng kau pelajari selama  ini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hanya satu. Hidupku mungkin tidak akan pernah sebahagia ini lagi  setelah kau pergi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tertegun. "Apa maksudmu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan bangkit dan  duduk mencangkung menatapku. "Tahun ini adalah saat paling bahagia dalam  hidupku. Setiap aku bangun pagi dan mendengar suaramu, aku jadi berpikir aku  adalah laki-laki paling bahagia di dunia ini. Dan setiap malam waktu aku pulang  dan kau tersenyum menyambutku, aku merasa aku jadi manusia paling beruntung di  seluruh jagad raya. Aku jadi sangat terbiasa dengan kehadiranmu bahkan mulai  berharap kau akan bersamaku terus, walaupun harapan itu, aku tahu, konyol. Tapi  kalau kau mencintai seseorang seperti aku mencintaimu, kau akan kehilangan akal  sehat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutatap wajah Idan lekat-lekat. Ia tidak kelihatan sedang  bercanda. Ia tampak sangat tenang dan serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku masih belum mengerti,"  bisikku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pernikahan ini tidak pernah hanya sebuah simulasi untukku, Pit.  Ini adalah pernikahan sesungguhnya untukku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa maksudmu kau  mencintaiku ?" suaraku tercekik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa yang tidak kau pahami? Aku  mencintaimu," kata-kata Idan begitu lugas, menghantamku seperti sebuah pukulan  keras yang membuatku terempas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku mencintaimu sejak kau memarahiku  karena nyaris melindas kelincimu, dua puluh tahun yang lalu, waktu kita masih  sama-sama belasan tahun. Dan aku tidak pernah bisa berhenti mencintaimu hingga  kini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau... kau tidak pernah...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau tidak pernah memberiku  kesempatan. Kau selalu sedang jatuh cinta dengan orang lain atau patah hati  karena orang lain, dan kau selalu datang kepadaku menceritakan semuanya. Aku  tahu aku bukan lelaki idamanmu. Aku tidak menggambar. Tidak menulis puisi. Kalau  kau bilang sebuah lukisan itu bagus, aku tidak mengerti kenapa. Aku bukan jago  pidato dan calon ketua OSIS yang kau gilai di SMA. Aku bukan aktivis kampus yang  membuatmu mabuk kepayang waktu kuliah dulu. Aku terlalu biasa-biasa saja. Aku  tahu ini sangat menyedihkan, memalukan dan aku benci kau kasihani. Tapi selama  ini aku benar-benar tidak punya keberanian, belum lagi kesempatan, untuk  berterus terang kepadamu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau tidak pernah biasa-biasa saja, Dan,"  ujarku lirih. "Kau istimewa dengan caramu sendiri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengangkat bahu.  "Tidak cukup untuk kau cintai."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat aku hanya bisa terdiam, menatap  kedua mata Idan, mencari tanda-tanda kalau semua ini hanya salah satu dari  sekian banyak permainannya. Tapi ia kelihatan sungguh-sungguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa  kau katakan semua ini kepadaku waktu kita akan berpisah seperti ini? Apa yang  kau inginkan?" tanyaku datar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan tersenyum kecil. Ada kepedihan dalam  senyumnya, sesuatu yang tak pernah kutemukan sebelumnya. "Aku sendiri tidak tahu  kenapa aku mesti mengatakan semua ini kepadamu. Aku hanya ingin kau tahu aku  mencintaimu. Bukan karena aku masih berharap kau akan mencintaiku juga. Sekarang  tidak ada bedanya lagi. Tapi aku ingin kau tahu kalau kau tetap memiliki  cintaku, apapun yang terjadi, bahkan jika akhirnya kau benci kepadaku atau  melupakanku sekalipun."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tertunduk sesaat. Ada sorot yang asing  berpijar di matanya saat ia kembali menatapku. "Dan kalau kau tanya apa yang  kuinginkan, aku ingin kau disini bersamaku, seumur hidupku. Aku ingin kau  belajar dan akhirnya benar-benar mencintaiku, mungkin tidak akan pernah sedalam  dan separah cintaku kepadamu, tapi setidaknya kau tidak lagi menganggapku hanya  sekedar sahabatmu, tapi juga kekasihmu. Aku ingin mencintaimu lebih dari yang  pernah kutunjukkan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menghela napas berat. "Tapi itu semua  keinginanku. Bukan kemauanmu. Kebahagiaanku, belum tentu kebahagiaanmu  juga."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama kami berdua saling berpandangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terima kasih, Dan,"  desahku akhirnya. Kupeluk ia erat-erat, menyembunyikan air mataku di  bahunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku sudah bicara dengan Idan, Pram. Tapi aku  terpaksa menunda proses perceraian itu. Idan baru saja kehilangan ibunya.  Rasanya tidak pantas bicara soal perceraian saat ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berapa  lama?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Entahlah. Sebulan dua bulan mungkin."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau tahu waktu kita  sangat terbatas, Ta. Aku tidak bisa menunda kepulanganku ke Jerman. Dan aku  tidak tahu kapan aku bisa kembali ke sini lagi. Mungkin tidak dalam setahun atau  dua tahun ke depan. Dan kita akan kehilangan waktu yang mestinya bisa kita  lewati berdua."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tahu, Pram. Tapi aku tidak mungkin meninggalkan Idan  sekarang. Dia membutuhkan aku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku lebih membutuhkanmu dari dia, Ta.  Dan pikirkan dirimu sendiri. Apa kau tidak ingin kita bisa seterusnya  bersama?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menghela napas panjang. "Entahlah, Pram, "  bisikku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa maksudmu?" suara Pram terdengar kaget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku.... Aku  tidak akan bahagia kalau Idan menderita."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ita! Kau tidak.... Dengar,  pikir baik-baik. Menurutmu, kalau kau tersiksa hidup dengannya, ia akan  bahagia?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tidak merasa menderita menjadi istrinya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi kau  tidak bahagia!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku bahagia, Pram. Mungkin tidak seperti saat aku  bersamamu. Tapi Idan membuatku bahagia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau tidak bisa melakukan ini,  Ta. Kau hanya kasihan kepadanya. Sebentar lagi kau akan berubah pikiran dan saat  itu kau akan menyesal karena membuang kesempatan ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku bisa belajar  memaafkan diriku sendiri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ita, kau tidak mencintainya!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ia  mencintaiku. Itu lebih dari cukup."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau hanya bingung, Ta. Aku mengerti.  Tapi apa kau lupa kalau aku sangat mencintaimu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tidak pernah akan  lupa, Pram."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lantas apa yang membuatmu berubah pikiran secepat  ini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Idan mengajariku tentang cinta."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hanya karena  itu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Juga karena aku yakin, aku akan belajar  mencintainya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ita...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Selamat tinggal, Pram. Mudah-mudahan kau  akan sebahagia aku nantinya, atau mungkin lebih bahagia lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telepon  kututup sebelum air mataku luruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Upit."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersentak dan  berbalik seketika. Entah sudah berapa lama Idan berdiri di belakangku. Wajahnya  penuh tanda tanya dan ia menggeleng perlahan sambil duduk di lantai di sisi  kursiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa?" tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak bisa menjawab. Air mataku  menetes satu-satu dan dengan lembut ia menyeka pipiku dengan  jarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tak bisa melihatmu begini," lanjutnya pelan. "Ini keputusan  yang sangat konyol, Pit. Kau benar-benar akan membiarkan kesempatanmu berlalu  sekali lagi?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dia akan membuatmu sangat bahagia,  Pit."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau akan menyesal."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku  mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau akan sedih, kecewa...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku  mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau tidak mencintaiku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan  terbelalak. "Upit!" pekiknya tertahan. "Idan!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4523739979911660558-1985983126442191051?l=cintaku-loveme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/feeds/1985983126442191051/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/2009/03/pernikahan-simulasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4523739979911660558/posts/default/1985983126442191051'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4523739979911660558/posts/default/1985983126442191051'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/2009/03/pernikahan-simulasi.html' title='Pernikahan Simulasi'/><author><name>my love</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03585437615001367745</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1UvEn9BN05M/Smle78z0p2I/AAAAAAAAAPk/-R5VUz4OxWs/S220/Foto091.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4523739979911660558.post-6612744061199455477</id><published>2009-03-21T02:17:00.000-07:00</published><updated>2009-03-21T02:20:23.744-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah cerita'/><title type='text'>Jaga Pandangan? ... Siapa Takut...</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Ciaaatttttt….” Tubuh mungil Siou Lien terbang di udara seiring dengan gerakan  kakinya yang menghentak bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah.. bagus, Siao Lien, sekarang langsung  pegang lutut kamu, tundukkan kepala dan banting punggungmu ke depan.” Segera aku  memberi aba-aba pada Siao Lien. Dia langsung mengikuti petunjukku. Dipegangnya  lututnya dan menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut itu hingga tubuhnya  kini tampak membulat. Dari jauh, persis seperti seekor trenggiling yang sedang  meluncur dari puncak bukit, hanya saja trenggiling yang satu ini memakai jilbab  warna putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yak… Sekarang. Banting ke depan !” Sioa Lien gugup,  konsentrasinya buyar. Jangankan mendorong punggungnya ke depan, melepas pelukan  kedua tangannya di lututpun dia lupa hingga masih dalam keadaan membulat dia  meluncur bebas menuju bumi. Tiiiiiiiiiiiiing… BUK !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aduh… “ Siao Lien  tampak terhempas dengan sisi tubuh sebelah kirinya terlebih dahulu menghantam  tanah. Aku segera berlari menghampirinya. Wajahnya tampak meringis, jilbab  putihnya pun tampak berantakan hingga beberapa helai rambutnya tampak mengintip  ke luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sakit Lien ?“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak, enak kok.. Mantaf…” Di tengah  wajah meringisnya dia masih menyelipkan kalimat canda. Hmm, pertanyaanku yang  rasanya bodoh. Tentu saja sakit jatuh dari ketinggian satu meter di atas tanah  seperti tadi. Dalam diam, kugosokkan balsem ke sekujur tubuhnya sambil  memijitnya perlahan-lahan. Siao Lien tampak menikmati pijitanku sambil sesekali  berteriak kesakitan jika aku menyentuh bagian tertentu dari permukaan kulitnya  yang mulai terlihat lebam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Duh.. maaf yah kak. Lien tuh susah banget yah  diajarinnya. Habis, Lien gugup banget sih kak.” Aku hanya tersenyum mendengar  permintaan maafnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak papah Lien. Mungkin kakak saja yang terlalu  bernafsu ngajarin kamu. Habis, kejuaraan sebentar lagi kan diadakan di ibukota.  Kakak pingin kamu bisa tampil dan meraih setidaknya yah harapan satu atau  harapan dualah di kejuaraan itu. Hmm, jurus berputar di udara itu adalah jurus  Angin Berputar yang dimiliki hanya oleh perguruan kita. Kakak mempelajarinya  dari kakek guru almarhum dan sudah memodifikasinya sedemikian rupa sehingga  gerakan itu lebih kaya sekarang. “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Harusnya kakak saja yang muncul  kak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iyah.. tapi kamu kan tahu sendiri bahwa kakak harus turun gunung  besok siang, karena ada musibah di desa Sampan Jauh. Kakak harus membantu  penduduk di sana yang sedang dilanda perang saudara dengan desa di sebelahnya.  Jadi, kita bagi tugas. Masing-masing kita berjuang dengan peranan masing-masing.  Mengenai latihan… kakak sudah punya rencana sendiri khusus untuk kamu.” Aku  terus memijit kaki Siou Lien sementara Siou Lien sudah berkurang suara  mengaduhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa rencana kakak buat aku ?” Siou Lien lebih tertarik pada  rencana yang belum kuucapkan ketimbang lebam di tubuhnya. Aku tersenyum dan dari  arah belakang kami terdengar suara teriakan salam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Assalamu’alaikum !”  Dengan kompak aku dan Lien menjawab salam tersebut. Wah.. tepat waktu. Aku  berbalik punggung dan di depanku kini telah tampak seorang pemuda kekar yang  memakai kacamata hitam dan sedang tersenyum lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lien… Ini rencana  kakak. Sementara kakak pergi, kamu akan dilatih oleh Kak Li Ping Tse… Hmm..  kenalan dulu kali yah. Li Ping, ini Siou Lien, Siou Lien, ini Li Ping. Li Ping  ini kakak perguruan kamu yang dua tahun lalu belajar ke gunung sebelah dan  sekarang kakak panggil pulang untuk melatih kamu.” Aku memandang mereka berdua  yang sama-sama menunduk dalam diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lien.. kamu bisa istirahat  sekarang, kakak mau bicara dengan Li Ping.” Kutepuk pundak Siou Lien dan sedetik  berikutnya Siou Lien sudah melesat pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini tinggal aku berdua dengan  Li Ping Tse. Kujelaskan semua jurus modifikasiku pada Li Ping Tse yang  mendengarnya dengan penuh khikmat. Matahari sudah semakin condong ke arah barat,  ba’da ashar aku sudah harus turun gunung agar ketika maghrib tiba, aku sudah  berada di kota. Sebelum pergi meninggalkan Li Ping Tse, kudekati dia  hati-hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jaga Pandangan kamu yah terhadap Siou Lien. Ingat, kalian  tetap berlainan jenis dan non muhrim. ” Dengan tegas kuberi Li Ping Tse  peringatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siip kak. Lihat, perbekalan sudah memadai.” Li Ping Tse  memperlihatkan kacamata hitam pekat yang masih bertengger di atas hidungnya  sambil memamerkan senyum lebarnya yang khas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 10px; margin-right: 10px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahh..  tak terasa sudah enam bulan aku meninggalkan perguruan. Rindu rasanya pada semua  adik-adik perguruan, juga pada pohon Cemara di depan jendela kamarku, yang  selalu meliuk rendah sekali jika angin datang menerpanya. Atau pada kitiran  angin yang terbuat dari bambu dengan sehelai bulu sayap burung elang di ujungnya  hingga bambu itu akan berputar riang jika tertiup angin. Putaran bulu elang  inilah yang memberikan inspirasi pada modifikasi gerakan tendangan angin  berputar perguruanku. Tiga bulan lalu, Siou Lien memberiku kabar bahwa tahun ini  perguruan kami berhasil memenangkan pertandingan antar perguruan hingga  perguruan kami diakui sebagai perguruan yang patut diperhitungkan di dunia  persilatan. Alhamdulillah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari jauh kulihat Li Ping Tse sedang duduk  menipu seruling di atas batu cadas ceper yang ada di depan gerbang perguruan.  Lagu yang dinyanyikannya sedih sekali. Tumben. Biasanya, keceriaan dan senyum  tidak pernah hilang dari perilakunya sehari-hari. Dengan sekali hentak, kuputar  tubuhku melayang di udara hingga dalam sekejap bisa berada tepat di depan Li  Ping Tse.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Assalamu”alaikum !” Li Ping Tse tampak terkejut dan segera  bangkit dari duduk bersilanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wa’alaikumsalam warahmatullahi  wabarakatuh… Ahlan Kak Chou CHou, kapan datang ?” Dengan gugup Li Ping Tse  tampak gugup dan grogi menyembunyikan serulingnya. Dia pasti malu karena dalam  hal ini dia benar-benar sudah kehilangan kewaspadaannya. Bayangkan jika yang  datang itu musuh, tentu dengan mudah dia sudah dikalahkan dan musuh bisa dengan  mudah masuk ke dalam perguruan kami tanpa ada perlawanan apa-apa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kabar kamu dan adik-adik ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik alhamdulillah.”  Sekilas kulihat dia menelan air liurnya dengan susah payah. Hei, tidak biasanya  Li Ping Tse begini gugup. Kucari wajahnya yang menunduk sangat dalam tersebut  dan menatapnya dengan seksama, membuat wajahnya yang dihiasi kacamata hitam itu  kian bersemu merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa ?” Tidak ada jawaban selain gelengan kepala.  Secara sekelebat di kepalaku terlintas wajah Siou Lien. Apakah ada hubungannya  ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kabar Siou Lien setelah kutitipkan dia padamu ?” Li Ping Tse  tampak langsung menelan kembali air liurnya, keringatnya tampak membayang di  pelipisnya. Membuatku kian khawatir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa dengan dia ?” Pertanyaanku  semakin memburu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak.. tidak ada apa-apa. Sungguh kak. Hubungan kami  baik, sangat baik. Dia menganggapku seperti kakaknya sendiri…,” Kalimat Li Ping  Tse terasa menggantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu ?” Aku kian penasaran. Tak peroleh jawaban,  tapi sebaliknya Li Ping Tse mulai terisak. Loh ? Ada Apa ini ? Permainan apa  lagi yang mau ditunjukkannya. Dari dulu, Li Ping Tse memang terkenal sebagai  murid yang paling selengek’an, sehingga guru menugaskan dia untuk belajar di  gunung sebelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Loh ?… Ih, bingungin, kamu kenapa sih ?” Aku  mengggaruk-garuk kepala kebingungan berhadapan dengan Li Ping Tse kali ini. Tapi  pemuda di depanku ini malah terisak kian hebat. Wah.. memalukan. Tubuh kekarnya  jadi tidak lagi berarti. Pendekar kok menangis. Apa kata dunia  persilatan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei…cup.. cup.. kenapa ?” Tiba-tiba Li Ping Tse menghentikan  tangisnya dan memamerkan senyum lebarnya yang khas. Itu senyum isengnya, aku  sudah hapal sekali. Jika ini senyum isengnya, artinya tadi itu air mata  buayanya. Wah. Aku mundur beberapa langkah menjauhi Li Ping Tse dan mengambil  sikap bersiaga menghadapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sedih kak, karena aku pingin dia tidak  menganggapku sebagai kakaknya, tapi.. sebagai …nggnn…. kekasihnya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wayooooooo…” Aku berteriak spontan. Ih, gemes banget deh menghadapi  anak ini, sungguhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu kan aku beri amanat untuk jaga pandangan kamu  Li Ping, ingat. “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yup. Sudah. Lihat. Aku tidak pernah melepas  kacamataku, kami tidak pernah bertatapan secara langsung dalam waktu yang lama,  pokoknya murni profesional. Tapi kan, mana tahu kalau keadaan jadi begini,  sebab..” Huh, aku benci melihat gaya LI Ping Tse menguraikan alasannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Stoooopppppp.. Jangan bicara lagi, sebel dengarnya. Jaga pandangan itu  tidak harus berbentuk fisik tidak melihat secara langsung atau menggunakan  bantuan benda seperti kacamata, bukan hanya itu. Tapi jaga pandangan itu juga  harus diiringi dengan jaga hati, jangan mengotori hati kamu begitu saja. Huhhh…  kamu tuh sudah mengecewakanku deh. Sekarang, aku beri hitungan sampai tiga untuk  kamu menyelamatkan diri dari hukumanku. Sudah gatal rasanya kakiku untuk  menendangmu. Ayo.. satu….” Li Ping Tse yang sedang tersenyum lebar tergagap dan  tampak kebingungan menengok ke kiri dan ke kanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dua…” Melihat  kesungguhanku dalam berhitung juga kuda-kudaku yang mulai terpasang, Li Ping Tse  segera tahu bahwa aku memang sungguhan akan memberinya hukuman. Segera dia  berlari sekuat tenaga meniti anak tangga yang jumlahnya ratusan ke atas gunung,  tempat perguruan kami berada. Bajunya dari belakang tampak berkibar-kibar  tertiup angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tiga… Tendangan Angin berputar, terima ini.  Ciaaaaaattttttttt..”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:100%;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4523739979911660558-6612744061199455477?l=cintaku-loveme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/feeds/6612744061199455477/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/2009/03/jaga-pandangan-siapa-takut.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4523739979911660558/posts/default/6612744061199455477'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4523739979911660558/posts/default/6612744061199455477'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/2009/03/jaga-pandangan-siapa-takut.html' title='Jaga Pandangan? ... Siapa Takut...'/><author><name>my love</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03585437615001367745</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1UvEn9BN05M/Smle78z0p2I/AAAAAAAAAPk/-R5VUz4OxWs/S220/Foto091.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4523739979911660558.post-3859550094662987263</id><published>2009-03-05T23:14:00.001-08:00</published><updated>2009-03-05T23:15:35.886-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islami'/><title type='text'>Ada Hikmah di Negeri Sakura</title><content type='html'>“Assalamu’alaikum”, ku dengar salam suami.&lt;br /&gt;“Wa’alaikumussalam”, jawabku tanpa  beranjak dari meja setrika. Ah, kebiasaan jelekku di tahun kelima pernikahan.  Tampak beda di kala awal-awal nikah dulu. Mendengar motornya pun, sudah berlari  ke arah pintu. Mulai krisis rupanya ruhiyahku….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dik, sini sebentar”,  berkata suamiku sambil menekan power komputer.&lt;br /&gt;“Sebentar, sedikit lagi Mas,  tinggal baju Dede yang belum disetrika”. Duh, bertambah lagi dosaku yang tidak  segera memenuhi panggilan suami.&lt;br /&gt;“Sini… Sebentar aja, penting  nih”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat sepintas di layar komputer. Oh, rupanya suami dari warnet.  Tampak tampilan e-mail di komputer. Yah, suami biasanya ke warnet, hanya membuka  e-mail tanpa membacanya. Kecuali beberapa e-mail penting. E-mail dari temannya  dan temanku biasanya hanya di kopi, dan dibaca santai di rumah. Menghemat biaya  katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kumatikan setrika, dan berjalan menghampirinya, setelah  mengambil segelas air putih di meja makan. Tampak e-mail dari Prof. Seiko  Taniguchi, professor Jepang yang telah tiga tahun ini sering dikontak suami,  agar bersedia menjadi supervisornya. Tanpa semangat kubaca e-mail itu. Tertegun.  Tak Percaya. Kaget dan entah apalagi, “... See you in Fukuoka.”, itulah kalimat  terakhir yang membuat jantungku berdegup kencang. Kutengok ke belakang, ternyata  suami sudah tidak di atas kursi lagi, melainkan sedang sujud syukur di tempat  yang biasa kami pakai untuk shalat. Ah, rupanya tadi di warnet belum sempat  sujud syukur Segera ku susul dia, sujud bersama, dengan rasa penuh syukur.  Alhamdulillaah, akhirnya keinginan kita untuk melanjutkan sekolah di Negeri  Sakura terpenuhi juga. Air mata berlinang, meluapkan rasa gembira yang tak  terkira. Alhamdulillaah, syukurku tak henti-hentinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua bulan setelah  pengumuman itu, berpamitan dengan tetangga, teman dan saudara, akhirnya  kutinggalkan tanah air demi sebuah tujuan dan harapan yang kami bangun semenjak  ada cita-cita melanjutkan sekolah di luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupandangi sesaat,  sebelum kutinggalkan rumah sangat sederhana, tipe 21, luas 75m persegi yang  belum selesai dibangun. Tersenyum, mengingat kata anak tetangga, “Masak rumah  seperti ini mau ditempati to, wong belum jadi kok”, bahasa Indonesia medok Jawa  khas Semarang. “Ah, insya Allah nanti kan berubah…”, ups! Tak kulanjutkan  khayalanku. Astaghfirullaah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jepang, akhirnya kita sekeluarga  bisa berkumpul di negeri ini. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan.  Setelah melihat kondisi dan keadaan di Jepang, ternyata tak semua cita-cita dan  impianku terlaksana. Impian ingin melanjutkan sekolah lagi, kandas di jalan.  Mengingat susahnya mencari beasiswa di sini. Sekolah dengan biaya sendiri,  rasanya tidak mungkin. Akhirnya, ku semangat belajar nihonggo, aku ingin  menguasai bahasanya. Namun, itu pun hanya semangat sesaat yang tak mampu  kupertahankan, melihat sangat susahnya nihonggo, kursus yang hanya  setengah-setengah, karena memang hanya kursus gratisan, dan bila ingin kursus  yang benar-benar kursus, biaya juga tak terjangkau, akhirnya aku pun menyerah  juga. Aku bukan tipe orang yang bisa belajar sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang  terbersit keinginan untuk bekerja, mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Kendala  bahasa menjadi hambatan utama. Kalau dihitung-hitung pun jatuhnya tak seberapa,  kebijakan-kebijakan Jepang di sini. Semakin besar pendapatan, pajak yang  dikenakan juga semakin tinggi, baik itu asuransi kesehatan, biaya sekolah anak,  sewa rumah, akhirnya uang yang tersisa tak sebanding dengan tenaga yang  dikeluarkan. Sedangkan bila aku tak bekerja, suami yang gakusei di hitung zero  penghasilan, dan hampir semua kebutuhan hidup di subsidi, mulai sekolah anak  gratis, sewa rumah murah serta asuransi kesehatan murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya aku  yang ingin bekerja, ibu pun sempat berpesan, supaya memanfaatkan waktu sebaik  mungkin selama di Jepang, baik sekolah ataupun bekerja, dan hampir semua  saudara-saudara mempunyai harapan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku teringat Bu De, ketika  menghaturkan sebuah amplop putih saat Pak De meninggal, “An, kamu sudah kerja?”,  katanya serasa tidak enak menerima uang bukan hasil keringatku  sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Duh, Bu De, uangku dan uang suami kan sama saja...”, pikirku  tanpa berani mengatakan langsung. Hanya jawaban, “Belum Bu De, nyuwun  pangestunipun kemawon”, jawabku dengan mata memerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teringat lagi aku,  saat-saat kuliah dulu. Jarak yang begitu jauh, menyebabkan aku pulang setengah  tahun sekali, saat libur semester. Tiap kali main ke sana, selalu pulangnya  diambilkan uang dari stagennya, sambil memelukku beliau bilang, “An, jangan  dilihat besarnya ini hanya tondo tresno ya...” Aku pun terharu menerimanya.  Yach, apalah artinya uang seribu dua ribu di tahun 1998-an, setelah krisis.  Mungkin hanya sebungkus nasi rames di warung dekat kostku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“BUZZZ!”, terdengar dari komputer ada yang  memanggil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, rupanya temanku di nun jauh di pulau sana di Jepang ini.  Teman yang hanya bertemu di dunia maya, namun begitu dekat di hati ini.  Alhamdulillaah, atas rahmat Allah dengan kemajuan teknologi di Jepang ini,  membuatku memiliki banyak sahabat yang bisa saling menasihati, menghibur dan  bercanda. Dan mengalirlah serangkaian nasihat yang menyejukkan hati ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil berchatting ria, aku baca milis muslimah di Jepang ini. Milis  yang penuh hikmah, pengetahuan dan ukhuwwah. Walaupun selama ini hanya menjadi  peserta pasif, rasanya tidak pede menuangkan tulisan dalam milis ini, mengingat  kemampuan yang tak seberapa. Senang dengan obrolan, sharing yang kubaca.  Berbunga hati ini bila ada yang menyapa. Dan iri hati ini melihat muslimah lain  yang bisa begitu aktif menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai chatting dan puas membaca e-mail  yang masuk, aku search di Google mencari resep masakan. Yap! Ini menarik, dadar  gulung coklat isi vla. Dadar gulung asli, isi enten-enten justru menguras  kantong, mengingat harga kelapa parut di sini lumayan mahal. Teringat aku di  Indonesia, wuah…mana pernah aku bikin penganan untuk keluarga. Tinggal ke warung  dan beli jadi. Paling-paling bikin pisang goreng saja. Hampir setahun di sini,  kuingat-ingat kue yang telah berhasil aku buat, soes, ponds cake, cake pisang,  pudding caramel, klepon juga risoles serta sosis solo dan makanan yang sangat  tradisional sekali, timus ubi jalar, bahkan menjadi resep andalan bila ada  matsuri. Ah, di sini aku jadi penjual timus, hehehe… Tersenyum aku mengingat  semua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“KRINGG!”, terdengar telepon  berbunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temanku mengajak rapat TPA dilanjutkan belajar bahasa Arab  bersama orang Mesir. Alhamdulillaah, di negara yang tidak beragama ini aku  justru ada semangat untuk mengkaji Islam lebih jauh. Di Indonesia, guru bahasa  Arab berlimpah, waktu pun banyak. Namun tak pernah terpikirkan untuk belajar  bahasa Arab secara serius. Alhamdulillaah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TPA... Mana pernah terpikir  olehku untuk mengajar TPA di komplek rumahku. Ada satu dua orang anak yang  terpaksa ikut TPA RT lain, yang jaraknya agak jauh dari rumah. Dan tak pernah  sedikit pun terpikir untuk membantu, atau sekedar menyumbangkan tenaga. Ah,  makanya aku sempat malu, namun juga bersyukur, keluarga yang sekarang menempati  rumahku, merintis sebuah TPA khusus untuk RT rumahku. Dan berupaya mendirikan  sebuah mushalla di depan rumah kami, yang kebetulan masih tanah kosong.  Alhamdulillaah, semoga bila saatnya pulang nanti, lingkungan rumahku sudah  agamis. Ah, dasar maunya enak sendiri. Kenapa dulu tak pernah berusaha untuk  menciptakan lingkungan yang baik untuk  anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillaah, walaupun tidak bisa memenuhi  harapan ibuku dan juga harapanku sendiri untuk sekolah ataupun bekerja  mengumpulkan uang sebanyak-banyak, namun banyak sekali hikmah di negeri Sakura  ini. Dan itu semua tidak bisa dinilai dengan barang ataupun uang sebesar  apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, inilah yang nanti akan kuceritakan kepada semua keluarga,  bila saat pulang nanti disambut dengan pertanyaan, “Kamu di Jepang ngapain  aja?...” Seperti juga beberapa saudara yang selalu menanyakan kegiatanku  disela-sela obrolan saat telepon atau e-mail. Ah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Fukuoka,  Ramadhan 2009.&lt;br /&gt;Tuk para isteri penyulut semangat suami menuntut  ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Istilah :&lt;br /&gt;Nihonggo : bahasa Jepang&lt;br /&gt;Gakusei :  mahasiswa&lt;br /&gt;Nyuwun pangestunipun kemawon : mohon doanya&lt;br /&gt;Tondo tresno : tanda  kasih&lt;br /&gt;Matsuri : pesta rakyat&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4523739979911660558-3859550094662987263?l=cintaku-loveme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/feeds/3859550094662987263/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/2009/03/ada-hikmah-di-negeri-sakura.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4523739979911660558/posts/default/3859550094662987263'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4523739979911660558/posts/default/3859550094662987263'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/2009/03/ada-hikmah-di-negeri-sakura.html' title='Ada Hikmah di Negeri Sakura'/><author><name>my love</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03585437615001367745</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1UvEn9BN05M/Smle78z0p2I/AAAAAAAAAPk/-R5VUz4OxWs/S220/Foto091.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4523739979911660558.post-2048856552479232219</id><published>2009-02-15T02:24:00.000-08:00</published><updated>2009-02-15T02:31:03.368-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah cerita'/><title type='text'>Seorang Lelaki dan Iblis Yang Menangis</title><content type='html'>Aku meneguk tehku sampai habis, kemudian meletakkan cangkirnya di meja kecil  samping tempat tidurku. Kuletakkan buku yang kubaca. Membuang rasa penat, aku  bangkit, berdiri sambil meletakkan tangan di pinggang, lalu membuat gerakan  memutar pinggulku ke kiri-kanan. Gemeretak bunyi tulang punggungku terdengar  begitu nikmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah mana yang lebih nikmat, bunyinya ataukah rasanya?  Aku tidak mau berpikir lebih lanjut. Ada kenikmatan lain yang ditawarkan alam  padaku. Di luar, sinar bulan yang baru mulai muncul menyeruak masuk dari pintu  beranda kamarku. Menyeret sendal kamar di kakiku, aku membuka pintu  beranda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud hati ingin lebih menikmati indahnya panorama itu, tapi  pemandangan lain kontan menyedot perhatian di balik pintu yang  terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang, seekor - atau sesosok - Iblis duduk di beranda.  Kukenali dari dua tanduk di kepala, tubuh telanjang tanpa alat kelamin dan ekor  dengan bentuk mata panah diujungnya. Sinar lampu di belakangnya membuat  posisinya membentuk seperti siluet the thinker, karya Auguste Rodin. Sesaat,  berandaku terasa seperti galery museum Decorative Arts di Paris. Mendadak rasa  takut menyelimuti tubuhku. Kuamati lekat mencari tanda-tanda, apakah ini patung?  Atau iblis yang sebenarnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hah..! Ia mendesah panjang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam  keterkejutanku, kucopot sendal kamarku dan kulempar sekuat tenaga ke arahnya.  Sendal itu terlalu ringan, dan aku melempar tanpa bidikan yang jitu. Bukan  menampar wajahnya, sendal itu malah menyangkut di salah satu tanduknya. Dan itu  rupanya tidak cukup mengganggu, apalagi mengusirnya. Bahkan ia tidak bereaksi  sedikit pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku tunggu beberapa detik, yang terasa seperti  bermenit-menit. Ia tetap tidak bereaksi. Lalu kuputuskan mencoba mengusir dengan  teriakan agak keras, "Hush.. Pergi Sana!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ia masih disitu. Duduk di  ujung kursi berandaku. Aku sejenak ragu. Takut, tapi harus berani. Bagaimana pun  aku orang beragama bukan? Orang beragama tidak boleh takut pada Iblis. Tapi  harus takut pada Tuhan. Pada Allah sang pencipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kudekati dia lebih  dekat, dan kuulangi teriakan pertama dengan sisa sebelah sandal kamar teracung  di tangan kananku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menoleh sedikit, dengan sendal kamar masih  menyangkut di tanduknya, membuatku bersiap atas kemungkinan berhadapan dengan  kemarahan sang Iblis. Tapi yang kulihat membuatku terkejut. Lho? Ia  menangis!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku tertumbuk pada matanya yang berair. Bulir air mata  tampak satu-satu turun dari sudut matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menoleh dengan sudut lebih  besar, sehingga wajahnya kini terlihat lebih jelas. Tak terlalu buruk untuk  ukuran Iblis - walau tentu saja aku tidak pernah tahu gambaran wajah Iblis  sebenarnya. Tapi paling tidak wajahnya tidak seperti wajah-wajah jin atau iblis  dalam film holywood. Mungkin agak mirip tokoh Sith Lord di Phantom Menace-nya  George Lucas, botak, bertanduk, hidung mancung dan mata yang besar, tapi cukup  bersih dan cakap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pergi.. Jangan ganggu!", kali ini seruanku lebih  perlahan tapi tetap tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat ia mengamatiku, kemudian menjawab.  Suaranya terdengar agak parau dan kasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mengapa?", tanyanya, "Kau  begitu takut padaku?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja aku takut padanya. Siapa manusia yang  tidak takut Iblis? Tapi seperti yang kukatakan, orang beragama diajarkan hanya  takut pada Allah, pada Tuhan yang kita sembah. Dan aku orang beragama, jadi aku  berbohong padanya, "Aku tidak takut sedikit pun padamu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mendesah,  terdengar seperti desahan kakek-kakek tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Walaupun aku adalah raja dari  kaum-ku? Pemimpin besar dari segala Iblis?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Walaupun kamu raja dari  segala raja biang setan di seluruh dunia dan akhirat", jawabku. Entah siapa yang  aku coba yakinkan, dirinya atau diriku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau tidak berdusta?",  tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku agak ragu juga untuk menjawab. Berdusta itu dosa bukan?  Iblis ini memang sialan. Hanya dalam beberapa detik bercakap dengannya, aku  sudah melakukan satu dosa. Atau mungkin dua? Apakah melempar sandal ke kepala  sang Iblis termasuk perbuatan dosa? Entahlah, mungkin nanti aku periksa dalam  kitab suci - kalau-kalau ada ayat yang menyatakan tentang itu-. Yang jelas,  kalau aku menjawab pertanyaannya kali ini, berarti aku sudah berbohong dua  kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi aku diam saja. Agak mengangguk sedikit. Semoga mengangguk  kecil tidak termasuk berbohong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lalu kenapa aku harus pergi?" tanyanya  lagi. "Apakah dengan duduk disini sudah demikian mengganggumu? Atau kau demikian  benci padaku?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau Iblis. Bahkan katamu kau raja dari segala Iblis.  Tentu saja aku benci padamu. Apa yang kau harapkan? Aku mencintaimu?  Edan!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iblis itu menunduk. Lalu mulai menangis seperti anak kecil.  Tersedu-sedu, kepalanya mengangguk-angguk. Sendal di tanduknya jadi  bergoyang-goyang. Pemandangannya agak lucu sebenarnya, tapi segera tertepis  dengan kecurigaan yang muncul dalam benakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Permainan apa yang ingin  kau hadirkan padaku Iblis? Hentikan tangismu! Kau bisa membangunkan seisi  rumahku!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menarik napas panjang beberapa kali, isaknya menyurut.  Ia menatapku dengan tatapan sedihnya. "Boleh aku minta teh?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak  habis pikir, tentu saja. Untuk apa seorang -atau sesosok- iblis minta teh?  Kecurigaanku bertambah. Pasti -kataku yakin dalam hati- ia sedang merencanakan  sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa pilihanku? Menolak? Bagaimana orang yang percaya pada Allah  bersikap dalam kondisi begini? Apakah memberi teh pada Iblis adalah satu  dosa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya saja ada malaikat yang hadir di sini, mungkin aku bisa  bertanya. Entah benar atau tidak, malaikat itu rasanya seperti polisi di negeri  ini saja. Saat dibutuhkan, tak tahu kemana rimbanya. Ataukah mereka ada, dan aku  saja yang tidak mengetahuinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah setiap kali Iblis hadir dan  menggoda manusia, otomatis malaikat akan hadir pula? Seperti visualisasi  pertempuran bathin tokoh-tokoh kartun dalam film walt disney dimana ada gambaran  sosok bersayap dan sosok bertanduk yang saling membujuk? Kalau ya, di mana  mereka kini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memincingkan mata, mencoba mencari sosok-sosok putih  bersayap. Di sudut-sudut beranda, di taman pekarangan, di balik selasar. Sekali  kusenggol pintu perlahan dengan kakiku untuk mengecek -jangan-jangan ada  malaikat di baliknya-. Tapi tidak ada tanda-tandanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi aku masuk ke  dalam, menghampiri poci teh di meja samping tempat tidurku. Kuusap bibir cangkir  yang bekas kupakai dengan bajuku, lalu kutuang teh secukupnya, dan kubawa  kembali ke beranda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dengan satu syarat," kataku saat mengacungkan  cangkir teh ke depan hidungnya. "Habiskan ini, dan tinggalkan  berandaku!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baiklah." katanya sambil mengambil cangkir yang kusodorkan.  Sebaliknya ia menyodorkan sendal kamarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengenakannya sambil  mengawasi ia menempelkan cangkir ke bibirnya, lalu menyeruput teh yang masih  agak hangat itu. Perlahan, dan sedikit sekali. Saat selesai kulihat isi cangkir  itu tidak terlihat berkurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brengsek, makiku dalam hati. Sekali lagi  aku tertipu. Dengan cara minumnya seperti itu, bisa lebih dari sepuluh kali  tegukan ia baru menghabiskan secangkir teh setengah penuh. Berapa banyak lagi  tipuan Iblis yang lahir dari kata-kata manusia sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terimakasih,  hangatnya teh ini sangat melegakan hatiku yang sedang sedih." katanya sambil  memegang cangkir itu dengan kedua tangannya, seperti mencari kehangatan di  sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tidak akan termakan permainanmu Iblis." sahutku kasar.  "Kebaikanku memberikan teh, jangan kau artikan kelemahan. Jadi sebaiknya kau  tetap tutup mulut, cepat nikmati dan habiskan teh itu, serta segera berlalu dari  sini. Ini bukan rumah yang menerimamu dengan tangan terbuka."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia  mengangkat tangannya sedikit menahan kata-kataku. "Kau orang baik. Sepertinya  kau juga orang taat. Tapi mengapa begitu kasar?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kepada Iblis tidak ada  larangan berkata kasar." sahutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Begitukah?" tanyanya -hampir pada  dirinya sendiri-. "Yang dilarang bukan perbuatannya tapi kepada  siapanya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brengsek. Aku sadar kemana arah pertanyaannya. Lebih brengsek  lagi, gugatannya memang benar. Dalam banyak hal, perbuatan memang dilarang bukan  atas perbuatannya, tapi pada siapanya. Membunuh pun jadi halal ketika diletakkan  pada orang yang pantas untuk dibunuh. Perkara siapa yang kompeten menentukan  pantas-tidaknya, itu adalah perkara lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semestinya hanya pemberi  kehidupan yang punya kompetensi untuk mencabut nyawa. Tapi bahkan Tuhan pun  sepertinya menggunakan sistem perwakilan. Kalau tidak, bukan tangan malaikat  yang mencabut nyawa manusia, tapi tangan Tuhan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi mungkin  wajar pula kalau sebagian orang merasa jadi wakil Tuhan untuk mencabut nyawa  orang lain. Alasan kafir sudah cukup untuk hilangnya selembar nyawa manusia.  Walaupun sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan sosok psikopat Jack The Ripper  yang merasa jadi wakil tuhan dan membunuhi pelacur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, aku mengusir  pikiran-pikiran yang muncul dalam benakku. Aku pasti sudah terjebak dalam  permainan kata-kata si Iblis. Ia memang pandai. Sangat pandai. Bodohnya aku yang  terus membiarkannya berkata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tahukah kau mengapa aku sedih?"  tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau hendak mencobai aku, Iblis?" sergahku. "Jangan kau  coba-coba. Aku tidak akan beranjak dari keyakinanku untuk  mengikutimu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku hanya bertanya," sahutnya. "Mestinya kau berempati  pada mahluk yang tengah kesusahan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iblis kesusahan?" kataku sambil  sedikit tertawa. "Tentu saja kau akan kesusahan sejak kau menantang Allah! Dan  tidak ada empati untuk mahluk penentang Allah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sengaja mengatur nada  suaraku agar terdengar sangat sinis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Empati. Memang kau siapa? Untuk  korban kejahatan, korban bencana alam, kaum dhuafa, empati tentu saja wajib  diberikan. Tapi untuk Iblis macam kau? Untuk manusia sampah masyarakat,  penghancur tatanan sosial masyarakat seperti bandar-bandar narkoba atau koruptor  saja tidak ada empati untuk mereka. Mereka bukan victim, bukan korban. Mereka  adalah pelaku kejahatan. Apalagi kau sumber segala kejahatan  manusia!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukankah manusia-manusia yang kau katakan itu adalah korban  juga? Korban ketidakadilan sosial, korban penindasan politik, korban masyarakat?  Bukankah melanggar hak asasi manusia kalau tidak ada sedikitpun empati untuk  mereka?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di relung-relung benakku, terbersit pikiran kalau sang Iblis ini  mulai terlihat belangnya. Lihat saja, ia tidak lagi menangis, dan mulai mencoba  beretorika. Memang benar ajaran-ajaran kitab suci tentang watak sang Iblis.  Bayangkan saja, ada Iblis berbicara soal Hak Asasi Manusia! Busuk benar  kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persis seperti negara adikuasa yang membom negara lain atas nama hak  asasi manusia. Persis seperti para pembela agama yang membunuhi manusia lain.  Walaupun untuk perihal korban, apa yang dikatakannya benar, tapi mana mungkin  aku terima begitu saja? Persetan dengan hak asasi manusia! Toh konsep hak asasi  semakin lama sudah semakin bias, seperti juga konsep-konsep demokrasi,  kebebasan, hukum, semua alur dan letaknya sudah sangat campur aduk dalam tatanan  hidup masyarakat modern sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kapan tepatnya, di masa depan  komunisme mungkin malah akan bersandingan dengan theis, dan bukan dengan  atheis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba aku seperti tersadar. Tentu saja! Yang bertanggung  jawab atas campur aduknya semua itu, tentu adalah sosok di hadapanku ini! Sang  iblis! Jadi bukan manusia yang keblinger. Bukan manusia yang jahat. Tapi sang  Iblis!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan manusia yang korup, bukan manusia yang pemerkosa, bandar  narkoba, maling... Pikiranku terhenti sendiri. Benarkah? Benarkah bukan manusia  yang menjadi penjahat? Kalau begitu manusia juga hanya victim? Victim dari  kejahatan si Iblis, penipuan si iblis, hasutan si iblis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iblis ini  benar-benar hebat. Apa yang dilakukannya sesuai dengan reputasinya. Lamunanku  terhenti ketika Iblis dihadapanku mulai berkata-kata lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan katamu  aku menentang Allah? Itu tidak benar!" Wajahnya lebih menunjukkan raut bingung  ketimbang marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku cukup hapal cerita kitab suci tetang  pemberontakanmu menantang Allah. Kalau kau menolak, dusta memang sudah menjadi  sifatmu bukan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tampak tidak memperdulikan cercaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku  hanya menjalankan perintah Allah." katanya perlahan. "Allah memerintahkanku  untuk mencobai manusia, untuk menggoda manusia, menguji sejauh mana ketaatannya  pada Allah. Apakah itu berarti menentang Allah?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menoleh padaku dan  melanjutkan kata-katanya, "Kalau Iblis menentang perintah Allah untuk menguji  manusia, apakah ada Iblis yang menggoda manusia? Bukankah semua terjadi atas  ijin-Nya? Mengapa manusia harus membenci aku? Bukankah ini hanya just business  and nothing personal." katanya dengan raut tidak berdosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat aku  ingin memakinya. Tapi ia melanjutkan lagi kata-katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Inilah yang aku  sedihkan sebenarnya. Mengapa kalian manusia begitu membenci aku. Sedangkan aku  hanya bekerja sesuai apa yang diberikan Allah padaku. Apakah kalian tidak tahu  kalau aku tidak berkuasa apa-apa atas kekuasaan Allah?