Sepatu

Hujan pertama akhirnya jatuh juga. Selepas musim kemarau yang terlampau panjang, hujan pertama selalu disambut di kampung kami dengan pesta.

Ketika hujan mulai menderas, anak-anak Kang Soleh kulihat segera berlarian keluar, bertelanjang dada. Teriakan-teriakan kegembiraan mereka, gemuruh curahan air dari langit dan gelegar petir, bercengkrama sahut menyahut di tegalan depan. Ketika hujan mereda, mereka pulang dengan bibir membiru dan badan menggigil bergetar. Tapi, mata mereka memancarkan kegembiraan.

Wa Sunta terlihat melintas di jalan desa menggiring dua ekor kerbau kurusnya. Ketiganya berjalan gontai, tak terlihat tergesa, dipeluk petir dan hujan. Gambar mereka melamat ketika menjauh. Hujan dan petir dengan akrab mengantar mereka hingga lenyap diterkam belokan.

Sejak masih gerimis, Anah, istriku, sudah membopong gentong-gentong air dari dapur, dengan sigap membawanya keluar. Anah berpesta dengan caranya sendiri. Pada tiap hujan pertama, ia selalu membersihkan gentong-gentong air kami yang kerontang selama kemarau, sambil membiarkan dirinya sendiri berlama-lama dicumbu hujan. Lekuk tubuhnya segera terbentuk oleh baju dasternya yang basah, membuatku tiba-tiba menginginkan malam segera datang.

Aku sendiri, pada setiap hujan pertama seperti ini tak pernah lepas dari ritual pesta yang itu-itu juga. Duduk mencangkung di depan jendela depan. Membuka hidung lebar-lebar membaui tanah pelataran yang terperawani tetes demi tetes air hujan pembukaan. Menghanyutkan diri dalam aroma legit bau tanah tersiram air. Ah, sembilan bulan sudah kurindukan bau ini.

Datangnya musim penghujan membikin kampung kami siuman dari mati suri panjang. Sejak sungai Cipamingkis ditambang batunya, digali pasirnya, dan akhirnya mati, sawah-sawah di kampung kami kehilangan tempat menyusu di musim kering. Semua sawah menjadi tadah hujan saja.

Maka, kemarau adalah bencana. Berita duka yang tak sudi kami dengar tapi selalu saja tiba. Di setiap kemarau, sawah-sawah mengering, merekah, retak terbelah-belah. Ketika kemarau berlarut-larut tak berujung, kampung kami kehilangan akal dan akhirnya hanya berpaling pada sebaris harapan: Semoga hujan bergegas datang dan membunuh kemarau laknat itu segera.

***

Bagi guru sepertiku, musim penghujan sebetulnya tak punya terlalu banyak arti. Bahkan, selalu saja ia menghadiahiku kerepotan-kerepotan baru. Setiap hari, pergi dari rumah ke SD Inpres di seberang bukit itu, aku mesti menggulung celana panjangku tinggi- tinggi, tak membiarkan lidah air berlumpur menjilat celanaku. Celana layak satu-satunya.

Kedua tangangku pun dibuat sibuk. Tangan kanan menjinjing tas. Tangan kiri, yang terbiasa menganggur, punya pekerjaan baru: menjinjing sandal. Aku, bak pemain sirkus, mesti menjaga keseimbangan di sepanjang pematang, bersiasat untuk tak tergelincir tercebur ke sawah berair berlumput-lumpur.

Kerepotanku tak usai di situ. Sebelum ke kelas atau ruang guru, aku tentu saja mesti ke parit di belakang gedung sekolah itu. Mencuci kaki. Menurunkan gulungan celana. Lalu menyematkan sandal ke kedua kakiku yang kuyup. Betapa merepotkannya jika aku bersepatu.

Ketika sol sepatuku, sepatu terakhirku, jebol di tengah kemarau tahun lalu, aku sempat meratapinya. Tapi, ketika musim penghujan seperti ini datang, segera kutahu bahwa barang mewah semacam itu kadang kala tak punya guna. Di pasar kecamatan, sepatu termurah saja harganya 20 ribu!

Bersepatu pergi pulang mengajar di musim penghujan seperti ini hanya membikin-bikin kerepotan yang tak perlu. Semacam kesia-siaan. Bahkan penyiksaan diri.

Tentu cerita bisa berbeda jika saja ada sepeda. Pematang penuh jebakan lumpur itu bisa kuhindari dengan sedikit memutar menyusuri jalan desa. Tapi, sejak kutahu bahwa sepeda bekas yang butut saja harganya lima puluh ribu perak, aku berhenti memikirkannya.

Untungnya kepala sekolah tak mengharuskan guru honorer, guru bantu, sepertiku bersepatu. Akupun bisa mengajak sandal lili-ku bertemu 47 murid kelas enam yang bertumpuk di kelas paling ujung kiri itu. Setiap hari. Mereka benar-benar bertumpuk di ruang kelas darurat yang sempit itu.

Tapi bagiku, pintu kelas itu adalah celah menuju kebahagiaan. Memasukinya membuatku bertemu mata-mata yang haus dan berharap tetapi juga kuyu dihantam kemiskinan. Aku selalu bahagia setiap kali kekuyuan itu lenyap sesaat tertelan kegembiraan menemukan hal-hal baru dari pelajaran kelas. Dari hari ke hari. Dari pukul 7:15 pagi hingga Dzuhur lepas pergi dan Asar hampir menjemput.

Selalu saja terbit rasa senang melihat mata-mata itu menjadi sedikit berkilat setiap kali kukatakan, "Negara kita Indonesia, besok akan menjadi lebih baik jika kita warganya bisa memelihara nurani kita. Begitu juga Sukamanah, desa kita."

Kadang-kadang anak-anak itu merepotkanku dengan pertanyaan mereka. Mereka kudorong agar tak berpuas diri sekadar lulus SD dan lanjut bersekolah ke SMP di kota kecamatan. Hardi, salah seorang yang terpandai pun bertanya, mengutip kata-kata Ayahnya. "Untuk apa melanjutkan sekolah dan meninggalkan sawah-sawah kami? Bukankah sekolah tinggi hanya akan membikin kami membenci sawah tapi juga tak menyediakan pekerjaan lain, lalu membikin kita hanya bisa luntang-lantung menyusahkan orang tua seperti anak-anak kepala dusun itu?"

Maka akupun menjawabnya. "Bersekolah bukanlah untuk mencari pekerjaan, apalagi membenci sawah. Kita bisa bersekolah tinggi sambil tetap mencintai kampung kita, sawah-sawah kita. Bersekolah itu untuk membuat kita tak jadi orang-orang yang tak mengerti keindahan walaupun memiliki mata, tak mendengarkan kebaikan walaupun memiliki telinga, tak membela kebenaran walaupun memiliki hati, tak pernah terharu dan tak bersemangat."

"Pak Sobarudin, bisa ke kantor saya sebentar?" Suara Pak Dudung, kepala sekolah, tiba-tiba menyeruput telingaku dari arah punggung.

"Ada undangan penting dari kabupaten," katanya lagi, sebelum sempat kukeluarkan sepatah katapun.

"O ya." Aku membuntutinya.

"Ini undangan untuk Pak Sobar. Semua guru honorer se-kecamatan dikumpulkan bertemu Bupati minggu depan."

Aku segera membukanya. Beberapa kata segera berpindah dari kertas itu ke kepalaku. Minggu. 15 November. Siang. Aula Kecamatan. Bupati. Realisasi Perbaikan Nasib Guru Wiyata Bakti.

***

Hari Minggu ini sebenarnya sama saja seperti hari-hari Minggu lainnya. Ia terasa berbeda hanya lantaran inilah hari Minggu pertama di musim penghujan. Kampung kami menjadi lebih sibuk. Hampir semua rumah memboyong seluruh isinya ke sawah, memulai upacara hidup yang itu-itu juga. Bercocok tanam. Mengutang pupuk ke koperasi Desa. Memimpikan panen padahal sawah baru saja mulai digarap. Menghitung kerugian yang pasti datang karena ongkos bersawah selalu saja lebih tinggi dari harga jual padi. Menyisakan hasil panen untuk bertahan hidup ala kadarnya selama kemarau yang belum-belum sudah mengintip mengendap hendak kembali.

Siang ini aku harus ke kecamatan, berjalan kaki tiga kilo ke arah barat daya. Sedari pagi buta, ketika matahari masih terbungkus kabut, pasti sudah banyak orang mengepung kantor kecamatan, untuk melihat wajah Pak Bupati yang katanya masih muda dan rajin membagi senyum itu.

"Kang. Jangan lupa mampir ke rumah Bi Mumun." Anah mengingatkanku ketika setengah badanku sudah tertelan pintu, hendak pergi.

"Ya."