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kehabisan  kata-kata. Benar-benar sulit melawan pemikiran dan kata-kata Iblis. Aku  mencari-cari dalam benakku kata-kata dalam ayat suci untuk menjawab sang  Iblis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi otakku seperti buntu. Mestinya aku tidak hanya membaca -tanpa  memahami- huruf- huruf itu setiap malam. Apakah ada yang bisa kugunakan untuk  melawan kata-katanya? Kusadari kepercayaan diriku mulai runtuh saat aku tidak  kunjung menemukan jawaban yang ampuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin seharusnya ada rumusan  untuk melawan iblis secara jelas. Untuk menjawab godaan A, bacalah ayat A, untuk  jenis godaan B, bacalah ayat B. Pada siapa pula aku harus menuntut-nuntut hal  seperti ini. Pada ulama? Pendeta? Guru ngaji? Penginjil? Literasi dalam kitab  suci tidak diterjemahkan dalam rumusan ces-pleng model begini. Kita hanya  disodorkan pada dongeng-dongeng, cerita-cerita, hikayat-hikayat dan harus  menimba sendiri inti sarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbondong-bondong manusia menjemput  undangan sang Iblis karena kehabisan pemikiran untuk menyanggah pertanyaan yang  dilontarkan sang Iblis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana cara melawan sosok Iblis dan  pemikiran-pemikiran hebatnya? Dengan Iman? Hanya thok percaya pada kekuasaan  Allah? Bagaimana teknis-praktisnya? Terpikir olehku satu jawaban : Menyebut nama  Allah. Mungkin mestinya itu yang aku lakukan, tapi alih-alih aku malah  melontarkan satu kalimat bentakan, "Hah..! Kau benar-benar raja Iblis.  Kepandaianmu memutarbalikkan fakta memang menjadi ciri yang lekat dengan  Keiblisanmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia terdiam. Kuharap bentakan itu cukup meneguhkan  keimananku. Cukupkah? Menunding orang lain jahat memang lebih mudah dilakukan.  Perkara apakah itu akan mendudukan kita jadi orang yang sama jahat, itu lain  soal. Yang penting harus ada penegasan, aku tidak sama dengan kau. Kau penjahat,  aku bukan penjahat. Kau maling, aku bukan maling. Kau penipu rakyat, aku bukan  penipu rakyat. Pendek kata, kau Iblis, aku bukan iblis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiranku  membangun puing-puing keyakinanku untuk menghadapi sang Iblis. Kita perlu  kepercayaan diri yang tinggi untuk melawan ketidakbenaran bukan? Tidak salah  kalau kepercayaan pertama yang harus dimiliki adalah mempercayai kita berada di  pihak yang benar. Apa yang kita lakukan adalah benar-benar benar. Tanpa itu kita  akan selalu berada dalam ambang ambigu. Perkara kebenaran itu versi kita  pribadi, masa bodo lah. Toh yang kita lawan adalah sosok kejahatan, dajjal, sang  Iblis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai tersenyum seiring tumbuhnya keyakinan baru. Kutatap  wajahnya lekat-lekat, saat Iblis itu mendongak dan bertanya  tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apakah kau tidak membenci malaikat pencabut  nyawa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini seperti sebuah pertanyaan tolol. Mudah sekali menjawabnya,  pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa harus membenci? Ia malaikat! Tentara Allah! Mahluk suci  yang tidak mau berpaling dari Allah. Tidak sepertimu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukankah ia yang  mencabut nyawamu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ia menjalankan itu atas perintah Allah! Itu tugasnya,  Bodoh!" Makianku akhirnya terlontar juga di atas  ketidaksabaranku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukankah aku pun demikian? Aku hanya menjalankan  tugas." sahutnya perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Entah apa kepercayaanmu terhadap Allah, tapi  semestinya kau tahu bahwa rencana Allah yang mendudukan manusia, iblis dan  malaikat dalam hubungan seperti ini. Kita hanya menjalankan tugas kita  masing-masing."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terdiam. Percakapan ini pasti akan sangat panjang,  dan penuh dengan pertengkaran kalau dilanjutkan. Menyebalkan. Walau keyakinanku  -bahwa aku adalah sang benar yang tengah melawan sang iblis- tidak surut, tapi  aku pikir perlu berpikir secara strategis untuk menghadapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada  gunanya mengikuti perdebatan dengan Iblis. Bagaimana pun ia Iblis dan aku  manusia. Apakah manusia berkuasa untuk mengalahkan Iblis? Mestinya, ya. Tapi  kekuasaan itu entah derajatnya lebih rendah atau lebih tinggi dari kekuasaan  sang Iblis untuk menggoda manusia. Aku tidak tahu, dan tidak mau  berspekulasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melawan kejahatan manusia saja kita perlu berstrategi,  apalagi biang segala kejahatan ini. Aku pernah membaca di sebuah buku, gembong  kejahatan Al Capone pernah berkata, Jika kamu tidak bisa menang dengan bertarung  secara fair, main kotor itu wajib, atau usahakan pihak ketiga menjalankan  pertarunganmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini tentu saja tidak ada pihak ketiga, karena hanya  ada aku dan sang Iblis. Begitupula aku tidak akan bisa menang secara fair. Jadi  pilihannya yang tersisa hanya main kotor. Jadi aku berkata perlahan  saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Okelah, kau sedih karena manusia membencimu. Lalu apa  maumu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tampak bingung sendiri. Kepala bertanduknya menggeleng-geleng  perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku... aku hanya ingin tidak dibenci. Itu  saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana kalau kukatakan aku tidak membencimu. Apakah itu cukup  bagimu?" sahutku dengan nada membujuk. Tiba-tiba sebuah ide muncul dalam  benakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau manusia tidak membencimu apakah kau akan terus menggoda  manusia, atau kau akan pensiun menjadi Iblis?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkinkah manusia menjadi  jalan keselamatan untuk sang Iblis? Sungguh, prestasi besar kalau bisa begitu.  Apakah ada bonus pahala khusus untuk manusia yang bisa menghentikan karya sang  Iblis di dunia? Tiket langsung menuju surga rasanya pantas untuk ganjaran  prestasi semacam ini. Menumpas kejahatan, terdengar heroik sekali kan? Walau  dalam prakteknya menggunakan kejahatan lain, tapi gelar orang suci dan bonus  tiket itu terlalu menarik untuk dilewatkan. Pantas saja begitu banyak seruan  untuk menumpas pemimpin negara yang dinilai kafir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba ia berkata,  "Kalau aku menjadi pengikut Allah yang setia, apakah manusia tidak akan membenci  aku?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terkesiap sejenak. Ini pertanyaan sulit. Siapa manusia yang mau  percaya bertobatnya sang Iblis? Kepercayaan itu barang mahal dalam  dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tidak tahu." jawabku. "Hati manusia tidak bisa terbaca  semudah membaca tulisan dalam buku. Panjang-pendeknya akal manusia juga tidak  terukur dalam dimensi yang mudah diukur. Lagipula mengapa kau begitu terganggu  soal benci-membenci ini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Manusia memang begitu." katanya. Sedikit  tersenyum ia melanjutkan. "Kadang Iblis lebih jujur dibandingkan  manusia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hah...!" sergahku pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Benar. Iblis tidak pernah  menyangkal dirinya sebagai pembuat kejahatan. Tapi manusia tidak demikian bukan?  Di hadapan sang Khalik- pun manusia masih bisa berdusta."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak di hari  akhir. Di pengadilan akhirat nanti, tidak akan ada yang mampu berdusta ketika  dihadapkan pada sang Khalik." kataku yakin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi ya, di dunia bukan?"  sang Iblis menatapku dengan matanya yang kini tidak berair lagi. "Tuhan, Allah,  tidak hanya menunggu di perhentian terakhir. Dia menyertai manusia sepanjang  hidupnya. Apakah kau tidak merasakannya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah aku merasakannya? Aku  tidak tahu pasti. Kadang ada saat-saat Allah terasa begitu dekat. Tapi  seringkali aku juga merasa tidak ada siapapun di dunia ini. Seperti kalimat  dalam film alien-futuristik : we are all alone.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Allah tidak membutuhkan  manusia untuk merasakannya. Ia pasti hadir." Aku terkejut sendiri dengan  kata-kata yang terlontar tiba-tiba dari bibirku. Bagaimana pun, itu jawaban  diplomatis yang bagus bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi manusia sering berdusta dalam doa,  berdusta dalam karya, bicara, kata-kata dan perbuatan." kata Iblis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Atas  bujukanmu tentu." sahutku pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Atas perintah Allah pula tentu."  sahutnya tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brengsek, aku terjebak lagi. Kusadari upaya main  kotorku untuk membujuk sang iblis telah gagal total. Tinggal satu cara  menyelesaikan perdebatan tidak bermutu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Enough! Cukup. Jangan lagi  tebarkan kebohongan-kebohongan di berandaku ini. Silahkan kau habiskan tehku,  dan pergilah cepat. Dan satu lagi." kataku dengan nada keras. "Jangan coba-coba  kembali kesini. Lain kali aku akan memakai sepatu boot." kataku  mengancam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneh tapi nyata, ancaman itu efektif. Sekali lagi aku teringat  sebaris kata-kata dari buku tentang gembong mafia Al Capone, "Kata-kata kasar  dan senjata akan mendatangkan lebih banyak hasil, dibandingkan kata-kata  manis."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iblis itu meneguk teh dalam cangkir dengan satu gerakan. Ia  mengulurkan cangkir itu ke tanganku, tapi menahannya saat aku akan  mengambilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apakah kau masih membenci aku?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terdiam sesaat.  Harus ada jawaban yang tuntas untuk sang Iblis. Jadi aku katakan saja, "Walaupun  kita sama-sama mahluk Allah, tapi kita berbeda. Membencimu adalah dalam koridor  tugasku sebagai manusia dan penyembah Allah. It is just business, nothing  personal."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia terdiam. Lalu dalam sekejap ia hilang tak  berbekas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam besar di dalam kamarku berdentang. Aku membereskan cangkir  bekas sang Iblis, dan kembali ke tempat tidurku. Tepat saat aku menarik buku  yang kubaca kepangkuanku, pintu kamarku terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suster Mary masuk sambil  membawa nampan peraknya. "Waktunya minum obat, sir!" katanya sambil tersenyum  dan menyodorkan sebutir prozac ke bibirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *  *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Glossary :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;the thinker = patung terkenal karya  Auguste Rodin yang terinspirasi karya besar Dante : Divine Comedy. Diletakkan di  pintu masuk Museum Decoratie Arts di Paris, patung ini kabarnya menggambarkan  sosok Dante sendiri sebagai seorang pemikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sith = Tokoh antagonis  rekaan dalam film George Lucas Star Wars. Tokoh ini pertama kali muncul dalam  episode pertama Star Wars (yang justru diciptakan setelah trilogi episode IV, V  &amp;amp; VI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;just business - nothing personal = ungkapan dalam bahasa  Inggris yang menunjukkan tidak ada kepentingan pribadi melainkan hanya pekerjaan  semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;enough = cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;prozac = obat yang biasa digunakan untuk  penderita schizofrenia (penderita gangguan jiwa).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4523739979911660558-2048856552479232219?l=cintaku-loveme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/feeds/2048856552479232219/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/2009/02/seorang-lelaki-dan-iblis-yang-menangis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4523739979911660558/posts/default/2048856552479232219'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4523739979911660558/posts/default/2048856552479232219'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/2009/02/seorang-lelaki-dan-iblis-yang-menangis.html' title='Seorang Lelaki dan Iblis Yang Menangis'/><author><name>my love</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03585437615001367745</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1UvEn9BN05M/Smle78z0p2I/AAAAAAAAAPk/-R5VUz4OxWs/S220/Foto091.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4523739979911660558.post-3892000087620848197</id><published>2009-02-12T07:04:00.000-08:00</published><updated>2009-02-12T07:06:39.540-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bunda'/><title type='text'>Hadiah Cinta Seorang Ibu</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Bisa saya melihat bayi saya?" pinta seorang ibu yang baru melahirkan penuh kebahagiaan. Ketika gendongan itu berpindah ke tangannya dan ia membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki yang mungil itu, ibu itu menahan nafasnya. Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang ke arah luar jendela rumah sakit. Bayi itu dilahirkan tanpa kedua belah telinga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu membuktikan bahwa pendengaran bayi yang kini telah tumbuh menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Hanya penampilannya saja yang tampak aneh dan buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya di pelukan sang ibu yang menangis. Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan tragedi. Anak lelaki itu terisak-isak berkata, "Seorang anak laki-laki besar mengejekku. Katanya, aku ini makhluk aneh." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak lelaki itu tumbuh dewasa. Ia cukup tampan dengan cacatnya. Ia pun disukai teman-teman sekolahnya. Ia juga mengembangkan bakatnya di bidang musik dan menulis. Ia ingin sekali menjadi ketua kelas. Ibunya mengingatkan, "Bukankah nantinya kau akan bergaul dengan remaja-remaja lain?" Namun dalam hati ibu merasa kasihan dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga untuknya. "Saya percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuknya. Tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya," kata dokter. Kemudian, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya pada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelakinya, "Nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia," kata sang ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Operasi berjalan dengan sukses. Seorang lelaki baru pun lahirlah. Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu kemudian ia pun menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat. Ia menemui ayahnya, "Yah, aku harus mengetahui siapa yang telah bersedia mengorbankan ini semua padaku. Ia telah berbuat sesuatu yang besar namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayahnya menjawab, "Ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan telinga itu." Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan, "Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun berganti tahun. Kedua orangtua lelaki itu tetap menyimpan rahasia. Hingga suatu hari tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga itu. Di hari itu ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi peti jenazah ibunya yang baru saja meninggal. Dengan perlahan dan lembut, sang ayah membelai rambut jenazah ibu yang terbujur kaku itu, lalu menyibaknya sehingga tampaklah.... bahwa sang ibu tidak memiliki telinga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambutnya," bisik sang ayah. 'Dan tak seorang pun menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya bukan?'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh namun di dalam hati. Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa terlihat, namun pada apa yang tidak dapat terlihat. Cinta yang sejati tidak terletak pada apa yang telah dikerjakan dan diketahui, namun pada apa yang telah dikerjakan namun tidak diketahui. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4523739979911660558-3892000087620848197?l=cintaku-loveme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/feeds/3892000087620848197/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/2009/02/hadiah-cinta-seorang-ibu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4523739979911660558/posts/default/3892000087620848197'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4523739979911660558/posts/default/3892000087620848197'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/2009/02/hadiah-cinta-seorang-ibu.html' title='Hadiah Cinta Seorang Ibu'/><author><name>my love</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03585437615001367745</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1UvEn9BN05M/Smle78z0p2I/AAAAAAAAAPk/-R5VUz4OxWs/S220/Foto091.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4523739979911660558.post-4984890532888938220</id><published>2009-01-27T06:07:00.000-08:00</published><updated>2009-01-27T06:08:39.129-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah cinta'/><title type='text'>Arjuna dan Sang Bidadari</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namanya Arjuna, persis nama seorang tokoh dalam dunia pewayangan. Tapi ia tak  tampan, tak gagah. Apalagi digila-gilai oleh wanita. Arjuna yang ini hanya  seorang penjual ulat sebagai pakan burung yang penghasilannya tidak menentu.  Tinggalnya di sebuah rumah sederhana dengan ibundanya yang sudah berusia 70  tahunan. Sejak usia 2 tahun Arjuna menderita lumpuh. Penyebabnya adalah demam  yang sangat tinggi yang kemudian merusak syarafnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arjuna kini sudah 40  tahun dan tetap lumpuh. Ia pun masih tetap ulet menjalankan profesinya. Sejak  beberapa waktu yang lalu ia mempunyai kegemaran baru, suka mengikuti pengajian  dari masjid ke masjid. Dari pengembaraannya itu akhirnya ia jatuh cinta pada  sebuah masjid di sebuah pondok pesantren yang dipimpin oleh seorang kyai yang  masih muda dan berkharisma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu Arjuna tampak rapi dan wangi. Ia  menggunakan baju terbaiknya, sebuah baju koko berwarna putih yang dimintanya  pada sang ibu untuk disetrika licin-licin. Ia sudah siap menuju pengajian di  pondok pesantren. Jaraknya lumayan, dari Jl. Pendawa Dalam, Bandung, ke daerah  Gegerkalong Girang. Apalagi bagi seseorang yang tak berfisik sempurna seperti  Arjuna, jarak itu terasa lebih dari sekedar lumayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arjuna merangkak di  depan rumahnya, lalu dengan suara cadelnya berteriak memanggil becak di ujung  jalan. Sang tukang becak pun tanggap dengan panggilan Arjuna. Ia mafhum, Arjuna  pasti akan pergi ke pondok pesantren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arjuna duduk manis di dalam becak,  hingga sampai ke jalan besar. Di jalan besar, sang tukang becak membantu  memanggilkan taxi. Satu taxi lewat, taxi berikutnya juga, dan berikutnya, lalu  berikutnya. Arjuna tetap duduk manis di dalam becak, tersenyum. Keringat  mengucur di tubuh sang tukang becak yang tampak sedikit kesal tidak satu pun  taxi yang mau berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membawa Arjuna sebagai penumpang taxi memang  berbeda. Sang sopir taxi harus rela membantu menggendongnya. Maka tak heran  kalau tak semua sopir taxi mau. Tapi Allah selalu memberikan pertolongan-Nya.  Sebuah taxi meluncur pelan dan berhenti. Sampai di pondok pesantren Arjuna  disambut oleh beberapa orang jemaah. Ia sama sekali tak dipandang sebelah mata.  Justru banyak orang yang sayang padanya, termasuk sang kyai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceramah pun  dimulai. Seperti kali yang lalu. kali ini Arjuna tak mampu membendung air  matanya. Semangatnya membara. Bukan hanya itu bahkan bergejolak. Bagai sebuah  handphone yang perlu di-charge, inilah saat-saat Arjuna menge-charge jiwanya.  Total biaya Rp.50.000,- yang harus ia keluarkan untuk pulang pergi ke pondok  pesantren, serasa tak ada harganya dibanding dengan setrum yang menyulut  dirinya. Arjuna jadi lebih semangat bekerja, lebih semangat mengumpulkan uang  untuk bisa datang ke pengajian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arjuna sekarang jadi rajin ibadah malam.  Sifat pemarahnya mulai hilang, jadi lebih sabar dan optimis. Pelan-pelan  keinginan itu muncul. Suatu keinginan yang sama sekali tak pernah berani untuk  ia mampirkan walau sekilas di kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ibu, Arjuna kepingin kawin!"  Suara cadel Arjuna bagai geledek yang memecah kesunyian malam di telinga sang  ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Arjuna enggak mimpi kan?" sang ibu bertanya sambil menguncangkan  tubuh Arjuna yang tergolek lemah di tempat tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh ibu, Arjuna mah  bangun. Ini enggak mimpi. Sungguhan, Arjuna kepingin kawin."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang ibu  menelan ludahnya beberapa kali, miris. "Jang, kamu teh mau kawin sama  siapa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak tau. Tapi Arjuna sudah minta sama Allah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata sang  ibu hampir-hampir tak kuat membendung air mata yang hendak tumpah. "Bener atuh,  kalau memohon ya sama Allah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang ibu bingung apa yang harus ia lakukan.  Menghibur Arjuna dan membangun mimpi-mimpi indah yang kosong melompong. Atau  membuatnya melek melihat kondisi cacatnya. Tapi itu sama saja artinya dengan  menghempaskannya ke jurang dalam. Sang ibu cuma bisa menyerahkan pada Allah,  apapun kehendak-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam purnama. Arjuna baru saja selesai sholat  tahajud. Ia merenungi keinginannya yang mulai menjadi azzam. Pikirannya  berkecamuk. "Tapi, kalau nanti punya istri pasti biaya akan bertambah. Sekarang  saja hidup sudah pas-pasan. Ah, rejeki kan sudah diatur oleh Allah, tinggal kita  yang harus ikhtiar. Tapi, mau nikah sama siapa. Eh, iya ya. Siapa yang mau sama  saya yang jalan aja mesti merangkak, mau ke mana-mana mesti digotong. Ah, itu  kan sama juga, jodoh sudah diatur sama Allah. Tinggal ikhtiar saja. Besok saya  akan bilang sama Pak Kyai, minta dicarikan istri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pak Kyai, saya  kepingin kawin!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Kyai itu pun kaget tak beda seperti ekspresi sang  ibu ketika mendengar ucapan Arjuna. Dengan sabar Kyai berkata, "Wah bagus itu.  Menikah kan sunnah Rasulullah, apalagi kalau niatnya untuk ibadah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya,  iya, saya kepingin kawin karena kepingin ibadah. Kepingin punya anak-anak yang  normal dan berjuang di jalan Allah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Arjuna mau menikah dengan  siapa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya ingin minta dicarikan sama Pak Kyai."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Kyai pun  menggaruk-garuk kepalanya. Bukan amanah yang ringan. Sudah berkali-kali ia  mempertemukan jodoh diantara santri-santrinya. Diantaranya ada juga yang tidak  sekali langsung jadi. Itu pun santri-santri yang normal, tapi  Arjuna...?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Kyai bukan mengecilkan arti Arjuna. Semua orang sudah  ditentukan takdirnya oleh Allah. Dan tak akan tahu takdirnya bagaimana kecuali  dengan berusaha. Tapi usaha yang harus dilakukan untuk mencari istri untuk  Arjuna bukan perkara mudah. Tapi Allah berkehendak lain. Sang Kyai akhirnya  menemukan sang gadis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu normal, juga sholehah. Ia salah satu  jamaah yang kerap mengikuti pengajian Kyai. Kyai mengucap syukur yang tiada  tara, karena akhirnya gadis itu mengucapkan kesediaannya menikah dengan  Arjuna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ina, gadis itu, jelas-jelas tahu Arjuna yang akan dinikahinya  berfisik tak sempurna. Sangat jauh dari gambaran tokoh Arjuna yang ada di lirik  lagu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa Ina mau menikah dengan Arjuna?" tanya sang Kyai. "Ina sudah  tahu apa resikonya? Apa yang akan dihadapi di kemudian hari?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Niat saya  cuma ingin mencari keridhoan Allah. Saya ingin menjadi bidadari di syurga  nantinya," kata sang gadis dengan mantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi hari di bulan Agustus 2002  itu seakan bersinar lebih cerah dari biasanya bagi Arjuna. Sebelum berangkat, ia  menangis. Bukan sedih, justru kebahagiaan luar biasa yang tak terbendung. Suatu  keajaiban yang tak pernah ia bayangkan akan terwujud. Mulanya hanya sebuah  keinginan, lalu menjadi tekad, dan kini menjadi nyata. Allah mengabulkan  permohonannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbata-bata Arjuna mengucapkan ijab kabul. Bukan karena  grogi, tapi karena memang ia kesulitan mengucapkan kata-kata. Dua ratus pasang  mata ikut berlinangan airmata, tak kuasa menahan haru yang tiba-tiba menyeruak.  Arjuna menyerahkan mas kawin berupa 23 gram emas kepada istrinya. Lalu Arjuna  bersujud di hadapan ibunya, menangis tersedu-sedu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hadapan para tamu,  sang Kyai berkata, "Kita harus banyak belajar dari Arjuna, seseorang yang diberi  ujian berupa kekurangan fisik dari Allah, namun tidak takut dan berani mengambil  keputusan terhadap masa depannya. Arjuna adalah contoh seseorang yang berserah  kepada Allah, yakin akan rejeki yang sudah ditetapkan-Nya. Semoga Allah  memberkahi pasangan pengantin ini, menjadikannya sakinah, mawadah, warrahmah."  Doa sang Kyai ini pun di amini oleh para tamu walimah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arjuna memandangi  istrinya penuh haru. Ina baru saja selesai mencuci baju. Arjuna senang sekali,  kini ia tak lagi mencuci baju sendiri seperti ketika bujangan dahulu. Ina juga  selalu merawat dengan penuh ikhlas dan telaten. Seorang gadis telah Allah kirim  untuk menjadi pendampingnya di dunia. Arjuna berharap Ina juga akan menjadi  bidadarinya di surga nanti. Insya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4523739979911660558-4984890532888938220?l=cintaku-loveme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/feeds/4984890532888938220/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/2009/01/arjuna-dan-sang-bidadari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4523739979911660558/posts/default/4984890532888938220'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4523739979911660558/posts/default/4984890532888938220'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/2009/01/arjuna-dan-sang-bidadari.html' title='Arjuna dan Sang Bidadari'/><author><name>my love</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03585437615001367745</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1UvEn9BN05M/Smle78z0p2I/AAAAAAAAAPk/-R5VUz4OxWs/S220/Foto091.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4523739979911660558.post-3308408846941068429</id><published>2009-01-24T05:08:00.000-08:00</published><updated>2009-01-24T05:10:49.657-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah cinta'/><title type='text'>Ketika "Cinta" Dikalahkan Cinta</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Ma'af Dit, aku tak bisa". Suasana seakan tak ada kehidupan, hanya terdengar  suara lembut angin yang menusuk pori-pori kulitku. Bukan karena kesunyian yang  membuatku terpaku, tapi....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dit, anterin ke gramedia yuk? " suara itu  telah menjemputku dari dunia lamunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh....siang bolong gini bengong,  entar kesambet loh". Aku hanya membalas dengan senyuman. Hasan, dialah sahabat  baruku yang kukenal dikost ini yang telah membawaku pada perubahan. "Yuk!"  jawabku singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan tak henti-hentinya Hasan menggodaku  yang dari tadi hanya diam. "Lagi mikirin apaan sih Dit? ngelamun mulu ntar cepet  tua loh......" mata melotot dan kerut keningnya adalah ciri khas ketika sedang  meledekku. "Ga ada apa-apa" hanya senyuman yang terakhir dari kata itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" ooo......ya udah klo ga mau cerita ".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua bulan sudah  kenanganku terkubur, namun kini entah kenapa muncul kembali setelah kemarin  malam memimpikan dirinya. Kesunyian malam dan dinginnya malam tak lagi kurasakan  karena hangatnya sinar rembulan mulai menemaniku malam itu untuk mengingat  kenangan masa lalu. Entah mengapa mata ini sulit kupejamkan, seakan-akan  didepanku hadir sesosok wanita yang tak asing bagiku. Dia melambaikan tangan dan  bercanda ria dengan temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialah gadis yang telah membangunkan  cintaku. Sebut saja Rani, dia adalah sahabat Tari teman kampusku. Orangnya asik,  mudah beradaptasi dengan teman baru walaupun aku sendiri agak canggung dengan  yang namanya perkenalan dengan wanita. Perkenalan trus berlanjut, aku mulai  memberanikan diri tuk mengajak dia jalan dan terkadang dia yang memintaku untuk  mengantarkannya yang hanya sekedar mencari boneka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecanggunganku mulai  sedikit hilang ketika dia mulai bercanda denganku dan mulai meminta pendapatku  tentang masalah yang dihadapinya. Entah mengapa ketika bersamanya aku  seakan-akan menemukan kebahagiaan yang selama ini telah hilang dalam hidupku.  Ketika senja tiba, kuingin cepat menggantikan rembulan dengan matahari jika  kubisa. Hari demi hari dia tak luput dari pikiranku, walaupun dia bukan satu  kampus denganku tapi dia selalu menghubungiku via telpon dan itu membuat rasa  rinduku terobati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*~*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HPku berdering dan kuraih dengan  malasnya, "siapa sih pagi-pagi gini ganggu orang yang lagi enak bermimpi."  gumamku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Halo, Dit," suara itu tak asing lagi ditelingaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya  halo, ada apa Ran? " kontan semangat dipagi itu timbul seketika mengalahkan sisa  kantukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dit hari ini ada acara ga?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"mmm... kebetulan minggu  ini ga ada acara, emang kenapa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anterin aku jalan yuk!" suara manjanya  mulai muncul. Aku tersipu mendengar kata-kata itu dan tanpa pikir panjang  kuterima ajakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayuk...yuk..., emang mo kemana?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Semangat  banget sih, anterin aku cari kado buat keponakanku trus anterin kerumahnya, mau  ga?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Boleh...buat kamu apa sih yang ga bisa." entah dari mana aku  belajar bergombal terhadap wanita, padahal aku tipe cowo yang sulit  berkomunikasi dengan wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya udah nanti jam 09.00 jemput aku dirumah  yah! daaa..." tut...tut...tut...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huuuu....... kurebahkan kembali badan  ini dengan kegembiraan hati yang terpancar dipagi hari. Tak biasanya aku menyapa  sang surya yang menebarkan kehangatan sinarnya yang memberikan manfaat bagi  tubuh manusia. Kegembiraan itu tak akan pernah kuhapus dalam memori  kehidupanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*~*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu itu aku menjemputnya sesuai  permintaan dan aku mengantarkan mencari hadiah untuk keponakannya. Hampir semua  toko mainan kami jelajahi di mall itu, tapi tak satupun mainan yang cocok untuk  kami beli. Hampir kami putus asa, tapi keputusasaan itu hilang setelah kami  melihat sebuah kotak yang berisi boneka yang paling disukai keponakannya. Tanpa  ragu kami langsung menuju toko tersebut dan membelinya. Rasa capek, kantuk dan  lelah telah menjadi satu, tapi perasaan itu entah mengapa terasa tak begitu  pengaruh pada diriku. Sebelum pergi kerumah keponakannya, kami sempatkan untuk  beristirahat di cafe dekat kami membeli boneka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Akhirnya setelah sekian  lama kita mencari ........ fhuuuhhhh!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sok puitis deh!" ledeknya sambil  tersenyum kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh Ran mau makan apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"mmm .... aku ga makan  deh" jawabnya singkat, mungkin rasa lelah telah menbuatnya kurang berselera  makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya udah klo gitu aku pesen minuman aja  yah?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ok!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil minum kami cerita dan saat itu entah mengapa  hati ini mendapat dorongan untuk mengatakan sesuatu  padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"mmm......Ran, aku boleh mengatakan sesuatu ga? tapi .... kamu  janji jangan marah yah?" rasa ragu mulai menyelimuti hatiku, tapi daya dorong  ini semakin kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tergantung" senyuman di bibirnya membuatku terpaku  memandangnya. "Bicara aja lagi Dit, aku ga marah asal jangan bilang kalau kamu  ga bisa anterin aku kerumah keponakanku, soalnya dari sini kan lumayan jauh dan  aku udah capek."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan .... bukan itu, aku pasti anterin kamu kok!" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Trus apa dong? jangan bikin Rani bingung deh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"mmm ...... Ran  mungkin aku konyol mengutarakan perasaan disaat seperti ini, tapi aku tidak bisa  membendungnya lagi." ku beranikan tuk memulainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"maksudnya?" kerut  keningnya dan tatapan tajam tak luput dari penglihatanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ran ..... a  ... aku mulai suka sama kamu." ku gigit bibir bawahku dan kutundukan pandangan.  Tak berani kutatap wajahnya, aku takut melihat ekspresi wajahnya setelah aku  mengatakan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama tak terjadi kontak bicara diantara kami. Tapi  tak lama kemudian .....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dit, aku ngerti perasaan kamu, aku jadi merasa  bersalah terlalu berlebihan dalam bergaul denganmu sehingga kamu berpikir bahwa  selama ini penerimaan ajakanmu dan permintaan untuk mengantarku adalah atas  dasar rasa suka padamu. Aku menganggap kamu sebagai sahabatku yang baik yang  telah lama kucari selama ini. Kamu mau mendengarkan keluhanku dan menasehatiku.  Jadi tak mungkin aku menerimamu sebagai pacarku, aku tak mau kehilanganmu Dit,  sebab di dalam pacaran ketika rasa cinta telah pudar maka kebencianlah yang  berperan dan hal itu tak mau terjadi pada hubungan kita Dit. Jadi aku mohon  padamu jadilah sahabatku bukan pacarku. Ma'afkan aku Dit, kamu bisa ngertikan  perasaanku?" penjelasan itu diakhiri dengan senyuman manisnya. Kuberanikan  menatap wajahnya walaupun jeritan dan tangisan hati silih berganti. Kubalas  senyumannya dan kuberanikan mengomentari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya sudah kalau itu memang  pendapatmu, aku kan coba tuk nerimanya." kupaksakan bibir ini untuk  senyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh Ran udah sore nih, ntar kemaleman lagi kerumah ponakanmu."  cepat kuganti pokok pembicaraan agar rasa sedih ini tak berlarut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu  ga marah kan Dit?" dia menarik lenganku yang sudah siap berdiri. Kuanggukan  kepalaku dengan senyuman yang berat dibibir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan kerumah  keponakannya hingga kembali kerumahnya tak satu katapun aktif keluar dalam  bentuk pertanyaan ataupun canda. Hanya sedikit komentar dari setiap kata-kata  yang dia berikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*~*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuayunkan langkahku menuju pintu  kamar kostku. Berat, bukan berarti karena aku lelah atau rasa kantukku, tapi  setelah kejadian siang tadi kebahagianku sedikit mulai hilang. Kulihat sebelah  kamarku ada kehidupan diwarnai terangnya lampu. "Ada pendatang baru" gumamku  tapi tak kupedulikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Assalamu 'alaikum." seketika aku berbalik dengan  rasa kaget karena aku sedang mencari kunci kamarku diselingi dengan  bayangan-banyangan kejadian siang tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya....Waalaikum salam." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ma'af kalau saya mengagetkan kamu, saya Hasan orang baru disini, salam  kenal ma'af nama kamu siapa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"nama saya Adit, ma'af yah saya capek jadi  nanti aja perkenalannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ma'af kalau saya menganggu." Senyuman  dibibirnya menggambarkan ketulusan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa ragu ku buka pintu dan  segera kututup. Ada sedikit perasaan tak enak pada Hasan karena pembicaraanku  tadi yang kurasakan kurang enak didengar, tapi aku membuang perasaan bersalah  tersebut. Malam semakin larut tapi kedua bola mataku tak kunjung juga  mengantarku pada alam sana. Terdengar suara kehidupan dalam kamar Hasan. Dengan  penuh penasaran kuberanikan mengetuk pintu kamarnya sekalian aku mau minta  ma'af.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada apa Dit?" senyuman itu begitu sejuk  dipandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"mmm... ga, kamu belum tidur San?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Belum, aku tidak  bisa tidur malam ini, entah mengapa mungkin karena aku masih baru kali yah  dengan suasana baruku ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"ooo...." jawabku  singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ngomong-ngomong ada apa nih Dit? emangnya kamu juga ga bisa  tidur?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku mau minta ma'af karena jawaban perkenalan tadi tidak  mengenakan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ga apa-apa Dit, aku ngerti kok kamu kan tadi baru datang  pasti rasa lelahmu yang membuat kamu bersikap demikian."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah nih orang  sabar banget, kebijakan dalam berkata bikin kagum setiap orang yang  mendengarkan." gumamku dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aku ngobrol malam itu mulai  dari perkenalan sampai dengan pengalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kejadian malam itu aku  semakin dekat dengan Hasan. Tak jarang aku minta pendapat tentang masalah yang  sedang kuhadapi. Setiap katanya mengandung makna yang begitu indah bagaikan  penyair yang menyampaikan risalah lewat kata-kata bijaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dit, rasa  cinta itu fitrah. Setiap manusia yang normal pasti akan merasakannya, tapi  tergantung kita dalam pengembangan cinta tersebut. Cinta kita kepada lawan jenis  atau hobby kita boleh-boleh saja, tapi jangan sampai rasa cinta tersebut  mengalahkan cinta kita padaNya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sulit San, hati ini sudah terlanjur  suka sama dia. Sekarang alur hidupku saja entah kan kubawa kemana, semuanya  serba kebingungan dan saat kuambil keputusan selalu saja kutemui jalan buntu." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dit, cinta itu tak harus memiliki dan cinta tak bisa dipaksakan. Jika  kita memang mencintai seseorang, kita kan merasa bahagia jika dia menemukan  kebahagiannya, walaupun kebahagian itu tidak ditemukan pada diri kita, kita  harus ikhlas. Dit, sekarang mengadulah kepada Allah. Mohon petunjukNya untuk  membimbing kebimbangan dalam menjalani hidupmu dan jangan terlalu dipikirkan  sebab kamu tau sendiri kan bahwa kamu punya penyakit kanker."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasan  memang benar penyakit yang kuderita selama ini tak lagi kupikirkan. Padahal  entah esok atau lusa bahkan mungkin hari ini jika Allah berkenan mengambil nyawa  ini, aku tidak bisa berbuat apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuingat pesan Hasan yang masih  terngiang dalam benakku "Sesungguhnya setiap yang bernyawa pasti akan mengalami  kematian, jadikanlah ini salah satu prinsip dalam menjalani hidup agar selalu  ingat padaNya". Bergetar seketika seluruh tubuhku entah apa yang terjadi padaku  saat itu. Tanpa pikir panjang ku basuh setiap bagian tubuhku dengan air wudhu  untuk mengadukan masalah ini pada Penguasa alam semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya Allah,  betapa besar dosaku selama ini. Cinta yang kau berikan telah aku salah artikan.  Begitu halusnya iblis membisikan arti cinta itu hingga kabut cinta duniawi telah  menghalangi arti sebenarnya cinta. Ya Allah, andaikan cintaku padaMu sebesar  cintaku padanya bahkan lebih dari itu. Sungguh aku sangat menginginkan hal itu  sebelum Kau memanggilku. Ya Allah jadikan cintaku padaMu begitu besar hingga ku  tak takut akan kematian bahkan kematian menjadikan gerbang menuju kerinduan  menghadapMu." Tak terasa air mata penyesalah telah membasahi pipi dan sajadah.  Hatiku sedikit lebih sejuk dan tenang dan tak terasa keseimbangan tubuhku mulai  tak stabil dan akhirnya aku tersungkur dalam  sujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*~*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dit, berangkat kuliah ga?" Berulang kali Hasan  menanggil Adit, tapi tak ada sahutan dari dalam. Hasan memberanikan diri untuk  masuk kekamar Adit dan ternyata pintunya tidak terkunci. Dia melihat Adit dalam  keadaan sujud dan dia berpikir mungkin dia kesiangan shalat subuhnya. Setengah  jam sudah dia menunggu dikasurnya, tapi Adit masih dalam keadaan bersujud. Hasan  mulai penasaran dan mulai mendekati Adit, dia coba sedikit menggoncangkan tubuh  Adit dan....... "Astagfirullah.......Dit....Dit.....Innalillahi wa inna ilaihi  rajiun, insyaAllah kau telah mendapatkan arti cinta yang sebenarnya. Semoga kau  tenang diSisiNya".&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4523739979911660558-3308408846941068429?l=cintaku-loveme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/feeds/3308408846941068429/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/2009/01/ketika-cinta-dikalahkan-cinta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4523739979911660558/posts/default/3308408846941068429'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4523739979911660558/posts/default/3308408846941068429'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/2009/01/ketika-cinta-dikalahkan-cinta.html' title='Ketika &quot;Cinta&quot; Dikalahkan Cinta'/><author><name>my love</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03585437615001367745</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1UvEn9BN05M/Smle78z0p2I/AAAAAAAAAPk/-R5VUz4OxWs/S220/Foto091.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4523739979911660558.post-6947903627036835582</id><published>2008-11-30T04:59:00.000-08:00</published><updated>2008-11-30T05:05:00.416-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang...'/><title type='text'>Sepatu</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hujan pertama akhirnya jatuh juga. Selepas musim kemarau yang terlampau panjang, hujan pertama selalu disambut di kampung kami dengan pesta. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ketika hujan mulai menderas, anak-anak Kang Soleh kulihat segera berlarian keluar, bertelanjang dada. Teriakan-teriakan kegembiraan mereka, gemuruh curahan air dari langit dan gelegar petir, bercengkrama sahut menyahut di tegalan depan. Ketika hujan mereda, mereka pulang dengan bibir membiru dan badan menggigil bergetar. Tapi, mata mereka memancarkan kegembiraan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Wa Sunta terlihat melintas di jalan desa menggiring dua ekor kerbau kurusnya. Ketiganya berjalan gontai, tak terlihat tergesa, dipeluk petir dan hujan. Gambar mereka melamat ketika menjauh. Hujan dan petir dengan akrab mengantar mereka hingga lenyap diterkam belokan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sejak masih gerimis, Anah, istriku, sudah membopong gentong-gentong air dari dapur, dengan sigap membawanya keluar. Anah berpesta dengan caranya sendiri. Pada tiap hujan pertama, ia selalu membersihkan gentong-gentong air kami yang kerontang selama kemarau, sambil membiarkan dirinya sendiri berlama-lama dicumbu hujan. Lekuk tubuhnya segera terbentuk oleh baju dasternya yang basah, membuatku tiba-tiba menginginkan malam segera datang. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku sendiri, pada setiap hujan pertama seperti ini tak pernah lepas dari ritual pesta yang itu-itu juga. Duduk mencangkung di depan jendela depan. Membuka hidung lebar-lebar membaui tanah pelataran yang terperawani tetes demi tetes air hujan pembukaan. Menghanyutkan diri dalam aroma legit bau tanah tersiram air. Ah, sembilan bulan sudah kurindukan bau ini. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Datangnya musim penghujan membikin kampung kami siuman dari mati suri panjang. Sejak sungai Cipamingkis ditambang batunya, digali pasirnya, dan akhirnya mati, sawah-sawah di kampung kami kehilangan tempat menyusu di musim kering. Semua sawah menjadi tadah hujan saja. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Maka, kemarau adalah bencana. Berita duka yang tak sudi kami dengar tapi selalu saja tiba. Di setiap kemarau, sawah-sawah mengering, merekah, retak terbelah-belah. Ketika kemarau berlarut-larut tak berujung, kampung kami kehilangan akal dan akhirnya hanya berpaling pada sebaris harapan: Semoga hujan bergegas datang dan membunuh kemarau laknat itu segera. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;*** &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bagi guru sepertiku, musim penghujan sebetulnya tak punya terlalu banyak arti. Bahkan, selalu saja ia menghadiahiku kerepotan-kerepotan baru. Setiap hari, pergi dari rumah ke SD Inpres di seberang bukit itu, aku mesti menggulung celana panjangku tinggi- tinggi, tak membiarkan lidah air berlumpur menjilat celanaku. Celana layak satu-satunya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kedua tangangku pun dibuat sibuk. Tangan kanan menjinjing tas. Tangan kiri, yang terbiasa menganggur, punya pekerjaan baru: menjinjing sandal. Aku, bak pemain sirkus, mesti menjaga keseimbangan di sepanjang pematang, bersiasat untuk tak tergelincir tercebur ke sawah berair berlumput-lumpur. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kerepotanku tak usai di situ. Sebelum ke kelas atau ruang guru, aku tentu saja mesti ke parit di belakang gedung sekolah itu. Mencuci kaki. Menurunkan gulungan celana. Lalu menyematkan sandal ke kedua kakiku yang kuyup. Betapa merepotkannya jika aku bersepatu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ketika sol sepatuku, sepatu terakhirku, jebol di tengah kemarau tahun lalu, aku sempat meratapinya. Tapi, ketika musim penghujan seperti ini datang, segera kutahu bahwa barang mewah semacam itu kadang kala tak punya guna. Di pasar kecamatan, sepatu termurah saja harganya 20 ribu! &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bersepatu pergi pulang mengajar di musim penghujan seperti ini hanya membikin-bikin kerepotan yang tak perlu. Semacam kesia-siaan. Bahkan penyiksaan diri. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tentu cerita bisa berbeda jika saja ada sepeda. Pematang penuh jebakan lumpur itu bisa kuhindari dengan sedikit memutar menyusuri jalan desa. Tapi, sejak kutahu bahwa sepeda bekas yang butut saja harganya lima puluh ribu perak, aku berhenti memikirkannya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Untungnya kepala sekolah tak mengharuskan guru honorer, guru bantu, sepertiku bersepatu. Akupun bisa mengajak sandal lili-ku bertemu 47 murid kelas enam yang bertumpuk di kelas paling ujung kiri itu. Setiap hari. Mereka benar-benar bertumpuk di ruang kelas darurat yang sempit itu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tapi bagiku, pintu kelas itu adalah celah menuju kebahagiaan. Memasukinya membuatku bertemu mata-mata yang haus dan berharap tetapi juga kuyu dihantam kemiskinan. Aku selalu bahagia setiap kali kekuyuan itu lenyap sesaat tertelan kegembiraan menemukan hal-hal baru dari pelajaran kelas. Dari hari ke hari. Dari pukul 7:15 pagi hingga Dzuhur lepas pergi dan Asar hampir menjemput. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Selalu saja terbit rasa senang melihat mata-mata itu menjadi sedikit berkilat setiap kali kukatakan, "Negara kita Indonesia, besok akan menjadi lebih baik jika kita warganya bisa memelihara nurani kita. Begitu juga Sukamanah, desa kita." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kadang-kadang anak-anak itu merepotkanku dengan pertanyaan mereka. Mereka kudorong agar tak berpuas diri sekadar lulus SD dan lanjut bersekolah ke SMP di kota kecamatan. Hardi, salah seorang yang terpandai pun bertanya, mengutip kata-kata Ayahnya. "Untuk apa melanjutkan sekolah dan meninggalkan sawah-sawah kami? Bukankah sekolah tinggi hanya akan membikin kami membenci sawah tapi juga tak menyediakan pekerjaan lain, lalu membikin kita hanya bisa luntang-lantung menyusahkan orang tua seperti anak-anak kepala dusun itu?" &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Maka akupun menjawabnya. "Bersekolah bukanlah untuk mencari pekerjaan, apalagi membenci sawah. Kita bisa bersekolah tinggi sambil tetap mencintai kampung kita, sawah-sawah kita. Bersekolah itu untuk membuat kita tak jadi orang-orang yang tak mengerti keindahan walaupun memiliki mata, tak mendengarkan kebaikan walaupun memiliki telinga, tak membela kebenaran walaupun memiliki hati, tak pernah terharu dan tak bersemangat." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Pak Sobarudin, bisa ke kantor saya sebentar?" Suara Pak Dudung, kepala sekolah, tiba-tiba menyeruput telingaku dari arah punggung. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ada undangan penting dari kabupaten," katanya lagi, sebelum sempat kukeluarkan sepatah katapun. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"O ya." Aku membuntutinya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ini undangan untuk Pak Sobar. Semua guru honorer se-kecamatan dikumpulkan bertemu Bupati minggu depan." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku segera membukanya. Beberapa kata segera berpindah dari kertas itu ke kepalaku. Minggu. 15 November. Siang. Aula Kecamatan. Bupati. Realisasi Perbaikan Nasib Guru Wiyata Bakti. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;*** &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hari Minggu ini sebenarnya sama saja seperti hari-hari Minggu lainnya. Ia terasa berbeda hanya lantaran inilah hari Minggu pertama di musim penghujan. Kampung kami menjadi lebih sibuk. Hampir semua rumah memboyong seluruh isinya ke sawah, memulai upacara hidup yang itu-itu juga. Bercocok tanam. Mengutang pupuk ke koperasi Desa. Memimpikan panen padahal sawah baru saja mulai digarap. Menghitung kerugian yang pasti datang karena ongkos bersawah selalu saja lebih tinggi dari harga jual padi. Menyisakan hasil panen untuk bertahan hidup ala kadarnya selama kemarau yang belum-belum sudah mengintip mengendap hendak kembali. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Siang ini aku harus ke kecamatan, berjalan kaki tiga kilo ke arah barat daya. Sedari pagi buta, ketika matahari masih terbungkus kabut, pasti sudah banyak orang mengepung kantor kecamatan, untuk melihat wajah Pak Bupati yang katanya masih muda dan rajin membagi senyum itu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kang. Jangan lupa mampir ke rumah Bi Mumun." Anah mengingatkanku ketika setengah badanku sudah tertelan pintu, hendak pergi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Ya." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sepulang dari kecamatan Aku memang harus mampir ke pabrik tempe istri almarhum pamanku itu. Menjemput kulit kacang kedelai. Anah biasa mencampurnya dengan terigu, bawang putih, garam dan sedikit merica, lalu menyulapnya menjadi makanan penganan bahkan kadang-kadang lauk-pauk utama. Dan kami menyukainya. Apalagi jika tersedia juga cobek favorit kami. Cobek bohong. Penampilannya memang seperti cobek tapi sebetulnya bukan juga. Ia hanya kuah belaka, tanpa jengkol atau ikan lele, atau apapun. Di sana hanya ada cabe merah yang panjang menjuntai-juntai mengundang gigitan. Orang-orang di kampung kami pun menyebutnya cobek bohong. Menu semacam itu adalah kemewahan besar di rumah kami, apalagi di masa-masa darurat. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tapi hidup kami selalu saja darurat. Selepas SPG, lima tahun lalu, tak ada pekerjaan menjemputku. Semestinya aku jadi guru SD. Tapi itulah. Setiap tahun, selalu saja kemestian itu terganjal ujian penerimaan guru. Aku tak pernah lulus. Bukan sulitnya soal ujian yang sebenarnya menjadi masalahku, tapi selalu saja aku tak mampu menyediakan amplop, dengan isi mesti di atas satu juta rupiah, untuk Kepala Kantor Departemen. Kalau saja amplop itu tersedia, Pak Kakandep tentu akan segera mengurus kelulusanku. Tapi, dari mana kudapat uang sebanyak itu? Melihatnya saja aku tak pernah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Untungnya, tenagaku masih terpakai di kampung. Membantu Bi Mumun di pabrik tempe. Membantu panen Kang Soleh dan tetangga-tetangga dekat lainnya. Membantu menjagal sapi menjelang Hari Raya Kurban. Membantu mencukur rumput kuburan desa setiap menjelang bulan puasa. Mengambil air dari sumur tua yang tak pernah kering di balik bukit untuk kepala dusun, tiap kali kemarau menjadi-jadi. Mengecat dan membetulkan pagar masjid menjelang lebaran. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tenagaku tak selalu dihargai dengan uang. Kadang-kadang diganjar hasil cocok-tanam, padi, atau makanan. Tapi semuanya terasa sangat membantu. Adapun satu-satunya sumber penghasilan tetapku adalah honor sebagai guru wiyata bakti itu, guru honorer, guru bantu, sebesar 75 ribu setiap bulan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Uang itu jauh dari cukup dan selalu habis untuk melunasi utang-utang belanja dapur kami ke warung Ceu Nenden di pertigaan jalan desa itu. Untungnya, jodohku adalah Anah yang tak pernah menuntut. Sejak kunikahi empat tahun lalu, tak sekalipun Anah mengeluhkan keadaan kami. Di tengah kesusahan yang terus menguntit kami, Anah selalu melayaniku dengan baik. Siang dan malam hari. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Anah lah yang justru mengajariku untuk selalu bersyukur atas apapun yang kami peroleh. Mengajari tetap bersyukur sekalipun sampai saat ini kami belum juga beroleh momongan. Kami tak pernah membebani Tuhan dengan macam-macam tuntutan. Cukup saja lah kami tahu bahwa Tuhan tak pernah tidur. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pertemuan di aula kecamatan hari ini sebetulnya bukan yang pertama. Dua tahun lalu, semua guru honorer juga pernah dikumpulkan. Di aula sama. Hanya saja, waktu itu kami tak seberuntung sekarang. Dulu, yang yang datang bukan Bupati tetapi Kakandep dari kabupaten. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Selepas pertemuan itu, rasa syukurku bertambah-tambah. Sejumlah guru honorer tampaknya memang lebih beruntung dariku. Mereka bisa menambah penghasilan dengan menarik ojek di pasar kecamatan. Ada juga yang membuka warung atau kios koran, komik-komik agama dan teka- teki silang. Tapi jauh lebih banyak yang bernasib lebih buruk. Pak Kosim dari desa di ujung utara itu hanya digaji 25 ribu per bulan. Ibu Eti, guru sedesaku, tak punya gaji sama sekali. Ia hanya bisa menunggu hadiah hasil panen dari wali murid di kelasnya. Padahal, panen sering diganggu hama. Pak Komarudin, yang ternyata hanya terpisah tiga kampung denganku, digaji 25 ribu ditambah uang BP3 sebesar 1.500 rupiah dari murid-murid di kelasnya. Muridnya hanya ada 12 orang. Miskin semua. Mereka lebih sering menunggak ketimbang melunasinya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di pertemuan dua tahun lalu itu pula kukenal Pak Asep Saepudin yang kepandaian bicaranya mengingatkanku pada Kiai Ishak, khatib masjid kecamatan. Ia guru di kota kecamatan. Pendiri dan pemimpin Lembaga Swadaya Masyarakat Peduli Anak Bangsa (LSMPAB) yang katanya berusaha mengurusi nasib guru-guru bantu seperti kami. Dari Pak Asep pula aku tahu betapa pemerintah memang kekurangan guru SD dan membutuhkan kami. Propinsi kami saja, katanya, kekurangan 33.768 guru SD. Sebanyak 17.877 di antaranya adalah guru kelas. Maka, lagi-lagi menurut Pak Asep, jika guru-guru honorer di seluruh Jawa Barat berhenti, hampir 18 ribu kelas akan terlantar. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Kami para guru honorer bukanlah orang-orang yang disumbang pemerintah. Kamilah yang membantu pemerintah menyelenggarakan pendidikan di tingkat dasar. Kalau tak ada kami, pemerintah kerepotan. Jadi, bukan kami yang harus berterima kasih, tetapi pemerintahlah yang semestinya berterima kasih dan memperbaiki nasib kami," begitulah antara lain yang dikatakan Pak Asep di pertemuan itu. Hadirin bersorak bertepuk tangan. Wajah Pak Kakandep kulihat memerah delima. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Boleh jadi, suara Pak Asep sampai juga ke telinga Pak Bupati. Buktinya hari ini Pak Bupati datang dan akan mengurus "Perbaikan Nasib Guru Wiyata Bakti." Seperti tertulis di undangan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Benar saja. Kantor kecamatan seperti gula dikepung semut. Halaman luarnya disesaki orang-orang. Mereka benar-benar ingin melihat wajah Pak Bupati yang murah senyum itu rupanya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Setelah kulipat-lipat badan, menyelusup di tengah orang-orang yang berkerumun, bertukar keringat dengan mereka, akhirnya sampai juga aku di depan aula itu. Kuacungkan kertas undangan memberi tahu bahwa aku guru honorer yang memang berhak masuk aula. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Nah. ini ada satu lagi." Seseorang yang berseragam coklat muda tiba- tiba setengah menghardikku sambil menunjuk-nunjuk ke arah sandal dan kakiku, membuatku bingung tak mengerti. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Mari. Saudara harus duduk di ruang terpisah. Tidak di aula. Ini instruksi Bapak-Bapak di kantor kabupaten. Yang masuk aula harus pakai sepatu. Untuk menghormati Pak Bupati!" &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku mulai mengerti. Semacam amarah beranak-pinak di dadaku. Tak boleh masuk aula hanya karena tak bersepatu? Apa yang salah dengan sandal lili yang baru kucuci tadi pagi ini? Sepatu? Menghormati Bupati? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tapi mata tak bersahabat orang-orang berseragam coklat muda itu dengan cepat menggugurkan anak-pinak kemarahanku. Aku pun membuntuti mereka. Masuk ke ruang di sebelah aula. Di sana sudah ada beberapa puluh orang lainnya. Semuanya tak bersepatu. Moncong pengeras suara mengintip dari jendeal, memelototi kami. Aku tak sendiri. Kutemukan juga beberapa wajah tak senang. Menahan marah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Duh Anah.. Maafkan aku. Dari sini, aku tak bisa melihat wajah Pak Bupati. Aku tak bisa menjaga janjiku untuk sepulang nanti bercerita apakah benar Pak Bupati muda itu memang selalu tersenyum. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;*** &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Syukurlah Kang. Syukur." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hanya itu yang keluar dari mulut kecil Anah ketika kuceritakan apa yang kudengar dari Pak Bupati di pertemuan itu. Pak Bupati berjanji memperbaiki nasib guru-guru honorer di kecamatan kami yang ternyata jumlahnya makin banyak. Ratusan. Pak Bupati akan segera melakukan sesuatu. Bertahap. Sesuai kemampuan kabupaten. Untuk memperbaiki kesejahteraan guru-guru honorer. Dimulai dari yang penting. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hampir setiap hari kampung kami diguyur hujan. Pematang sawah menuju sekolah itu pun makin menuntut ketrampilan-ketrampilan sirkusku. Sudah kubatalkan pula rencana memperbaiki sepatu jebolku ke pasar kecamatan. Sepasang sepatu, barang mewah yang tak berguna dan merepotkan itu, kini tercampak bersama timbunan sampah di kebun belakang. Tali keduanya saling terikat. Teronggok. Seperti sepasang anak kembar yang mati bunuh diri. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;*** &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dua minggu sudah pertemuan dengan Pak Bupati itu lewat. Hari ini, langit di atas kampung kami bolong. Air pun jatuh tercurah deras. Petir dan angin besar mengecewakan anak-anak Kang Soleh. Rengekan mereka untuk bermain bersama hujan, bertepuk sebelah tangan. Kulihat mereka duduk-duduk di beranda, memandangi hujan dengan penuh hasrat. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Satu sosok muncul dari belokan jalan desa. Setengah berlari. Setangkai daun pisang memayungi kepalanya - kurasa, dengan percuma. Ia tetap kuyup juga. Petir dan angin seperti mendorong-dorongnya untuk bergegas. Badan kuyupnya dibungkukkan, sepertinya melindungi sesuatu di dadanya. Sosok itu mendekat. Ia tak menyusuri jalan desa yang menikung ke kiri. Tapi ke rumahku. Persis ke arahku. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ternyata Mang Maman, penjaga SD Inpresku. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Silakan masuk Mang. Aduh. Hujan besar begini kok memaksakan diri datang ke sini." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Saya diminta Pak Dudung mengantar kiriman untuk Pak Sobar. Katanya penting. Dari Pak Bupati. Ada juga suratnya." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kubiarkan Kang Maman berdiri di pintu. Badannya kuyup. Seperti kerupuk tercelup kuah sayur. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kuambil kardus itu. Kubuka suratnya. Benar. Dari Pak Bupati. Pendek saja. Dari kertas, kata-kata berat itu berpindah ke kepalaku. Wujud kepedulian pemerintah. Usaha nyata membantu harkat guru honorer. Menaikkan citra, wibawa, dan martabat Guru Wiyata Bakti. Untuk masa depan dunia pendidikan yang lebih baik. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Maka, kubuka kardus itu. Isinya: sepasang sepatu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Keterangan: &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;1.    Sandal lili adalah sandal terbuat dari plastik, bukan sandal jepit, dengan model yang biasanya standar, dengan pilihan warna- warna - biru, merah, hijau, coklat, hitam - yang kusam. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;2.    SPG adalah Sekolah Pendidikan Guru. Sekolah untuk menghasilkan calon guru-guru sekolah dasar ini sekarang sudah dilikuidasi pemerintah. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;3.    Guru Wiyata Bakti adalah sebutan resmi yang dipakai pemerintah untuk para guru honorer yang bukan pegawai negeri. Sebelum masa otonomi daerah, sebagian dari mereka memperoleh honor alakadarnya dari pemerintah pusat. Setelah otonomi daerah, mereka menjadi beban (yang diabaikan) dari pemerintah daerah. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;4.    Pernyataan bahwa sekolah adalah tempat mendidik anak murid untuk tak menjadi "orang-orang yang tidak mengerti keindahan walaupun memiliki mata, tidak mendengarkan irama musik walaupun memiliki telinga, tidak memiliki kebenaran walaupun memiliki hati, tidak pernah terharu dan tidak bersemangat," adalah kutipan pernyataan Mr. Kuroyanagi, pengajar Sekolah Tomoe dalam buku termashur Tetsuko Kuroyanagi, Toto-Chan: Si Gadis Kecil di Tepi Jendela. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4523739979911660558-6947903627036835582?l=cintaku-loveme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/feeds/6947903627036835582/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/2008/11/sepatu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4523739979911660558/posts/default/6947903627036835582'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4523739979911660558/posts/default/6947903627036835582'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/2008/11/sepatu.html' title='Sepatu'/><author><name>my love</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03585437615001367745</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1UvEn9BN05M/Smle78z0p2I/AAAAAAAAAPk/-R5VUz4OxWs/S220/Foto091.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4523739979911660558.post-396623181389938537</id><published>2008-11-30T04:53:00.000-08:00</published><updated>2008-11-30T04:58:21.131-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islami'/><title type='text'>Masjid Itu Masih Sepi</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Apalah artinya seorang pemuda yang sering disebut Karmat, sebagai penterjemah bahasa Arab ke bahasa Indonesia pada sebuah penerbitan yang tidak terkenal adalah mata pencaharian sehariannya. Nama lengkapnya adalah Karmat Sudra Marga Mahesa, yang suka marah kalau dipanggil Sudra karena dianggapnya terlalu menyalahi komitmen kemerdekaan Amerika yang sering didengungkan seorang prajurit Perancis oleh Lafayetee: Liberte, Egalite, Fraternite. Atau orang modern bilang, itu sangat menyalahi Hak Asasi Manusia karena kasta sudah terhapuskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalah artinya sebuah nama bila mendadak Dramawan Agung dari zaman Pertengahan, Shakespeare disangkal oleh umpatan Karmat, ketika salah seorang kawan memanggilnya dengan Mahesa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Edan!” makinya, meski ia punya nama mahesa bukan berarti ia seperti kebo. Ia pernah menusuk lambung Janer (tetangganya) dengan pisau dapur tatkala meledek dirinya dengan nama Dr. Guyup Mahesa, alias Doktor kumpul kebo, sehingga pledoi yang dikemukakan saat persidangan kepada sang Hakim sebanyak tiga ratus halaman selalu berkisar penerjemahan kalimat: La tahtaqir Man dunaka falikulli syai’in maziyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang itu gila, masa aku dipanggil Doktor Guyup Mahesa, emangnya penghalusan kata bahasa Indonesia itu sudah tidak cukup puas menjajah etika, politik, ekonomi dan lain-lain..., itu penjajahan dan jelas diharamkan oleh preambule. Itu lihat pelacur dijajah oleh penghalusan kata dengan Wanita Tuna Susila, sekarang dihaluskan lagi dengan Pramuselangkangan, wah..., wah..., aku kena getahnya...” protesnya dalam wawancara sama wartawan “Pos Kotak” saat ia berjalan diapit petugas menuju mobil tahanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedari kecil Karmat memang jadi bahan ledekan kawan-kawanya, hingga selama hidupnya jadi rendah diri dan bergelut dengan watak pendendam, tertutup, dan pendiam. Padahal orangnya cerdas dan selalu ranking satu dalam sekolah, pintar berbagai bahasa, seperti ‘percakapan burung-burung’ yang telah dinashkan dalam Al-Qur’an. Bahasa Arab adalah bahasa kebanggaannya karena ia yakin bahwa bahasa Arab adalah bahasa Sorga, selain demikian ia suka dihampiri para Turis dari Perancis untuk konsultasi berbagai pengetahuan wisata. Pergaulannya luas karena bahasa, bukan karena watak inferior yang dimilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klaim masyarakat terkadang sadis, dan membentuk kepribadian, sehingga ia tidak mau keluar rumah, kecuali apabila dinas ke kantor, ataupun ke masjid. Orang-orang yang ingin memanfaatkan dirinya harus datang ke rumah, itupun harus diketahui, siapa dulu orangnya, kalau orang sekampungnya, siapa namanya. Ia sangat antipati dengan tetangganya yang bernama, Jagal, Lahap, Sopiyan, Abdullah Ngubai yang namanya mirip musuh-musuh nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oalah... Ya Gusti, kenapa orang-orang itu ada di dunia. Laknatullah, laknatullah...” Karmat mengeluh di tengah-tengah malam tatkala rembulan redup penuhi hati. Tangisnya meledak melihat pacoban hidup yang memenuhi agenda hariannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat pada hari Ahad, Karmat bebas. Tanpa sanak saudara ia pulang sendirian. Para tetangga menyambutnya dengan memalingkan muka. Hal itu sudah tidak lagi masuk dalam perbendaharaan perasaan. Anggap saja suatu yang terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho..., mas Karmat sudah pulang to...,” sapa bu Makita sinis,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kata bapak kalau orang pulang dari penjara namanya residivis ya...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelegar! Emosi Karmat tiba-tiba pecah, tapi ia hanya bisa menampakkan dengan merah padam mukanya dan senyum kecut sambil lalu. Badannya terhuyung-huyung menahan amarah. Dengan cepat-cepat ia hampiri pintu rumah kontrakannya, lekas ia buka untuk mencari botol- botol yang tidak terpakai lagi sebagai kompensasi dari kemarahan yang terpendam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Prang!” suara botol kosong membentur tembok belakang rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan nafas ngos-ngosan ia lempar lagi botol-botol yang lain, sampai reda dan lemas. Ia bersandar di dinding sambil melihat tumpukan botol-botol yang ia persiapkan untuk mencairkan emosi-emosi. Keesokan hari ia mencoba ke kantor penerbitan tempat dulu ia bekerja, menghadap direktur dan melaporkan bahwa ia akan kembali bekerja seperti biasa. Dengan hati-hati Karmat mulai merangkai kalimat agar Direktur yang selalu pasang angker itu bisa tersenyum dan lebih-lebih mau menerima kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau Karmat, Kapan Kau bebas” Ujar Pak Sitompul sambil menempuk bahunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemaren Pak”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau mau kerja lagi di sini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“E..e..., Iya Pak”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagus, sekarang juga kau bersihkan tempatmu yang dulu. Tengok itu, kotor sekali sampai bau apek”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa sadar Karmat tiba-tiba memeluk Pak Sitompul dan menangis terharu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aduh, bagaimana caranya saya bilang terimakasih sama bapak, bagaimana, pak...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudahlah kau Karmat, serahkan saja kapada yang Kuasa, nasib itu ada di tanganNya, yang penting kau kerja di sini".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terimakasih pak, saya insya Allah, akan bekerja sebaik-baiknya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya..., ya..., aku percaya, selama ini kau memang kerja baik, tanpa kau bilang aku yakin kau kerja baik-baik”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang Karmat sudah resmi dinas di Penerbitan itu, setiap harinya bertumpuk-tumpuk makalah-makalah Bahasa Arab, ia terjemahkan, koran-koran, bahkan Lailat Az Zifaf, buku kegemaran Kiai Rozikin Ozi Aje, tak luput dari garapannya. Ia tak peduli lagi dengan julukan baru yang diberikan masyarakat dengan Resi Karmat singkatan dari Residivis. Ia sudah tuli dengan cemoohan, karena ia sudah bahagia dengan kesibukannya, selain itu hobi memecah botol sudah mulai berkurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Status penterjemah sudah cukup baginya, walau masyarakat lebih suka memanggilnya dengan Sang Resi. Siklus kegiatan antara rumah, kantor dan masjid cukup baginya untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidup. Istirahat, kerja dan berdoa adalah kehidupan yang paling vital. Mau apa lagi, ceramah tidak bisa, ngajari ngaji bahasa Inggris sistim gandulan kayak ngaji kitab ‘Uqudulijain kala masih jadi santrinya mbah kiai Kasilan, tidak diterima masyarakat. Apa lagi? mendingan baca cerpen, sambil korek-korek kuping dengan bulu angsa di rumah, menerjemah di Kantor dan memperbanyak doa di masjid. Satu-satunya sahabat yang ada di kampungnya, adalah Marten, tukang Azan dan juru kunci Masjid An Najah, sebuah masjid yang terletak di tengah-tengah padatnya kampung Karmat. Masjid yang cukup besar, biasanya penuh setiap kali sholat Jum’at, namun sangat longgar setiap Isya’, Subuh, Dzuhur dan ‘Ashar. Kalau sholat Magrib mendingan, ada dua shaf jama’ah. Pada dasarnya suara Karmat merdu, jika mengumandangkan azan, tapi Marten biasanya sewot kalau Karmat suatu kali minta untuk azan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah..., nggak usahlah Mat..., aku takut Ustadz Mazdu’ marah-marah sama aku, aku takut dipecat” kata Marten, “Beliau bilang kalau beliau nggak kuat menggaji dua muazin”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau jangan prasangka begitu Mar..., aku ini ikhlas wal afiat lho, aku cuma pingin azan saja, nggak butuh duit”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan begitu Mat, aku percaya kamu nggak butuh uang, tapi...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah..., nggak jadi..., aku nggak jadi kok, takut aku jadi riya’. Sudahlah aku sholat sunat dulu..., nanti kau saja yang azan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sorry ya..., Mat, bukan aku nggak boleh, cuman itu...tu, ustaz yang pernah belajar di Mesir, bisanya cuman marahin melulu, habis itu kerjanya promosi ziarah kubur kanjeng Husein, atau ziarah ke tempatnya Imam Syafi’i, di setiap pengajian mingguan, emangnya kuat ziarah sampai Mesir”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah...kamu itu nggunjing orang nggak boleh, lagian apa salahnya sih ngajak orang dalam kebaikan. Kamu itu ..., lihat orang senang nggak boleh, makanya kalau sekolah yang bener biar bisa bikin travel, nggak kayak kamu. Sudah azan dulu sana!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marten memang lugu, walaupun pernah jadi bintang film, yang pernah shooting sebagai figuran, Marten cukup bangga. Wajahnya seperti Roy Marten namun jika dilihat lekat-lekat wajahnya lebih condong mirip Presiden Nilson Mandella. Ia suka sekali dijuluki dengan Marten Mandella, karena Nilson Mandella itu orang hebat pernah dipenjara kayak Karmat. Makanya ia kagum juga sama Karmat dan pingin sekali Marten merasakan dipenjara, tapi ia takut sama Polisi. Kemarin ia mencoba maling ayam di peternakan milik orang cina, akan tetapi alangkah terkejutnya ketika diintip dari belakang ternyata ada Pak Guncil yang jadi Polisi Militer, ia sempat bingung, peternakan ayam ini milik Kopral Guncil atau milik Cik Wan. Akhirnya ia balik dengan tangan hampa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari-hari menjelang PEMILU, memang banyak sekali penyelenggaraan demonstrasi, para buruh yang terkekang pada turun jalan, biasanya para mahasiswa yang suka sekali ngutak-atik kesenjangan, sangat rajin unjuk rasa. Kesempatan ini takkan lepas dari perhatian Marten, ia memang melihat kesenjangan tapi tidak bisa membuktikan. Ia mencari peluang untuk ikut unjuk rasa, setiap kali melihat selebaran ia ambil, kalau-kalau ada kabar tentang unjuk rasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kapan ya... ada demonstrasi...” batin Marten, sambil mencoba jaz dan dasi, dan kepalanya diikat kain yang bertuliskan “Hidupkan Demokrasi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pandangi cermin lama-lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah... sudah pantas...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karmat..., Demokrasi itu apa sih, kok mahasiswa itu suka teriak : ‘Demokrasi!, Demokrasi, sambil mengepal-ngepalkan tanngannya?” tanya Marten seusai shalat Isya’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menurut cerita yang sering aku pelajari di kampus, Demokrasi itu banyak macamnya, ada demokrasi liberal, demokrasi Terpimpin, demokrasi pancasila, demokrasi Islam, pokoknya banyak. Ya.. berhubung aku jarang masuk kuliah, aku nggak tahu, setahuku dosen yang paling baik adalah Pak Sitompul, direkturku itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak Karmat seperti dapat ilham, “Oh..., begini kalau nggak salah kata Sitompul, demokrasi itu negara terserah rakyat, tapi kalau demokrasi menurut kenyataannya itu negara terserah penguasa,... katanya....itu yang dia lihat lho Mar bukan aku, betul ini”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hus...jangan keras-keras, nanti kamu ditangkap lho, ini menjelang PEMILU, biar aku saja yang bilang nanti, pas kalau ada demonstrasi”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah... terserah... aku nggak mau ikut-ikut, yang penting aku selamet, aku nggak mau neko-neko, kayak nggak tahu aku saja, orang-orang sudah kadung membenciku”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Termasuk aku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah...entahlah...,” Karmat menunduk sendu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho..., kamu jangan begitu, aku nggak pernah benci sama siapa-siapa, apalagi sama kamu, aku malah sebaliknya, kagum sama kamu, kamu itu pemberani sampai-sampai mau dipenjara, aku pingin lho kayak kamu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh! kenapa sih sekarang kamu suka tanya demonstrasi”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Enggak...ah..., aku...aku... aku pingin kayak Mandella”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“O...oo...” Karmat mengambil sandal dan bergegas pulang ke rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;********&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hidupkan Demokrasi!, Hidup-kan Demokrasi!,” teriak Marten di tengah-tengah lautan para pengunjuk rasa, yel-yel keadilan seperti koor perjuangan, keadilan seperti lautan yang luas dan sukar untuk diterjemahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bersihkan korupsi, bersihkan kolusi, hilangkan nepotisme” teriak Marten menirukan orang- orang yang lagi kalap. Lalu ia ikut naik mimbar dan mengambil corong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nyanyi...!,nyanyi...!, suarakan kebenaran...!” teriak massa. Marten tersadar bahwa ia sekarang di gelombang massa, ia nggak tahu apa yang harus diperbuat di saat corong di genggamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nyanyi...! Serukan keadilan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keringat Marten bercucuran, apa yang harus diperbuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh..., cepat nyanyi atau baca puisi!” bisik seseorang ada disampingnya. Tanpa sadar Marten menyanyikan lagu kesukaannya pada waktu TK:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bebek, bebekku, mari kemari, ikutlah aku ke kebun bibi....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hu.....huu..., lari....lari ... ada polisi...lari..., bubar..., ada tentara...., pakai panser,” seru massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya lari tunggang-langgang diantara mereka ada yang selamat, sebagian mereka ada yang apes, sebab kena pentungan petugas, dan digiring ke Posko Kewaspadaan Nasional. Sesampai di Posko mereka mulai diperiksa satu-satu, ada yang dipukuli, ada yang disuruh ngaku, ada yang teriak menangis, ada yang lantang, ada yang diseret di penjara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh Marten menggigil ketakutan. Matanya melirik-lirik ingin tahu bentuk penjara, tapi...keringat dingin menguasai rasa ketakutannya. Marten, antara mau cari pengalaman dan juga mau pingsan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, siapa namamu?” Tanya polisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“M...m...mm...Marten Pak”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kuliah di mana...?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“S..ss..ss..Saya tukang azan, itu pak... di..ddddi Mesjid An Najah...pak..., Pengajiannya.... Ustadz Mazdu’, pak...., benar pak...sssumpah pak, saya nggak salah, saya cuman disuruh nyanyi...., saya nggak tahu...., jangan dipukul pak...ssssakit...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho! kamu anak buahnya Mas Mazdu’?, kenapa kamu ikut-ikutan demonstrasi, sana pulang sana, memalukan, jangan bilang-bilang kalau kamu saya pulangkan, dan jangan sekali-kali diulangi lagi ikut-ikutan demonstrasi, biar orang gendeng saja yang teriak-teriak” kata seorang anggota ABRI yang ternyata saudaranya ustadz Mazdu’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho kok pulang..., sssaya pingin dipenjara Pak”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu itu ada-ada saja, sana pulang, sudah saat waktu ‘Ashar, nanti telat azannya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I..iya..., tapi...nanti...balik lagi nggak pak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oo...nih sedikit buat ongkos naik bis kota, sana pulang nggak usah balik lagi”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“M..mmm...makasih Pak”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah seperti biasanya, Karmat beranjak ke mesjid. Dengan memakai peci dan sarung, ia mulai mendendangkan zikir, seirama dengan langkahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mat..., tolong kamu saja yang azan, saya pulang dulu” sapa Marten di tengah jalan sambil terengah-engah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari mana kamu Mar...,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nih kuncinya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lha iya..., masjid kok ya... dikunci..., orang mau ke rumah Tuhan kok dikunci, seharusnya dibuka 24 jam. Aku jadi sedih. Coba bayangkan kalau orang mau sholat malam, masa dikunci. Sini kuncinya! Nggak usah dikancing pintu masjid itu. Biar aku buka saja".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya terserah, asal jangan ketahuan Ustadz Mazdu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Boleh..., boleh...., tapi...” Marten berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembari bertanya-tanya dalam hati, Karmat masuk ke Mesjid, ia kumandangkan azan dengan suara merdu, menggantikan kebiasaan Marten. Ia nggak tahu kenapa Marten tiba-tiba berubah, dulu ngotot megang kuncinya sekarang malah dikasihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah..., biarlah..., itu urusan orang lain” batin Karmat, sambil meneruskan wirid shalawat Nariyahnya. Kini Karmat jadi lebih leluasa ke Mesjid, berlama-lama i’tikaf sambil mendengung kecil wirid-wirid. Bila malam-malam tanpa harus mencari Marten, ia bisa buka pintu sendiri, bahkan ia nggak mau lagi mengunci pintu mesjid itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masa masjid kok dikunci, wah..., bener-bener pergeseran nilai. Gimana nanti bila ada yang pingin sholat, atau i’tikaf, atau istirahat atau kegiatan yang lain susah...., mengamalkan hadits nabi ‘Rojulun qalbuhu mu'allaqun bil Masjid’ susah..., jadi orang modern susah. Masjid dibangun besar-besar, yang shalat cuman dua tiga orang, emangnya masjid itu kayak gereja yang hanya dikunjungi setiap minggu sekali, dasar "kristenisasi budaya...” omel Karmat dalam hati sambil memandangi masjid sejenak lalu ia tinggalkan untuk istirahat di rumah menunggu subuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari pagi menyengat, membuat Karmat gelagapan. Dilihat jam sudah menunjukkan jam enam seperempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya...Allah! kenapa aku bangun terlambat”, sesegera mungkin ia mengambil wudlu, tak lupa meraih peci dan menggelar sajadah. Ia menunaikan shalat Subuh di rumah. Seribu penyesalan ia tangisi dengan doa, seribu kekecewaan ia tumpahkan dengan air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya...Allah! kenapa aku laksana terbius seperti ini hingga aku tak tahu lagi ganjaran apa yang akan kuperoleh... Oh Tuhan, my God, Ya Allah... ampuni hambaMu, aku bagai Abu Nawas yang sama sekali tak kuat dengan gelombang siksa neraka, dan kelemahanku inilah yang menjadikan tak patut masuk ke gerbang istana firdaus-Mu. Oh Tuhan, benar... dengan tulus aku mohon ampunan, dosa-dosaku penaka hamburan debu yang terbang hinggapi nafsu... Tuhan... meledak tangisku... membuat kebodohanku muncul..., tiada lagi yang mampu melindungi alam semesta kecuali diriMu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karmat!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah..., kekasihku..., kurajuk diriMu untuk penuhi ampunanku”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Resi Karmat!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya... Rabbi...dengan keadilanMu, terimalah taubatku”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai...!!! Karmat keluar kau...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya...Rahman...Ya Rahim..., KasihMu tak terhingga, tujuh samudra... takkan bisa menandingi limpahan sayangMu, hambaMu mohon maaf...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Prak...” suara pintu didobrak dan orang-orang mulai masuk ke rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya...Hayyu.. Ya Qayum..., kurayu asma-Mu, agar bisa tentramkan hatiku, diriku hancur kala aku lengah dengan janji-Mu. Masjid itu kayak gereja yang hanya dikunjungi setiap seminggu sekali....."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini malingnya...., ayo kita pukulin..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pura-pura berdoa lagi “Ya...Allah telah datang bala-ganjaranMu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bug...!!!, bug...!!!, plak....!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alhamdulillah, ternyata Kau dengar suara hambaMu, karena aku lebih takut dengan siksa JahimMu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo..., Resi...!, Ayo...Sudra!, ngaku..., mana tape recorder..., mana pengeras suara..., kau sembunyikan di mana kotak amal. Jangan pura-pura diam..., ayo.., hei maling..., mana...” teriak orang-orang sambil menggebuki Karmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seret dia!! Bawa ke kantor Polisi....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pukuli dulu..., sampai setengah mampus”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya. Pukuli baru serahkan ke Polisi”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya...Allah....” desis Karmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia tetap diam..., nggak mau ngaku, kasih bogem dulu...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya...Allah...Allah..., Ahad..., Ahad...., Ahad....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karmat mendesis sambil membayangkan Bilal disiksa oleh Umayah, kesadarannya telah hilang, darah segar mengalir membanjiri seluruh tubuhnya, namun ia seperti terhibur dengan senandung dzikir itu, sampai tidak tahu di mana ia berada....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karmat..., maafkan Aku...”, seru Marten sembil melelehkan air mata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“aku menyesal..., dan nggak menyangka sampai dipukuli sekejam itu. Aku kira jalan itu yang dapat mengantar aku ke penjara, tapi aku takut dipukuli hingga aku bilang yang nyolong adalah kamu, lalu mereka melabrak rumahmu, mereka pukuli kamu, dan barang-barang seisi rumahmu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang salah aku Marten. Aku telat shalat Subuh” elak Karmat dari balik jeruji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Uh… uk.... Bukan, itu salahku... kenapa aku penakut..., walau ingin rasanya aku seperti Mandella yang pernah merasakan penjara, seperti kamu Karmat. Kata orang penjara itu untuk mukmin dan sorga bagi orang kafir” dalih Marten tambah sesenggukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hus! Emangnya orang yang beriman suka dipenjara..., bagaimana bisa maju, Marten, bagaimana bisa kerja, bagaimana bisa haji...?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi orang hebat belajarnya di penjara!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu Soekarno, Hatta, Mandella..., dipenjara bukan karena nyolong pengeras suara mesjid..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh..., maafkan aku Karmat...aku nggak tahu, aku mau ngaku biar dipenjara..., disana aku bisa belajar, dan kamu bisa pulang..., aku ingin pinter seperti Mandella. Ya...Marten Mandella...Karmat..., maafkan aku... Karmat”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah..., pingin sekolah gratis..., nyari penjara..., eh..kadang-kadang penjara bisa menelurkan alumnus yang besar dan hebat...” Karmat sejenak menengok kantor Polisi, tak sadar ia geleng-gelengkan kepala melihat gigihnya usaha dan luhurnya cita-cita Marten. Ia tinggalkan penjara setelah tak terbukti kesalahannya, Ia tinggalkan Marten yang kini meringkuk di penjara sesuai dengan pengakuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semoga kau cepat pandai dan berani, Marten...!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam-malam Karmat mulai bertandang ke Masjid, dingin menyelimuti tubuhnya, sepi..., tak ada orang..., dan Masjid itu terkunci..., tak ada lagi yang ia cari..., Marten yang dulunya setia membukakan pintu kini tak tampak lagi. Ya! masjid itu terkunci, di malam-malam sunyi..... Masjid itu tak akan berfungsi......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4523739979911660558-396623181389938537?l=cintaku-loveme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/feeds/396623181389938537/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/2008/11/masjid-itu-masih-sepi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4523739979911660558/posts/default/396623181389938537'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4523739979911660558/posts/default/396623181389938537'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/2008/11/masjid-itu-masih-sepi.html' title='Masjid Itu Masih Sepi'/><author><name>my love</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03585437615001367745</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1UvEn9BN05M/Smle78z0p2I/AAAAAAAAAPk/-R5VUz4OxWs/S220/Foto091.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4523739979911660558.post-583512188601309648</id><published>2008-08-29T01:33:00.000-07:00</published><updated>2008-08-29T01:50:57.185-07:00</updated><title type='text'>Pernikahan Simulasi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Aku sungguh-sungguh tidak mengerti kenapa orang harus menikah,"  gerutuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan tertawa. "Ibumu menanyakan calonmu lagi?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku  mengangguk cemberut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa jawabanmu kali ini?" godanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tidak  menjawab. Aku langsung meninggalkan ruang makan dan masuk ke kamar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan  terbahak. "Kau kekanak-kanakan," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Habis jawaban apalagi yang  mesti kuberikan, Dan? Aku sudah kehabisan alasan, kehabisan stok bohong. Dan  ibuku malah makin gencar menteror."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan tersenyum . "Kau benar-benar  seperti anak-anak. Kalau kau jadi ibumu, apa kau tidak akan blingsatan kalau  anakmu belum juga menikah pada usia tiga puluh tiga."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku akan sangat  gembira kalau anakku tidak menikah seumur hidupnya," komentarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alis  Idan terangkat. "Kenapa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pernikahan hanya memperumit hidup  perempuan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pernikahan juga membuat hidup laki-laki lebih  sulit."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Persis!" potongku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untuk apa menikah kalau yang kita  dapat hanyakesulitan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mungkin karena kesulitan itu hanya efek  sampingnya, sementara keuntungannya lebih banyak?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sok tahu," cibirku.  "Kau sendiri belum menikah. Apa yang kau tahu tentang keuntungan  menikah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku sudah cukup banyak belajar, Pit. Umurku sendiri sudah tiga  puluh lima, kebanyakan teman-temanku sudah berkeluarga."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi kau tidak!  Akui sajalah. Kau setuju kan kalau hidup sudah cukup pelik tanpa perlu lagi  menikah?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan tersenyum. "Ya, memang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lebih enak hidup seperti  ini. Bebas!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setuju. Tapi ingat, aku bukan sama sekali tidak mau  menikah, lho. Aku hanya masih menunggu calon yang pas."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku menghela  nafas panjang. "Ah, ya. Calon."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu kan sebenarnya alasanmu untuk tidak  juga menikah?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, " gumamku enggan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan karena kau sama  sekali antimenikah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menggeleng. "Jangan bilang siapa-siapa, tapi  kadang-kadang aku kepingin juga digandeng seseorang saat datang ke  pesta."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi kau bisa saja bergandengan dengan salah satu pacarmu  kan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gandengan pacar itu lemah. Gampang putus," komentarku  pahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maksudku, aku mau orang yang sama menggandeng tanganku ke mana  pun aku pergi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa susahnya menggaji orang yang mau menggandeng  tanganmu ke mana-mana? Ini zaman susah. Banyak pengangguran."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Idan!"  kuayunkan tanganku, tapi begitu hapalnya ia dengan reaksiku ia menghindar sambil  tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau sadar kan kalau menikah itu lebih dari sekadar mengontrak  penggandeng tetap?" tanyanya kemudian, lebih serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya. Justru itu. Aku  tidak bisa membayangkan menikah dengan orang yang salah. Kalau saja," aku  terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau saja aku bisa yakin bahwa lelaki itu akan  tetap manis dan baik hati setelah ia berhasil menikahiku. Bagaimana seorang  perempuan bisa tahu kalau lelaki yang merayunya ternyata suami yang payah? Yang  suka memukuli, mencaci maki, menghina; orangnya pelit, cemburuan, suka berbohong  dan berkhianat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pit, laki-laki yang begitu sedikit sekali."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku  menggeleng. "Semua laki-laki binatang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana dengan aku? Aku  laki-laki."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau bukan lelaki, Dan. Kau malaikat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan  terbelalak. Didekapnya dada kirinya dan ia terkulai di kursinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Idan!"  desisku. "Nanti orang-orang memperhatikan kita!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pit, kau sadar kalau  aku belum mati? Aku harus mati dulu sebelum jadi roh dan mengajukan lamaran  menjadi malaikat," dan ia kembali terkulai, mata tertutup, lidah  terjulur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Idan, Idan," desahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau kau memang mau menikah,  berobatlah." Ia tergelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan kau. Kalau kau memang mau menikah,  percayalah setidak-tidaknya pada satu orang saja dari golongan  laki-laki."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tidak bisa, Dan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berarti kau memang tidak bisa  menikah. Tidak mungkin dan tidak akan. Dan kalau kau memaksakan diri, kau akan  merana. Dan kalau kau sengsara kau akan makan makin banyak. Dan kalau kau makan  banyak-banyak kau akan ...?