Sepulang dari kecamatan Aku memang harus mampir ke pabrik tempe istri almarhum pamanku itu. Menjemput kulit kacang kedelai. Anah biasa mencampurnya dengan terigu, bawang putih, garam dan sedikit merica, lalu menyulapnya menjadi makanan penganan bahkan kadang-kadang lauk-pauk utama. Dan kami menyukainya. Apalagi jika tersedia juga cobek favorit kami. Cobek bohong. Penampilannya memang seperti cobek tapi sebetulnya bukan juga. Ia hanya kuah belaka, tanpa jengkol atau ikan lele, atau apapun. Di sana hanya ada cabe merah yang panjang menjuntai-juntai mengundang gigitan. Orang-orang di kampung kami pun menyebutnya cobek bohong. Menu semacam itu adalah kemewahan besar di rumah kami, apalagi di masa-masa darurat.

Tapi hidup kami selalu saja darurat. Selepas SPG, lima tahun lalu, tak ada pekerjaan menjemputku. Semestinya aku jadi guru SD. Tapi itulah. Setiap tahun, selalu saja kemestian itu terganjal ujian penerimaan guru. Aku tak pernah lulus. Bukan sulitnya soal ujian yang sebenarnya menjadi masalahku, tapi selalu saja aku tak mampu menyediakan amplop, dengan isi mesti di atas satu juta rupiah, untuk Kepala Kantor Departemen. Kalau saja amplop itu tersedia, Pak Kakandep tentu akan segera mengurus kelulusanku. Tapi, dari mana kudapat uang sebanyak itu? Melihatnya saja aku tak pernah.

Untungnya, tenagaku masih terpakai di kampung. Membantu Bi Mumun di pabrik tempe. Membantu panen Kang Soleh dan tetangga-tetangga dekat lainnya. Membantu menjagal sapi menjelang Hari Raya Kurban. Membantu mencukur rumput kuburan desa setiap menjelang bulan puasa. Mengambil air dari sumur tua yang tak pernah kering di balik bukit untuk kepala dusun, tiap kali kemarau menjadi-jadi. Mengecat dan membetulkan pagar masjid menjelang lebaran.

Tenagaku tak selalu dihargai dengan uang. Kadang-kadang diganjar hasil cocok-tanam, padi, atau makanan. Tapi semuanya terasa sangat membantu. Adapun satu-satunya sumber penghasilan tetapku adalah honor sebagai guru wiyata bakti itu, guru honorer, guru bantu, sebesar 75 ribu setiap bulan.

Uang itu jauh dari cukup dan selalu habis untuk melunasi utang-utang belanja dapur kami ke warung Ceu Nenden di pertigaan jalan desa itu. Untungnya, jodohku adalah Anah yang tak pernah menuntut. Sejak kunikahi empat tahun lalu, tak sekalipun Anah mengeluhkan keadaan kami. Di tengah kesusahan yang terus menguntit kami, Anah selalu melayaniku dengan baik. Siang dan malam hari.

Anah lah yang justru mengajariku untuk selalu bersyukur atas apapun yang kami peroleh. Mengajari tetap bersyukur sekalipun sampai saat ini kami belum juga beroleh momongan. Kami tak pernah membebani Tuhan dengan macam-macam tuntutan. Cukup saja lah kami tahu bahwa Tuhan tak pernah tidur.

Pertemuan di aula kecamatan hari ini sebetulnya bukan yang pertama. Dua tahun lalu, semua guru honorer juga pernah dikumpulkan. Di aula sama. Hanya saja, waktu itu kami tak seberuntung sekarang. Dulu, yang yang datang bukan Bupati tetapi Kakandep dari kabupaten.

Selepas pertemuan itu, rasa syukurku bertambah-tambah. Sejumlah guru honorer tampaknya memang lebih beruntung dariku. Mereka bisa menambah penghasilan dengan menarik ojek di pasar kecamatan. Ada juga yang membuka warung atau kios koran, komik-komik agama dan teka- teki silang. Tapi jauh lebih banyak yang bernasib lebih buruk. Pak Kosim dari desa di ujung utara itu hanya digaji 25 ribu per bulan. Ibu Eti, guru sedesaku, tak punya gaji sama sekali. Ia hanya bisa menunggu hadiah hasil panen dari wali murid di kelasnya. Padahal, panen sering diganggu hama. Pak Komarudin, yang ternyata hanya terpisah tiga kampung denganku, digaji 25 ribu ditambah uang BP3 sebesar 1.500 rupiah dari murid-murid di kelasnya. Muridnya hanya ada 12 orang. Miskin semua. Mereka lebih sering menunggak ketimbang melunasinya.

Di pertemuan dua tahun lalu itu pula kukenal Pak Asep Saepudin yang kepandaian bicaranya mengingatkanku pada Kiai Ishak, khatib masjid kecamatan. Ia guru di kota kecamatan. Pendiri dan pemimpin Lembaga Swadaya Masyarakat Peduli Anak Bangsa (LSMPAB) yang katanya berusaha mengurusi nasib guru-guru bantu seperti kami. Dari Pak Asep pula aku tahu betapa pemerintah memang kekurangan guru SD dan membutuhkan kami. Propinsi kami saja, katanya, kekurangan 33.768 guru SD. Sebanyak 17.877 di antaranya adalah guru kelas. Maka, lagi-lagi menurut Pak Asep, jika guru-guru honorer di seluruh Jawa Barat berhenti, hampir 18 ribu kelas akan terlantar.

"Kami para guru honorer bukanlah orang-orang yang disumbang pemerintah. Kamilah yang membantu pemerintah menyelenggarakan pendidikan di tingkat dasar. Kalau tak ada kami, pemerintah kerepotan. Jadi, bukan kami yang harus berterima kasih, tetapi pemerintahlah yang semestinya berterima kasih dan memperbaiki nasib kami," begitulah antara lain yang dikatakan Pak Asep di pertemuan itu. Hadirin bersorak bertepuk tangan. Wajah Pak Kakandep kulihat memerah delima.

Boleh jadi, suara Pak Asep sampai juga ke telinga Pak Bupati. Buktinya hari ini Pak Bupati datang dan akan mengurus "Perbaikan Nasib Guru Wiyata Bakti." Seperti tertulis di undangan.

Benar saja. Kantor kecamatan seperti gula dikepung semut. Halaman luarnya disesaki orang-orang. Mereka benar-benar ingin melihat wajah Pak Bupati yang murah senyum itu rupanya.

Setelah kulipat-lipat badan, menyelusup di tengah orang-orang yang berkerumun, bertukar keringat dengan mereka, akhirnya sampai juga aku di depan aula itu. Kuacungkan kertas undangan memberi tahu bahwa aku guru honorer yang memang berhak masuk aula.

"Nah. ini ada satu lagi." Seseorang yang berseragam coklat muda tiba- tiba setengah menghardikku sambil menunjuk-nunjuk ke arah sandal dan kakiku, membuatku bingung tak mengerti.

"Mari. Saudara harus duduk di ruang terpisah. Tidak di aula. Ini instruksi Bapak-Bapak di kantor kabupaten. Yang masuk aula harus pakai sepatu. Untuk menghormati Pak Bupati!"

Aku mulai mengerti. Semacam amarah beranak-pinak di dadaku. Tak boleh masuk aula hanya karena tak bersepatu? Apa yang salah dengan sandal lili yang baru kucuci tadi pagi ini? Sepatu? Menghormati Bupati?

Tapi mata tak bersahabat orang-orang berseragam coklat muda itu dengan cepat menggugurkan anak-pinak kemarahanku. Aku pun membuntuti mereka. Masuk ke ruang di sebelah aula. Di sana sudah ada beberapa puluh orang lainnya. Semuanya tak bersepatu. Moncong pengeras suara mengintip dari jendeal, memelototi kami. Aku tak sendiri. Kutemukan juga beberapa wajah tak senang. Menahan marah.

Duh Anah.. Maafkan aku. Dari sini, aku tak bisa melihat wajah Pak Bupati. Aku tak bisa menjaga janjiku untuk sepulang nanti bercerita apakah benar Pak Bupati muda itu memang selalu tersenyum.
***
"Syukurlah Kang. Syukur."

Hanya itu yang keluar dari mulut kecil Anah ketika kuceritakan apa yang kudengar dari Pak Bupati di pertemuan itu. Pak Bupati berjanji memperbaiki nasib guru-guru honorer di kecamatan kami yang ternyata jumlahnya makin banyak. Ratusan. Pak Bupati akan segera melakukan sesuatu. Bertahap. Sesuai kemampuan kabupaten. Untuk memperbaiki kesejahteraan guru-guru honorer. Dimulai dari yang penting.