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Idan!" walaupun nada suaraku keras, aku tak  bisa menahan senyum mendengar pernyataan konyol itu. Setelah dua puluh tahun  menjadi sahabatku, ia benar-benar telah memahamiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa kau pernah  berpikir tentang ibumu?" katanya kemudian. Seperti biasa ia bisa menjadi sangat  jenaka dan kemudian serius hanya dalam selang waktu sepersekian detik. "Ia pasti  sangat ingin kau segera mendapat pasangan tetap. Ia akan lebih tenang kalau tahu  kau akhirnya punya seseorang yang akan menemani dan  melindungimu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan bicara begitu," cetusku, kembali  manyun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Satu, ini hidupku, bukan hidup ibuku. Aku sedih kalau ibuku  sedih. Tapi kalau suamiku berkhianat, apa ibuku mau menanggung rasa malu dan  sakit hatiku? Kedua, aku tidak butuh pelindung. Kau tahu aku bisa mengurus  diriku sendiri. Kalau itu yang aku butuhkan, aku bisa menggaji lebih banyak  pembantu, plus bodyguard kalau perlu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baik, baik, Tuan Putri. Hamba  mengaku salah," Idan membungkuk dalam-dalam. "Jadi, dengan asumsi kau tidak sama  sekali menihilkan kemungkinan menikah, apa yang ingin kau capai dengan  itu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tertunduk lemas. "Itulah, Dan," desahku. "Aku tidak tahu.  Apalagi yang aku butuhkan saat ini? Aku punya pekerjaan dengan masa depan yang  lumayan. Jadi menikah untuk alasan ekonomi jelas-jelas bukan pilihan untukku.  Aku punya teman-teman diskusi, sahabat untuk berbagi, jadi kesepian juga bukan  alasan bagiku untuk menikah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana dengan keturunan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anak?  Apa aku harus menikah untuk punya anak? Aku bisa mengadopsi bayi, kan? Di luar  sana banyak anak-anak yang tidak diinginkan orang tuanya. Kalau aku mau, aku  bisa mengasuh satu, dua atau bahkan tiga dari mereka. Jadi tolong, jelaskan  kenapa aku harus menikah, mempertaruhkan diriku sendiri, mengambil risiko  dilukai lahir dan atau batin. Tak ada kepastian sama sekali bahwa pernikahan itu  akan bertahan sepanjang hidupku. Disamping itu, kalau pernikahan itu hancur di  tengah jalan, aku akan jadi pihak yang paling besar menanggung kerugian. Kenapa,  Dan? Untuk apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan termenung agak lama. Akhirnya ia menjawab. "Cinta  mungkin?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau terlalu banyak menonton film romantis ," olokku. "Kau tahu  berapa lama cinta bertahan dalam suatu pernikahan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berapa  lama?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Satu sampai tiga bulan. Setelah itu, toleransi, kompromi,  frustrasi dan imajinasi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Imajinasi?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau kau terjebak di  dalam penjara dengan lelaki yang kau benci sekaligus yang kau tahu membencimu,  kau harus membayangkan menikah dengan Richard Gere atau kau bisa jadi  gila."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Astaga," gumam Idan. "Kalau itu terjadi padaku, siapa menurutmu  yang harus kubayangkan? Michelle Pfeiffer atau Nicole Kidman?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gorila,"  jawabku sekenanya dan Idan meledak tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Idan," keluhku. "Berhentilah  tertawa. Aku bukan pelawak. Aku sedang membicarakan masalah serius, dan aku  sebal kau tertawai terus menerus."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajahnya serta-merta menjadi serius.  "Aku tidak menertawaimu. Kalau kau benar-benar sahabatku, kau tahu beginilah aku  menyikapi semua masalah, yang tergenting sekalipun. Termasuk soal menikah.  Cobalah. Kau akan merasa jauh lebih baik. Kalau ibumu menanyakan calonmu sekali  lagi, tertawalah.Tertawalah keras-keras."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Idan, kau benar-benar tak  tertolong lagi," gumamku. "Aku perlu solusi, dan bukan ide-ide  konyol."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan membisu. Dan untuk beberapa waktu kami berdua sama-sama  merenung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, Idan bicara dengan hati-hati. "Pit, aku tahu ini akan  kedengaran gila. Tapi dengar dulu. Aku rasa saranku ini bisa menyelesaikan kedua  masalahmu. Pertama, ketidakpercayaanmu pada ras laki-laki. Kedua,  ketidakmengertianmu kenapa kau butuh seorang suami."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk,  dalam hati bersiap-siap untuk mempertahankan mimik seriusku walaupun ide yang  akan dilontarkan Idan nantinya ternyata kelewat sinting dan karenanya teramat  sangat kocak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebelumnya, aku ingin tanya satu hal, dan ini sangat  sangat penting, jadi aku perlu jawaban terjujurmu. Apa kau percaya  kepadaku?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutatap Idan dengan dahi berkerut. Ia telah jadi sahabatku  selama puluhan tahun. Banyak yang berubah dalam hidupku, dan setidaknya enam  lelaki telah hadir dan menghilang dari hidupku. Hanya Idan yang tak berganti. Ia  seakan-akan selalu siap mengulurkan tangan menolongku, sementara sense of  humor-nya tak pernah gagal membantuku keluar dari depresi yang paling parah  sekalipun. Kalau ada satu laki-laki di dunia yang kuhadapi dengan skeptisisme  nyaris nol, hanya Idan orangnya."Ya. Aku percaya kepadamu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau  begitu, percayalah bahwa yang kulakukan ini semata-mata untuk kebaikanmu.  Percayalah bahwa aku sama sekali tidak memiliki niat jahat terselubung di balik  ideku ini. Percayalah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Idan! " potongku tandas. "Ide apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku  ingin mengajakmu mengadakan sebuah eksperimen," ia bicara dengan hati-hati,  kedua matanya terpan cang pada ekspresi wajahku. "Kita akan melakukan  pernikahan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Simulasi!" lanjut Idan sesegera mungkin.  "Tentu saja lengkap dengan semua formalitasnya, lamaran, akad nikah, kalau perlu  honey moon...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bulan madu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan mengangkat tangannya menyuruhku  diam, "Simulasi. Sekali lagi, simulasi. Setelah itu kita akan menjadi suami  istri --simulasi? sambil mempelajari kenapa kebanyakan manusia y ang normal dan  waras begitu berambisi untuk berumah tangga. Kalau pada akhir eksperimen kau  merasa yakin bahwa kerugiannya tidak sebanding dengan keuntungannya, kita  bercerai dan kau bisa hidup lajang, merdeka selama-lamanya. Kalau ternyata kau  kecanduan hidup sebagai istri, kita bercerai dan kau bisa cari suami yang paling  cocok untukmu. Anggaplah ini Sebagai tes untuk melihat apa kau akan memilih  menikah atau tidak. Tanpa komitmen, tanpa penalti. Bagaimana?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Idan,"  desisku. "Ini ide terbodoh y ang pernah kudengar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Semua gagasan jenius  selalu diolok-olok pada awalnya," sanggah Idan mantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pikirkan, Pit.  Ini satu-satunya cara supaya kita bisa belajar seperti apa pernikahan itu  sebenarnya tanpa perlu sungguh-sungguh menikah. Kau tidak mungkin melakukannya  dengan laki-laki selain aku, yang telah terbukti memiliki sifat ksatria, dapat  dipercaya dan teguh pendirian...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Serius, Idan, serius!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan  kau sama sekali tidak melakukanpengor banan apa pun. Kau tidak akan mengalami  kerugian apa pun."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kecuali jutaan yang harus keluar untuk biaya  pernikahan...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Simulasi," Idan mengingatkan sambil mengangkat  telunjuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"OK. Pernikahan simulasi," geramku. "Dan aku akan menyandang  status janda setelah kita  bercerai."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Simulasi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Idan!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Upit!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh, Tuhan,"  aku bangkit dengan marah dan beranjak keluar. Idan segera  menjejeriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Upit, kau tidak perlu semarah ini," katanya. "Apa aku  sejelek itu di matamu hingga kau bahkan tidak mau pura-pura menikah  denganku?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berhenti berjalan dan menatap wajahnya. Dan  menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Biarpun wajahmu seperti bunglon sekalipun, aku akan tetap  memujimu di depan perempuan malang manapun yang mencintaimu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matanya  berbinar. "Kau tidak marah lagi, kan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menggeleng. "Aku bukan marah  karena idemu, Dan. Aku tahu otakmu memang selalu korslet tiap kali memikirkan  jalan ke luar dari suatu problem serius. Aku mengerti. Aku hanya kesal karena  kau sepertinya tidak peduli dengan masalahku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Justru karena aku sangat  peduli aku mengusulkan ini, Pit," ekspresinya tampak begitu  tulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terima kasih. Tapi ide itu memuakkan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pikirkan ibumu,  Pit. Kalau beliau tahu kau akan segera menikah, denganku, orang yang selama ini  dikenalnya sangat baik, sopan, hormat kepada orang tua, ulet, tangguh...," ia  berhenti saat melihat raut wajahku, "Ibumu akan sangat bahagia, Pit. Pikirkan  juga dirimu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia diam sejenak. "Aku janji akan menggandeng tanganmu di  setiap pesta. Di mana pun."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapannya begitu menyentuh hatiku hingga aku  nyaris menangis terharu. Kalau saja di antara bekas-bekas kekasihku ada yang  mengatakan itu kepadaku, aku pasti sudah lama sekali menikah, pikirku sebelum  menertawai diri sendiri. Perempuan yang tidak butuh seorang pelindung, tapi haus  digandeng tangannya. Aku pasti sama kurang warasnya dengan Idan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa aku  harus menciummu?" tanyaku nyaris berbisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesekali mungkin, kalau orang  tua kita diam-diam mengawasi," matanya kembali tertawa. "Di pipi. Aku tidak akan  melewati batas. Kalau kita hanya berdua, kau bebas untuk meninjuku,  menjambakku...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Idan," teguran itu lebih lembut daripada yang  kuinginkan dan Idan tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suaranya bergetar.  "Saya terima nikahnya Puspita Kirana binti Anwar Daud dengan mas kawin tersebut,  tunai."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan wajahnya kelihatan sedikit pucat. Berapa lama ia tidur  semalam? Apa ia terjaga berjam-jam dalam gelap, memikirkan lelucon terbesarnya,  seperti aku yang nyalang nyaris sepanjang malam tadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibuku meneteskan  air mata sementara senyum lebar memenuhi wajahnya. Ibu Idan, walau menyaksikan  dari kursi rodanya, juga tampak bahagia. Seharusnya aku juga bahagia hari ini.  Idan juga. Mungkin dengan orang-orang lain. Tapi seharusnya aku merasa bahagia.  Bukan diam-diam mencatat seperti seorang ilmuwan yang teliti: perasaanku, reaksi  para tamu, wangi melati dan wajah Pak Penghulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Penghulu menyuruhku  menyalami suami baruku. (Simulasi, Upit, jangan lupa itu. Suami baru simulasi.)  Tangannya dingin. Ekspresi wajahnya aneh, kedua matanya gemerlapan dengan rasa  takjub, saat aku mendongak setelah mencium jemarinya. Ia mengecup dahiku dengan  bibirnya yang yang nyaris putih. Lalu kami berdua duduk berdampingan  mendengarkan petuah Pak Penghulu, Idan menunduk menatap pantalon putihnya dan  mataku terpaku pada kain batikku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kuberanikan diri untuk  berbisik, "Kau pucat sekali."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku lapar. Tidak sarapan tadi  pagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terlalu nervous?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Telat bangun. Aku nonton bola sampai  subuh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana aku tadi?"  bisiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Meyakinkan. Berapa lama kau latihan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hanya waktu aku  berpakaian tadi pagi. Catatan yang kau beri tercuci dengan celanaku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah,  Idan, Idan. Menikah dengannya tidak akan pernah membosankan. Simulasi. Menikah  simulasi dengannya tidak akan membosankan, koreksiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga hari pertamaku sebagai istri Idan --simulasi-- kulewatkan di rumahku  sendiri. Tiga hari berikutnya dilewatkan di rumah Idan, karena kondisi ibunya,  yang memang telah sangat lama sakit, memburuk; mungkin karena ketegangan yang  disebabkan persiapan acara pernikahanku dengan Idan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari ketujuh  kami pindah ke rumah milik Idan sendiri. Dan setelah seharian menata perabotan,  memasang tirai dan beragam pajangan, malam itu kami lewati dengan  tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok paginya, aku terbangun karena mendengar suara-suara di dapur.  Aku menemukan Idan di sana, sedang mendadar telur, sementara di atas meja  terhidang nasi goreng dan sepoci kopi yang harumnya menggoda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku ada  rapat pukul se tengah delapan," seru Idan sambil membalik dadar telurnya. "Aku  mesti berangkat sebelum setengah enam."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kucicipi nasi goreng buatannya.  "Aku tidak tahu kau pintar memasak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pramuka," komentar Idan ter senyum.  Diletakkannya telur di atas meja dan ia duduk untuk sarapan. "Aku juga pandai  tali-temali, semafor, menjahit."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Percaya, percaya. Kalau kau mau  menangani urusan masak, aku akan memperbaiki keran dan genting bocor, plus  membabat rumput."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan terbahak. "Ini hanya sekali-sekali, Pit. Aku tidak  mungkin masak setiap pagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apalagi aku. Kita perlu cari  pembantu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan," Idan menggeleng. "Ia pasti curiga kalau melihat kita  tidur di kamar berbeda."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan menggaruk kepalanya.  "Bisakah kau masak nasi tiap hari?" pintanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku punya rice  cooker."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutatap wajahnya. Dalam hati aku berpikir, haruskah? Ini hanya  sebuah permainan. Tidakkah Idan akan jadi besar kepala kalau aku mematuhinya?  Tapi di lain pihak, kalau aku benar-benar ingin tahu bagaimana rasanya jadi  seorang istri, mungkin ada baiknya aku mengikuti keinginannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau kau  mau membawakan lauk dan sayur bergantian denganku, baik."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tersenyum  dan beranjak dari meja dan kembali dengan sebuah bolpoin merah. Dilingkarinya  tanggal hari itu di kalender yang tergantung di dinding dapur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hari  pertama kita menyelesaikan suatu masalah dengan musyawarah keluarga," katanya  saat kembali ke kursinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masih banyak detil-detil seperti ini yang  mesti kita sepakati," lanjutnya. "Misalnya, aku ingin kau beri tahu aku kalau  kau akan pulang terlambat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahiku berkerut. "Untuk apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa kau  tidak melapor kepada orang tuamu kalau kau akan pulang terlambat?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku  menggeleng. "Ibuku sudah percaya bahwa aku bisa menjaga diriku sendiri dan tidak  akan melakukan hal-hal yang bodoh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi aku suamimu. Simulasi memang.  Aku perlu tahu kenapa dan di mana kau kalau pulang terlambat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau  kedengaran seperti diktator."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kurasa aku tidak minta terlalu  banyak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu terlalu banyak untukku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan meletakkan sendoknya  dan menatapku dengan mata menyala. Aku lupa kapan terakhir kali aku melihatnya  marah. Tapi aku yakin aku tak salah membaca gelagatnya kali ini. Ia benar-benar  marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ingat," lanjutku hati-hati. "Aku bukan benar-benar istrimu. Kau  tidak punya hak untuk mengaturku seperti itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menunduk lama sekali,  tangannya terkepal, buku-buku jarinya memutih. Dan ruang makan itu menjadi  sangat sunyi senyap. "Baik. Kalau itu maumu," desisnya kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami  melanjutkan sarapan dalam diam. Aku ingin mengatakan bahwa aku sama sekali tidak  menduga permainan itu akan membuat persahabatanku dengan Idan memburuk. Tapi aku  tak berani mengungkapkan itu. Aku yakin Idan akan semakin berang  karenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan meninggalkan meja tanpa mengatakan apa-apa dan pergi ke  kamarnya untuk bersiap-siap ke kantor. Tak lama ia kembali menemuiku di ruang  makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku pergi, Pit," katanya dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bangkit dari meja  menghampirinya, berniat untuk memperbaiki situasi. "Sebagian teman-temanku  menyarankan ini," ujarku sambil meraih tangan kanan Idan dan menempelkannya di  bibirku. "Kupikir ada baiknya kucoba. Oh, ya. Mereka bilang kau harus mencium  keningku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia membungkuk dan menyapu keningku dengan bibirnya yang  terkatup dan berlalu tanpa mengucapkan apa-apa lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar tidak tahu  terima kasih!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sengaja pulang terlambat malam itu. Dalam perjalanan  pulang kusinggahi suatu kafe yang belum pernah kukunjungi, sebagian untuk  memperoleh kesendirian dan sebagian untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan yang  pasti diberondongkan kawan-kawan yang biasa bersamaku menghabiskan sore  hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaanku gundah. Rasa bersalah dan kesal berkecamuk di dadaku.  Aku tahu Idan telah banyak berkorban untuk permainan ini. Tapi walau aku  sungguh-sungguh ingin mempelajari bagaimana rasanya menjadi seorang istri, mesti  kuakui bahwa aku belum terbiasa menganggap Idan sebagai suamiku. Bagiku, ia  hanya masih seorang sahabat. Dan seorang sahabat tidak boleh menuntut terlalu  banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku tertaut pada cincin emas mungil yang disisipkan Idan di  jari manisku selepas akad nikah. Ini hanya permainan, batinku. Tapi dalam  permainan ini, Idan adalah suamiku. Dan sebagai suamiku, tuntutannya wajar.  Kalau aku lantas tidak suka dengan keterbatasannya, itu hanya satu pelajaran  pertama dari permainan ini. Kupejamkan mataku dan kutarik napas dalam-dalam. Aku  benci kekalahan. Tapi kali ini aku mengalah, bukan kalah. Aku akan belajar satu  hal dari semua ini. Bagaimana mengesampingkan keakuan dan memilih kebersamaan.  Getir memang. Aku yakin Idan akan menertawaiku. Kalau ia tidak marah-marah  dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah terkejutnya aku mendapati rumah gelap dan kosong. Sudah  pukul setengah dua belas malam dan Idan belum pulang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kucoba menghubungi  ponselnya dan hanya mendapati mailbox. Dengan menggunakan berbagai tipu daya,  memperhitungkan lemahnya kondisi ibu mertuaku, kutelepon rumahnya. Aku bahkan  mencoba mengontak kantornya, tanpa hasil. Idan tidak ada di  mana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inikah balasannya atas penolakanku tadi pagi? Kekanak-kanakan  sekali!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tak urung, dengan melarutnya malam, aku jadi semakin cemas.  Apalagi hingga pagi Idan tidak kembali. Ia bahkan tidak pergi ke kantor. Aku  minta izin pulang setengah jam lebih awal dengan dalih yang  dibuat-buat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saat aku tiba di rumah, Idan tetap tidak ada. Malam itu  kulewatkan di sisi telepon, berpikir untuk menghubungi polisi dan rumah sakit.  Pukul tiga telepon berdering. Bermacam-macam kengerian terlintas dibenakku saat  aku mengangkat receiver.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Upit?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Idan?" jeritku. "Kau di  mana?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pit, aku minta maaf karena marah dan minggat begitu saja. Boleh  aku pulang?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Idan, ini rumahmu!" meskipun aku tersenyum, air mata  kelegaan mulai meleleh di pipiku. "Kau di mana?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di luar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di  luar rumah?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya. Dan aku lapar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh, Tuhan...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lari  ke luar rumah. Di gerbang kulihat Idan berdiri di sisi mobilnya. Entah sudah  berapa lama ia di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau keterlaluan! Aku sudah berpikir untuk  menelepon kantor polisi!" teriakku kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku juga rindu kepadamu!"  balas Idan tertawa. Dan mataku rasanya semakin perih melihat tawanya  lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di mana saja kau dua hari ini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di hotel kecil dekat  kantor."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia baru saja menghabiskan piring ketiga sop buntut kesukaannya.  Ia tidak berkomentar ketika melihat bahwa aku sudah membeli semua makanan  kegemarannya. Ia hanya makan dua kali lebih lahap. "Kenapa kau akhirnya  memutuskan untuk pulang?" suaraku bergetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku perlu baju bersih," ia  tertawa malu. "Laundri hotel mahal sekali."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ia mencuci piring  makannya, dengan punggungnya ke arahku, ia menyambung, "Selain itu, aku khawatir  karena kau sendirian di sini." Dan dadaku tiba-tiba terasa ngilu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku  akan pulang terlambat besok," ucapku perlahan. "Aku harus lembur. Dikejar  deadline."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berhenti membilas piring dan aku tahu ia berbalik  menatapku. Tapi mataku terpaku pada es krim di hadapanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oke," katanya.  "Kau keberatan kalau aku makan malam duluan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Asal kau sisakan cukup  untukku," aku tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paginya kulihat lingkaran merah kedua di  kalender.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bisa mentolerir kebiasaan Idan membiarkan koran yang telah  dibacanya berserakan di ruang tamu. Aku bisa memaklumi kegemarannya nonton film  action --genre yang paling tidak kuminati, dan sepak bola? olahraga yang  menurutku amat membosankan. Aku bahkan bisa memaafkan kebiasaannyamengeluarkan  pasta gigi dengan memencet bagian tengah tubenya, tidak dari bawah seperti yang  biasa kulakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya satu yang aku belum sanggup terima. Caranya  menghabiskan akhir pekannya. Setiap Minggu pagi ia berangkat sebelum pukul enam  untuk bermain sepak bola dengan teman-temannya, dan sorenya, sekitar pukul  setengah empat, ia pergi memancing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untukku yang selalu menghabiskan  waktu luang dengan pergi dari satu galeri ke galeri lain, dari satu pameran  lukisan ke yang lain, dari mal ke mal, dan berakhir dengan acara makan-makan,  kebiasaan Idan itu sama sekali tidak bisa kupahami. Aku tak sanggup menontonnya  main bola atau menemaninya memancing, karena aku dengan sangat cepat akan merasa  jemu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebulan pertama aku berusaha mengerti. Ia selalu pulang dengan mata  berbinar hingga aku tak tega mengeluh dan protes. Tapi dipekan kelima  kesabaranku tandas, dan pagi itu, saat ia tengah memasukkan botol air minum dan  kotak rotinya ke dalam tas, aku memintanya untuk tidak memancing. "Temani aku  jalan-jalan ke mal sore ini," pintaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau kan bisa pergi sendiri,"  katanya sambil memasukkan kaus bersih dan handuk kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Seingatku kau  berjanji untuk selalu menggandeng tanganku ke manapun."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tidak bisa  mangkir memancing hari ini, Pit," ia masih tetap tak memandang ke arahku, sibuk  dengan sepatu bolanya. "Aku sudah janji dengan kawan-kawanku untuk mencoba  tempat memancing baru."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau bisa mencobanya minggu depan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tadi  malam tidak ada bulan, Pit. Ikan-ikan akan sangat rakus hari ini," ia tersenyum  sambil melompat-lompat dengan sepatu bola barunya. "Aku bisa memecahkan rekor  sepuluh kilo sore nanti!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Minggu depan voucher diskon salonku sudah  tidak berlaku lagi," gumamku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pakai voucher dariku saja," sahutnya  ringan sambil mulai lari-lari di tempat. "Berapa diskon yang kau dapat dengan  voucher itu? Kalau kuberi lima belas ribu cukup?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Idan! Itu hanya cukup  untuk beli minum selama di salon."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku bisa cukur rambut plus dipijit  plus minum kopi dengan lima belas ribu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh, Tuhan!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan  berhenti berlari-lari dan berdiri di hadapanku dengan tangan di pinggang. "Pit,  kau sudah cantik begini. Tidak perlu ke salon lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku sudah cukup  yakin dengan kecantikan, terima kasih. Yang aku butuh cuma keluar dari rutinitas  harianku, dan aku memilih melakukannya dengan jalan-jalan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi? Apa  yang kau tunggu? Pergilah. Aku tidak melarangmu. Kalau kau bawakan aku  oleh-oleh, aku akan lebih tidak keberatan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini bukan masalah kau  melarang atau tidak, Dan. Apa enaknya jalan-jalan sendirian? Aku perlu  teman."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau begitu ajaklah teman-temanmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah. Mereka punya  acara sendiri-sendiri. Dengan suami-suami mereka."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan mengerutkan  keningnya. "Kau mau melewatkan hari Minggu  denganku?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa tidak bilang dari tadi. Tentu saja kau  boleh ikut ke lapangan sepak bola lagi. Aku akan senang kalau kau ada di  sana."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Idan!" jeritku. "Kau ini buta, tuli atau imbesil sih? Kau tahu  aku benci sepak bola dan lebih benci lagi memancing!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata Idan menyipit.  "Dan kau tahu aku alergi jalan-jalan ke mal," desisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kupikir sudah  waktunya kau mengalah sekali-sekali."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mengalah!" suaranya meninggi. "Apa  aku masih kurang mengalah selama ini? Pit, kau sudah menyita enam kali dua puluh  empat jam waktuku, apa kau tidak bisa memberiku...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Enam kali dua puluh  empat? Enam kali dua! Kita hanya benar-benar bertemu dan bicara satu jam saat  sarapan dan satu jam waktu makan malam!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita bisa mengobrol lebih  banyak kalau kau mau lebih banyak melewatkan waktu denganku! Tapi tidak! Kau  lebih memilih mengurung diri di kamar dengan Pavarotti dan  Flamingo...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Placido Domingo! Maaf, Dan, waktuku terlalu berharga untuk  dipakai menyaksikan orang-orang saling membunuh tiap dua menit atau dua puluh  dua orang memperebutkan satu bola kulit!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setidak-tidaknya itu lebih  jujur dan bisa dimengerti dari film-filmmu yang becek air mata itu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau  kekanak-kanakan!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan kau, Tuan Putri, kau egois!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menyambar  tasnya dan melangkah lebar-lebar keluar lewat pintu samping.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masuk ke  ruang makan dan membanting pintu di belakangku. Seperti inikah perasaan para  istri setelah bertengkar dengan suaminya? Dadaku sesak dan kepalaku sakit. Aku  benci menjadi cengeng, tapi air mata kecewa mulai membuat mataku pedih. Aku sama  sekali tidak mengira sesuatu seperti ini terjadi padaku. Aku tahu Idan melakukan  semua ini, simulasi ini, untukku, tapi selama ini aku tidak pernah menuntut apa  pun darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, aku telah berkorban banyak sekali sejak aku  menikah --simulasi-- dengannya, mengurangi jadwal clubbing-ku, pulang dari  kantor sesegera mungkin, memperhitungkan apa ia akan menyukai makanan yang  kubeli. Apa ia telah berbuat sama banyaknya untukku ? Tidak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubuka  lemari es dan kukeluarkan satu kotak es krim cokelat kesukaanku. Pagi itu  kulewatkan di depan televisi, menyaksikan film melankolis, air mataku kubiarkan  meleleh tanpa henti, dan sekotak es krim itu pun habis tanpa terasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan  kembali pukul setengah sebelas, masih cemberut. Ia langsung mandi dan tak lama  kemudian kembali ke ruang duduk sudah rapi dengan t-shirt dan celana  jins.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau kau mau ke mal, aku sarankan kau mandi dan dandan  sedikit,"katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tidak mau pergi ke mal."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau bilang tadi  pagi...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tidak mau merepotkanmu. Aku tidak mau kau gatal-gatal  karena alergimu kumat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Upit, kalau kita tidak pergi sekarang, kita bisa  pulang terlalu sore. Aku ada janji jam empat...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku bilang aku tidak  mau ke mal! Kau bisa pergi memancing sekarang kalau kau mau."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan  seperti anak kecil begini, Pit," geramnya. "Ayo!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak! Dan kalau kau  marah dan mau minggat seperti dulu lagi, silakan!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah Idan benar-benar merah sekarang. "Upit! Jangan main-main denganku! Aku  tidak mau kau menolak pergi jalan-jalan lalu menghukumku dengan cemberut  sepanjang hari begini. Mandi sekarang. Kita pergi setengah jam  lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku bukan budakmu. Jangan suruh-suruh aku. Dan aku tetap tak mau  pergi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oke. Terserah! Kalau kau mau duduk di sini seharian, makan es  krim dan cokelat sambil mengasihani diri sendiri dan melar dan melar dan melar  dan melar...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Idan!" jeritku sambil melempar kotak es krim itu ke  arahnya. Ia terlambat mengelak dan sisa es krim yang telah mencair melumuri  t-shirtnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lari ke kamarku, membanting pintunya dan melempar diri ke  ranjang, sesenggukan. Kudengar ia memaki dan menendang pintu. Saat itu aku  takut, takut sekali. Ia seperti telah menjadi manusia lain yang tak kukenali  sama sekali, asing dan mengerikan. Kututup telingaku dengan bantal dan aku terus  menangis hingga tenggorokanku yang sakit dan kepalaku yang berat memaksaku  tertidur kelelahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sorenya aku keluar mengendap-endap. Idan pasti telah  pergi memancing. Memikirkan bahwa ia pergi sementara aku masih menangis karena  kata-kata kasarnya membuatku makin marah kepadanya. Kali ini aku yakin tak ada  pilihan lain kecuali meninggalkannya dan kembali ke rumah orang tuaku. Maka  selesai mandi aku segera memasukkan semua pakaianku ke dalam kopor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat  itu Idan datang. Ia kedengaran sangat gembira, bersiul-siul sejak ia memasuki  pintu gerbang. Siulannya berhenti saat ia melihat koporku dari pintu kamar yang  terkuak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa-apaan ini, Pit? " tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku pulang ke rumah  Ibu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia masuk dan duduk di atas kasurku, mengawasi gerak-gerikku.  "Semudah ini kau menyerah?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini diluar  dugaanku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tidak mengira aku menikahi  monster."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan terdiam, menunduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku...," katanya lirih. "Aku  bawa pizza kesukaanmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku sudah terlalu gemuk."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menggeleng  dengan ekspresi bersalah, "Tidak. Kau cantik."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tidak butuh  pendapatmu. Kau bukan suamiku, ingat? Penilaianmu tidak punya arti  apa-apa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku sudah mencoba jadi suami yang baik."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau  gagal."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setidaknya aku mencoba. Kau... kau tidak melakukan apapun supaya  pernikahan kita berhasil...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Simulasi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menghela napas  panjang dan mengangguk singkat. "Simulasi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau salah, Dan. Aku sudah  melakukan terlalu banyak. Sudah belajar terlalu banyak. Dan aku sudah mengambil  keputusan. Aku tidak akan menikah. Aku tidak suka menikah. Apalagi  denganmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tak mengatakan apa-apa, lama sekali. Ketika ia keluar dari  kamarku, aku ambruk ke atas tempat tidur. Semua topeng ketegaranku hancur  berkeping-keping. Aku tak pernah menduga Idan bisa menyakitiku sehebat ini. Lama  kemudian. setelah aku bisa sedikit menguasai diri, aku bangkit. Kurapikan  dandananku dan kuseret koporku keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setidaknya tunggulah sampai hujan  reda," suara Idan menyambutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terlalu lama," gumamku. "Aku tidak bisa  tinggal denganmu selama itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak peduli hujan yang serta merta meng  guyurku basah kuyup Saat aku membuka pintu gerbang. Meninggalkan Idan  secepatnya, hanya itu yang ada di benakku. Dan ketika mobilku mulai tersendat  terendam genangan air hujan hanya lima puluh meter dari rumah, aku begitu berang  dan putus asa hingga aku keluar dari mobil dan menendang pintunya, meninju  atapnya, air mataku larut dalam siraman hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu aku melihat Idan  datang. Tanpa mengatakan apa-apa ia mencabut kunci mobilku dan mengunci mobil  itu dari luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayo pulang," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menggeleng tanpa berani  menatap wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ia mengangkatku, menggendongku, tanpa menghiraukan  perlawananku. Ia membopongku sampai ke rumah, tak memberiku kesempatan untuk  melarikan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiba di dalam, ia mengunci pintu dan menyimpan kuncinya  di saku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ganti bajumu," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Semua bajuku di dalam  kopor."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ambil bajuku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak akan pernah!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia  mencengkeram pergelangan tanganku dan menatapku lurus dengan mata berkobar, "Ini  bukan waktunya melawanku, Pit. Kau bisa sakit!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Monster,"  desisku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu suhu tubuhku menanjak naik, kepalaku sakit dan  tenggorokan nyeri. Aku masih ingat saat Idan menyuruhku menelan sebutir tablet  penurun panas dan aku membangkang. Ketika abangku datang untuk memeriksa  keadaanku, aku masih bisa menangis dan merengek minta diantar pulang ke rumah  orang tuaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu semuanya kabur. Kesadaranku kembali dalam  kelebatan-kelebatan singkat. Ketika aku terjaga dan menemukan Idan tengah  mengganti kain kompres di dahiku, sentuhannya begitu sejuk dan menenteramkan.  Ketika aku tiba-tiba tersentak dari salah satu mimpi burukku dan mendapati Idan  tengah membersihkan ceceran muntahku di lantai. Ketika aku terbangun dari  tidurku yang gelisah dan merasakan tangannya erat menggenggam  jemariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga akhirnya, entah setelah berapa lama, aku terbangun dan  nyala api dalam kepala dan dadaku telah padam. Jendela kamarku terbuka dan  cahaya matahari hangat menerobos masuk, membawa aroma melati dari rumpun di luar  kamarku. Ibuku tengah duduk di dekat jendela,  membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ibu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibuku menurunkan korannya. Senyumnya mengembang  saat ia menghampiriku. "Bagaimana? Sudah enakan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Idan mana?"  bisikku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, pertanyaan bodoh. Mungkin seharusnya aku bertanya dimana aku  sekarang atau setidak-tidaknya siapa namaku. Kenapa pertanyaan pertamaku harus  tentang Idan? rutukku pada diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masih di kantor. Sebentar lagi  juga pulang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sakit dan dia pergi ke kantor. Suami  teladan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ibu sudah berapa lama di sini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari pagi. Kau tidak  ingat ibu datang pagi tadi?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencoba menggeleng dan kepalaku serta  merta terbelah tiga. Tapi yang paling menyakitkanku adalah, Idan sama sekali tak  peduli aku sakit. Aku berbalik dan memejamkan mata. Air mataku yang panas luruh  satu-satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu ketika Idan pulang, aku berpura-pura tidur. Aku sama  sekali belum siap untuk bicara lagi dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana, Bu?" tanyanya,  suaranya mendekati tempat tidurku. Dan kemudian tangannya hinggap di dahiku,  sejuk dan membawa ketenangan. Dengan punggung tangannya ia menyentuh leherku,  dan kalaupun aku sanggup menepiskan tangannya dengan tenagaku yang nyaris nihil,  aku tak akan mau melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tadi bangun sebentar, menanyakan kamu.  Lalu tidur lagi. Tapi panasnya sudah turun dan tadi siang sudah mau minum  susu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan Idan berpindah ke bahuku dan mulai memijat dengan lembut.  Jangan berhenti, jangan berhenti, jangan berhenti, pintaku dalam hati. Tapi ia  bangkit dan merapikan selimutku sambil terus bicara dengan ibuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau  Ibu capai, Ibu bisa ambil cuti besok."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu tertawa kecil. "Kau sendiri?  Kau tidak tidur entah berapa malam dan kau mengerjakan semuanya. Mencuci,  membersihkan rumah, mengurus Upit. Apa kau tidak capai?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya pakai  baterai Energizer, Bu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu tertawa lagi, "Idan, Idan. Kau mesti  istirahat juga. Kalau kau sakit, Ibu tidak yakin Upit bisa mengurusmu sesabar  kau merawat dia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu! Idan itu hanya menantu Ibu! Cuma simulasi  pula!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah tanggung jawab saya, Bu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah  klisenya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunyi. "Kau betul-betul tidak butuh bantuan  Ibu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terima kasih. Kalau ada apa-apa, saya pasti telepon Ibu  lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baik kalau begitu. Kau tinggal menyuapinya nanti malam, jangan  lupa obatnya. Kalau ia mau, ibu sudah masak bubur di dapur. Kalau tidak, beri  saja apa yang dia mau."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, Bu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan jangan tidak tidur lagi  nanti malam. Upit sudah baikan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baik, Bu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saat itu juga aku  bersumpah akan membuat malam itu mimpi buruk untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin  menghukumnya karena kata-katanya yang menyakiti perasaanku. Aku ingin  menghukumnya karena ia melukai harga diriku. Dan aku ingin menghukumnya karena  ia membuatku benci pada diriku sendiri. Ia yang membuatku sakit dan entah berapa  lama tak berdaya, bahkan terpaksa membiarkannya mengurusku seperti  bayi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia harus membayar untuk semua penghinaan itu. Aku benci, sangat  benci padanya. Aku membuat segalanya sangat sulit untuk Idan malam itu. Aku  memberontak saat ia mencoba menyuapiku. Aku menolak saat ia memintaku makan  obat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memintanya membuka jendela karena aku kepanasan, lalu  menutupnya lagi, karena aku kedinginan, lalu membuka lagi, menutup lagi entah  berapa belas kali. Aku memintanya membuatkanku susu yang tidak kuminum,  merebuskan mi instan yang tidak kumakan, menyiapkan roti yang kubuang kelantai,  mengupaskan apel yang kubiarkan di meja hingga berubah coklat dan memasakkan  omelet yang hanya kucuil sedikit. Pijatannya dikakiku terlalu keras, terlalu  lembek, terlalu kasar, tidak terasa. Dan saat ia mulai terkantuk-kantuk di  kursi, aku membangunkannya untuk menyalakan televisi agar aku bisa menyuruhnya  mengganti saluran tiap kali ia mulai mengangguk terlelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu akan  membuatku sangat puas kalau saja Idan mau menolak, memprotes, mengeluh, atau  bahkan marah dan memakiku seperti dulu. Tapi ia sama sekali tidak mengeluh,  tidak membantah. Kesabarannya merusak segalanya. Makin lama aku makin menyadari  kelembutan dalam suaranya ? yang hanya bisa lahir dari kekhawatiran -- dan  kelelahan di matanya ? yang aku tahu hanya bisa datang dari  keputusasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dibuatnya merasa bersalah, karena aku sadar ia juga  tengah menyalahkan dirinya sendiri, menghukum dirinya sendiri, mungkin lebih  berat dari yang kulakukan. Dan kebencianku justru musnah dan berganti kasihan,  sesuatu yang sama sekali tak kuharapkan, tapi tak bisa kuelakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang fajar, saat mengawasinya tertidur meringkuk di kursi, aku  mengingat lagi pertengkaran yang menerbitkan kebencian itu. Aku mengulang lagi  setiap kalimat yang kuucapkan, dan aku tiba-tiba merasa malu. Kenapa semuanya  harus terjadi hanya karena sesuatu seremeh itu. Selama dua puluh tahun  persahabatanku dengan Idan, hobi dan kegemarannya tak pernah membuatku merasa  terganggu. Masih banyak hal lain yang menyenangkan darinya. Kenapa aku sampai  bisa melupakan itu dan membiarkan kemarahan sesaat membutakanku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu  permintaanku wajar. Aku tahu aku berhak meminta Idan menemaniku ke mana pun. Dan  ia juga sama bersalahnya denganku karena mengobarkan pertengkaran konyol itu.  Hanya saja ia lebih berbesar hati untukmenyingkirkan pertengkaran itu sementara  aku justru memupuk dendam dan benci padanya. Jadi siapa sebenarnya pemenang  dalam kontes kedewasaan ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku terbangun esok paginya, Idan  menyambutku dengan baki sarapan pagi dan senyum lebar. Ia membantuku ke kamar  mandi dan aku tidak memprotes ketika ia memintaku untuk tidak mengunci pintu. Ia  telah menyediakan bangku di dekat wastafel agar aku tak perlu berdiri saat  menggosok gigi. Di rak ia telah menyediakan pakaian bersih untukku dan bahkan  meletakkan bedak dan sisirku, hingga saat aku keluar dari kamar mandi, aku  merasa jauh lebih segar dan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku kembali ke kamar, aku  melihat spreiku telah diganti, mejaku telah rapi kembali dan bunga di dalam vas  di dekat tempat tidurku telah diganti dengan yang baru. Ketika Idan duduk di  pinggir ranjangku, menambahkan gula pada susu cokelatku dan mengupaskan telur  sarapan pagiku, aku hampir menangis karena terharu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau tidak ke kantor?  " tanyaku mencoba membuka percakapan; kata-kata ramah pertama yang kuucapkan  padanya setelah pertengkaran kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini hari Minggu, Pit."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku  sudah sakit selama seminggu ?" bisikku tak percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya," Idan tersenyum.  "Tapi aku senang kau sudah sembuh sekarang. Aku tidak bisa tenang di kantor  memikirkanmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ibuku kan di sini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya. Aku terpaksa memintanya  datang. Aku benar-benar tidak bisa meninggalkan pekerjaanku minggu lalu.  Maaf."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menunduk, bersembunyi dari ketulusan di matanya. Kulirik jam  di atas mejaku. Pukul setengah delapan pagi. "Tidak main bola?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia  menggeleng sambil mengolesi sepotong roti lagi dengan selai nenas. "Aku mau  memberi kesempatan pada Agus. Sudah dua bulan dia cuma duduk di bangku  cadangan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dia kurang berani menyerang. Tidak  segesit aku. Maklum sudah agak gemuk. Tapi, siapa tahu," ia mengangkat bahu dan  tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau mau pergi memancing nanti sore?