Hampir setiap hari kampung kami diguyur hujan. Pematang sawah menuju sekolah itu pun makin menuntut ketrampilan-ketrampilan sirkusku. Sudah kubatalkan pula rencana memperbaiki sepatu jebolku ke pasar kecamatan. Sepasang sepatu, barang mewah yang tak berguna dan merepotkan itu, kini tercampak bersama timbunan sampah di kebun belakang. Tali keduanya saling terikat. Teronggok. Seperti sepasang anak kembar yang mati bunuh diri.
***
Dua minggu sudah pertemuan dengan Pak Bupati itu lewat. Hari ini, langit di atas kampung kami bolong. Air pun jatuh tercurah deras. Petir dan angin besar mengecewakan anak-anak Kang Soleh. Rengekan mereka untuk bermain bersama hujan, bertepuk sebelah tangan. Kulihat mereka duduk-duduk di beranda, memandangi hujan dengan penuh hasrat.

Satu sosok muncul dari belokan jalan desa. Setengah berlari. Setangkai daun pisang memayungi kepalanya - kurasa, dengan percuma. Ia tetap kuyup juga. Petir dan angin seperti mendorong-dorongnya untuk bergegas. Badan kuyupnya dibungkukkan, sepertinya melindungi sesuatu di dadanya. Sosok itu mendekat. Ia tak menyusuri jalan desa yang menikung ke kiri. Tapi ke rumahku. Persis ke arahku.

Ternyata Mang Maman, penjaga SD Inpresku.

"Silakan masuk Mang. Aduh. Hujan besar begini kok memaksakan diri datang ke sini."

"Saya diminta Pak Dudung mengantar kiriman untuk Pak Sobar. Katanya penting. Dari Pak Bupati. Ada juga suratnya."

Kubiarkan Kang Maman berdiri di pintu. Badannya kuyup. Seperti kerupuk tercelup kuah sayur.

Kuambil kardus itu. Kubuka suratnya. Benar. Dari Pak Bupati. Pendek saja. Dari kertas, kata-kata berat itu berpindah ke kepalaku. Wujud kepedulian pemerintah. Usaha nyata membantu harkat guru honorer. Menaikkan citra, wibawa, dan martabat Guru Wiyata Bakti. Untuk masa depan dunia pendidikan yang lebih baik.

Maka, kubuka kardus itu. Isinya: sepasang sepatu.

Keterangan:
1. Sandal lili adalah sandal terbuat dari plastik, bukan sandal jepit, dengan model yang biasanya standar, dengan pilihan warna- warna - biru, merah, hijau, coklat, hitam - yang kusam.
2. SPG adalah Sekolah Pendidikan Guru. Sekolah untuk menghasilkan calon guru-guru sekolah dasar ini sekarang sudah dilikuidasi pemerintah.
3. Guru Wiyata Bakti adalah sebutan resmi yang dipakai pemerintah untuk para guru honorer yang bukan pegawai negeri. Sebelum masa otonomi daerah, sebagian dari mereka memperoleh honor alakadarnya dari pemerintah pusat. Setelah otonomi daerah, mereka menjadi beban (yang diabaikan) dari pemerintah daerah.
4. Pernyataan bahwa sekolah adalah tempat mendidik anak murid untuk tak menjadi "orang-orang yang tidak mengerti keindahan walaupun memiliki mata, tidak mendengarkan irama musik walaupun memiliki telinga, tidak memiliki kebenaran walaupun memiliki hati, tidak pernah terharu dan tidak bersemangat," adalah kutipan pernyataan Mr. Kuroyanagi, pengajar Sekolah Tomoe dalam buku termashur Tetsuko Kuroyanagi, Toto-Chan: Si Gadis Kecil di Tepi Jendela.


Read more


Masjid Itu Masih Sepi

Apalah artinya seorang pemuda yang sering disebut Karmat, sebagai penterjemah bahasa Arab ke bahasa Indonesia pada sebuah penerbitan yang tidak terkenal adalah mata pencaharian sehariannya. Nama lengkapnya adalah Karmat Sudra Marga Mahesa, yang suka marah kalau dipanggil Sudra karena dianggapnya terlalu menyalahi komitmen kemerdekaan Amerika yang sering didengungkan seorang prajurit Perancis oleh Lafayetee: Liberte, Egalite, Fraternite. Atau orang modern bilang, itu sangat menyalahi Hak Asasi Manusia karena kasta sudah terhapuskan.

Apalah artinya sebuah nama bila mendadak Dramawan Agung dari zaman Pertengahan, Shakespeare disangkal oleh umpatan Karmat, ketika salah seorang kawan memanggilnya dengan Mahesa.