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menggeleng  lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku harus memberi kesempatan ikan-ikan itu  berkembang biak, Pit. Kalau kutangkapi terus, mereka bisa punah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau  kau memancing lagi, tolong sampaikan terima kasihku kepada mereka,  ya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terima kasih untuk apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menunjukkan sisi lain dari  Idan yang tidak kuketahui sebelumnya, batinku. Tapi yang keluar dari mulutku  adalah, "Karena meminjamkanmu untukku hari ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyum Idan serta merta  surut. Diulurkannya tangannya dan disentuhnya lenganku. "Lain kali kalau kau  ingin kuantar ke manapun, bisakah kau bilang minimal sehari sebelumnya? Bukannya  aku tidak mau, tapi kalau aku sudah berjanji dengan teman-temanku, aku tidak  bisa begitu saja membatalkannya kan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk dengan leher  tersumbat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku juga janji tidak akan sering nonton film action lagi,"  katanya kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita memang perlu ngobrol lebih sering. Jangan  menangis, Pit Nanti air jerukmu asin."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Selamat  ulang tahun, Pit."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terlonjak duduk dan menyalakan lampu. "Idan! Untuk  apa kau sepagi ini di kamarku!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Memberimu selamat ulang tahun," jawabnya  polos. Dan ia bangkit dari kursinya di sisi tempat tidur dan menarikku hingga  berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayo! Aku mau menunjukkan hadiah ulang tahunmu  dariku!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menyeretku ke ruang kerja dan menyuruhku duduk di depan  komputerku. Ada dua komputer di ruangan itu, satu milik Idan, yang sarat dengan  berbagai programming software yang digunakannya untuk bekerja. Dan satu lagi  milikku, lebih sederhana dan tidak secanggih milik Idan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan menyalakan  komputerku dan duduk di sebelahku dengan mata berbinar. Sambil tersenyum geli,  aku mencoba menebak apa yang telah disiapkan Idan untukku. Puisi? Personal  website, dengan foto dan lagu? Aku menggeleng dalam hati, Idan tidak cukup  romantis untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau lihat?" Idan memotong  renunganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hadiahku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keningku berkerut. Tidak ada  yang berbeda dengan tampilan komputer itu. Dengan ragu kuraih mouse dan mengklik  tombol Start. Tidak ada yang berubah. Tapi Idan kentara sekali menjadi semakin  antusias. Setelah membuka file-file-ku dan sekali lagi tidak menemukan apa pun,  aku berpaling kepada Idan dengan ekspresi tak berdaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau tidak  menemukannya?" tanya Idan, dengan setitik kecewa dalam suaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku  menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku menambah memori komputermu," akunya kemudian. Dan  melihat raut wajahku yang tak berubah, menambah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Komputermu sekarang  bisa bekerja lebih cepat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin sekali berbagi kegembiraannya. Ia  kelihatan begitu bangga dengan hadiahnya, setidaknya beberapa detik yang lalu,  sebelum ia sadar bahwa aku kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh," hanya itu yang bisa kukatakan.  "Terima kasih."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau boleh memelukku kalau mau," katanya tersenyum dan  membentangkan kedua tangannya. Kupukul lengannya dan tertawa. Dan pagi itu  berlalu seperti hari-hari kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kantor teman-temanku menyambutku  dengan ucapan selamat dan senyum pernuh arti. Ketika aku memasuki ruang kerjaku,  aku mengerti kenapa mereka tampak seperti menyembunyikan sesuatu. Di meja  kerjaku ada sebuah kotak panjang dengan tutup selofan. Setangkai mawar putih.  Sesaat jantungku rasanya berhenti berdenyut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati-hati kuambil kartu yang  menempel pada kotak itu, lupa seketika kepada teman-temanku yang pasti mengawasi  lewat kaca ruang kerjaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat ulang tahun. Masih ingatkah kau  kepadaku? Jika ya, aku menunggu di tempat biasa. Mungkinkah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku keluar  untuk makan siang lebih awal, mengabaikan godaan teman-temanku yang tak kenal  ampun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita tidak bisa bertemu lagi Pram," ujarku kepada Pram di telepon. Separuh  jiwaku rasanya terbang dan hilang saat kata-kata itu kuucapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa?  Idan melarangmu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dia tidak tahu apa-apa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa kau terus  memikirkan dia, Ta. Pikirkan dirimu sendiri. Apa kau sudi menghabiskan hidupmu  dengan orang yang tidak kau cintai, sedangkan denganku kau bisa mendapatkan  semuanya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kugigit bibir ku saat setetes air bergulir di  pipiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ita, akuilah. Aku menemukan separuh hatiku kepadamu dan hidupmu  baru akan lengkap denganku. Selama ini, aku sendirian dan kau dengan Idan, hidup  kita hanya mimpi, cacat, timpang. Dan kita baru akan memulai hidup, setelah kita  bersama. Saat ini kau tidak punya apa-apa, Ta, tidak juga masa depan, tapi  berdua, kita akan miliki segalanya...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hentikan," potongku dengan suara  bergetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau kau minta aku untuk berhenti berusaha mendapatkanmu  lagi, kau hanya buang-buang waktu dan tenaga. Kau tahu aku tidak semudah itu  disuruh mundur. Ini menyangkut sisa hidup ku dan hidupmu. Tidak ada yang lebih  penting dari itu dan aku tidak akan berhenti sampai kau kembali  denganku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tidak bisa...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa tidak?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, kenapa  tidak. Pernikahan ini hanya sebuah permainan. Menyenangkan memang. Tapi tetap  hanya sekadar sandiwara. Tapi kenapa rasanya berat sekali  memutuskannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau tidak mencintai Idan, Ta. Kau berbeda dengannya, jadi  bukan kesalahanmu kalau kau tidak bisa mencinta inya. Satu-satunya perasaan yang  layak kau simpan untuknya cuma iba, karena ia tidak akan pernah bisa mendapatkan  hatimu dan ia akan selamanya menikah dengan perempuan yang mencintai lelaki  lain."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Akuilah, Ta, kau mencintaiku. Kebersamaan kita  adalah takdir."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kututup mikrofon dengan tanganku dan menghela napas  panjang. Seluruh tubuhku rasanya terbakar dan lunglai dan dunia seperti berputar  makincepat. Kupejamkan mataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tidak mencintaimu,"  gumamku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lebih keras lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tidak mencintaimu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau  berbohong."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama sekali aku terdiam sebelum akhirnya sanggup mengucapkan,  "Ya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ita," suara Pram gemetar. "Aku berjanji untuk selalu membuatmu  bahagia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu sejak awal bahwa permainanku dengan Idan akan  berakhir, cepat atau lambat. Tapi hatiku tetap enggan berdamai dengan kenyataan  bahwa aku harus bicara padanya tentang perpisahan. Aku sadar bahwa Idan sendiri  tidak berhak dan tidak mungkin menghentikanku. Bahkan, mungkin ia akan merasa  lega dengan keputusanku itu, karena akhirnya ia bisa membenahi hidupnya sendiri  lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mustahil ia akan menolak berpisah denganku. Apalagi, aku juga tahu  ia sangat menyayangiku dan ingin aku bahagia. Dan aku tahu, keputusan untuk  kembali kepada Pram adalah yang terbaik untukku dan masa depanku, sesuatu yang  pasti akan didukung oleh Idan. Aku yakin keputusanku itu tidak merugikan siapa  pun. Kenapa aku harus segan menyampaikannya pada Idan? Mula-mula aku berjanji  kepada diriku sendiri untuk mencari waktu yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saat itu tak  pernah datang. Setiap kali, aku dilanda keraguan dan akhirnya membatalkan  niatku. Pram tidak bisa mengerti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku ingin kita menikah sebelum  aku kembali ke Jerman, Ta. Dan kau harus menempuh masa idahmu dulu. Belum lagi  kita harus memikirkan pendapat orang lain yang pasti berkomentar kalau kau  menikah denganku segera setelah masa idahmu selesai. Dan aku hanya di sini  sepuluh bulan lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tahu. Aku juga berpikir begitu. Tapi...  Entahlah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa kau tidak yakin aku akan membuatmu  bahagia?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku...." aku tergagap dan menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi, bicaralah  dengan Idan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu, aku pulang dengan hati berat. Aku sudah bertekad  untuk bicara dengan Idan malam itu juga. Aku tak akan menundanya lagi. Begitu  aku tiba di rumah, Idan sudah menungguku di teras. Matanya berbinar dan wajahnya  berseri saat aku mendekati teras, hingga aku jadi berpikir, ada apa  sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa kau sudah di rumah?" tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan  menyilangkan telunjuknya di depan bibir dan menggandeng tanganku ke dalam  rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sst!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia membawaku ke serambi samping.  Dengan bangga dikembangkannya tangannya. Di sana ada sebuah ayunan rotan  berwarna putih, cukup lebar untuk tiga orang, dengan bantal-bantal yang  kelihatan sangat mengundang, berwarna hijau dengan gambar... mawar  putih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini hadiah ulang tahun pertama perkawinan kita,"  katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku beralih cepat dari ayunan rotan itu. Wajah Idan  benar-benar sumringah. Di matanya ada sekelumit keheranan melihat wajahku yang  pasti telah berubah warna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku... aku tidak punya hadiah apa-apa,"  gumamku sambil kembali menatap ayunan itu, menyembunyikan kalutku. "Aku  lupa...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan tertawa. "Kau bahkan tidak ingat ulang tahunmu sendiri,"  katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia duduk diayunan itu. "Ayo," katanya sambil menarik  tanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku duduk disampingnya, tak tahu mesti mengatakan apa. Aku  benar-benar tidak ingat bahwa setahun lalu hari itu, aku dan Idan menikah,  simulasi. Kenapa Idan harus menganggap hari itu demikian istimewa sementara aku  sendiri sama sekali tak mengingatnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan mulai berayun-ayun pelan  sambil menggenggam tanganku. Ia sedang menceritakan sebuah kejadian lucu di  kantornya, tapi aku sama sekali tak mendengarkan. Di kepalaku berdenging ribuan  kata-kata yang akan segera kuucapkan padanya. Aku telah berlatih dalam hati  untuk mengutarakan segalanya, tegas dan jelas. Tapi sekarang, semua ketetapan  hati yang telah kubangun runtuh berserpihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pit, kau tidak menyimak  kata-kata Pak Guru, anak nakal," teguran Idan membuyarkan renunganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutatap matanya. "Dan, Pram pulang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahinya  berkerut. "Pram?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pacarku yang pergi ke Jerman."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh," ia  mengangguk. "Kapan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebulan lalu, waktu aku ulang tahun."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia  mengangguk lagi. Aku tak bisa mengucapkan apa-apa setelah itu. "Dia sudah  menikah?" tanya Idan, seperti mendorongku bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku  menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lalu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dia ingin menikah denganku," ujarku  cepat-cepat, tanpa memandang wajahnya. "Ia hanya di sini sepuluh bulan lagi.  Karena itu, aku ingin kita segera bercerai."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan tak  mengatakan apapun selama beberapa saat. Pertanyaan berikutnya ia ajukan dengan  ringan, seolah-olah sambil lalu, "Kau yakin ia mencintaimu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku  mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau yakin akan bahagia dengannya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi aku  hanya mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau begitu, selamat," ketulusannya terdengar hangat.  "Aku ikut bahagia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuberanikan diri untuk menatap wajahnya. Dan aku  tidak menemukan setitik pun kekecewaan di sana. Rasa lega meruahi  hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan bertanya beberapa hal tentang Pram dan semuanya kujawab  dengan antusiasme gadis belasan tahun yang mabuk asmara. Tapi setelah beberapa  waktu, aku sadar kalau ia tidak sungguh-sungguh memperhatikan  ceritaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan?" tegurku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau tidak mendengarkan.  Apa yang sedang kau pikirkan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku sedang berpikir, gadis mana yang bisa  kuajak selingkuh, supaya kau punya alasan untuk bercerai  denganku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu aku terbangun saat Idan  mengguncang bahuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pit, bangun!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada apa?" gumamku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam  alarm di sisi ranjangku baru menunjukkan pukul tiga lima belas dini  hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ganti baju cepat, kita mesti ke rumah sekarang. Mama  meninggal."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terlonjak duduk. "Apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ganti baju," perintah  Idan sambil meninggalkan kamarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terpaku sejenak sebelum akhirnya  lari mengejar. "Kapan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baru saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rumah. Ganti  bajumu. Kita berangkat lima menit lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Idan...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia membanting  pintu kamar di depanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali ke kamarku dan bergegas mengganti  piyamaku dengan baju yang pantas. Ketika aku keluar, semua lampu belum menyala  dan pintu depan masih tertutup. Juga pintu kamar Idan. Kuketuk pintu itu  perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan, aku sudah siap."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku  menyelinap masuk. Kamar Idan gelap, tapi dengan cahaya samar lampu taman aku  bisa melihatnya meringkuk di sudut, wajahnya tersembunyi dibalik kedua  tangannya. Ia menepis tanganku, bahkan mendorongku terjungkal saat aku menyentuh  bahunya. Tapi ketika untuk ketiga kalinya kuulurkan tanganku, ia tidak lagi  menghindar, dan dalam rangkulanku ia menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saat itu Idan tidak  bisa mengontrol emosinya. Setelah itu ia kembali menjadi Idan yang rasional dan  berkepala dingin, yang mengurus pemakaman, menerima para tamu dan menghibur  keempat kakak perempuannya dengan ketenangan yang nyaris  mengerikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore harinya, saat aku tengah membantu  merapikan kembali ruang tamu, kakak tertua Idan, Kak Ira,  menghampiriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pit, bawa Idan pulang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa tidak sebaiknya dia  di sini dulu, Kak?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kak Ira menggeleng. "Coba lihat sendiri," katanya  sambil menunjuk ke halaman belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan kutemukan di sana, sedang  mengisap sebatang rokok. Ia sudah tujuh belas tahun berhenti merokok dan  melihatnya kembali pada kebiasaan itu membuatku sadar ia sedang bergelut dengan  kepedihan yang lebih dalam dari yang ditunjukkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku mendekat,  kulihat asbak di sampingnya telah penuh dengan puntung rokok dan kotak di atas  meja tinggal berisi sebatang. Kucabut rokok itu dari antara jemarinya dan  kubunuh di asbak. Idan tidak memprotes, ia bahkan tidak menatapku. Aku sadar Kak  Ira memang benar. Aku harus segera membawa Idan jauh-jauh dari semua kenangan  tentang ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku mau pulang, Dan, " ujarku sambil memegang tangannya.  Ia menggeleng pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku akan menginap di sini. Kau pulanglah sendiri.  Besok aku pulang naik bus saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tidak mau sendirian di  rumah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan menghela napas berat dan akhirnya bangkit. Ia berpamitan  kepada kakak dan iparnya dan keluar untuk mengambil mobil. Saat itu Kak Ira  menggamit tanganku dan berbisik, "Aku senang Idan sudah menikah denganmu. Kau  pasti bisa menghiburnya dalam saat-saat seperti ini. Ia paling merasa kehilangan  dengan meninggalnya Mama. Kau tahu, ia tinggal dengan Mama selama tiga puluh  tiga tahun."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terpana sesaat. Dadaku ngilu. Kupeluk Kak Ira dengan  hati menggigil. Bagaimana bisa kukatakan kepadanya bahwa aku dan Idan sudah  sepakat untuk mengakhiri pernikahan ini  secepatnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampai di rumah, Idan langsung menuju ke  kamarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau mau kumasakkan nasi goreng, Dan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nanti saja. Aku  tidak lapar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau tidak makan apa-apa dari kemarin subuh. Nanti kau  sakit. Mau ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan mengangguk dengan mata hampa. Aku jadi semakin  khawatir melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tunggu di sini," ujarku lagi. "Aku tidak akan  lama."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku baru saja mengambil telur dari lemari es, aku mendengar  suara Idan di kamar mandi. Ia kutemukan membungkuk di wastafel, menangis dan  muntah hampir bersamaan. Untuk sesaat kepanikan melumpuhkanku dan aku hanya bisa  terpaku diambang pintu, tak pasti apa yang harus kulakukan. Insting pertamaku  adalah lari keluar mencari bantuan. Tapi aku tidak mungkin meninggalkan Idan  dalam keadaan seperti itu. Kuhampiri Idan dengan ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan kuelus  punggungnya dan sentuhanku agaknya sedikit menenangkannya, dan lambat laun  isaknya mereda. Ini membuatku lebih yakin dengan apa yang mesti kulakukan  selanjutnya. Kupijat tengkuknya dan kuseka keringat di dahinya. Tapi tiba-tiba  saja ia terkulai lemas, dan kalau aku tidak segera meraihnya ke dalam pelukanku,  ia pasti akan terpuruk ke lantai. Pelan-pelan kupapah ia ke kamar dan  kubaringkan di ranjang. Kubuka kemejanya yang basah dan kuselimuti badannya yang  menggigil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf, Pit," bisiknya. "Aku tidak bisa menangis di depan  kakak-kakakku. Mereka...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tahu. Tidak apa-apa," tanganku masih  gemetar saat aku mengelus rambutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku buatkan teh panas, nanti kau  minum, ya." Ia mengangguk dan aku beranjak meninggalkannya. Ketika aku kembali,  ia kelihatan agak lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dihirupnya sedikit teh yang kubawa.  Wajahnya tidak lagi pucat setelah itu. Ketika aku merapikan kembali selimutnya,  ia memegang tanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terima kasih."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau pernah melakukan lebih  dari ini untukku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan untuk tehnya. Untuk tidak memberiku pernapasan  buatan," ia tersenyum nakal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh, kau!" aku ikut tersenyum,  lega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan untuk menikah denganku," lanjut Idan kemudian, ekspresinya  begitu serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setidak-tidaknya sebelum meninggal, Mama bisa tenang  karena mengira aku sudah beristri. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tertegun sesaat. Suaraku goyah  dan terbata saat aku bicara, "Aku yang mesti berterima kasih  kepadamu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untuk apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untuk setahun yang kau lewati denganku.  Untuk kesabaranmu. Pengorbananmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan tersenyum kecil. "Aku tidak  melakukan apapun yang tidak kusukai. Ini setahun yang sangat menyenangkan  untukku. Seharusnya aku yang berterima kasih."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan memaksa," aku  mencoba bercanda. "Aku yang harus berterima kasih. Mengalahlah  sedikit."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan tersenyum dan mencubit hidungku. Tangannya tidak sedingin  tadi dan itu melenyapkan sisa-sisa kekhawatiranku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku masih tidak  mengerti kenapa kau akhirnya mau terlibat dengan ide gilaku ini,"  katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Entahlah, Dan," aku tertawa kecil. "Mungkin aku sudah sangat  capai berkilah tiap kali ibuku merongrong soal perkawinan. Dan aku melihat  usulmu itu sebagai jawaban yang paling jitu untuk menyelesaikan dua masalah  sekaligus, keenggananku untuk menikah, karena tidak ada calon yang pas; dan  keinginan ibuku yang menggebu-gebu untuk segera melihatku menikah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa  yang kau dapat setelah setahun kita menikah?" tanyanya dengan mimik lebih  serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terdiam sejenak. "Banyak," jawabku akhir nya. "Aku belajar  bahwa aku tidak menikah dengan malaikat atau monster, tapi dengan manusia, yang  punya kekurangan yang harus kumaafkan dan keistimewaan yang tidak bisa  kuabaikan. Aku belajar bahwa dalam pernikahan, bila kita tidak mendapatkan apa  yang kita inginkan tidak selalu berarti kekalahan, tapi boleh jadi suatu  kemenangan bersama."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin menambahkan bahwa pernikahan membutuhkan  cinta dan kesetiaan seperti gurun memerlukan air, tapi aku tidak punya nyali  untuk menyatakan semua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau memang selalu pintar bicara," Idan  tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau sendiri? Apa ya ng kau pelajari selama  ini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hanya satu. Hidupku mungkin tidak akan pernah sebahagia ini lagi  setelah kau pergi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tertegun. "Apa maksudmu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan bangkit dan  duduk mencangkung menatapku. "Tahun ini adalah saat paling bahagia dalam  hidupku. Setiap aku bangun pagi dan mendengar suaramu, aku jadi berpikir aku  adalah laki-laki paling bahagia di dunia ini. Dan setiap malam waktu aku pulang  dan kau tersenyum menyambutku, aku merasa aku jadi manusia paling beruntung di  seluruh jagad raya. Aku jadi sangat terbiasa dengan kehadiranmu bahkan mulai  berharap kau akan bersamaku terus, walaupun harapan itu, aku tahu, konyol. Tapi  kalau kau mencintai seseorang seperti aku mencintaimu, kau akan kehilangan akal  sehat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutatap wajah Idan lekat-lekat. Ia tidak kelihatan sedang  bercanda. Ia tampak sangat tenang dan serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku masih belum mengerti,"  bisikku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pernikahan ini tidak pernah hanya sebuah simulasi untukku, Pit.  Ini adalah pernikahan sesungguhnya untukku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa maksudmu kau  mencintaiku ?" suaraku tercekik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa yang tidak kau pahami? Aku  mencintaimu," kata-kata Idan begitu lugas, menghantamku seperti sebuah pukulan  keras yang membuatku terempas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku mencintaimu sejak kau memarahiku  karena nyaris melindas kelincimu, dua puluh tahun yang lalu, waktu kita masih  sama-sama belasan tahun. Dan aku tidak pernah bisa berhenti mencintaimu hingga  kini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau... kau tidak pernah...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau tidak pernah memberiku  kesempatan. Kau selalu sedang jatuh cinta dengan orang lain atau patah hati  karena orang lain, dan kau selalu datang kepadaku menceritakan semuanya. Aku  tahu aku bukan lelaki idamanmu. Aku tidak menggambar. Tidak menulis puisi. Kalau  kau bilang sebuah lukisan itu bagus, aku tidak mengerti kenapa. Aku bukan jago  pidato dan calon ketua OSIS yang kau gilai di SMA. Aku bukan aktivis kampus yang  membuatmu mabuk kepayang waktu kuliah dulu. Aku terlalu biasa-biasa saja. Aku  tahu ini sangat menyedihkan, memalukan dan aku benci kau kasihani. Tapi selama  ini aku benar-benar tidak punya keberanian, belum lagi kesempatan, untuk  berterus terang kepadamu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau tidak pernah biasa-biasa saja, Dan,"  ujarku lirih. "Kau istimewa dengan caramu sendiri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengangkat bahu.  "Tidak cukup untuk kau cintai."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat aku hanya bisa terdiam, menatap  kedua mata Idan, mencari tanda-tanda kalau semua ini hanya salah satu dari  sekian banyak permainannya. Tapi ia kelihatan sungguh-sungguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa  kau katakan semua ini kepadaku waktu kita akan berpisah seperti ini? Apa yang  kau inginkan?" tanyaku datar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan tersenyum kecil. Ada kepedihan dalam  senyumnya, sesuatu yang tak pernah kutemukan sebelumnya. "Aku sendiri tidak tahu  kenapa aku mesti mengatakan semua ini kepadamu. Aku hanya ingin kau tahu aku  mencintaimu. Bukan karena aku masih berharap kau akan mencintaiku juga. Sekarang  tidak ada bedanya lagi. Tapi aku ingin kau tahu kalau kau tetap memiliki  cintaku, apapun yang terjadi, bahkan jika akhirnya kau benci kepadaku atau  melupakanku sekalipun."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tertunduk sesaat. Ada sorot yang asing  berpijar di matanya saat ia kembali menatapku. "Dan kalau kau tanya apa yang  kuinginkan, aku ingin kau disini bersamaku, seumur hidupku. Aku ingin kau  belajar dan akhirnya benar-benar mencintaiku, mungkin tidak akan pernah sedalam  dan separah cintaku kepadamu, tapi setidaknya kau tidak lagi menganggapku hanya  sekedar sahabatmu, tapi juga kekasihmu. Aku ingin mencintaimu lebih dari yang  pernah kutunjukkan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menghela napas berat. "Tapi itu semua  keinginanku. Bukan kemauanmu. Kebahagiaanku, belum tentu kebahagiaanmu  juga."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama kami berdua saling berpandangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terima kasih, Dan,"  desahku akhirnya. Kupeluk ia erat-erat, menyembunyikan air mataku di  bahunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku sudah bicara dengan Idan, Pram. Tapi aku  terpaksa menunda proses perceraian itu. Idan baru saja kehilangan ibunya.  Rasanya tidak pantas bicara soal perceraian saat ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berapa  lama?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Entahlah. Sebulan dua bulan mungkin."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau tahu waktu kita  sangat terbatas, Ta. Aku tidak bisa menunda kepulanganku ke Jerman. Dan aku  tidak tahu kapan aku bisa kembali ke sini lagi. Mungkin tidak dalam setahun atau  dua tahun ke depan. Dan kita akan kehilangan waktu yang mestinya bisa kita  lewati berdua."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tahu, Pram. Tapi aku tidak mungkin meninggalkan Idan  sekarang. Dia membutuhkan aku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku lebih membutuhkanmu dari dia, Ta.  Dan pikirkan dirimu sendiri. Apa kau tidak ingin kita bisa seterusnya  bersama?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menghela napas panjang. "Entahlah, Pram, "  bisikku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa maksudmu?" suara Pram terdengar kaget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku.... Aku  tidak akan bahagia kalau Idan menderita."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ita! Kau tidak.... Dengar,  pikir baik-baik. Menurutmu, kalau kau tersiksa hidup dengannya, ia akan  bahagia?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tidak merasa menderita menjadi istrinya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi kau  tidak bahagia!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku bahagia, Pram. Mungkin tidak seperti saat aku  bersamamu. Tapi Idan membuatku bahagia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau tidak bisa melakukan ini,  Ta. Kau hanya kasihan kepadanya. Sebentar lagi kau akan berubah pikiran dan saat  itu kau akan menyesal karena membuang kesempatan ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku bisa belajar  memaafkan diriku sendiri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ita, kau tidak mencintainya!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ia  mencintaiku. Itu lebih dari cukup."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau hanya bingung, Ta. Aku mengerti.  Tapi apa kau lupa kalau aku sangat mencintaimu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tidak pernah akan  lupa, Pram."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lantas apa yang membuatmu berubah pikiran secepat  ini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Idan mengajariku tentang cinta."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hanya karena  itu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Juga karena aku yakin, aku akan belajar  mencintainya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ita...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Selamat tinggal, Pram. Mudah-mudahan kau  akan sebahagia aku nantinya, atau mungkin lebih bahagia lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telepon  kututup sebelum air mataku luruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Upit."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersentak dan  berbalik seketika. Entah sudah berapa lama Idan berdiri di belakangku. Wajahnya  penuh tanda tanya dan ia menggeleng perlahan sambil duduk di lantai di sisi  kursiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa?" tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak bisa menjawab. Air mataku  menetes satu-satu dan dengan lembut ia menyeka pipiku dengan  jarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tak bisa melihatmu begini," lanjutnya pelan. "Ini keputusan  yang sangat konyol, Pit. Kau benar-benar akan membiarkan kesempatanmu berlalu  sekali lagi?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dia akan membuatmu sangat bahagia,  Pit."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau akan menyesal."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku  mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau akan sedih, kecewa...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku  mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau tidak mencintaiku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idan  terbelalak. "Upit!" pekiknya tertahan. "Idan!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4523739979911660558-583512188601309648?l=cintaku-loveme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/feeds/583512188601309648/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/2008/08/pernikahan-simulasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4523739979911660558/posts/default/583512188601309648'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4523739979911660558/posts/default/583512188601309648'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/2008/08/pernikahan-simulasi.html' title='Pernikahan Simulasi'/><author><name>my love</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03585437615001367745</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1UvEn9BN05M/Smle78z0p2I/AAAAAAAAAPk/-R5VUz4OxWs/S220/Foto091.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4523739979911660558.post-7123091998788872120</id><published>2008-08-17T00:31:00.000-07:00</published><updated>2008-08-17T00:34:26.764-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tentang...'/><title type='text'>Sajadah Merah</title><content type='html'>“Dasar wanita jalang, gak punya harga diri. Pelacur murahan!” Linda, menghujat  Shaly habis-habisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa marah-marah gitu? Memang apa  salahku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah pura-pura lagi. Eh,sudah tau Mas Sugono itu langganan gue  kenapa elu serobot?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak nyerobot. Justru dia yang mau sendiri, ya  aku sih layani aja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dasar pelacur gatel, suka ngerampas langganan  orang. Sudah berapa banyak pelanggan gue yang lu rampas, masih juga ngelak!!”  sungut Linda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Linda merasa berkuasa di Vila Biru karena merasa senior. Di  situ dia dua tahun Iebih lama bila dibanding Shaly. Malam yang dingin, angin  menusuk kulit. Saat yang nyaman untuk tidur pulas apalagi habis kerja keras di  siang harinya. Namun, bagi pelayan hidung belang, malam baginya kenikmatan yang  tiada tara. Semua demi rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Shaly, tadi malam dingin banget, ya,”  ujar Risma teman dekat Shaly.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“lya, aku menggigil  kedinginan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kan kamu tahu sendiri kalau malam Jum’at memang sudah  tradisi, sepi!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin mereka takut kualat kali?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah orang  macam mereka mana kenal kualat. Ngomong-ngomong, dua hari yang lalu katanya kamu  ribut ya sama Linda?” Risma mengalihkan pertanyaan. Shaly, dia itu memang biang  kerok, sok kuasa, belagu makanya pelanggannya pada kabur.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudahlah,  jangan diusik lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gile, aku salut sama kamu Shaly, tidak pernah  dendam. “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku ini Ris, orangnya tidak mau ribut, lagian ngapain sih  ribut!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asap mengepul-ngepul nyaris menutupi wajah mereka.  Batangan-batangan rokok senantiasa setia menemani mereka dalam keadaan suka  maupun duka. Rasanya tidak sreg kalau perbincangan mereka tanpa mengepulkan asap  rokok yang dihisap oleh bibirnya yang selalu dilapisi gincu merah merona. Shaly,  nama itu sangat kesohor bagi para hidung belang yang berkantong tebal. Vila biru  nampaknya tidak pernah sepi dari tamu. Para tamu sangat hapal dan Vila biru  identik dengan Shaly. Sebab dia primadona Vila Biru tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya  Shaly tak pernali bermimpi menjadi wanita penghibur. Dia terjebak rayuan  pacarnya. Ketika itu Shaly sedang mencari pekerjaan. Pacarnya pun mengetahui  keluhan Shaly. Dia dijanjikan mau diajak kerja dengan iming-iming gaji besar.  Tapi nyatanya bukan pekerjaan yang didapat, malah dia terjerumus ke lembah  hitam. Pacamya sama sekali tak bertanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini nasib Shaly bagai  makan buah si malakarna, mau keluar nyawa taruhannya, mau tetap bertahan dia  harus siap melayani para hidung belang. Shaly sebenarnya sudah sangat muak dan  tertekan. Namun apa daya, kalau dia tidak melakukan itu utang ibunya di kampung  makin membengkak. Tiap bulan rutin dia mengirimkan uang ke kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho  kok bengong Shal? bukannya semalam kamu kebanjiran pelanggan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak,  aku tidak bengong. Aku lagi cari jalan keluar bagaimana caranya agar kita bisa  lolos dari neraka ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa Shal? Apa aku tak salah  dengar?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, Ris kamu tidak salah dengar!” Shaly meyakinkan meski  Risma sudah jelas-jelas dengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Shaly, kamu kabur dari sini sama artinya  kamu buang nyawa kamu. Sebab di sini sangat ketat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biarlah, Ris. Aku  sudah siap menanggung segala risikonya meski nyawa melayang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Shaly,  kamu benar-benar nekat. Entahlah Shaly aku harus berbuat apa padamu. Apa yang  harus aku lakukan untuk menolong kamu Shal?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak Ris, aku tak bakalan  menyusahkan kamu. Biarlah semua kutanggung sendiri aku tidak ingin kamu  kerepotan hanya gara-gara aku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Shaly?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan Shaly sudah  mantap. Dia yakin bisa keluar dari tempat itu walau dengan risiko apapun. Dia  sadar, yang akan dilakukannya sangat berbahaya bagi dirinya. Namun, hatinya  sudah bulat dan mantap. Dia menyendiri di kamarnya tanpa seorang teman. Siang  itu dia lagi tak ada tamu. Shaly terus berpikir apa yang harus dilakukan agar  bebas dari cengkeraman germonya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Germonya yang biasa dipanggil Mami,  kalau salah sedikit main baku hantam. Mami sangat kasar dan galak bila ada  tamunya yang mengeluh atas servis yang diberikannya, bila kurang  memuaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah beberapa minggu ini Shaly tidak melayani  tamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa kamu menolak melayani mereka? Dia sudah bayar mahal." Shaly  tetap pada pendiriannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sudah cape. Aku tak tahan dengan pekerjaan  terkutuk ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Germo itu terus menyiksa dan mencambuknya tanpa rasa iba.  Sementara Risma hanya diam melihat pemandangan yang miris itu. Dia tidak bisa  berbuat apa-apa. Setelah puas menyiksa habis-habisan germo itupun pergi begitu  saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Shaly, kenapa begini?” tanya Risma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biarlah Ris, tekadku  sudah bulat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu Shaly tengah melipat dan membereskan pakaian  untuk dimasukkan ke dalam koper. Tak sengaja dia melihat ada buntelan yang  terbungkus koran. Diapun mengambil dan langsung membukanya. Ternyata dalam  buntelan itu ada sajadah merah dan mukena. Shaly jadi ingat, sebelum berangkat,  ibunya sempat memberi bekal. Bekal itu belum pernah disentuhnya. Baru kali ini,  tanpa sengaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak menemukan sajadah itu Shaly senantiasa shalat malam  meski seluruh tubuhnya pedih terkena air wudhu akibat dicambuk. Tetapi Shaly  terus pada pendiriannya. Dia lebih memilih dicambuk daripada harus melayani  macan-macan buas di atas ranjang terkutuk itu. Bahkan maut sekalipun  menghadangnya dia sudah siap. Sudah berapa tetes air mata yang membanjiri  sajadah merahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajadah merah itu menjadi saksi bisu dan penampung air  matanya yang kerap kali inenangis seusai shalat malam disertai doa yang tak  kenal putus asa. Dalam isak tangisnya terbersit di hati, kekasihnya yang telah  menjerumuskan dirinya ke lembah yang hitam. Dia sangat muak bila mengingat wajah  itu. Shaly menyesal telah memberikan mahkotanya yang berharga, tanpa tanggung  jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Shaly, buka pintunya! Kalau tidak aku dobrak dari luar!” teriakan  itu tidak mengubah keadaan. Pintu kamar Shaly tetap tertutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada  jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Brak!” Pintu itu didobraknya. Betapa terkejutnya germo itu  mendapati Shaly tengah shalat. Sungguh tak berprikemanusiaan. Shaly yang tengah  khusuk dalam shalatnya terus dicambuki. Tapi, Shaly tetap tidak urung dari  shalatnya. Meski rasa sakit menderanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi di luar dugaan, ketika germo  itu mencambuk, cambuk itu putus sebelum mengenai sajadah merahnya. Namun meski  demikian germo itu tetap lidak berubah pikiran. Anehnya lagi, germo itu  terpental sendiri ketika hendak mendorong tubuh Shaly. Padahal kedua tangan  germo itu belum menyentuh tubuh Shaly.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian, setelah  peristiwa yang penuh keajaiban itu terjadi, Shaly mendapat kemudahan untuk  mencari jalan keluar. Dia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Malam yang  dingin, serasa menusuk kulit hingga tembus ke dalam tulang sumsum. Malam itu,  tidak biasanya Vila Biru itu sepi oleh pengunjung. Para penjaga ketiduran karena  tak tahan oleh dinginnya malam. Waktu itulah yang selama ini ditunggu  Shaly.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Shaly, cepat pergi!” kata Risma setengah berbisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak,  aku takkan pergi tanpa kamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Shal, biarlah aku terlanjur begini.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada kata terlanjur, kau pasti bisa berubah,” akhirnya Risma  mengikuti ajakan Shaly.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengendap-endap mereka berdua menyusuri  jalan. Langkah demi langkah diayun dengan hati-hati. Mereka harus melalui  rintangan-rintangan. Belum lagi alarm sebelum pintu gerbang yang siap  menghalangi kepergian mereka. Alarm celaka itu bisa membangunkan preman yang  menjaga Vila Biru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ngiiiiiing ..... nging!” benar saja, suara alarm  menggema. Rupanya Risma kurang hati-hati melangkah. Bunyi alarm membuat  penghuni. vila merasa terusik mimpinya. Karena ketidak hati-hatian Risma  akhirnya para penjaga dari pos Satpam sampai para preman sewaan germonya  langsung menyergap mereka berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shaly berhasil lolos. Namun, naas  sekali nasib Risma tertangkap sedangkan Shaly lolos kabur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Risma cepat  ikut aku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Shaly! Jangan hiraukan aku. Cepat pergi!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Risma,  begitu mulia hatimu. kau rela demi aku,” Shaly ngoceh sendiri sambil berlari.  Para penjaga itu kehilangan Jejak. Mereka bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shali memang berhasil  keluar. Tapi tanpa Risma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4523739979911660558-7123091998788872120?l=cintaku-loveme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/feeds/7123091998788872120/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/2008/08/sajadah-merah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4523739979911660558/posts/default/7123091998788872120'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4523739979911660558/posts/default/7123091998788872120'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/2008/08/sajadah-merah.html' title='Sajadah Merah'/><author><name>my love</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03585437615001367745</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1UvEn9BN05M/Smle78z0p2I/AAAAAAAAAPk/-R5VUz4OxWs/S220/Foto091.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4523739979911660558.post-7348990107207132984</id><published>2008-07-31T07:17:00.000-07:00</published><updated>2008-07-31T07:19:08.940-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah cinta'/><title type='text'>Cinta Laki-laki Biasa</title><content type='html'>MENJELANG hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau  menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang  dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya,  melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan  teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa?" tanya mereka  di hari Nania mengantarkan surat undangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu teman-teman baik  Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu.  Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis  itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar  bagaikan lampu neon lima belas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yang  barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua  menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas,  mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu gadis  berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik,  kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah  kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga  bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan  keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga  generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta  buntut mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu pasti bercanda!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nania kaget. Tapi melihat  senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak  nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan:  mereka serius ketika mengira Nania bercanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana sekonyong-konyong  hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi  mereka yang ompong. Semua menatap Nania!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nania serius!" tegasnya sambil  menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak ada yang  lucu," suara Papa tegas, "Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak  Papa yang paling cantik!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat  Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab  setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata  penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya  pesakitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan?" Mama mengambil  inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, "maksud Mama  siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya,  toh?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nania terkesima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab kamu gadis Papa yang  paling cantik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai  dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris,  juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab masa depanmu cerah.  Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa.  Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu  mau!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa,  kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka  atau satu kata 'kenapa' yang barusan Nania lontarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nania Cuma mau  Rafli," sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu  dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai  Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi  kenapa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan  pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat  sangat biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka  matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tak ada yang bisa dilihat pada dia,  Nania!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya  ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di  mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang  dengan melihat pencapaiannya hari ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya Nania lagi-lagi gagal  membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu  bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa  membuat Rafli tampak 'luar biasa'. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan  perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan  nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka akhirnya  menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun pernikahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang masih sering  menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa  sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga  menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nania  hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa  merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni  Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat  bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada  Nania."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga  saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak  percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis  secantikmu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga  pintar!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan  sukses!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini  dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa  lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Rafli juga tidak  jelek, Kak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rafli juga  pintar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sepintarmu, Nania.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rafli juga sukses, pekerjaannya  lumayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak  sepertimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya,  bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi  percuma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan,  kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teganya kakak-kakak  Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi  punya anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga  berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan  satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka  memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup  untuk hidup senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tak apa," kata lelaki itu, ketika Nania memintanya  untuk tidak terlalu memforsir diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gaji Nania cukup, maksud Nania jika  digabungkan dengan gaji Abang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nania tak bermaksud menyinggung hati  lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu  bisa menangkap hanya maksud baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk  jaga-jaga. Ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan  lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat  pikiran Nania cerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah hidup yang diimpikan banyak orang.  Bahagia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga  biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji  yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab ketika  bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menginjak tahun ketujuh  pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah,  rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik  di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisik-bisik masih  terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik  orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara  Nania, bisik Papa dan Mama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh beruntung suaminya. Istrinya  cantik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cantik ya? dan kaya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak imbang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu bisik-bisik  itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap  cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari  hari ke hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum  bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga.  Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat  Nania menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau  keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Plasenta kamu sudah  berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mula-mula  dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania.  Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit  yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan  segera melihat si kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur  Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya  sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara  kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya,  meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak  menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan  Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat  sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baru pembukaan satu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Belum ada perubahan,  Bu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah bertambah sedikit," kata seorang suster empat jam kemudian  menyemaikan harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang pembukaan satu lebih  sedikit."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir  yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tigapuluh jam  berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya  darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah  ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masih pembukaan dua,  Pak!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit  yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah.  Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bang?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rafli  termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua  kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dokter?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit  tali pusar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak  dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berpandangan,  Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan  genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri  lebih awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih.  Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan  dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang  diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga  perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan  langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan  diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya.  Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang dokter keluar,  Rafli dan keluarga Nania mendekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pendarahan hebat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rafli  membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada varises  di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayi  mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama Nania yang baru  tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak,  sambil menenangkan orangtua mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rafli seperti berada dalam atmosfer  yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir  di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat  seperti kanker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi  Nania.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli  bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi  Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi  itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai  empat hari, mereka sudah boleh membawanya pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama, Papa, dan ketiga  saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke  rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi  percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu sungguh  luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat  anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan  memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu  diragukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya  sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang  ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili  mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan  bercanda mesra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa  merasakan kehadirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nania, bangun, Cinta?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata itu  dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya  yang cantik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai  pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke  rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra.  Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan  membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil  tak bosan-bosannya berbisik,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nania, bangun, Cinta?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam-malam  penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang  lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya,  senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di  sekitarnya, bagi Rafli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania.  Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak  wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering  lupa makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu  di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di  wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari  ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah  yang pertama ditangkap matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seakan telah begitu lama. Rafli menangis,  menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur  berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asalkan Nania sadar, semua  tak penting lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus  kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas  tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke  sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat  menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil  memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh  cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur.  Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia  ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak  perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Rafli  dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania,  membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna  di dunia. Setidaknya di mata Rafli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap hari Minggu Rafli mengajak  mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan  Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania  harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu  melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya tentu Nania sempat  merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang  menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda  Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang  bermanik keringat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang  yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania  tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua  berbisik-bisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baik banget suaminya!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lelaki lain mungkin sudah  cari perempuan kedua!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nania beruntung!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, memiliki seseorang  yang menerima dia apa adanya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak, tidak cuma menerima apa adanya,  kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah  bermuka masam!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga  orang, Papa dan Mama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat  membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dia salah.  Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang  tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja,  bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari teras Nania menyaksikan  anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka. Sesekali perempuan itu ikut  tergelak melihat kocak permainan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan.  Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang  mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya  tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski  karir telah direbut takdir dari tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu telah membuktikan  segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk  Nania.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4523739979911660558-7348990107207132984?l=cintaku-loveme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/feeds/7348990107207132984/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/2008/07/cinta-laki-laki-biasa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4523739979911660558/posts/default/7348990107207132984'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4523739979911660558/posts/default/7348990107207132984'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/2008/07/cinta-laki-laki-biasa.html' title='Cinta Laki-laki Biasa'/><author><name>my love</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03585437615001367745</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1UvEn9BN05M/Smle78z0p2I/AAAAAAAAAPk/-R5VUz4OxWs/S220/Foto091.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4523739979911660558.post-1687807366950977592</id><published>2008-07-24T06:56:00.000-07:00</published><updated>2008-07-24T06:58:59.343-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah cinta'/><title type='text'>Love Is Not Always Has Been Formed Flowers</title><content type='html'>Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan saya  menyukai perasaan hangat yang muncul di hati saya ketika saya bersandar di  bahunya yang bidang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga tahun dalam masa perkenalan, dan dua tahun  dalam masa pernikahan, saya harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah,  alasan-alasan saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang  menjemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar sensitif  serta berperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak  yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan. Suami  saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Dan  ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami  telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari,  saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya  menginginkan perceraian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mengapa?", dia bertanya dengan  terkejut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya  inginkan"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya,  tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekecewaan  saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan  perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya? Dan akhirnya dia bertanya,  "Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiranmu?".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menatap  matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan, "Saya punya pertanyaan, jika kau  dapat menemukan jawabannya di dalam hati saya, saya akan merubah pikiran saya:  Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung dan  kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan  melakukannya untuk saya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia termenung dan akhirnya berkata, "Saya akan  memberikan jawabannya besok."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati saya langsung gundah mendengar  responnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan paginya, dia tidak ada dirumah, dan saya menemukan  selembar kertas dengan oret-oretan tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi  susu hangat yang bertuliskan....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sayang, saya tidak akan mengambil bunga  itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat  pertama ini menghancurkan hati saya. Saya melanjutkan untuk  membacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu bisa mengetik di komputer dan selalu mengacaukan  program di PC-nya dan akhirnya menangis di depan monitor, saya harus memberikan  jari-jari saya supaya bisa membantumu dan memperbaiki programnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu  selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan saya harus  memberikan kaki saya supaya bisa mendobrak pintu, dan membukakan pintu untukmu  ketika pulang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu suka jalan-jalan ke luar kota tetapi selalu nyasar  di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi, saya harus menunggu di rumah agar bisa  memberikan mata saya untuk mengarahkanmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu selalu pegal-pegal pada  waktu 'teman baikmu' datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan tangan  saya untuk memijat kakimu yang pegal."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu senang diam di rumah, dan  saya selalu kuatir kamu akan menjadi 'aneh'. Dan harus membelikan sesuatu yang  dapat menghiburmu di rumah atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal  lucu yang aku alami."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku dan  itu tidak baik untuk kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya agar ketika  kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti  ubanmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menelusuri  pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna  bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tetapi  sayangku, saya tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Karena, saya tidak  sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sayangku,  saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintaimu lebih dari saya mencintaimu." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untuk itu sayang, jika semua yang telah diberikan tanganku, kakiku,  mataku, tidak cukup bagimu. aku tidak bisa menahan dirimu mencari tangan, kaki,  dan mata lain yang dapat membahagiakanmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air mata saya jatuh ke atas  tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk  membacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan sekarang, sayangku, kamu telah selasai membaca jawaban  saya. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku untuk  tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang  berdiri disana menunggu jawabanmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika kamu tidak puas, sayangku,  biarkan aku masuk untuk membereskan barang-barangku, dan aku tidak akan  mempersulit hidupmu. Percayalah, bahagiaku bila kau bahagia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya segera  berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah  penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaanku. Oh, kini saya  tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari dia  mencintaiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah  berangsur-angsur hilang dari hati kita karena kita merasa dia tidak dapat  memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya  telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan  kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Karena cinta tidak selalu  harus berwujud "bunga".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4523739979911660558-1687807366950977592?l=cintaku-loveme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/feeds/1687807366950977592/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/2008/07/love-is-not-always-has-been-formed.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4523739979911660558/posts/default/1687807366950977592'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4523739979911660558/posts/default/1687807366950977592'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/2008/07/love-is-not-always-has-been-formed.html' title='Love Is Not Always Has Been Formed Flowers'/><author><name>my love</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03585437615001367745</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1UvEn9BN05M/Smle78z0p2I/AAAAAAAAAPk/-R5VUz4OxWs/S220/Foto091.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4523739979911660558.post-2604510894251491236</id><published>2008-06-13T19:36:00.000-07:00</published><updated>2008-06-13T19:41:52.744-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah cerita'/><title type='text'>Berawal Dari Jilbab</title><content type='html'>Sore itu, Anti mendapatkan satu pesan singkat dari nomor yang asing baginya.  Isinya cukup membuat dirinya menjadi sedikit penasaran. Namun tak lama kemudian  Anti baru sadar. Ya, beberapa jam yang lalu setelah menyelesaikan pekerjaannya,  dia memanfaatkan waktu yang tersisa untuk chatting. Namun chatting kali ini  beda, Anti chatting di situs yang berlatar belakang Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia yang  baru ia dalami setelah beberapa bulan terakhir ini ia memakai jilbab. Kebetulan  waktu itu Anti hanya chat berdua saja. Di awal perbincangan mereka saling  memperkenalkan nama asli masing masing. Tak lama kemudian teman chat Anti  menyebutkan nama aslinya. “Oohh. Namanya Rizal“ bisik Anti. Anti pun menyebutkan  nama aslinya. Sebentar mereka ngobrol, namun Rizal langsung minta nomor telpon  Anti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa pikir panjang, Anti memberikannya. Ya, maklumlah Anti adalah  orang yang mudah bergaul dan senang bila mempunyai banyak teman. Apalagi  temannya yang satu ini sepertinya mengerti banyak hal tentang Islam. Dengan  begitu Anti bisa belajar banyak dari Rizal yang Insya ALLAH mau membimbing Anti  menapaki dunia yang begitu indah..dunia Islam. Tapi sayang Anti tidak  mendapatkan nomor telpon Rizal. Tiba tiba ia menghilang entah ditelan apa. Namun  pesan singkat yang baru ia terima tidak menyebutkan nama. Anti hanya bisa  menebak nebak dalam hati. Waktu itu bulan Ramadhan, ketika sahur tiba tiba hp  Anti berdering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah..nomor itu lagi “ gumamnya. Namun ia tetap  menjawabnya dengan harapan rasa penasarannya selama ini tertuntaskan. “Hallo..  Assalamu’alaikum..” sambut Anti. “Wa’alaikumsalam… hayoo, udah sahur belum ???“  kata orang misterius itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang itu memutuskan hubungan telponnya.  Lagi…lagi.. rasa penasaran Anti semakin menjadi jadi. Ya maklumlah Anti tidak  suka dengan kemisteriusan. Hilang sudah kesabaran Anti, akhirnya ia memutuskan  untuk mengirim SMS kepada orang itu dengan maksud menanyakan siapa dia  sebenarnya. Sebelumnya Anti sudah menduga kalau orang itu adalah Rizal. Ternyata  dugaan Anti benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia adalah Rizal, sebuah nama yang baru beberapa hari  ini ia kenal. Setelah hari itu, SMS-an pun berlanjut. Kali ini pesan singkat  yang dikirim Rizal untuk Anti masih biasa biasa saja hanya menanyakan kabar Anti  dan tidak ada yang istimewa. Hingga pada suatu malam Rizal kembali menelpon  Anti. Di sanalah mereka melanjutkan perkenalan dan pertanyaan yang selama ini  tertunda. Suara Rizal terdenganr begitu dewasa. Kata kata yang terucap begitu  bermakna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa pertanyaan yang diajukan Rizal, ada satu  pertanyaan yang membuat Anti terperangah. Yaitu tentang jilbab. Suatu benda yang  baru beberapa bulan terakhir ini menutupi rambutnya yang indah itu. “Anti,  sebelumnya aku minta maaf kalau pertanyaanku ini agak lancang. Hmm… apakah kamu  berjilbab ?” tanya Rizal dengan nada hati hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alhamdulillah, beberapa  bulan ini aku memang sudah memakainya. Tapi aku juga masih perlu bimbingan.  Banyak hal yang belum aku ketahui tentang Islam.” jawab Anti. “Syukurlah… jangan  khawatir insya ALLAH aku akan membantu kamu, ya.. kita sama sama masih belajar  kok…” sambut Rizal dengan semangat. Dalam hati Anti, Rizal sudah mendapatkan  suatu tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Anti sudah mendapatkan orang yang selama ini ia  cari. Orang yang akan membimbingnya menapaki Islam. Tanpa Anti minta, Rizal  sudah bersedia membantunya. Namun pertanyaan Rizal tentang jilbab tidak hanya  sampai di situ. Ia menanyakan alasan Anti memakai jilbab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau boleh  aku tahu, apa alasan yang membuat kamu memutuskan untuk berjilbab?.” Tanya  Rizal. “Hhmm… aku memakai jilbab tentunya karena ini memang suatu kewajiban yang  terlambat aku sadari…tapi disamping itu ada suatu alasan yang mendorongku untuk  berjilbab. Aku melihat sahabatku menikah, ia seorang akhwat yang begitu menjaga  kehormatan dirinya dengan berjilbab sampai akhirnya ada seseorang yang datang  melamarnya.” jawab Anti malu malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan Rizal tentang jilbab,  membuat Anti bertanya balik “Hhhmm… kalau boleh aku tahu, kenapa sih kamu  menanyakan aku sudah berjilbab atau belum? Memangnya ada apa dengan jilbab?”  tanya Anti polos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditanya Anti seperti itu, Rizal sebenarnya punya  kesempatan untuk mengutarakan keinginan hatinya. “Tidak ada yang salah dengan  jilbab. Dan alasan kamu untuk berjilbab, aku pikir wajar saja dan itu hak kamu.  Aku malah ingin punya istri yang berjilbab. Wanita akan tampak lebih cantik dan  anggun dengan jilbab di kepalanya. Akan terjagalah kehormatan wanita itu. Itulah  alasanku menanyakan itu ke kamu” jawabnya panjang. Hati Anti sedikit berdebar  mendengar pernyataan Rizal. Namun entahlah niat apa yang tersembunyi di balik  pertanyaan pertanyaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari obrolan panjang itu, Anti baru  mengetahui kalau ternyata Rizal juga kuliah sambil bekerja sama seperti dirinya.  Rizal kuliah di salah satu PTS di Jakarta jurusan Teknik Elektro. Tebakan Anti  tentang Rizal hampir semua benar. Namun untuk yang satu ini, Anti salah. Anti  mengira usia Rizal diatas dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata usia Rizal di bawah Anti dua  tahun. Namun meski demikian, tidak memutuskan tali persahabatan yang sedang  dirajutnya bersama Rizal. Bahkan setelah Anti tahu kalau Rizal dipanggil Abang  oleh adiknya, ia jadi ikut ikutan memanggilnya Abang --sapaan yang seharusnya  ditujukan untuk orang yang usianya lebih tua, namun tidak begitu dengan  Anti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Anti, walaupun dari segi usia ia lebih muda darinya namun  cara berpikir dan berbicara Rizal sangatlah dewasa. Wawasannya begitu luas,  mungkin karena ia suka membaca buku. Sama seperti Anti yang juga suka membaca  buku. Hanya bedanya, kalau Anti lebih suka baca novel, puisi, atau cerpen  apalagi yang bertemakan islami. Mungkin karena pembawaan sifatnya yang agak  melankolis. Sedangkan Rizal, ia suka baca buku apa saja yang menurutnya bagus  untuk ia baca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kali pertama obrolan mereka lewat telepon berakhir  sampai di situ. Obrolan yang cukup panjang, Anti jadi lebih mengenal Rizal.  Setelah hari itu, hari hari Anti jadi lebih indah. Pesan singkat yang Rizal  kirim untuk Anti, membuatnya semakin dekat bukan hanya pada Rizal tetapi juga  pada Penciptanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana tidak pesan singkat yang selalu mengingatkan  Anti bukan hanya pada pengirimnya, perlahan lahan membuat Anti berubah. Ia jadi  semakin rajin shalat. Tidak hanya shalat lima waktu saja yang selama ini memang  ia rasakan masih suka bolong bolong, tetapi juga shalat sunah pada malam hari  bahkan ia mulai belajar mengaji. Ajaib… sungguh ajaib, begitu cepat Anti  berubah. Padahal Anti belum pernah melihat Rizal. Entahlah Anti sendiri bingung  melihat perubahan yang dialaminya. Dalam kegelisahannya, ia hanya bisa berdoa  kepada ALLAH agar diberikan petunjuk oleh-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Rabb…. Engkaulah Maha  pemilik hati manusia Engkaulah Maha pembolak balik hati manusia Hanya pada-Mu  lah hamba serahkan ini semua Jika Engkau mengizinkan Temukanlah hamba dengan  seseorang yang juga berjalan menuju arah-Mu Yang bisa mengingatkan hamba akan  diri-Mu Yang bisa membukakan hati dan mata hamba akan kebesaran-Mu Yang bisa  membimbing hamba berjalan menuju surga-Mu Semoga Engkau berkenan Ya  Allah…Amiiiin…. Doa itulah yang selalu ia panjatkan disetiap akhir shalatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari yang dinAnti telah tiba. Hari Raya Idul Fitri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti  biasa kita saling bermaaf maafan. Begitu juga dengan Anti dan Rizal, mereka tak  lupa saling meminta maaf yang diwakili dengan pesan singkat ucapan selamat dan  permintaan maaf dari keduanya. Hari lebaran mereka lewati dengan kesibukan  masing masing, maklum keluarga Rizal adalah keluarga besar jadi dua hari pertama  lebaran dilewatinya bersama keluarga dirumah. Hingga pada suatu hari, Rizal  mengajak Anti untuk bertemu di suatu tempat yaitu di toko buku, tempat yang  paling mereka sukai. Sebenarnya Anti takut kalau Rizal mengajaknya bertemu. Anti  takut setelah ia bertemu dengan Rizal, Rizal akan berubah sikapnya pada Anti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekhawatiran Anti cukup dapat dimengerti, ia khawatir akan kehilangan  Rizal pembimbingnya selama ini. Namun akhirnya Anti menyanggupi ajakan Rizal.  Anti menyerahkan itu semua pada-Nya, Dialah yang berkuasa atas segala hal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kali pertamanya mereka bertemu. Setibanya Anti di toko buku itu,  ternyata Rizal sudah sampai lebih dulu. Tiba tiba hp Anti berdering, ternyata  Rizal menghubungi Anti. “ Assalamu’alaikum,.. Anti kamu dimana???” terdengar  suara Rizal “ Wa’alaikumsalam, aku udah di depan nih..” jawab Anti “Oh, ya udah  aku ke depan deh…, Hhhmm.. kamu pake baju apa ya???” tanya Rizal lagi “Aku pakai  baju coklat muda dan jilbab coklat motif kembang kembang..” Anti menjelaskan.  Setelah mendengar penjelasan dari Anti, Rizal langsung memutuskan telponnya.  Anti hanya bisa menunggu Rizal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian Hp Anti berdering  lagi, Rizal menelpon lagi memastikan kalau yang ia lihat itu adalah Anti. “Anti…  kalau aku tidak salah, aku dibelakang kamu” kata Rizal Rizal langsung memutuskan  telponnya. Anti dengan hati yang berdebar debar menoleh kebelakang. Subhanallah,  diam diam hati Anti berdzikir untuk menghilangkan rasa gugupnya. Rizal yang Anti  lihat saat itu, sama sekali tidak mencerminkan seorang pria berusia 20 tahun. Ia  tampak begitu dewasa dan berwibawa dengan dandanan seperti itu ditambah lagi  dengan kacamata yang bertengger dimatanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rizal menyambut Anti dengan  senyuman. Anti pun membalas senyuman Rizal dengan malu malu sambil menundukkan  pandangan. Mereka berdua berjalan seiring dengan tetap menjaga jarak. Tanpa Anti  sadari, ternyata warna baju yang mereka pakai sama. Coklat muda. “ Eh, kita ngga  janjian khan pake bajunya???? “ kata Rizal. Anti hanya tersenyum malu. “Kok bisa  ya…” begitu bisik hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak banyak kata yang mengalir dari  perbincangan mereka berdua. Untuk beberapa saat mereka berpisah. Rizal menuju  rak buku Islam sedangkan Anti menuju rak novel kesukaannya. Anti mengira ngira  apa yang Rizal pikirkan tentang dirinya. Cukup lama mereka berpisah. Akhirnya  mereka bertemu lagi setelah mendapatkan buku yang mereka cari. Rizal meminta  buku yang Anti pilih. Ia bermaksud membelikannya untuk Anti sebagai hadiah  pertemuan. Dan Anti tidak bisa menolaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu jam sudah menunjukkan  pukul 16.00, Rizal mengajak Anti untuk shalat Ashar. Setelah selesai shalat  Ashar, mereka berdua pulang. Karena mereka searah jadi pulang bersama sampai di  simpangan Pal, mereka berpisah karena arah mereka bertolak belakang. Tak lupa  Rizal mengucapkan terima kasih pada Anti karena mau menemaninya ke toko buku.  Sepanjang perjalanan pulang, Anti tersenyum dalam hati. Begitu bahagianya ia  dipertemukan dengan Rizal. Rizal begitu menjaga keislamannya. Dan Anti merasa  aman dan bahagia di dekatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Anti menyerahkan ini semua pada-Nya,  biarlah Dia yang memutuskan. Masih asyik dengan lamunannya, tiba tiba hp Anti  berdering. Ternyata hanya SMS. Ya, Rizal mengirim SMS pada Anti. Kali ini,  isinya cukup membuat Anti terkejut. “ \Ass, sudah sampai mana??, hati hati ya  dindaku sayang…” begitu isinya. Membacanya, membuat Anti tersenyum. Rizal  memanggil Anti dengan sebutan dinda. Sebutan untuk seorang kekasih. Ya  Rabb..lindungilah hamba-Mu ini, Berilah hamba petunjuk…, Begitulah doa nya dalam  hati. Anti tidak langsung membalas SMS dari Rizal. Sesampainya Anti dirumah, pas  waktu shalat maghrib tiba. Anti istirahat sejenak untuk melepaskan lelah. Hp  Anti berdering lagi, seperti biasa Rizal selalu mengingatkan Anti untuk shalat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kali keduanya, Rizal memanggil Anti dinda.. “Ass, udah shalat  maghrib belum??, jangan lupa untuk menyelipkan namaku di sela sela do’amu  dindaku sayang… Rizal” Isi pesan singkat itu. Setelah selesai membaca pesan  singkat yang indah itu, Anti bergegas shalat maghrib. Anti tidak lupa pesan  Rizal untuk menyelipkan namanya disetiap do’a Anti. Tanpa diminta pun Anti  selalu menyebutkan nama Rizal di setiap doanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah Anti belum juga  ingin membalasnya. Mungkin ia masih terhanyut dalam rasa bahagianya. Sampai  sampai ia bingung harus bilang apa untuk membalasnya. Seperti biasa Anti selalu  memanfaatkan waktu sepertiga malamnya untuk berdoa. Ia ingin mengungkapkan  segala perasaan yang dialaminya, kebingungan dan kegundahan yang melanda hatinya  pada Penciptanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan kisah mereka tidak selalu berjalan mulus.  Keesokan harinya Anti terkena musibah. Ia mengalami kecopetan di sebuah angkutan  ketika pulang kuliah yang mengakibatkan Hp nya raib. Anti bingung karena nomor  Rizal belum sempat ia hafal. Anti memang paling tidak suka kalau disuruh  menghafal nomor telepon. Sesampainya Anti dirumah, ia langsung menuju pesawat  telpon. Anti hanya ingat kepalanya saja 0855 selebihnya ia mencoba menekan  secara acak meskipun sebenarnya ia tidak yakin berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ternyata  memang tidak berhasil. Anti kehilangan Rizal, ia kehilangan pengingat shalatnya,  pembimbing dirinya. Ia kehilangan pesan singkat yang indah itu yang belum sempat  ia balas. Entahlah apa yang ada di pikiran Rizal saat ini, mungkin ia akan  mencap Anti sebagai wanita yang angkuh dan sombong karena sampai saat ini SMS  darinya belum juga dibalas. Ya Allah.. seandainya Rizal tahu apa yang sedang  Anti alami sekarang…Begitulah doanya dalam hati. Hampir tiga bulan mereka  kehilangan kontak. Hingga pada suatu hari, Anti begitu ingin pergi ke toko buku  tempat dulu mereka untuk kali pertama bertemu. Namun kali ini bukan itu niat  Anti. Memang nama Rizal masih tersimpan baik baik didalam hatinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah sepertinya ada sesuatu yang mendorong Anti untuk melangkah  pergi ke tempat itu. Sesampainya di tempat itu, seperti biasa Anti langsung  menuju rak novel. Anti teringat pertemuan empat bulan yang lalu dengan Rizal.  Namun ia berusaha untuk tidak larut dalam kesedihannya. Kesedihan kehilangan  Rizal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlalu asyiknya ia berjalan menuju kasir sambil membaca, ia  menabrak seorang pria berkacamata yang juga sedang membaca. Buku mereka  berjatuhan. Anti yang merasa bersalah berinisiatif meminta maaf lebih dulu  sambil mengambilkan buku milik orang itu. Belum sempat Anti melihat wajah orang  itu, namun pria berkacamata itu memanggil namanya. “Anti…..??” kata orang itu  dengan penuh tanda tanya. Kontan saja Anti terkejut, karena sepengetahuannya ia  belum pernah menyebut namanya. Perlahan Anti menegakkan pandangan, matanya tepat  menuju mata pria berkacamata itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah yang ada di hadapannya, begitu  jelas tergambar dalam ingatan Anti. Ya.. wajah itu mengingatkan Anti pada  seseorang. Lama juga mereka saling menatap. Hingga tanpa sadar Anti menyebutkan  sebuah nama. “Rizal……?????” sebut Anti. Tak lama kemudian mereka tersadar dari  lamunannya masing masing. Anti langsung kembali menundukkan pandangannya malu  malu. Diam diam hartinya berdzikir, Astagfirullah… Ya Rabb, ampuni hamba-Mu ini  yang telah melakukan dosa. Ya.. Rabb Engkau mempertemukan kembali hamba dengan  dia.. Ini adalah kehendak-Mu Ya Allah. Rizal memulai percakapan diantara mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anti.. apa kabar, kemana saja kamu??? SMS dari ku tak pernah kau  balas?? Apa kamu marah padaku???” tanya Rizal dengan nada penasaran. Anti sudah  menduga, kalau Rizal berpikir seperti itu tentang dirinya. Dan menanyakan  tentang SMS yang tak pernnah dibalasnya itu. Dengan perlahan lahan Anti menjawab  semua pertanyaan Rizal dan menjelaskan apa yang terjadi dengan dirinya waktu  itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Abang ri, alhamdulillah kabarku baik. Bukan maksudku tidak mau  membalas SMS dari abang, hanya saja belum sempat aku membalas dan menghafal  nomor hp abang ri, hpku hilang dicopet. Aku sudah berusaha mengingatnya,  sayangnya aku hanya ingat kepalanya saja 0855. Begitu ceritanya. Anti pikir,  Anti telah kehilangan Abang ri ” jawab Anti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Innalillahi… tapi kamu  ngga apa apa khan ??? “ Tanya Rizal penuh kekhawatiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alhamdulillah,  aku ngga apa apa… Mungkin ini ujian dari-Nya “ Anti menjelaskan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Syukurlah…Dan ternyata Allah telah mempertemukan kita lagi ditempat  yang sama…, meskipun tanpa komunikasi tanpa janjian terlebih dahulu” kata Rizal  dengan semangat. Untuk kali keduanya Rizal menghadiahkan buku itu untuk Anti,  kali ini dengan alasan sebagai hadiah untuk dindaku sayang… katanya. Untuk kali  keduanya juga Anti tidak bisa menolak pemberian dari Rizal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anti  menerimanya dengan malu malu. Setelah acara ditoko buku selesai, Rizal mengajak  Anti makan di sebuah resto yang ada di dalam kompleks toko buku itu. Sambil  makan Rizal menanyakan suatu hal yang pribadi pada Anti. Rizal menanyakan  tentang tipe calon suami yang Anti cari. Entahlah mengapa tiba tiba ia  menanyakan itu pada Anti. Anti tetap menjawab sejujurnya tanpa ada prasangka apa  apa pada Rizal. “Tipe suami yang aku cari adalah yang bisa membimbingku menuju  jalan-Nya, yang bisa membawaku menuju surga-Nya, yang bisa menjadi imam baik  dalam shalatku maupun dalam kehidupan berumah tangga nantinya, yang mampu  bertanggung jawab dunia dan akhirat. Hhhmmm… pokoknya yang sholeh ” jawab Anti  dengan semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa dirinya terlalu banyak bicara, Anti langsung  meminta maaf. “Aduhh…maaf ya kalau bicaraku terlalu banyak. Mungkin aku agak  berlebihan..” kata Anti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rizal tidak berpikir seperti itu, malah ia  senang mendengar Anti berbicara. “Oh.. ngga kok, malah aku senang mendengar  kalau kamu bicara, lucu kayak nenek nenek..” ledek Rizal pada Anti. Diledek  Rizal seperti itu, Anti langsung merubah mimik mukanya. Melihat perubahan mimik  muka Anti, Rizal langsung minta maaf khawatir Anti marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Uupss.. maaf  deh becanda kok, jangan marah ya dindaku…, Ngga kok, aku pikir wajar wajar saja  kalau seseorang itu memiliki sebuah impian sebuah harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun  masalahnya tidak ada manusia yang diciptakan sempurna. Sebaik-baiknya manusia,  pasti ia pernah melakukan kesalahan. Apa kamu mau menerima segala kekuarangan  dan kelebihan yang ada pada dirinya” kata Rizal serius. Anti tidak mau kalah.  “Tentu saja, aku akan terima dia dengan segala kekurangan dan kelebihan yang dia  punya. Dan Insya Allah, aku akan setia mendampinginya dalam suka dan duka. Aku  akan tetap menyayanginya” jawab Anti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rizal begitu serius memperhatikan  cara Anti mengungkapkan pendapatnya. Mungkin dalam hati Rizal tertawa geli.  Karena Anti kalau sudah bicara serius, tanpa ia sadari, kata kata puitisnya  keluar. Ya..maklumlah Anti itu pemilik sifat melankolis. Dan Rizal tahu itu.  Kerap juga ia meledek Anti. Setelah selesai makan, Rizal mengajak Anti shalat  Maghrib karena waktu sudah menunjukkan pukul 18.15. Kali ini Rizal mengajaknya  shalat berjama’ah meskipun dengan menggunakan hijab. Anti kaget sekaligus  senang, Rizal menjadi imam dan Anti menjadi ma’mum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena moment itulah  yang selalu ia tunggu tunggu. Memang kebetulan di mushalla itu baru mereka  berdua yang shalat. Selesai berdo’a, tanpa Anti duga Rizal mengungkapkan  perasaannya pada Anti. Dengan selembar kain sebagai hijab diantara mereka  berdua, Rizal mengutarakan keinginannya untuk melamar Anti. Di keheningan  suasana, suara Rizal terdengar begitu indah dibalik hijab yang memisahkan mereka  berdua. Anti mendengarkan dengan penuh cemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Assalamu’alaikum,  dinda…abang ri mau bilang sesuatu. Tapi dinda jangan marah ya….” Begitu katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wa’alaikumsalam, bilang apa abang ri, bilang aja Insya Allah Anti ngga  marah” suara Anti terdengar lembut di balik hijab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sungguh maha suci  Allah yang telah menganugerahkan rasa cinta kepada manusia. Rasa cinta itu  begitu suci dan murni. Tidak sepantasnya kita menodainya. Kehadiran rasa cinta  itu di dalam hati abang ri, membuat abang ri bingung dan takut. Abang ri takut  rasa cinta itu ternoda. Oleh karena itu abang ri akan membawa cinta ini ke jalan  yang di ridhoi-Nya. Sejak pertama kita bertemu dan kali ini atas kehendak Allah  kita dipertemukan kembali, sebenarnya abang ri mempunyai perasaan lebih pada  dinda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah abang ri sudah minta petunjuk-Nya. Dan semua itu  mengarah pada dirimu dinda. Setelah proses perkenalan yang kita lalui bersama,  abang ri berniat melamar dinda. Sekarang terserah pada diri dinda… Dinda boleh  shalat istikharah lebih dulu mohon petunjuk-Nya. Apapun itu keputusannya, abang  ri akan terima dengan ikhlas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang sudah malam sebaiknya kita pulang  yuk.., nanti dinda dicariin sama orang rumah” kata Rizal perlahan namun pasti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anti benar benar terkejut. Tanpa ia sadari, air mata menetes di pipi  Anti. Anti menangis karena bahagia. Setelah itu Anti tidak mampu berkata kata  lagi. Ia hanya menangis. Rizal yang melihat Anti menangis khawatir. Ia khawatir  kalau ada kata kata yang menyakiti hati dindanya. “Dinda.. kenapa kamu menangis,  maafkan aku kalau ada kata kataku yang menyakiti hatimu” tanya Rizal dengan  penuh kekhawatiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar Rizal berkata seperti itu, Anti langsung  menjelaskan alasan ia menangis. “Abang ri, Anti menangis bukan karena ada kata  kata abang ri yang menyakiti hati Anti. Anti menangis karena bahagia, doa-doa  yang selalu Anti panjatkan disetiap shalat Anti akhirnya dikabulkan oleh-Nya.  Anti bahagia karena akhirnya Allah telah mengirimkan seseorang untuk menjadi  pendamping hidup Anti dan itu adalah Abang ri. Dan Anti menangis karena ingat  Almarhumah ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya beliau masih ada, pasti ikut merasakan  kebahagiaan yang Anti rasakan sekarang. Ya Rabb.. terimalah ia disisi-Mu” kata  Anti sambil terisak menangis. Mendengar Anti berdo’a, Rizal mengamiinkan.  “Amiiinn…., Ya sudah sekarang kita pulang yuk, hari sudah malam” ajak Rizal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anti menolak diantar pulang oleh Rizal. Karena rumah mereka sama jauh  dan Anti tidak mau merepotkan abangnya. Sebelum mereka berpisah tidak lupa Rizal  menanyakan nomor telpon rumah Anti dan alamat e-mailnya agar bisa tetap  berkomunikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya dirumah, kira kira pukul 20.30 Rizal telpon  untuk memastikan kalau Anti sudah sampai dirumah dengan selamat. Keesokan  harinya ditempat ia bekerja, Anti mengecek e-mail yang masuk dan ternyata ada  e-mail dari Rizal. Isinya tentang rencana kedatangan dirinya bersama keluarga  untuk silahtuhrahmi tiga bulan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga bulan sudah Anti lalui dengan  harap harap cemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga tiba hari itu, keluarga Rizal datang. Dari  perbincangan antara orang tua kedua belah pihak, akhirnya di putuskan hari  pernikahan mereka yang insya Allah akan diadakan sekitar tiga bulan lagi. Waktu  yang cukup singkat untuk mempersiapkan sebuah pernikahan. Tak henti henti Anti  berdzikir dalam hati. Ia amat bersyukur mendapatkan seorang Rizal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rizal  adalah pria seorang sholeh. Insya Allah. Meskipun mereka sama sama masih kuliah  namun itu bukanlah penghalang bagi mereka untuk melaksanakan ibadah yang sangat  mulia ini. Dan meskipun perbedaan usia mereka yang dua tahun itu, tidak  menghalangi niat Rizal untuk memperistri Anti. Atas kehendak-Nya lah semua ini  terjadi. Hingga tiba hari itu, hari pernikahan mereka berdua. Mereka begitu  tampak bahagia. Semoga kehidupa baru yang akan mereka jalani, selalu mendapat  berkah dan rahmat dari-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4523739979911660558-2604510894251491236?l=cintaku-loveme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/feeds/2604510894251491236/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/2008/06/berawal-dari-jilbab.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4523739979911660558/posts/default/2604510894251491236'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4523739979911660558/posts/default/2604510894251491236'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/2008/06/berawal-dari-jilbab.html' title='Berawal Dari Jilbab'/><author><name>my love</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03585437615001367745</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1UvEn9BN05M/Smle78z0p2I/AAAAAAAAAPk/-R5VUz4OxWs/S220/Foto091.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4523739979911660558.post-7162958426845623427</id><published>2008-05-27T08:47:00.000-07:00</published><updated>2008-05-27T08:49:15.524-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah cinta'/><title type='text'>Sebuah Jalan yang Ditempuh Cinta</title><content type='html'>Apa jadinya ketika sepasang suami istri berbudi menjodohkan masing-masing  sahabat mereka yang belum pernah saling mengenal, memiliki karakter berlawanan  serta kultur yang begitu berbeda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka akan menjadi pasangan yang  hebat!” kata sang istri. Sambil mempromosikan gadis berjilbab  sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sangat menarik dan akan saling melengkapi!” tutur si suami  sambil dengan semangat menceritakan tentang jaka yang saleh,  sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika Allah mengizinkan, mereka akan menjadi pasangan yang  cocok!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis dan jaka sama-sama kuliah di UI, namun berbeda fakultas.  Mereka sama-sama aktif dalam kegiatan kerohanian Islam. Dua kali pasangan suami  istri sahabat mereka itu mencoba mempertemukan jaka dan gadis dalam satu forum.  Namun saat Jaka datang, si gadis tiba-tiba berhalangan. Ketika gadis hadir, si  jaka yang tak bisa. Akhirnya sepasang suami istri tersebut mencoba mengatur  pertemuan ketiga sambil memberikan data “orang” yang ingin mereka perkenalkan  masing-masing pada jaka dan si gadis--- secara sendiri-sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kamar  kos-nya gadis melihat data-data si jaka dan fotonya. Ini yang mau diperkenalkan  itu…dan diharap oleh sahabatnya bisa menjadi pasangan hidup abadi si gadis?  Priyayi Solo? Bagaimana cara berbicara yang dianggap santun oleh orang Solo? Si  gadis geleng-geleng kepala. Jangankan menjadi istri, bisa-bisa dia kabur melihat  gaya bicaraku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kamar kos yang lain, di seberang gang kober, jaka  tertegun. Sudah lumayan sering aku mendengar kiprah gadis itu di kampus dan  majalah. Tapi apa tak salah? Si kelahiran Medan ini punya penyakit begitu  banyak? Jantung, pernah gegar otak, paru-paru, kelenjar getah bening? Waduh,  bagaimana bila “si penyakitan” ini kelak menjadi istrinya? Tapi prestasinya  lumayan…rekomendasi dari sahabatku bukan sembarangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak dinyana,  sebelum sempat diadakan ta’aruf, dalam salah satu forum di universitas, jaka dan  gadis bertemu. Apa yang terjadi dalam diskusi pagi itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah perdebatan  yang panjang. Cara pandang yang begitu berbeda. Dan tiba-tiba pagi di UI menjadi  tak cerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria yang membosankan dan keras kepala, pikir si  gadis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar keras hati! Belum ada perempuan yang berbicara menentangku  seperti gadis ini! Pikir si jaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki seperti ini yang ingin  diperkenalkan padaku? Si gadis nyengir. Dia akan kapok denganku dan segera  melupakan langkah lanjut perkenalan kami…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si jaka tak kalah gerah.  Perempuan seperti ini? Aku selalu berpikir perempuan adalah kelembutan,  kematangan, kepatuhan…, pikir si jaka. Tapi ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang forum  kata-kata berseliweran dalam ruangan itu, terutama dari mulut gadis dan jaka  tersebut. Forum tersebut bukan tak penting, sebab mereka dan semua teman yang  hadir pada saat itu tengah membicarakan suksesi kepemimpinan mahasiswa di  universitas mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menurut saya tidak bisa seperti  itu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa tidak? Menurut saya yang demikian yang paling  mungkin!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak bisa! Karena….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bisa! Karena…."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah  perundingan yang melelahkan, akhirnya dicapai kesepakatan. Sebuah kesepakatan  yang didapat dengan catatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini mungkin pertama dan terakhir kali kami  bertemu dan berbicang, pikir si gadis. Dia pasti kapok dan tak ingin mengenalku  lebih dalam. Tapi tak apa, setidaknya aku tak berpura-pura membuat ia  terkesan….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaka resah. Gadis seperti ini? Entahlah. Keras kepala,  penyakitan pula! Apa harus diteruskan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pernah ada perkenalan yang  direncanakan lagi setelah itu. Kelihatannya mereka memang tak cocok dan mungkin  akan saling melupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tak lama kemudian, pada suatu pagi,  seseorang datang ke tempat gadis dan berkata: “Saya sudah istikharah dan kamu  selalu muncul. Bersediakah?” (lupakan ia penyakitan, ia baik untuk menjadi  istriku. Allah menunjukkannya!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis tak mengerti. Dia diam. Apa yang  dilihat lelaki muda itu dari dirinya? Tak cantik. Tak kaya. Tak terlalu cerdas.  Sangat biasa. Pernah “bertengkar” pada pertemuan pertama pula. Apa? Apa yang  dilihat lelaki itu? Pilihan yang tak lazim…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis pun memilih istikharah  sebelum menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuatu yang menakjubkan dan tak terduga muncul!  Seperti ada yang membimbing ketika si gadis berkata “Ya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebulan  kemudian, jaka melamar gadis. Dan hanya diperlukan waktu sebulan lagi sebelum  kemudian jaka dan gadis menikah! Sungguh akhir yang tak terduga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah  pernikahan berlangsung sederhana namun meriah, di Jakarta. Banyak sekali saudara  dan sahabat yang hadir. Mereka bertanya-tanya, bagaimana dua pasangan ini bisa  bertemu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada malam pertama gadis dan jaka berbicara hingga dinihari,  shalat malam dan tilawah bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi bagaimana sampai bisa kamu punya  penyakit sebanyak itu?” tanya jaka pada istrinya tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa, Mas?  Penyakit? Maaf, penyakit apa ya?” gadis balik bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jantung, gegar  otak, paru-paru, kelenjar getah bening, ….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa?” gadis  bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas baca di datamu. Data yang diberikan oleh sahabat kita itu!  Tapi Mas sudah ikhlas kok menerima dengan segala kelebihan dan kekurangan.  Semoga kamu juga begitu ya….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis ternganga. "Penyakit?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas,  aku nggak punya penyakit seperti itu. Paling-paling cuma mag…,” gadis nyengir  lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaka terkejut sekali. Tak lama wajahnya berseri-seri.  “Alhamdulillah” (ia ingat, ia sudah mengambil resiko untuk memilih gadis yang  keras kepala itu, meski ia “penyakitan,” meski orangtuanya sangat keberatan  dengan ragam penyakit calon menantu mereka). Mata jaka berkaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah  Maha Besar! Allah Maha Besar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu si gadis menyempatkan diri  mengirim pesan via pager pada sahabat perempuan yang sangat disayanginya: Mbak  sayang, datanya ketuker ya? Or salah tulis soal penyakit? Hebat dia masih maju  terus! Aku tahu dia memang bukan lelaki biasa! ;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan bahkan sudah  tidur sejak tadi. Tapi jaka dan gadis seperti tak ingin memejamkan mata. Mereka  tak berhenti menatap satu sama lain; sebuah pesona yang lama dinanti, hadir dari  lintasan misteri, menerpa hati dan wajah mereka. Menyala. Ini cinta? Atau belum  lagi sampai pada cinta? Apapun itu, mereka percaya, kebaikan menumbuhkan cinta;  keindahan yang tangguh. Dan pacaran sesudah menikah? Hmm mungkin itu kenikmatan  berlimpah berikutnya :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subuh pun hadir membasuh kembali wajah mereka.  Suara adzan terdengar menggetarkan. Jaka dan gadis sadar, telah mereka genggam  anugerah tak terkata itu: bertemu dengan pasangan jiwa yang sudah dituliskan  Illahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini telah lebih dari sepuluh tahun, cinta menemukan dan menempuh  jalannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga abadi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4523739979911660558-7162958426845623427?l=cintaku-loveme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/feeds/7162958426845623427/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/2008/05/sebuah-jalan-yang-ditempuh-cinta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4523739979911660558/posts/default/7162958426845623427'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4523739979911660558/posts/default/7162958426845623427'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/2008/05/sebuah-jalan-yang-ditempuh-cinta.html' title='Sebuah Jalan yang Ditempuh Cinta'/><author><name>my love</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03585437615001367745</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1UvEn9BN05M/Smle78z0p2I/AAAAAAAAAPk/-R5VUz4OxWs/S220/Foto091.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4523739979911660558.post-4409501202034736114</id><published>2008-05-23T07:32:00.000-07:00</published><updated>2008-05-23T07:34:55.094-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='harapan'/><title type='text'>Indonesia Belum Menyerah</title><content type='html'>“Aku seorang seniman,” lelaki berambut gondrong itu berkata padaku. “Tapi tidak  sepertimu, aku cuma seniman pinggiran,” tambahnya lagi seraya menyebut namanya:  Iwan, tinggal di Tanjung Priok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu Desember, 2000, hari sudah  senja di Taman Ismail Marzuki. Aku baru saja berkenalan dengan Iwan dan Ratri  adik perempuannya, di toko buku Jose Rizal Manua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak percaya  partai, Mbak,” tiba-tiba Ratri berkata, pada pertemuan kami yang berikut, dua  minggu kemudian, di tempat yang sama “Apalagi pada tokoh-tokohnya. Muak sekali  melihat mereka,” tambahnya sinis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya…, aku juga. Nggak ada yang benar.  Partai yang besar kubenci, yang kecil bikin aku geli. Lihat deh partai-partai  gurem itu kan nggak jelas. Ada juga yang membawa agama untuk kepentingan partai,  sekadar memanipulasi ayat Tuhan!” nada suara Iwan agak geram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, tapi  tak semua….,” bantahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang percakapan kami terhenti karena tiba-tiba  hujan turun begitu deras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berpisah, dua tahun lalu, di TIM tanpa  pernah bertukar alamat dan tak pernah bertemu lagi setelah itu. Sampai akhir  November 2002, seseorang menyapaku, di tempat yang sama: Taman Ismail Marzuki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Assalaamu’alaikum, Mbak! Masih ingat saya? Saya Iwan, seniman pinggiran  itu….saya sudah potong rambut. Apa Mbak masih mengenali saya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat  aku mengernyitkan dahi. Sosok di depanku sangat rapi dan sopan. Tapi ia memang  Iwan. Dan topi yang dipakainya? Aku kembali mengerutkan dahi…, Iwan memakai topi  berlambang Partai Keadilan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia membuka topinya dan tersipu. “Sekarang  saya jadi aktivis PK, Mbak. Masih kecil-kecilan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum.  Bagaimana bisa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera kuajak Rita teman yang sejak tadi bersamaku dan  Iwan makan siang bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tahun lalu banjir besar melanda Tanjung  Priok. Teman-teman dari partai itu yang pertama datang ke lokasi. Mereka  membantu kami bukan hanya pada hari itu, tapi berbulan-bulan kemudian masih  memantau keadaan kami. Mereka melakukan semua tanpa pamrih, tanpa mengajak kami  masuk partai mereka. Mereka juga membuka pos-pos pelayanan masyarakat secara  gratis,” kata-kata Iwan meluncur begitu cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya  mulai ingin tahu tentang PK. Mereka memang unik. Saya berkali-kali mengadakan  demonstrasi dengan kelompok saya. Jumlahnya cuma seratusan, tapi pasti ricuh.  Sementara saya lihat setiap teman Partai Keadilan turun melakukan aksi di jalan,  sampai ribuan orang, tak sedikit pun ada keributan. Kelihatannya kok tenang, kok  asyik,” Iwan menghirup air jeruknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan Rita berpandangan. Nyengir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya bertemu DR. Hidayat Nurwahid awal tahun ini. Wah, dia memeluk  saya. Padahal saya bukan apa-apa. Waktu itu saya mengikuti ceramahnya di Al  Azhar. Saya salami dia. Eh, dia menjabat tangan saya erat, malah memeluk saya,”  Kenang Iwan haru. “Waktu itu Hidayat Nurwahid berkata pada banyak orang,  termasuk saya: Bahkan seandainya Anda tidak masuk ke Partai Keadilan sekali pun,  tapi Anda mendukung, menegakkan dan melaksanakan keadilan, yang itu berarti Anda  mengamalkan Islam, maka Anda sesungguhnya sudah menjadi bagian dari kami. Saya  terharu sekali, mbak!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi aku dan Rita saling berpandangan. Itu  perkataan yang memang sering diucapkan Presiden PK: Dr. Hidayat Nurwahid. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iwan masih terus bercerita. Angin kencang Kafe Musi di area terbuka TIM  tempat kami duduk, menyentuh dan menggeser lembaran-lembaran Majalah Tempo edisi  terbaru, November 2002 yang ada di pangkuanku. Tak sengaja ekor mataku membaca  tulisan itu sekali lagi: “Indonesia Belum Menyerah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam edisi  tersebut terdapat “Figur Pahlawan Pilihan Pembaca”, sebuah polling yang  melibatkan ratusan pembaca Tempo. Sholahudin Wahid, Hidayat Nurwahid, Abdullah  Gymnastiar, Kwik Kian Gie, Susilo B Yudhoyono, Sri Sultan Hamengkubuwono dan  Iwan Fals adalah tujuh nama yang menjadi pilihan pembaca secara berurutan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iwan masih terus bercerita. Angin meliukkan jilbab putihku sesekali.  Tiba-tiba aku teringat wajah teman-temanku yang tak henti memikirkan masalah  ummat itu….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, Indonesia tak akan menyerah, Wan! Tak akan pernah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4523739979911660558-4409501202034736114?l=cintaku-loveme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/feeds/4409501202034736114/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/2008/05/indonesia-belum-menyerah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4523739979911660558/posts/default/4409501202034736114'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4523739979911660558/posts/default/4409501202034736114'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/2008/05/indonesia-belum-menyerah.html' title='Indonesia Belum Menyerah'/><author><name>my love</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03585437615001367745</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1UvEn9BN05M/Smle78z0p2I/AAAAAAAAAPk/-R5VUz4OxWs/S220/Foto091.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4523739979911660558.post-5140315496386050836</id><published>2008-05-20T23:52:00.000-07:00</published><updated>2008-05-20T23:56:42.908-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='harapan'/><title type='text'>Sebuah Harapan</title><content type='html'>DIARY-ku. Jam delapan malam. 17 Nopember. Suasana pelabuhan masih terasa padat.  Angin laut yang membawa butiran-butiran air terasa dingin menusuk hingga ke  tulang. Pukulan angin cukup kencang memukul-mukul benda-benda yang berusaha  menghalangi lajunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas kapal yang hendak berangkat, aku berdiri  tegak dan melemparkan pandanganku ke lautan luas, meski gelap dan angin begitu  kencang memukul-mukul tubuhku. Sesekali aku membenarkan letak jilbab hijau  esmeralda yang berkibar-kibar diterjang angin. Aku melangkah dan merapat ke sisi  kapal yang dibentengi pagar besi. Menunduk sebentar dan membenarkan letak  kacamataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diary, bagi seorang wanita, usia dua puluhan, telah nampak  tanda-tanda kedewasaan. Dan itu pula yang selama ini sedang aku pikirkan seorang  diri. Pikiranku mengembara menembus mega-mega hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, hidup ini memang  misteri. Nggak nyangka. Betul-betul nggak nyangka kalau Mas Rahadi ternyata mau  menikahi aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai mempermainkan jari dan mengepal-ngepalkannya  untuk mengusir hawa dingin yang mulai merayap di sekujur tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin  malam ini jadi saksi. Kalau aku ternyata diam-diam mulai menyukainya, kalau  diam-diam aku memiliki sebuah harapan. Aku kenal Mas Rahadi meski baru luarnya  saja. Tapi cukup membuat aku berdebar-debar saat dia menyatakan berminat menjadi  pendamping hidupku. Ia mau berusaha menjadi teman sekaligus suami yang bisa  membina dan membimbingku. Benar-benar misteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuseret kaki menuju bangku  kecil yang ada dekat musholla di kapal ferry ini. Kaki yang dari tadi sudah  mulai gemetaran menahan terjangan dingin angin malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi... kenapa  orang rumah nggak begitu menyukai kehadirannya, kenapa papa dan mama begitu  membencinya. Adakah yang salah dalam dirinya? Adakah sesuatu yang mengerikan  dalam jiwanya? Aku sama sekali tak mengerti. Sepertinya aku harus berusaha  keras. Berusaha dan berusaha sampai papa dan mama mau menerima Mas Rahadi apa  adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejurus kemudian aku jemu memandang laut dan langit yang ditaburi  bintang-bintang. Kuturuni tangga kapal yang mulai meninggalkan pelabuhan  Bakauheni menuju pulau Jawa, yang selama ini jadi tempat awal bertemu dengan  pria yang hendak menjadi pendamping hidupku. Detik-detik berikutnya aku terlelap  dalam sebuah ruangan ber-AC setelah agak lama mataku berusaha memelototi  gambar-gambar hidup di layar televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diaryku. Jam lima sore  awal Desember. Langit kotaku tak lagi mendung. Angin siang tadi baru saja  mendorong mega-mega menjauhi kota. Sinar matahari yang mulai meredup menambah  suasana sore yang cerah lebih bernuansa. Selembar foto diri Mas Rahadi  tergeletak tak jauh dari meja yang dipenuhi beberapa buku dan catatan-catatan  pengajian siang tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, aku sudah dikhitbah Mas Rahadi. Dan sebenarnya  aku sudah siap menjadi pendamping hidupnya. Hari bahagia itu ingin segera  kuraih. Ingin segera merasakan bagaimana menjadi seorang istri dan ibu dari  anak-anakku. Ya, sudah sebulan ini Mas Rahadi mengkhitbahku. Sering juga aku  berkomunikasi dengannya. Lumayan juga. Ia bisa mengerti segala keinginanku.  Bahkan ia pernah mengatakan bahwa ia bersedia menerima aku apadanya. Ia bilang  bahwa manusia itu nggak ada yang sempurna. Justeru dengan hidup berdampingan  sebagai suami istri nanti, di situlah seseorang harus bisa bersikap bijaksana  dengan menghargai pasangannya. Saling mengisi di antara kelebihan dan  kekurangannya. Jangan sampai egoisme menjadi penghalang untuk saling menghargai.  Mas Rahadi juga pernah bilang, bahwa keluarganya siap menerima aku apa adanya.  Karena pilihan Mas Rahadi adalah pilihan keluarganya. Aku yakin, kalau dia  berkata sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, itu tak berarti pihak keluargaku menerima  juga kenyataan ini. Terutama mama, beliau masih menyimpan misteri tentang  penilaiannya sama Mas Rahadi, yang aku sendiri tak pernah bisa mengerti sampai  sekarang. Yang pasti beliau nggak suka dengan kehadiran Mas Rahadi. Entahlah,  aku tak habis pikir. Kadang-kadang aku bertanya, kurang apa sih sebenarnya Mas  Rahadi dalam pandangan mereka? Apa kurang ganteng? Ah, masak seorang aktivitis  pengajian masih melakukan penilaian seperti itu hanya untuk menyenangkan hati  ortunya. Tapi mungkin wajar juga ya? Entahlah, aku sendiri sebenarnya tak  terlalu memikirkan. Mau tampangnya mirip Leonardo Di Caprio atau Jared Letto,  nggak peduli, yang penting akhlaknya baik. Biarin cakep juga asal taat. Hi..hi..  (enak dong kalau gitu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eh, benar nggak sih, kalau Mas Rahadi itu  orangnya eksentrik? Kata Ria, sohib karibku, ia nggak nyangka kalau Mas Rahadi  suka nonton film-film yang romantis, kayak Sleepless In Seatle, Romeo and  Juliet, The House of Spirit atau Titanic, juga Hope Floats. Emang sih, Mas  Rahadi pernah bilang kalau kenyataan yang sedang dihadapinya mirip di film Hope  Floats yang pernah ditontonnya. Entahlah, karena aku sendiri belum pernah  menontonnya. Maklumlah di tempat kostku nggak ada VCD Player atau komputer yang  dilengkapi dengan program MPEG. Beda dengan tempatnya tinggal, nyaris perangkat  teknologi informasi ada semua. Termasuk komputer yang sudah dilengkapi dengan  program untuk nyetel VCD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My Diary. Akhir Nopember. Hari ini aku baru saja menjelaskan sama papa dan mama  soal hubunganku selama ini dengan Mas Rahadi. Seperti biasa mereka nggak terlalu  antusias menanggapi. Aku bingung. Aku jadi salah tingkah. Konsentrasiku buyar,  hingga membuat aku selalu melakukan kesalahan-kesalahan yang tak perlu dalam  setiap pekerjaanku. Papa selalu diam kalau aku tanya kenapa papa mempersulit aku  untuk menikah dengan Mas Rahadi. Dengan memasang target yang menurutku tak masuk  akal. Bayangkan, tiga tahun. Sekuat-kuatnya keimanan seseorang, aku khawatir  goyah juga. Apalagi jaman sekarang, dimana informasi begituan bisa dengan mudah  diakses lewat internet atau majalah-majalah. Ditambah dengan kehidupan sosial  yang amburadul seperti sekarang ini. Pendek kata, godaan ke arah sana semakin  berbahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papa selalu beralasan soal mengenal pribadi. Padahal aku sudah  kenal. Aku sudah yakin kalau Mas Rahadi adalah pilihanku. Dari  informasi-informasi yang sampai kepadaku soal Mas Rahadi hampir seluruhnya  adalah informasi yang baik. Tentang dakwahnya, tentang akhlaknya, tentang  tanggung jawabnya, tentang kepribadiannya. Segalanya deh. Insya Allah Mas Rahadi  telah jadi pilihanku. Lalu, alasan primadona yang sering dilontarkan papa adalah  bahwa untuk sampai ke pernikahan, butuh banyak biaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aduh, diary. Aku  harus bilang apa lagi. Aku sudah katakan sama papa bahwa yang penting dari  pernikahan itu adalah akadnya. Bukan rame-ramenya. Buat apa nabung uang  berjuta-juta hanya dihabiskan dalam waktu sehari, dan hanya untuk sebuah alasan  klise; prestis? Betapa naifnya. Lagi pula papa mestinya ngerti ya, diary. bahwa  memasuki dunia baru lewat pintu gerbang pernikahan itu bukan berarti harus  selalu sudah siap segalanya. Sudah punya rumah, punya pekerjaan yang benar-benar  mapan dengan gaji gede, punya kendaraan yang lux, memiliki status sosial yang  gemerlap dan aksesoris-aksesoris duniawi lainnya, sementara mengesampingkan  aspek akhlak, keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. Menurutku, pernikahan  adalah gerbang menuju kehidupan baru yang akan dibangun bersama-sama. Membangun  dari nol. Dengan suka dan duka. Dijalani bersama. Tentu itu akan lebih menambah  nilai ibdah. Karena nikah termasuk salah satu ibadah kepada Allah Swt. Ya,  itulah pendapatku. Nggak salah kan diary-ku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, apa reaksi papa,  diary. Papa hanya diam seribu bahasa. Yang aku khawatirkan diamnya papa adalah  diamnya gunung berapi. Diam, tapi suatu saat akan memuntahkan lahar panas yang  mematikan. Mungkin papa mau mengekpresikan kasih sayang kepada anaknya, tapi  menurutku itu tak pada tempatnya. Penyataan yang salah pada waktu yang salah.  Karena standar penilaiannya berbeda jauh dengan nila-nilai Islam. Ah, entahlah  diary, aku nggak ngerti sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diary-ku sayang. Jam  tujuh pagi, awal Desember. Ria, sohibku yang paling setia baru saja mengabarkan  via telepon bahwa Mas Rahadi bakal ngirim surat sore nanti. Terus terang aku  deg-degan nggak karuan. Bagaimana tidak, aku merasa ada yang salah setelah  peristiwa beberapa waktu lalu, ketika Mas Rahadi selalu bertanya kepadaku soal  apakah aku masih tetap mencintainya, apakah aku masih tetap menyukainya, aku  selalu tak bisa berterus terang. Maklumlah aku ini kan perempuan yang masih  menyimpan rasa malu ketika harus berhadapan dengan sebuah pertanyaan tentang  keterus-terangan dalam urusan yang sensitif seperti itu. Padahal, aku  benar-benar menyukainya, aku sungguh-sungguh mencintainya. Meski ketika itu aku  diam saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih kuingat komentar Ria kemarin sore. "Nuri, kamu ini kok  kayaknya aneh banget, deh. Katakan terus terang dong. Jangan membuatnya selalu  was-was. Tahu, nggak, Mas Rahadi itu butuh support dari kamu. Ia akan lebih  merasa senang ketika kamu terus terang mengatakan cinta atau suka kepadanya.  Kamu kan suka baca buku-buku psikologi. Masak belum ngerti juga? Tahu nggak, ini  waktu yang tepat!" begitu kata Ria penuh semangat dan membuat aku terpojok dan  tak mampu berkata-kata banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diary, jarum jam sepertinya malas untuk  berputar. Kamar ini terasa dingin membeku. Waktu terasa begitu lambat berjalan.  Aku sudah nggak sabar lagi menerima surat dari Mas Rahadi yang tentunya  rada-rada spesial. Maklumlah, selama ini aku nggak pernah menerima surat dari  laki-laki. Khususnya, yang telah mengkhitbahku. Kira-kira apa yang bakal dibahas  dalam suratnya yang selalu bertabur kata-kata indah. Paling tidak itu menurutku.  Ya, kita tunggu aja yuk?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam lima sore. Diary, ia benar-benar memenuhi janjinya. Ia datang di saat aku  membutuhkannya. Tepat. Senyum khas yang selalu menghias bibirnya kembali hadir  di hadapanku. Deg-degan juga. Ah, betapa kuatnya energi cinta seorang yang  sedang kasmaran. Amplop biru muda berisi lipatan-lipatan kertas yang telah  ditulisi sekarang ada dalam genggamanku. Selalu singkat pertemuan itu. Ia segera  menghilang dalam pandanganku dan meninggalkan rasa senang yang hebat. Tak sabar  aku ingin melihat isi tulisan yang bermuatan kata-katanya yang khas. Oh,  ternyata dilengkapi sebuah pita kaset The Beatles. Ah, eksentrik memang. Aku  buru-buru membacanya dengan debaran jantung yang tak karuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ba’da  tahmid dan salam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dik, Nuri. Gimana kabarnya? Semoga tetap dalam keadaan  sehat dan senantiasa dalam lindungan-Nya, serta tetap beraktivitas dalam dakwah.  Semoga kita tetap bisa menjaga batas-batas kesucian. Kita berharap semoga Allah  memberkahi kita semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dik Nuri. Langsung saja. Mas Rahadi minta maaf  bila selama ini selalu bertanya soal kesetiaan dan keteguhan hati Dik Nuri dalam  mencintai Mas Rahadi. Sekali lagi, mohon maaf. Dik, jangan kaget kalau surat Mas  Rahadi, kali ini agak aneh dan mungkin terkesan “nakal” dengan menyisipkan  kaset. Nggak ada maksud apa-apa selain ingin membuat adik bahagia. Ya,  barangkali hal yang mubah ini bisa menjadi sarana kebahagiaan adik. Bisa jadi,  ini adalah wujud ekspresi dari rasa kasih sayang Mas Rahadi sama adik.  Khusnudzan saja, ya? Sebagian jawaban dari rasa penasaran adik terhadap  pertanyaan Mas Rahadi, mungkin ada dalam salah satu judul lagu The Beatles  tersebut. Yang jelas, Mas Rahadi hanya berusaha untuk meyakinkan saja dengan apa  yang selama ini Mas Rahadi harapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dik Nuri, Mas Rahadi sangat kagum  dengan apa yang adik katakan beberapa waktu lalu bahwa adik rela dibawa sama Mas  Rahadi dalam kondisi apa pun, selama masih dalam naungan Islam. Mas Rahadi  pikir, itu adalah jawaban bijaksana dan dewasa. Karena belum pernah mendengar  sebelumnya dari seorang wanita. Terus terang itu menambah point tersendiri bagi  Mas Rahadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dik, kayaknya sekarang singkat saja ya, suratnya. Soalnya  masih banyak persoalan lain yang harus Mas selesaikan. Dik, tolong putar lagu  Jealous Guy, ya! Eh, kok malah ngasih bocoran, ya? Afwan.  Syukron.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam&lt;br /&gt;Rahadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku segera melipat kembali kertas  wangi berwarna hijau muda tadi. Kemudian kumasukkan kembali ke amplop. Ah,  memang eksentrik makhluk satu ini. Kaset The Beatles segera kuputar. Dan sesuai  dengan pesanan dalam surat, aku lebih dulu memutar lagu Jealous Guy. Diary. aku  perhatikan bait demi bait dalam syair lagu itu , sampai pada kata-kata begini.:  I did’nt mean to hurt you, I’m sorry that I made you cry. I did’nt want to hurt  you, I’m just a jealous guy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diary, akhirnya aku ketawa sendiri dengar  lagu itu. Ternyata Mas Rahadi itu jealousy juga orangnya, ya? Ah, ada-ada saja.  Tapi benar juga sih. Kadang kala aku pun berpikir hal yang sama  (hi..hi..hi..).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aduh, diary. Aku kembali “perang” dengan mama dan papa.  Hal yang selama ini tak pernah kuinginkan itu terjadi lagi. Sebenarnya, papa  sangat menyayangi aku. Malah perhatiannya itu boleh dikatakan sangat berbeda  bila dibandingkan dengan sikapnya kepada kakak-kakak dan adikku. Aneh memang.  Tapi itulah faktanya. Sehingga membuat aku selalu tak pernah ingin menyakiti  hatinya. Pernah suatu ketika aku minta sama papa supaya beliau membiaya  kuliahku. Ia manut saja, bahkan bersedia mengeluarkan biaya berapapun. Tapi,  karena berbagai alasan, akhirnya terpaksa mengubur keinginanku untuk kuliah.  Karena aku pikir kondisi keuangan keluarga tak memungkinkan. Meski papa tetap  semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu menjelang Idul Fitri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diary, aku baru saja  bilang sama papa, bahwa hubunganku dengan Mas Rahadi nggak mungkin kalau harus  kandas begitu saja. Jangan sampai cinta suciku terganjal sebuah keinginan orang  tua yang senantiasa mengusung prestise. Aku malu. Betul-betul aku malu, diary.  Gimana nggak, itu kan hal-hal yang seharusnya tak perlu terjadi pada sebuah  keluarga aktivis sepertiku. Aku hampir saja putus asa, bahkan patah arang, kalau  saja aku tak punya keimanan. Untung Mas Rahadi selalu membantuku menyelesaikan  masalah-masalah yang aku hadapi. Aku terkesan dengan omongannya, bahwa manusia  hidup itu senantiasa memiliki masalah. Meski dalam kadar yang berbeda tiap  individu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diary, tahu nggak yang aku bilang sama papa?  Kata-kataku itu membuat papa mengamuk hebat dan bahkan memaki-maki aku. Habisnya  aku kesal. Papa selalu berlindung di balik pernyataan sayang. Dia bilang, aku  adalah anak yang paling disayanginya. Tapi faktanya, ternyata aku malah  menderita dengan sikapnya yang sebenarnya menurutku egois. Papa hanya mencintai  dirinya sendiri. Terbukti ketika aku memohon untuk meluluskan permintaanku untuk  menikah dengan Mas Rahadi, beliau menolaknya dengan berbagai alasan. Saking  kesalnya, aku bilang begini sama papa, “Pa, Nuri tahu kalau Papa memang sangat  menyayangi Nuri. Menyayangi lebih dari saudara yang lain. Entah atas dasar apa  papa menyayangi Nuri. Apa karena Nuri anak baik-baik? Nuri masih  meragukan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diary, Papa begitu marah. Terlihat wajahnya merah menyala.  Tapi ia hanya diam. Diam menahan amarah. Mungkin juga dilematis, karena ternyata  justru anak kesayangannya yang berkata seperti itu. Kata-kata yang sepertinya  menikam tepat di nyawanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bilang lagi, “Kalau memang Papa  benar-benar menyayangi Nuri, coba tunjukkan rasa kasih sayang itu dengan nyata.  Papa sedih nggak kalau Nuri menderita? Pasti sedih kan, kalau memang benar-benar  menyayangi. Nah, Papa harus tahu, justru Nuri sedih dengan sikap Papa seperti  itu. Nuri menderita. Sepertinya Papa sayang sama Nuri hanya sebagai lipstik saja  karena sebenarnya Papa lebih cinta pada diri papa sendiri. Papa lebih sayang  sama diri Papa sendiri. Mungkin Papa takut kehilangan muka bila Nuri harus  menjadi pendamping Mas Rahadi. Iya, Pa? Iya kan Pa? Atau.. karena Papa terlalu  sayang sama Nuri, sehingga Papa khawatir bila ada orang lain yang mau menyayangi  Nuri, mau membimbing Nuri merebut hak Papa dalam menyayangi Nuri? Benar nggak,  Pa? Bila demikian, Nuri sama sekali nggak nyangka kalau ternyata di jaman yang  serba modern ini masih hidup orang-orang kuno seperti Papa.  Dan....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Diam!” suara Papa menghentikan ocehanku, diary. Aku takut  melihat mata Papa yang melotot ke arahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pa..” aku mencoba meneruskan  meski agak takut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Plak!’ pukulan tangan kanan Papa tepat mengenai pipi  kiriku, diary. Diary. aku meringis dan menangis. Menangis karena ternyata yang  memukul adalah papaku sendiri, yang katanya sangat menyayangi. Aku jadi nggak  percaya sama papa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diary, aku berlari menuju kamarku. Aku tahu papa  kelihatannya menyesal. Namun aku berusaha untuk tetap mengunci diri di kamar.  Diary, papa mengetuk-ngetuk pintu sambil memohon maaf. Tapi aku tetap tak mau  membuka pintu. Bahkan semakin membenamkan mukaku ke bantal. Kutumpahkan semua  kekecewaan ini. Pokoknya kecewa berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diary, hari ini hari bahagia. Idul Fitri. Aku masih trauma dengan kejadian  beberapa hari lalu yang tentu saja menimbulkan kekakuan hubunganku dengan papa.  Hambar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama memang cenderung tak mau tahu dengan kejadian beberapa hari  yang lalu. Apalagi memang mama sangat nggak peduli sama aku. Hanya karena  gara-gara aku menyukai Mas Rahadi. Yang mungkin menurut Mama adalah salah. Yang  bisa dikatakan itu adalah kesalahan berat. Ibarat pemain sepak bola. Aku  kayaknya sudah melakukan pelanggaran keras, hingga berhak menerima kartu merah.  Ah, aku sendiri jadi serba salah. Siapa sebenarnya yang salah, aku ataukah  mereka, atau malah Mas Rahadi? Otakku berputar keras bagai sebuah hardi disk  komputer yang harus memproses file ukuran raksasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diary, hari bahagia  yang seharusnya menjadi hari kasih sayang dalam keluarga, ternyata bagiku tak  beda dengan masa-masa sulit yang biasa aku terima sejak aku memilih Mas Rahadi  sebagai calon pendamping hidupku. Ah, entahlah diary. Aku kok seperti kehilangan  semangat hidup. Gairah hidupku lenyap begitu saja ketika aku harus menghadapi  semuanya sendirian. Aku gamang. Meski belakangan aku ceritakan juga masalah ini  kepada Mas Rahadi. Ajaib, Mas Rahadi mau ngerti soal ini. Ia malah memberikan  pemecahan yang terus terang saja menerbitkan sebuah harapan. Tidak saja itu, ia  mampu memberikan semangat kepadaku untuk tetap hidup dan berdakwah. Ah, memang  lain Mas Rahadi ini. Tapi sayang, hati papa dan mama masih sulit untuk  diluluhkan. Hati mereka masih tegar kokoh dengan segala keinginannya yang hampir  menenggelamkan harapan-harapanku, juga harapan kakak-kakakku. Ah, papa dan mama  memang egois, diary. Betul-betul egois. Aku jadi iri dengan beberapa orang tua  sohibku. Mereka kok kayaknya bijaksana banget dengan keinginan-keinginan  anaknya. Keinginan yang wajar tentunya. Ah, semoga papa dan mamaku demikian  pula. Aku berharap semoga papa dan mama menyadari kekeliruannya selama ini. Aku  tetap menghormati mereka, meski tak semua keinginannya aku penuhi, terutama  keinginan-keinginan tak wajarnya. Seperti mempersulit aku untuk menikah dengan  Mas Rahadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diary, kalau memang papa dan mama sayang sama aku, tentu  sudah sejak lama ia memberikan harapan terhadap keinginan-keinginanku. Papa dan  mama memang egois, diary. Kayak mereka nggak pernah muda aja, ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diary,  aku capek mengikuti kemauan mereka yang aneh-aneh dan tak masuk akal. Tapi suatu  saat aku harus mampu membuat mereka berpikir, bahwa sebenarnya akupun bisa  berbuat banyak untuk urusan ini. Kenapa aku cenderung nrimo akhir-akhir ini, itu  karena aku ingin menunjukkan sikap hormatku pada mereka. Namun, kelihatannya  sikap lemahku itu hanya membuat papa dan mama merasa ada di atas angin. Merasa  menemukan jurus-jurus ampuh untuk memojokkanku. Hingga aku diharapkan tak bisa  mengelak lagi dan harus ikut dengan kemauan papa dan mama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diary, hari  ini aku ulang tahun. Tepat di usiaku yang ke dua puluh dua. Aku bahagia. Tentu  saja, karena ini adalah hari bersejarah bagiku. Aku tetap menyalakan sebuah  harapan dalam hatiku. Harapan yang senantiasa menjadi obsesiku. Tak ada ucapan  atau bingkisan dari papa dan mama. Aku tahu mereka sangat kecewa dengan  keputusanku selama ini dalam memilih Mas Rahadi sebagai calon pendamping  hidupku. Ya, calon, karena papa pernah mengatakan setuju dengan pilihanku, meski  dengan syarat. Tiga tahun, baru boleh menikah. Berat memang. Namun aku dan Mas  Rahadi tetap berharap waktu itu tak begitu lama. Setahun adalah waku normal yang  kuinginkan. Semoga papa dan mama mau mengerti keinginanku. Keinginan yang  menurutku adalah wajar, bila kejadian terdahulu yang menimpa kakak-kakak  perempuanku tak ingin terulang. Meski aku nggak ingin itu terjadi padaku. Tapi  mungkin dalam bentuk lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, kalau memang papa dan mama sayang sama  Nuri, diary. Mereka pasti sudah menyambut kehadiran Mas Rahadi sebagai  menantunya. Ya, mungkinkah itu terjadi? Setidaknya itulah harapanku, diary.  Kira-kira menurutmu, diary, papa dan mama akan meluluskan keinginanku nggak?  Kalau nggak, aku sangat kecewa sama mereka. Dan aku tetap menderita atas  sikapnya yang sok menyayangi aku. Ya, kadangkala sebagai anak, aku harus  menerima perlakuan yang tak wajar. Papa dan mama selalu berlindung di balik  alasan "demi kebahagiaan kamu”. Seolah kalimat itu dijadikan tameng untuk  menentramkan pikiranku. Yang sebenarnya justru membuatku semakin gelisah dan  menderita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diary, Mas Rahadi hari ini datang menemuiku dan mengucapkan  selamat ulang tahun dalam bentuk lain. Aku merasakan ini adalah ekpresi kasih  sayang Mas Rahadi padaku. Tentu aku bahagia. Karena belum pernah ada seorang  lelaki yang memberikan ucapan itu sebelumnya di hari bahagiaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diary,  aku cukupkan sampai sini dulu ya. Yang jelas harapanku tetap besar untuk menjadi  pendamping hidup Mas Rahadi. Siapa tahu catatan ini nanti bisa dibaca sama papa  dan mama. Moga-moga juga mereka mau ngerti penderitaan dan  keinginan-keinginanku. Semoga, ya diary?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4523739979911660558-5140315496386050836?l=cintaku-loveme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/feeds/5140315496386050836/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/2008/05/sebuah-harapan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4523739979911660558/posts/default/5140315496386050836'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4523739979911660558/posts/default/5140315496386050836'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/2008/05/sebuah-harapan.html' title='Sebuah Harapan'/><author><name>my love</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03585437615001367745</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1UvEn9BN05M/Smle78z0p2I/AAAAAAAAAPk/-R5VUz4OxWs/S220/Foto091.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4523739979911660558.post-895401123123860835</id><published>2008-05-13T02:34:00.000-07:00</published><updated>2008-05-13T02:40:59.799-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah cinta'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;font-size:180%;" &gt;KISAH SABRINA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabrina Nur Laily. Sabrina cahaya malam. Ah, cocok sekali namanya. Ia memang bersinar, tapi sinarnya tak menyilaukan. Aku pertama kali mengenalnya saat masa orientasi mahasiswa baru dan penataran P4. Seluruh mahasiswa baru dikumpulkan, lalu dibagi dalam beberapa kelompok dan regu. Aku satu regu dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabrina, anak dari Fakultas Teknik itu, ternyata pandai berdebat. Diskusi dalam regu lebih mirip pertarungan satu lawan satu antara aku dan dia. Yang lain berfungsi sebagai penonton. Yang berpikir-pikir akan memihak aku atau dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku nggak setuju sama Pancasila. Memang dia itu apa? Agama? Ideologi yang benar itu Islam." Gadis yang selalu memakai rok dan jilbab lebar itu berkata penuh semangat. Aku melirik ke semua anggota regu. Untungnya kita muslim semua. Kalau tidak, wah bisa rame nih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya. Tapi Indonesia itu Bhinneka Tunggal Ika. Ada lima agama yang diakui negara. Pancasila berfungsi mempersatukan perbedaan-perbedaan itu. Indonesia bukan negara agama." Aku pun tak kalah bersemangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah awal perseteruan kami. Aku si Pembela Pancasila dan Sabrina si Pejuang Islam. Sabrina pasti jenis Islam yang "begitu", pikirku. Aku tidak menemukan definisi yang tepat dengan "begitu" yang aku maksud. Masa itu jumlah jilbaber masih sedikit sekali. Jadi jilbaber identik dengan Islam yang "begitu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hukum negara itu buatan manusia. Nggak mungkin adil. Hukum Allah yang paling adil. Syariat Allah harus ditegakkan." Seperti biasa, Sabrina berapi-api. Eitss, biar masih culun begini, aku sudah resmi jadi mahasiswa Fakultas Hukum. Baru tadi pagi kartu mahasiswanya dibagikan. Aku mulai terbakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Keadilan? Di Pancasila juga ada. Nggak inget ya? Sila kelima." Aku menyindir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hukum itu tergantung dimana dia diletakkan. Hukum turut mengakomodasi budaya dan adat setempat. Maka itu ada hukum adat. Kalau disahkan, ia jadi hukum yang mengikat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau begitu, hukum sifatnya relatif?" tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya. Seperti di Amerika Serikat, negara federal. Setiap negara bagian mempunyai hukum sendiri-sendiri yang berbeda dengan negara bagian lain. Yang penting hukum disepakati dan disahkan." Uhh, gayaku menerangkan layaknya pengacara kondang saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau relatif, dimana letaknya keadilan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Keadilan itu ketika setiap orang berusaha menegakkan hukum-hukum yang berlaku di wilayah tersebut." Aku menangkis pertanyaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sumber hukumnya apa? Darimana?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sumber hukumnya banyak. Hukum yang sudah berlaku sebelumnya, adat, norma, kebiasaan yang ada di wilayah tersebut. Kalau di Indonesia, nggak perlu ditanya. Kan baru kemarin materinya. Ada Pancasila, UUD 1945, UU, dan yang lainnya. Kamu kemarin pasti nggak nyimak deh!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Memang yang menciptakan Pancasila siapa?" Sabrina tetap memburu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Uh pakai nanya. Kalimat retoris. Aku nggak mau jawab!" tukasku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau yang jadi sumber hukum saja buatan manusia, bagaimana mungkin bisa tercipta keadilan? Sumber hukum hanya Al Quran dan Sunnah." Suara Sabrina melunak. "Dari kedua sumber hukum itu, bisa ditarik berbagai macam hukum yang berkaitan dengan kehidupan manusia. Hukum masalah ibadah maupun hukum dalam hubungan antar manusia. Kalau mau diteliti lebih lanjut, ada banyak hikmah dibalik hukum-hukum Islam. Seperti qishash, potong tangan, rajam. Memang perlu waktu untuk memahaminya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam, yang lainnya juga. Sabrina melanjutkan. "Hukum di Indonesia hanya mengakui yang sudah tertulis. Hukum Pidana secara formal adalah peninggalan Belanda. Dengan kata lain sebenarnya untuk kasus pidana tidak ada yang berdasarkan adat atau kebiasaan setempat. Sedangkan hukum Islam itu universal, berlaku untuk siapa saja. Mencakup segala segi kehidupan, baik kehidupan pribadi, keluarga, maupun masyarakat. Pokoknya komplit. Kesimpulannya Pancasila nggak pantas jadi sumber hukum karena buatan manusia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya anak Teknik yang satu ini pintar berceloteh tentang hukum. Jangan-jangan Sabrina salah masuk jurusan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh, nanti dulu. Pancasila itu pemersatu dari Indonesia yang heterogen. Jangan lupa kemajemukan kita," aku menukas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya nih Sabrina. Bagaimana dengan agama lain. Kita nggak boleh egois begitu," ujar salah satu teman seregu menimpali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Islam itu rahmatan lil 'alamin. Islam pemersatu dan melindungi agama-agama lain. Contoh kongkritnya ada di masa Rasulullah dan kekhalifahan Islam." Sabrina tak mau kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, sudah nggak usah bawa-bawa agama deh! Sabrina tuh aliran Islam fundamentalis ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak usah ribut-ribut. Pokoknya ditulis, dikumpul, dapet A. Beres!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bener tuh! Ribut amat sama Pancasila. Gue kagak ngarti dah. Bukan urusan gue."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serentet komentar meluncur keluar dari bibir teman-teman seregu. Dari tadi mereka bungkam, sibuk mengunyah snack yang dibagikan panitia penataran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu yang tersisa tidak banyak lagi. Hasil diskusi harus segera dikumpulkan. Semua sependapat denganku, kecuali Sabrina. Aku bersemangat merangkai kata hasil diskusi. Salah satu teman mencatat perkataanku. Kami tidak memperdulikan Sabrina yang duduk diam memperhatikan kami. Hahaha, aku merasa di atas angin sekarang. 1-0 pikirku. Yang banyaklah yang menang. Namanya juga demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya Sabrina orangnya enak diajak bicara. Pikirannya cerdas. Kadang aku mencoba memulai percakapan ringan. Tapi sayang, kami terlanjur saling beroposisi. Layaknya Tom &amp;amp; Jerry. Geram sekali aku kalau melihat Sabrina tetap teguh pada pendiriannya. Padahal jelas-jelas dia kalah. Satu regu mana ada yang mendukung pendapatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Keras kepala! Egois!" desisku sambil melotot. "Akui saja kekalahanmu Sabrina."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini bukan soal menang atau kalah. Pijakanku kuat, landasanku kokoh. Hati-hati, justru kamu yang akan jatuh. Toh aku tidak pernah memaksakan pendapatku pada siapa pun. Kamu bebas. Mau tetap berpendapat seperti itu, itu urusanmu." Gayanya seperti orang yang acuh tak acuh. Huh sombong, pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehabis masa orientasi dan penataran P4, praktis aku hampir tak pernah bertemu lagi dengan Sabrina. Jarak antar fakultas di kampusku lumayan jauh. Cukup lumayan kalau berjalan kaki. Dan lagi, aku tidak punya urusan yang mengharuskanku ke gedung Fakultas Teknik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima semester kemudian, aku mulai memahami apa yang pernah Sabrina ucapkan. Aku bukan lagi si Pembela Pancasila. Tapi tak cocok juga disebut Pejuang Islam. Pergaulanku mulai merambah ke mushola dan masjid kampus. Daus, temanku satu jurusan, yang menculikku dan menceburkan aku ke kehidupan bernuansa Islami. Isi otak Daus tak berbeda jauh dengan Sabrina. Jenis Islam yang "begitu". Bedanya, Daus sabar meladeni sikapku. Dia selalu saja bisa mematahkan serangan argumenku yang membara. Pemahamanku tentang Islam mulai bergerak perlahan. Merayap, merangkak, dan tertatih-tatih. Aku paham sekarang. Ternyata akulah si egois dan keras kepala itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Universitas akan mengadakan perhelatan akbar. Forum silaturahmi antara mahasiswa muslim seluruh Indonesia. Daus menyeret aku ke dalam kepanitiaan. Jadilah aku di seksi transportasi. Lebih tepatnya, aku jadi sopir yang siap mengantar panitia untuk mengurus segala macam urusan kesana kemari. Untuk sementara, selama aku di kampus, Audi A4 merah milikku jadi aset panitia. Kalaupun aku sedang ada jam kuliah, mobilku boleh dipakai anak lain untuk urusan penting. Tentu saja dengan pendahuluan wejangan berhati-hati plus ancaman kalau ada apa-apa dengan si Audi tersayangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sabrina," ucapku lirih melihat sosoknya. Aku baru melihatnya di rapat kali ini. Rapat yang lalu ia tak muncul. Ia bertugas sebagai koordinator seksi yang harus menghubungi universitas se Jakarta. Seusai rapat aku menyapanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sabrina, apa kabar? Masih ingat aku?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibirnya membentuk lengkung indah bak pelangi terbalik. "Alhamdulillah. Kabarku baik. Bagaimana kabar si Pembela Pancasila?" Kami tertawa bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, jangan begitu. Aku juga baik-baik. Aku mau minta maaf atas semua yang dulu-dulu. Aku mengaku kalah. Ternyata kamu yang benar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak ada yang kalau atau menang. Memangnya siapa yang bikin pertandingan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hahaha. Ya....siapa ya? Eh...bagaimana kuliahmu?" Aku balik bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lancar-lancar semua. Sekarang lagi banyak tugas. Kamu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lagi getol-getolnya belajar. Aku nggak mau kalah sama anak Teknik yang ngerti Hukum. Betul nggak?" godaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Semangat belajarnya bagus. Cuma, apa di otak kamu nggak ada persoalan lain selain menang dan kalah?" Aku tergelak tapi tak menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu panitia juga?" tanyanya. Kujawab dengan anggukan. "Kalau begitu selamat bekerja. Sukses ya!!!" katanya. Sedetik kemudian ia sudah berlari menyusul temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kali Sabrina dan timnya harus mendatangi kampus-kampus di seputar Jakarta. Posisi di bagian transportasi mengharuskanku mengantarnya. Dengan senang hati aku menjalankan tugas. Kami selalu pergi beramai-ramai. Aku mulai bisa menangkap sisi lain dari Sabrina. Orangnya lumayan kocak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menoleh dengan cepat. Ujung bola mataku menangkap sekilas sosok Sabrina. Yah, itu memang dia. Meski dari belakang setiap akhwat tampak serupa, tapi kuyakin itu ia. Lambaian ujung jilbabnya. Sosok tubuhnya. Caranya mengayunkan langkah. Aku jadi kaget sendiri. Sebegitu dalamkah Sabrina tersimpan dalam memoriku? Acara akbar itu telah usai. Aku tak pernah lagi bertemu Sabrina. Kecuali beberapa kali aku melihatnya dari kejauhan saat aku sedang sholat di masjid kampus. Seperti saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terpekur diam. Sekilas tampak bagai orang sedang berzikir. Tapi tidak. Tepatnya aku sedang melamun. Bingung. Aku dilanda penyakit aneh. Satu saat aku merasakan ekstasi. Perasaan melayang yang bergelora. Kadang-kadang ada sedikit rasa nyeri di dada, lalu seperti dikerumuni semut-semut kecil, dan ada rasa nyaman yang mengalir ke seluruh tubuh. Tidak jarang pula aku senyum-senyum sendiri. Semua karena sebuah nama. Sabrina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tak bagai bidadari. Bidadari seperti apa wujudnya aku juga tidak tahu. Yang pasti ia jauh dari sosok Cindy Crafword, apalagi Pamela Anderson. Hahhh?? Ngaco pikiranku. Apa miripnya. Kalau Cindy Crafword pakai jilbab, yah....agak-agak mirip juga dengan Sabrina. Yang mirip...jilbabnya. Wah! Pikiranku makin tak karuan. Cantik? Cantik itu relatif, kata banyak orang. Jaman Renaissance, cantik identik dengan tubuh besar dan pipi tembem berisi. Masa sekarang, cantik adalah ramping bak sosok boneka Barbie. Bagiku dia cantik. Sorot matanya tajam tapi teduh, alisnya tebal, bulu matanya lentik, bibirnya merah. Belum lagi ia cerdas dan wawasannya luas. Yah, dia memang tak seperti bidadari. Tapi, urusan jatuh cinta kan tidak ada hubungannya dengan sosok bidadari. Uppsss!!! Apa kataku tadi? Jatuh cinta?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku termangu-mangu dalam posisi bersila. Sebuah tepukan hangat mendarat di punggungku. "Hei jangan melamun!" Aku menoleh. Ternyata Daus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah sholat?" Aku mengangguk. "Aku cari-cari kamu kemana-mana. Rupanya sekarang kamu lebih sering sholat di masjid kampus daripada di mushola fakultas." Daus memandang lekat ke mataku. "Ada apa? Ceritalah. Aku melihat sesuatu di matamu." Daus ini, firasatnya memang tajam. Selalu tahu kalau aku sedang ada yang dipikirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Puyeng nih!!" kataku mendengus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Just tell me. I'll be a shoulder to  cry on," Daus nyengir sambilmenepuk-nepuk pundaknya  sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Huuu....Kapan aku pernah nangis di pundakmu? Eh aku lapar nih!  Kita makan yuk, sambil cerita. Tenang saja, kutraktir."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini tujuan  kami adalah restoran bakmi langgananku yang lokasinya tidak terlalu jauh dari  kampus. Setelah sampai, memesan makanan dan minuman, barulah aku pada kondisi  siap menumpahkan perasaanku. Daus duduk di depanku. Genggaman tangannya menopang  dagunya yang ditumbuhi jenggot, dan sikunya menjadi tumpuannya. Aku hafal  gayanya. Ia siap "to be a shoulder to cry on". Lalu tumpah ruahlah semuanya.  Mulai saat perjumpaanku pertama kali dengan Sabrina, hingga rasa yang melandaku  akhir-akhir ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai aku bercerita Daus tertawa. "Hahaha, sobatku  ternyata terkena virus merah jambu." Namun, begitu tawanya selesai, Daus menatap  mataku dalam-dalam. "Kamu serius sama Sabrina?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Serius?" tanyaku  mengernyitkan dahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu jatuh cinta sama dia? Kamu serius?" tanyanya  lagi.Aku menarik nafas dalam lalu menghembuskannya lagi. "Jatuh cinta.....ya!  Serius......mmm....apa maksudmu dengan serius?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Serius ya serius. Kalau  kamu serius, sudah cepetan nikah saja!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hahh?! Nikah? Belum pernah ada  sejarah dalam keluargaku anak ingusan semester lima mau nikah," tukasku. "Kalau  kasih saran yang rasional dong!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kurang rasional apa lagi? Kalau sudah  punya perasaan macam begitu, daripada macam-macam, lebih baik nikah saja.  Terhindar dari zina, halal pula."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu ngomong begitu 3 tahun lagi.  Pasti akan langsung kulamar dia. Kalau sekarang? Nggak mungkin!" Kusulut  sebatang rokok untuk meredakan kekalutanku. Daus sudah sering memperingatkanku,  "Awas kalau asapnya sampai terhisap olehku. Itu namanya sudah menzholimi orang  lain. Aku tuntut kamu nanti di Yaumil Akhir." Betapa seram ancaman Daus.  Daripada berdebat, daripada dituntut di akhirat, biasanya aku memilih tidak  merokok di hadapannya. Tapi kali ini lain. Tumben, Daus tidak melarangku  merokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi, apa maumu sekarang?" tanya Daus. Bahunya bersandar ke  kursi, menjauh dari kepulan asap rokokku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku menerawang. "Aku nggak  tahu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bakmi pesanan kami datang. Tapi, aku tidak lagi berselera.  "Memangnya tidak boleh kalau aku jatuh cinta? Apa jatuh cinta itu dosa?" ucapku  setelah menyedot jus alpukat yang langsung habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak. Tapi cinta  perlu dimanajemen agar tidak berubah menjadi dosa. Kita yang harus menguasai  cinta. Bukan cinta yang menguasai kita."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku toh tidak berbuat apa-apa.  Bagaimana akan jadi dosa? Gini-gini aku masih bisa membedakan mana yang dosa dan  mana yang tidak." Sifat keras kepalaku mulai keluar. Daus diam, sibuk dengan  bakminya. Kini aku menyulut batang ke dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku akan bilang perasaanku  ke Sabrina. Berani taruhan berapa? Aku yakin dia pasti akan jadi  kekasihku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daus mendongak. "Eh, apa maksudmu? Jangan macam-macam dengan  Sabrina."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah lihat saja," kataku mencibir. "Cepat atau lambat, Sabrina  pasti aku dapatkan."Daus menarik nafas panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu lupa bahwa tidak  ada pacaran dalam Islam?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masih ingat. Tapi, kalaupun aku pacaran dengan  Sabrina, pasti nggak akan terjadi apa-apa. Percaya deh. Memang mau ngapain sih?"  kataku meyakinkan Daus. Daus lalu berceloteh tapi tak lagi kudengarkan.  Ditelingaku suaranya lebih mirip nenek-nenek nyinyir yang bicara tanpa koma dan  titik. Sedang pikiranku melayang-layang......kepada Sabrina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari  selanjutnya aku melancarkan aksi pedekate alias pendekatan. Aku semakin rajin  sholat di masjid kampus, walau sebenarnya jaraknya tidak dekat dari fakultasku.  Biasanya kutunggu sampai Sabrina and the gank selesai dari sholat. Lalu aku  lewat di depan mereka, menyapa Sabrina dan mengajaknya ngobrol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu  siang yang terik, saat aku mengemudikan mobil keluar dari kampus, aku melihat  Sabrina berdiri di halte bus. Sendirian. Wah kesempatan nih, pikirku.  Kulambatkan mobil dan kuturunkan jendela kiri dari panel dekat persneling.  Mobilku berhenti tepat di sampingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai Sabrina, mau kemana?" sapaku  nyengir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mau pulang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayo ikut aku sekalian. Aku antar deh  sampai di rumah." Aku mencoba menawarkan tumpangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terima kasih. Tapi  nggak usah repot-repot. Eh....dari jauh itu sepertinya bisku. Aku naik bis  saja." Tangannya menunjuk ke arah belakang. Mataku melirik ke kaca spion yang  tergantung di depan. Tak tampak bis di sana. Kubuka pintu mobil dari dalam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mana bisnya? Daripada panas-panas naik bis, lebih baik sama aku. Aku  siap kok mengantar Sabrina kemana saja." Kukeluarkan jurus-jurus  rayuanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak deh. Makasih tawaran kamu. Tapi aku nggak  bisa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayo masuk. Kamu kepanasan tuh!" Kulihat diatas alisnya ada  butir-butir keringat mengucur. Sabrina tak bergeming.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa sih kamu?"  tanyaku mulai tak sabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf, aku nggak  bisa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku nggak mau berdua saja dengan kamu di dalam  mobil. Kecuali seperti dulu. Kita beramai-ramai dan pergi memang ada keperluan.  Maaf. Aku naik bis saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata dia masih saja tetap teguh kalau punya  pendirian. Sabrina tidak berubah. Aku mengatupkan gerahamku. Kesabaranku habis  sudah. Kubanting pintu mobil lalu kularikan Audiku dengan suara menderu. Huh!  Beraninya dia menolak tawaranku. Aku mendidih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok harinya, di kampus,  begitu bertemu Daus, langsung saja kutumpahkan kekesalanku. Kuceritakan kejadian  kemarin bersama Sabrina. Daus malah nyengir sambil geleng-geleng kepala. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu yang salah. Sabrina kok dirayu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho?! Aku hanya  menawarkan diri mengantar dia pulang. Apa salahnya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jelas dong. Dia  nggak mau berduaan di mobil sama kamu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siang-siang bolong. Memangnya  aku mau ngapain sama dia? Apa aku ada tampang pemerkosa?" Aku tambah  kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan begitu. Dan tidaklah perempuan dan laki-laki berduaan tanpa  disertai muhrimnya, melainkan yang ke tiga adalah syetan." Daus mulai  berkhotbah. "Islam mengajari untuk menutup segala kemungkinan sejak awal.  Sabrina pastitahu hal seperti itu. Dia menolak naik mobil berdua kamu untuk  mencegah segala macam hal."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa sih yang harus dicegah? Apa salahku?  Kamu nggak percaya sama aku?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau Sabrina kemarin mau diantar, pasti  kamu nggak akan berhenti sampai di situ kan?" tanya Daus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hehehe...iya  dong! Kalau dia mau, tiap hari kuantar dan kujemput juga  boleh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hmm....dan kalau Sabrina juga mau diantar dan dijemput tiap  hari?" Tanya Daus lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berarti tinggal satu langkah lagi dan dia akan  jadi pacarku," kataku penuh nada kemenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pacar? Ngaco kamu!" Mata  Daus membelalak. "Pacaran itu mendekati zina."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku janji deh akan  menjaga Sabrina sebaik-baiknya. Aku kan sayang sama dia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa kamu  yakin?" Kening Daus berkerut. "Kamu yakin bisa mengatasi keinginan untuk saling  berdekatan? Kamu yakin nggak ada dorongan dalam diri kamu untuk menggandeng  tangannya? Kamu yakin bisa mengatasi nafsumu ketika hanya berdua, nggak ada  orang lain, sedang kamu ingin menciumnya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam, berpikir sebentar.  "Suer deh. Dia nggak akan kusentuh. Paling banter kita jalan-jalan ke mal,  ngobrol-ngobrol." Aku berusaha meyakinkan Daus kalau aku pacaran dengan Sabrina  pasti tidak akan ada apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oke. Satu tahun mungkin bisa seperti itu.  Tapi, tahun ke dua pacaran, tahun ke tiga? Katanya tiga tahun lagi baru mau  nikah. Selama tiga tahun pacaran itu....beneran nih kamu sanggup? Yakin nih  sama-sama cinta sudah tiga tahun pacaran bisa tahan cuma liat-liatan?" Daus  menepuk pahaku. "Yakin nih? Ayolah, aku juga laki-laki. Jangan sok kuat  iman."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bungkam tak bisa menjawab  pertanyaan-pertanyaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau aku sih pilih cara paling aman. Nikah,  terus bebas ngapain aja sama istri. Kalau belum mampu nikah, ya puasa." Daus  terkekeh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmmm....sekarang saja rasa kangennya pada Sabrina sudah  merambat ke ubun-ubun. Kalau lihat dia tersenyum atau cemberut rasanya jadi  gemas. Lalu bagaimana kalau pacaran? Benarkah aku sanggup tidak menyentuhnya  sama sekali? Bahkan sekadar mengandengnya saat menyeberang jalan misalnya. Aku  mulai ragu pada diriku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kupeluk ia dengan sepenuh buncahan  rindu, namun terobatikah rindu setelah itu? Kukecup bibirnya demi melampiaskan  tuntutan hati, namun ia justru semakin menjadi-jadi. Sepertinya kegelisahan jiwa  tak bakal terobati. Selain jika dua ruh itu bersatu padu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daus  membacakan syair Ibnu Ar Rumi yang terkenal itu. "Percuma kalau pacaran. Dua ruh  bersatu padu itulah pernikahan. Jangan nanggung friend!" kata Daus. "Masih punya  niat mau pacaran?" Daus meninju bahuku, pelan. "Yakin Sabrina mau sama kamu?  Ngaca dulu sana!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tampang oke, otak encer, tongkrongan yahud begini apa  yang kurang?" kataku pede.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sabrina nggak butuh cowok macem begitu. Kamu  baca Al Quran tajwidnya masih belum beres. Makhrojnya juga masih belum tepat.  Lancar juga enggak. Beresin dulu tuh. Makanya jangan suka males kalau diajak BBQ  sama anak-anak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayo deh! Kalau begitu sekarang juga aku mau belajar,"  ujarku bersemangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Deuuu....segitu semangatnya," goda  Daus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdebat dengan Daus memang percuma, karena dia memang benar. Dasar  aku yang susah dinasehati. Kupikir, bodoh juga aku. Mana mungkin Sabrina mau  diajak pacaran. Ah, kalau sedang dilanda cinta, akal pun sulit diajak  kompromi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Heh!" Daus menepuk lenganku keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wadawwww!! Apaan  sih bikin kaget begini?" protesku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu Pak Sugito udah keluar dari ruang  dosen. Kita kan sekarang ada kuliahnya dia. Keasyikan ngobrol jangan sampai lupa  kuliah dong!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Memang sekarang sudah jam berapa?" Aku melirik Rado di  pergelangan tanganku. "Hahh iya! Udah jamnya. Cepetan lari. Nanti duluan Pak  Sugito masuk kelas bisa-bisa kita nggak boleh masuk."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku dan Daus  terbirit-birit lari menuju kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hilang sudah keinginanku untuk memacari Sabrina. Sudah pasti ditolak! Akupun  mulai paham mengapa Islam melarang sesuatu hal. Setelah dicermati, ternyata  besar sekali hikmah yang tersimpan di balik dilarangnya sesuatu. Waktu makan  siang biasanya aku habiskan untuk diskusi dengan Daus, tentang banyak hal. Aku  juga mulai rajin ikut kajian dan BBQ (Belajar Baca Quran). Bukan sekadar ber-say  hello dengan anak-anak Rohis seperti yang dulu aku lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaanku  kepada Sabrina, tentu masih ada. Rindu itu sering menggelitik. Terkadang sebuah  senyum dan seraut wajah terlukis di dinding ruang kelas atau kamarku. Tapi,  seperti kata Daus, perasaan itu harus dimanajemen. Aku tak lagi menuruti hawa  nafsu mencari-cari kesempatan bertemu Sabrina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kejauhan, tampak Daus  menuju ke arahku dengan berlari-lari. Saat itu aku sedang di mushola sambil  mengerjakan paper. "Sabrina...!!" Nafas Daus terengah-engah. Tersentak aku,  mendengar nama dia disebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa Sabrina?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sabrina  kecelakaan!!" ujar Daus dengan nafas satu-satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hahh?! Yang benar kamu?  Di mana?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di halte depan kampus. Dia terseret dan jatuh waktu mau naik  bis."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajahku pucat, kehilangan sebagian darahnya dan kehilangan  kata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayo cepat! Kita antar ke rumah sakit."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan  membereskan kertas-kertas dan memasukkannya dengan terburu-buru ke dalam  ranselku. Aku, Daus, dan dua orang teman lagi yang ikut mendengar berita ketika  di mushola, berlari menuju Audiku. Begitu kustarter, langsung kutancap gas  menuju halte.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di halte, masih banyak orang berkerumun. Di aspal ada  ceceran darah segar. Masya Allah, jeritku dalam hati. Aku tak sanggup  membayangkan bagaimana keadaan Sabrina. Ternyata Sabrina sudah dibawa ke rumah  sakit. Tanpa buang waktu lagi, kami menyusul ke rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabrina  sedang berada di ruang ICU. Kami duduk di ruang tunggu. Sahabat Sabrina terlihat  sangat shock. Ia menangis sesenggukan. Di sampingnya, beberapa akhwat sedang  merusaha menenangkannya. Ingin rasanya aku mendobrak pintu ruang ICU untuk dapat  melihat kondisi Sabrina. Parahkan ia? Masih sadarkah ia? Namun aku tak punya  kekuatan lagi.Aku hanya sanggup terduduk lemas. Daus berbisik di telingaku,  "Berdoa! Terusberdoa!" Aku menurut. Mulutku komat kamit. Mengucap segala  permohonan untuk Sabrina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang laki-laki berbaju putih keluar dari  ruang ICU. "Teman kalian kekurangan banyak darah. Siapa di sini yang golongan  darahnya A?" Aku mengacungkan jari, juga beberapa teman yang lain. "Kami minta  kesediaannya untuk bisa menyumbangkan darahnya. Keadaannya sangat kritis. Tulang  rusuk, tulang panggul, dan beberapa persendian patah. Di otaknya terjadi  pendarahan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara dokter itu terdengar sayup-sayup di kupingku.  Pandanganku kabur. Pikiranku kalut membayangkan kondisi Sabrina."Ya Allah,"  bathinku menjerit. "Tolong selamatkan dia. Jangan Kau ambil nyawanya. Aku  sungguh mencintainya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh.....Andai Sabrina tahu apa yang tersimpan di  dalam hati ini. Sabrina, mengertikah kau sebesar apa cintaku padamu. Sebesar  bumi yang kita pijak. Seluas alam semesta. Dan sebesar cinta itu sendiri tanpa  batas. Sabrina, sadarkah kau sedalam apa sesungguhnya gejolak rasa ini. Sedalam  kau gali bumi ini hingga ke belahan bumi yang lain. Sedalam hati ini. Dan  sedalam kau pikir kau sanggup bayangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabrina, andai kau tahu seperti  apa getaran ini menyelimutiku. Jika kau terengah, aku bersedia serahkan nafasku.  Jika kau terguncang, aku rela menjadi pijakanmu. Jika kau sekarat, aku mau  berikan nyawaku, jiwaku, dan sepanjang urat nadiku. Andai boleh, aku ingin  berada di sampingmu. Mengalirkan kehidupan kepadamu. Baru saja aku selesai dari  ruang transfusi lalu duduk di ruang tunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki berjas putih itu  keluar lagi dari ruang ICU. Ia memandangi kami satu persatu. "Maaf, kami sudah  berusaha. Tapi Tuhan berkehendak lain. Teman kalian tidak bisa  diselamatkan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rangkaian kalimat yang diucapkan dokter itu jadi sulit  kucerna maknanya. Ah....mungkin aku salah menangkap maksudnya. Sabrina tidak  meninggal kan? Dokter itu tadi tidak bilang seperti itu. Lalu........kata-kata  dokter itu maksudnya apa????&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pecah tangis di antara para akhwat,  barulah aku sadarsesadar-sadarnya. Sabrina sudah meninggal. APPPAAAAAA???!!!!  SABRINA MENINGGAL????!!! Aku ingin berteriak sekeras-kerasnya. Tapi tidak.  Teriakan itu hanya bathinku yang mampu mendengar. Teriakan yang menyisakan  gumpalan yang menyesakkan hati. Aku ingin menangis sekencang-kencangnya. Tapi  tak ada air mata yang keluar dari mataku. Kelopak mataku terasa panas. Tubuhku  limbung. Goyah. Daus merangkulku dari samping. Erat. Dan aku terduduk tanpa  daya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pemakaman Sabrina, aku berdiri mematung. Tegak, kokoh, dan memandang lurus ke  liang lahat tempat peristirahatan terakhir Sabrina. Jasad Sabrina tergeletak di  dalam liang. Perlahan-lahan gumpalan tanah merah menimbunnya. Akhirnya jasad itu  tak tampak lagi. Seusai doa-doa, para pelawat satu persatu pergi. Daus merangkul  dan menggamit bahuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayo pulang!" Ditariknya tubuhku diajak berjalan.  Namun aku tetap membatu dengan mata menerawang. Aku menggeleng pelan. Daus tetap  mencoba menggerakkan tubuhku. "Ayolah! Kutemani kau pulang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Biarkan aku  sendiri di sini." Akhirnya aku mampu bersuara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untuk apa? Pemakaman  sudah selesai. Ayolah!" Daus membujukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku ingin di sini dulu.  Tinggalkan aku! Kamu pulang saja duluan. Please.....?!" Daus diam lalu  merangkulku erat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"OK. Tapi jangan lama-lama. Cepat pulang. Aku agak  khawatir dengan kamu. Sudahlah, lupakan Sabrina. Dia sudah pergi. Sekarang kita  cuma bisa mendoakannya. Bagaimanapun perasaanmu terhadap Sabrina, kamu  harus......."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sssssttt.....!!" Aku menoleh, menatap mata Daus.  Telunjukku membuat tanda di depan bibir, memintanya untuk diam. Daus menghela  nafas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"OK, OK! Aku pulang. Assalamu'alaikum."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menjawab salam  dengan pandangan tetap lurus ke depan. Ke arah pusara Sabrina. Sabrina memang  telah pergi. Tapi ia menorehkan sejuta kenangan dalam memoriku. Langit mendung  yang sejak tadi bergayut, kini mencurahkan titik air kecil-kecil. Aku sadar  waktuku di sini sudah habis. Aku berlari menuju mobilku. Di dalam mobil, aku  merasa kosong melingkupiku. Rasanya dada ini jadi berongga besar sekali.  Menyisakan rasa hampa yang memenuhi hingga ke sudut-sudutnya.Aku tak tahu mau  kemana. Kubiarkan saja arah putaran roda ini mengikuti kata hatiku. Saat aku  ingin belok ke kiri maka kubanting stir ke kiri. begitu pula saat instingku  berkata ingin ke kanan. Lalu aku memilih satu mobil di depanku, dan aku biarkan  diriku mengikuti kemana saja mobil itu berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa, setelah  berputar putar, melewati berpuluh persimpangan, akhirnya mobil itu berhenti.  Masuk ke sebuah rumah asri dalam sebuah kompleks di wilayah Bekasi. Jauh juga  rupanya perjalananku. Aku pun menghentikan mobilku. Penumpang mobil itu kini  telah keluar semua. Aku termangu bingung. Tak tahu lagi mau melakukan apa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah.....aku harus membuat tujuan lain. Jelas-jelas bukan ke sini  tujuanku. Lalu kemana aku harus pergi? Yang pasti aku tak mau pulang ke rumah  malam ini. Pulang dan membenamkan diri dalam kesunyian kamarku? Oh  tidaaaakkk...! Yah...rasanya aku perlu mengobati kehampaan ini dengan keramaian.  Sebuah tujuan terpola dalam benakku. Aku kini tahu kemana Audi ini harus  mengarahkan haluannya. Jakarta Pusat. Hotel Borobudur. Musro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mobilku  melambat memasuki tempat parkir. Tampaknya pengunjung malam ini banyak juga.  Mobil-mobil keluaran terbaru berjajar rapi. Ketika melangkah turun dari mobil,  aku sempat ragu. Sudah lama aku tak menjejakkan kaki di tempat ini. Tapi kutepis  rasa itu. Sudahlah, aku butuh keramaian. Aku tak mungkin menghabiskan malam ini  dengan digerogoti sepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musik menghentak menyambutku, mulai menyapu rasa  hampa. Aku duduk dan menyulut sebatang rokok. Waitress mendekat. Aku tidak  lapar. Aku hanya ingin minum. Aku memesan fruit punch.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam makin pekat  di luar. Di dalam suasana pun makin panas. Ternyata malam ini sedang ada party.  Puluhan wanita cantik ber-dress code "white tank top &amp;amp; blue jeans pants"  bergoyang histeris di lantai disko. Suara musik yang berdentam diusung oleh dua  DJ handal dari luar negeri. Mataku nanar memandangi perempuan-perempuan pamer  aurat di floor yang bergerak semakin liar. Sekumpulan pria tampak tak mampu lagi  bertahan berdiam diri. Mereka ikut terjun ke floor, melebur dalam tarian panas.  Seperti di pemakaman tadi, aku tetap membatu. Sesekali meneguk fruit punch dan  menghisap rokokku. Waitress bolak balik menawariku bir. Tapi aku masih waras  untuk tidak meneguk barang haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keramaian yang memekakkan telinga ini  tampak tak menyisakan ruang lagi bagi yang namanya kehampaan. Bagaiamana mungkin  masih ada partikel yang kosong sedang Musro kini penuh sesak? Namun di ujung  lorong hati, tetap saja sunyi, kosong, hampa. Bahkan di tempat ini rasa hampa  itu makin menjadi-jadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangan Sabrina berkelebat dalam benak.  Sabrina, sosok yang anggun, bersahaja dan sangat terjaga. Benakku penuh dengan  Sabrina. Di saat yang sama aku disuguhi pemandangan wanita-wanita bergincu dan  berpakaian minim. Bagai bumi dan langit saja antara Sabrina dengan mereka.  Tiba-tiba perutku mual. Muak dan jijik melihat perempuan-perempuan itu  menggeliat erotis bagai cacing kepanasan. Aku bangkit dan bergerak dari  mematungku. Aku tinggalkan hiruk pikuk ini dan segera melarikan Audiku ke tempat  lain. Cuma satu tempat yang terpikir di otakku. Rumah Daus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya  bukan rumah Daus. Daus mengontrak bersama kawan-kawannya yang berasal dari  berbagai pulau. Ini sudah jam 1 malam. Tapi aku tak peduli. Aku gedor pintu  rumahnya. Untung saja wajah Daus yang muncul di balik pintu, bukan temannya.  Daus melongo melihat aku yang kusut masai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masya Allah, ada apa  malam-malam begini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Malam ini aku mau nginap di sini."  ujarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya sudah. Ayo masuk!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini aku belum pernah mampir  dan masuk ke dalam kontrakan Daus. Paling-paling hanya mengantar Daus sampai  depan pintu kontrakannya. Aku takjub melihat kamar Daus. Rapi, sederhana dan  tidak banyak barang-barang. Tidak ada TV dan segala macam player. Tidak ada  stereo set dengan speaker surround system-nya. Tidak ada PC dan segala  peripheral-nya. Yang ada cuma meja belajar, kursi, tempat tidur, dan lemari baju  dari kayu sederhana. Lalu buku-buku yang disusun dalam rak yang terbuat dari  kardus bekas yang dilapis dengan kertas kado.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daus menggelar tikar di  bawah lalu duduk. "Kamu tidur di atas saja. Biar aku yang di sini." Tempat tidur  Daus ukuran single, jadi tidak mungkin kan kita berdua satu tempat tidur.  Sebetulnya aku tak enak hati melihat dia menyilakan aku tidur di kasurnya. Tapi  aku mengangguk, karena aku tak biasa tidur beralas tikar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermenit  kemudian, aku tak bisa memejamkan mata. Tubuhku berbalik, berguling, ke kanan,  ke kiri, terlentang, tengkurap. Tapi mata ini tetap saja melek. Sedang Daus  langsung terlelap, terdengar dari dengkur halusnya. Aku tidak mengerti. Apa yang  kumau. Apa yang kucari. Semua tampak samar-samar. Yang kutahu saat ini aku hanya  ingin rasa hampa ini menghilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulirik Timex di pergelangan tangan  kananku. Sudah jam setengah tiga. Dan mataku tetap saja nyalang. Jam tiga, Daus  terbangun dan tampak heran melihat aku tetap terjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kok masih melek?"  tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak bisa tidur!" jawabku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daus keluar kamar lalu  kembali ke dengan wajah basah. "Mau ikutan tahajud? Kalau mau wudhu, ayo kuantar  ke kamar mandi." Aku mengikuti Daus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah wudhu dan akan berbalik ke  kamar, ternyata di ruang tengah sudah ramai sajadah ditata berjajar. Tak sampai  lima menit seluruh penghuni kontrakan Daus sudah berkumpul dan menempati posisi  masing-masing. Aku dan yang lain di posisi makmum, Daus di posisi imam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantunan ayat suci Al Quran terdengar sangat syahdu, menelusup diantara  kesunyian malam. Anehnya bukan kesunyian menggigit yang tercipta. Justru  ketenangan yang mulai mengisi relung-relung ruang hampaku. Dan bagai anak kecil  saja.....tiba-tiba aku menangis sesenggukan, di dalam sholat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua rakaat  tahajud ditambah tiga rakaat witir bahkan terasa kurang bagiku. Ingin rasanya  mengulang kenikmatan itu. Setelah itu Daus tilawah Quran. Yang lain juga ada  yang membaca Quran, ada yang berdoa, dan ada pula yang berzikir. Aku tidak  membawa Al Quran. Jadi kucurahkan saja isi hatiku pada Allah dalam untaian doa.  Perasaanku kini jauh lebih tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daus lalu mengajakku ke dapur untuk  membuat mie untuk makan sahur. Besok hari Kamis. Seperti biasa Daus puasa  sunnah. Aku jadi ikut-ikutan mau puasa besok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mienya internet ya.  Indomie pakai telor dan kornet." kataku menyebut model masak mie yang sering  dibuat Mbok Mar di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daus mencibir. "Kornet dari mana? Mana  sanggup? Anak kos nih!" Aku terkekeh. Entah kenapa walau tanpa tambahan apa-apa,  tapi mie buatan Daus terasa sangat nikmat di lidahku. Kami makan dengan  lahap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adzan Subuh dan seluruh penghuni kontrakan Daus bersiap dan sholat  Subuh di masjid yang hanya berjarak 50 meter. Bisa dibilang ini pertama kalinya  aku sholat Subuh di masjid. Jumlah jamaah sedikit sekali. Hanya 5 orang  bapak-bapak, plus 8 anak kontrakan Daus, ditambah dengan aku. Lalu kemana yang  lainnya? Bukankan penduduk kompleks ini mayoritas muslim? Ehm...aku tersipu  sendiri dengan pertanyaan yang muncul di pikiranku. Aku yakin mereka seperti  aku. Sekadar bangun untuk sholat Subuh lalu kembali meringkuk atau malah yang  lebih parah lagi : tetap terlelap walau adzan telah memanggil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai  shalat, imam memberikan kultum. "Laki-laki itu wajib shalat di masjid. Dahulu  pernah ada seorang lelaki buta yang minta ijin kepada Rasulullah saw untu tidak  sholat di masjid. Dan Rasulullah saw tetap tidak mengijinkan, tetap menyuruhnya  sholat di masjid. Kalau orang buta saja tidak diberi dispensasi, bagaimana  dengan yang masih muda, kuat, dan sehat?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku senyum-senyum sendirian.  Yah....padahal jarak masjid terdekat dari rumahku tidak jauh. Padahal kalau  jogging atau bersepeda pagi-pagi aku sanggup sampai berkilometer. Padahal aku  rela saat Subuh lari pagi di Senayan, demi semangkuk bubur ayam, santapan wajib  setelah olahraga. Aku malu, entah pada siapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu aku tidak  berangkat kuliah. Setelah sampai di kamar Daus, rasa kantuk datang menyerang.  Semalaman aku sama sekali tak bisa memejamkan mata. "Daus, aku ngantuk berat  nih!" kataku dengan mata sayu. "Aku mau tidur. Nanti kalau ke kampus, tolong  absenin!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Uh, tak usah ya! Mau suruh aku berbuat  curang?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayolah, sekali ini saja. Masa bantu teman nggak mau sih?"  rayuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Syarat kehadiran cuma 75%. Berarti dosen-dosen itu sangat  mengerti kalau mahasiswanya itu kadang-kadang ada kepentingan yang membuat tidak  bisa masuk kuliah. Kenapa harus bohong isi absen padahal tidak masuk? Pakai saja  hak kita untuk tidak masuk kuliah, yang 25%-nya!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menepuk jidatku  sendiri sambil terkekeh. "Betul juga katamu. Asyik juga ya......kita punya hak  untuk membolos. Ya sudah, aku tidak jadi pesan absennya." Segera kupeluk guling  dan semenit kemudian aku terdampar di alam mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah hari itu, aku  minta ijin ke Papa dan Mama untuk sementara tinggal di rumah kontrakan Daus.  Mama kebetulan sedang ke Australia, menemani kakakku yang mengambil Master di  sana. Papa tidak keberatan, asal aku tetap komunikasi dengan rumah. Aku belum  sanggup untuk sendirian. Aku tak mau rasa kehilangan akan Sabrina menyergapku  lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kontrakan Daus, aku tidak pernah merasa kesepian.  Ada Daus yang siap berceloteh menghiburku atau kadang-kadang bawel  menceramahiku. Ada teman-teman Daus satu kontrakan. Bergaul dengan mereka  sehari-hari dalam 24 jam memberikan suatu pencerahan bagiku. Bangun sebelum  Subuh, shalat tahajud dan Subuh bersama. Lalu beraktivitas dalam kesibukan  masing-masing. Ada yang belajar atau mengerjakan tugas-tugas kuliah. Ada yang  piket membereskan rumah, menyapu, mengepel, memasak air. Ada yang mencuci baju  atau menyeterika. Ada yang antri kamar mandi. Dan ada pula yang melanjutkan  meringkuk di balik selimut, yaitu aku.Siang sampai sore, kontrakan berubah  senyap. Semua sibuk di kampus masing-masing. Maghrib dan Isya sholat berjamaah  di masjid. Setelah itu makan malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru kutahu Daus ternyata pandai  memasak. Walau masakan sederhana macam sop, sayur asem, lodeh, dan sekali-kali  ayam bumbu kecap atau semur daging. Daus adalah pecinta tahu. Aku tahu karena ia  sering sekali masak tahu. Tahu bumbu bali, tahu bacem, semur tahu, tahu telor,  oseng-oseng tahu.....pokoknya segala yang berbau tahu. Lama-kelamaan aku  ikut-ikutan piket di kontrakan. Ternyata mencuci piring, menyapu dan mengepel  itu asyik juga. Bahkan mencuci celana dan jacket jeans yang berat, kuanggap  fitness gratis. Aku menikmati kehidupan di kontrakan Daus, yang jelas-jelas  sangat berbeda dengan di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampus kini jadi tempat pelampiasanku  memuaskan diri bersama nikotin. Merokok bagiku adalah pelampiasan sekaligus  obat. Rasanya setiap kali gumpalan asap rokok menari-nari di hadapanku, rasa  sakitku kehilangan Sabrina pun sirna. Yang jadi masalah hanyalah sekarang aku  jadi susah untuk merokok. Merokok di kontrakan Daus rasanya jengah. Mereka satu  pun tak ada yang merokok. Aku pun takut nanti di akhirat mereka semua menuntutku  karena terganggu oleh asap rokokku. Tapi heran, diantara mereka tak ada yang  melarangku merokok secara langsung, walaupun mendapatiku sedang merokok di  teras. Paling banter mereka menjauh dari asapku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya Togar,  pemuda dari Tarutung memberiku sekantong besar permen mint sambil berpesan,  "Setiap kali kau ingin merokok, tahanlah! Kau ambil saja permen ini sebagai  gantinya." Akhirnya aku kaget sendiri. Jumlah rokok yang kukonsumsi perharinya  berkurang drastis setelah aku tinggal bersama Daus. Bahkan rasanya mulutku jadi  tidak enak kalau merokok. Lebih enak mengulum permen dari Togar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daus  mengemblengku habis-habisan macam di pesantren saja. Ia tidak memperbolehkanku  tidur sebelum aku menyelesaikan 1 juz dalam sehari semalam. Kalau aku pura-pura  tidur, digelitikinya kakiku, atau digodanya aku dengan segelas susu atau  semangkuk indomie. Awalnya berat, apalagi aku masih terbata-bata. Tapi banyak  latihan justru membuat aku semakin lancar membaca Al Quran. Kemajuanku jauh  melesat. 24 jam aku bergaul dengan Daus dan teman-temannya. 24 jam aku dibimbing  untuk menjadikan segala kegiatan sebagai ibadah. Semakin intens hubunganku  dengan Al Quran. Semakin tenanglah jiwaku. Rasa hampa yang dulu menyelimuti  telah pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mama pulang besok, kamu juga pulang dong! Kamu  tega ya sama Papa, masa ditinggal sendirian di rumah?!" Papa menghubungiku lewat  telepon. "Besok kita jemput Mama sama-sama ke bandara."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya Pa. Sekarang  juga deh langsung pulang ke rumah." kataku menyanggupi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dihitung-hitung  cukup lama aku tinggal di kontrakan Daus. Sudah sampai hitungan bulan. Untung  saja Mama keterusan betah di Australia menemani kakakku yang belum mau ditinggal  sendirian. Kalau tidak, pasti aku sudah diomeli Mama gara-gara nginap di rumah  teman tidak pulang-pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menjinjing tas ditangan, aku termangu  berdiri di depan kamarku. Rasanya aneh. Seperti sudah bertahun aku meninggalkan  kamar tercinta ini. Kamar bercat ungu tua, dengan satu dinding bercorak  kotak-kotak hitam putih. Ada rasa kangen. Aku menghempaskan tubuh di atas  springbed. Kupandangi satu persatu barang-barangku. Semua masih tertata rapi,  bersih tanpa debu. Aku yakin Siti pasti membersihkan kamarku setiap hari walau  kamar ini tidak digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa sunyi menyergap, hanya ada suara  dengungan halus dari AC. Kusentuh tombol di remote stereo system, lalu suara  Sade berkumandang dari CD player. Ordinary Love. Di depanku, bertumpuk-tumpuk  kaset, CD, VCD. Mereka sudah berulang berputar, menemaniku sejak remaja. Mengisi  hari-hariku. Menemaniku di saat-saat senang dan sedihku. Mereka, sejak zaman  AHA, Arcadia, Duran-Duran, NKOTB. Lalu White Lion, Scorpion, Fire House, Red Hot  Chili Peppers, Guns 'N Roses, Metallica, Nirvana, Eagles, Gorky Park.  Poster-poster mereka yang sempat menghisasi kamarku. Lalu sang dewa gitar yang  pernah kupuja, Yngwie Malmsteen dan Joe Satriani. Aku merasa punya kedekatan  emosional dengan Yngwie karena konon aku mirip dengannya. Minus rambut gondrong  tentunya. Kemudian lagu-lagu yang sweet, Mariah Carey, Whitney Houston, Boyz II  Men, Celine Dion, David Foster, Brian McKnight, George Benson. Lalu Fourplay,  The Brand New Havies, Incognito, Yellowjackets, The Rippingtons, Bob James,  George Duke, Michael Franks, David Sanborn, Sade, Siedah Garrett. Tiupan  saxophone Dave Koz, Richard Eliot dan Eric Marienthal. Dentingan piano dari  David Benoit. Petikan gitar dari para dewa gitar jazz, Earl Klugh, Lee Ritenour,  dan Stanley Jordan.Semuanya, walau tak menyebut satu persatu dari semua koleksi.  Walau tak mungkin menyebut setiap lagu dan memori yang menyertainya. Tapi  semuanya membuatku rindu. Serindu aku pada Sabrina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamar ini terasa  kosong dan dingin, padahal baru saja aku dari tempat Daus yang ramai dan hangat.  Kosong ini membawa ingatanku kepada Sabrina, seiring lantunan suara Sade dalam  lagu King of Sorrow. Hampir dua bulan ini aku tidak pernah mendengarkan lagu.  Setiap kali aku mencoba menyetel kasetku di kamarnya, Daus selalu menggantinya,  entah dengan bacaan Al Quran atau dengan nasyid. Begitu juga kalau berangkat dan  pulang dari kampus di mobil. Daus selalu menggantinya dengan murottal yang  selalu dibawanya di dalam walkman. Masih kuingat kami yang saling  berbantah-bantahan. Aku merasa kalau di mobil Daus tidak berhak menggantinya,  walaupun dengan bacaan Al Quran, karena ini kan mobilku. Tapi kalau di kamarnya  bolehlah dia mengganti. Itu kan kamarnya. Aku tantang ia menjelaskan hukum  mendengarkan musik dan lagu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebetulnya masalah musik dan lagu ini ada  perbedaan pendapat di antara para ulama. Ada yang mutlak mengharamkan dan ada  yang membolehkan." Daus menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tuh kan ada yang boleh. Kalau ada  yang bilang boleh ya berarti boleh!" tukasku ngotot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nanti dulu, aku  belum selesai," sahut Daus. "Para ulama mengharamkan musik disandarkan kepada  beberapa hadits. Tapi setelah diteliti hadits-hadits itu lemah. Sedangkan dalam  beberapa riwayat ketika Rasulullah saw hijrah ke Madinah disambut dengan  shalawat badar yang dinyanyikan oleh seluruh penduduk Madinah baik laki-laki  maupun perempuan. Rasulullah saw juga membolehkan adanya rebana saat pernikahan.  Menurut DR Yusuf Qardhawy, setelah diteliti dari berbagai ayat dan hadits, hukum  nyanyian pada dasarnya boleh, karena tidak ada nash yang mutlak mengharamkannya.  Tapi ada beberapa catatan, seperti syair dan cara menyanyikan lagu tidak boleh  bertentangan dengan syariat, tidak mengandung sensualitas, tidak dibarengi  dengan sesuatu yang haram, dan tidak berlebihan dalam  mendengarkan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau lagu romantis?" tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Romantis itu kan  cinta-cintaan. Membuat orang yang jatuh cinta makin rindu, padahal belum jadi  istri atau suami. Biasanya yang menyanyi juga pakai mendesah-desah, atau gayanya  sensual. Pikiran jadi melayang-layang. Ini sih jelas hukumnya haram." kata Daus.  "Lagu yang sedih juga bisa membuat perasaan jadi mengharu biru dan tambah sedih.  Ini juga tidak boleh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau begitu yang boleh yang seperti  apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ulama juga masih berbeda pendapat, tapi pada dasarnya nyanyian  yang membawa kita mengingat Allah, yang berisi nasehat, memberi semangat  ke-Islaman, dan semacam itu masih dibolehkan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Semacam nasyid, begitu  ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya! Betul! Tapi kalau terlalu banyak mendengarkan nasyid, juga  tidak boleh lho. Sesuatu yang berlebihan itu kan tidak  boleh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wahhhh......susah juga nih! Dengerin nasyid banyak-banyak juga  nggak boleh. Jadi yang boleh banyak-banyak dengerinnya itu apa dong?" tanyaku  protes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang boleh banget itu bukan dengerin nyanyian, tapi mendengarkan  ayat-ayat Al Quran. Lebih bagus kalau berusaha mengerti artinya. Lebih bagus  lagi kalau Al Quran dihafal. Kamu tahu? Si Togar itu bercita-cita jadi penghafal  Quran. Dia Alhamdulillah sudah hafal 10 juz."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hahh??!! 10 juz? Hafal  semua tuh? Apa nggak ketuker-tuker ayatnya, suratnya? Kok bisa ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya  bisa dong. Jangan norak begitu dong ah! Temanku banyak kok yang hafidz, hafal  Quran. Mau kukenalkan sama mereka? Supaya kamu bisa belajar dari  mereka."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daus tersenyum memandangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Heh, ngomong-ngomong kamu  sudah hafal berapa juz?" tanyaku penuh rasa ingin tahu. Kala itu Daus cuma  tersenyum simpul tak menjawab. Dugaanku sudah berjuz-juz, kutahu dari bacaannya  ketika mengimami sholat tahajud. Hidup dua bulan tanpa nyanyian, berteman  murottal dan sesekali nasyid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kini baru saja menginjakkan kaki di  kamar sendiri, aku sudah tergoda. Memutar lagu, mengingat-ingat Sabrina. Oh  tidakkkkkkkkk! STOPPP!!! Kuraup semua koleksi kaset, CD, dan VCDku, kumasukkan  ke dalam kantong plastik besar, dan kuserahkan pada Mbok Mar. "Mbok, ini dibuang  ya. Kalau bisa dibakar saja dulu." Mbok memandang wajahku dengan tatapan penuh  tanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini kan kasetnya Aden. Apa enggak sayang?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Si Mbok!  Nggak usah dibilangin saya juga tahu ini punya saya!" bentakku. Lalu suaraku  melunak, "Tolong Mbok Mar bakar saja. Saya sudah tidak butuh." Aku menutup  perintahku dan membalikkan badan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah....kuakui.....IT'S SO HARD TO SAY  GOODBYE TO YESTERDAY. Terutama pada semua yang kucintai. Sabrina, musik, dan  kebiasaan burukku. Yesterday is yesterday. Sabrina sudah meninggal. Mungkin  kelak ia akan jadi bidadari surga. Aku pun kelak akan menemukan bidadariku  sendiri, entah di dunia atau di surga. Ya, kelak, kalau aku telah pantas  mendadapatkan bidadari ataupun surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GOODBYE YESTERDAY! Bagaimanapun  episodeku cintaku pada Sabrina telah menggoreskan pelajaran yang mendalam.  Membawaku kepada perjalanan mencari cinta yang sejati.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4523739979911660558-895401123123860835?l=cintaku-loveme.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/feeds/895401123123860835/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/2008/05/kisah-sabrina-sabrina-nur-laily.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4523739979911660558/posts/default/895401123123860835'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4523739979911660558/posts/default/895401123123860835'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cintaku-loveme.blogspot.com/2008/05/kisah-sabrina-sabrina-nur-laily.html' title=''/><author><name>my love</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03585437615001367745</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_1UvEn9BN05M/Smle78z0p2I/AAAAAAAAAPk/-R5VUz4OxWs/S220/Foto091.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