“Edan!” makinya, meski ia punya nama mahesa bukan berarti ia seperti kebo. Ia pernah menusuk lambung Janer (tetangganya) dengan pisau dapur tatkala meledek dirinya dengan nama Dr. Guyup Mahesa, alias Doktor kumpul kebo, sehingga pledoi yang dikemukakan saat persidangan kepada sang Hakim sebanyak tiga ratus halaman selalu berkisar penerjemahan kalimat: La tahtaqir Man dunaka falikulli syai’in maziyah.

“Orang itu gila, masa aku dipanggil Doktor Guyup Mahesa, emangnya penghalusan kata bahasa Indonesia itu sudah tidak cukup puas menjajah etika, politik, ekonomi dan lain-lain..., itu penjajahan dan jelas diharamkan oleh preambule. Itu lihat pelacur dijajah oleh penghalusan kata dengan Wanita Tuna Susila, sekarang dihaluskan lagi dengan Pramuselangkangan, wah..., wah..., aku kena getahnya...” protesnya dalam wawancara sama wartawan “Pos Kotak” saat ia berjalan diapit petugas menuju mobil tahanan.

Sedari kecil Karmat memang jadi bahan ledekan kawan-kawanya, hingga selama hidupnya jadi rendah diri dan bergelut dengan watak pendendam, tertutup, dan pendiam. Padahal orangnya cerdas dan selalu ranking satu dalam sekolah, pintar berbagai bahasa, seperti ‘percakapan burung-burung’ yang telah dinashkan dalam Al-Qur’an. Bahasa Arab adalah bahasa kebanggaannya karena ia yakin bahwa bahasa Arab adalah bahasa Sorga, selain demikian ia suka dihampiri para Turis dari Perancis untuk konsultasi berbagai pengetahuan wisata. Pergaulannya luas karena bahasa, bukan karena watak inferior yang dimilikinya.

Klaim masyarakat terkadang sadis, dan membentuk kepribadian, sehingga ia tidak mau keluar rumah, kecuali apabila dinas ke kantor, ataupun ke masjid. Orang-orang yang ingin memanfaatkan dirinya harus datang ke rumah, itupun harus diketahui, siapa dulu orangnya, kalau orang sekampungnya, siapa namanya. Ia sangat antipati dengan tetangganya yang bernama, Jagal, Lahap, Sopiyan, Abdullah Ngubai yang namanya mirip musuh-musuh nabi.

“Oalah... Ya Gusti, kenapa orang-orang itu ada di dunia. Laknatullah, laknatullah...” Karmat mengeluh di tengah-tengah malam tatkala rembulan redup penuhi hati. Tangisnya meledak melihat pacoban hidup yang memenuhi agenda hariannya.

***

Tepat pada hari Ahad, Karmat bebas. Tanpa sanak saudara ia pulang sendirian. Para tetangga menyambutnya dengan memalingkan muka. Hal itu sudah tidak lagi masuk dalam perbendaharaan perasaan. Anggap saja suatu yang terbaik.

“Lho..., mas Karmat sudah pulang to...,” sapa bu Makita sinis,

“Kata bapak kalau orang pulang dari penjara namanya residivis ya...”

Gelegar! Emosi Karmat tiba-tiba pecah, tapi ia hanya bisa menampakkan dengan merah padam mukanya dan senyum kecut sambil lalu. Badannya terhuyung-huyung menahan amarah. Dengan cepat-cepat ia hampiri pintu rumah kontrakannya, lekas ia buka untuk mencari botol- botol yang tidak terpakai lagi sebagai kompensasi dari kemarahan yang terpendam.

“Prang!” suara botol kosong membentur tembok belakang rumah.

Dengan nafas ngos-ngosan ia lempar lagi botol-botol yang lain, sampai reda dan lemas. Ia bersandar di dinding sambil melihat tumpukan botol-botol yang ia persiapkan untuk mencairkan emosi-emosi. Keesokan hari ia mencoba ke kantor penerbitan tempat dulu ia bekerja, menghadap direktur dan melaporkan bahwa ia akan kembali bekerja seperti biasa. Dengan hati-hati Karmat mulai merangkai kalimat agar Direktur yang selalu pasang angker itu bisa tersenyum dan lebih-lebih mau menerima kembali.

“Kau Karmat, Kapan Kau bebas” Ujar Pak Sitompul sambil menempuk bahunya.

“Kemaren Pak”

“Kau mau kerja lagi di sini?”

“E..e..., Iya Pak”

“Bagus, sekarang juga kau bersihkan tempatmu yang dulu. Tengok itu, kotor sekali sampai bau apek”.

Tanpa sadar Karmat tiba-tiba memeluk Pak Sitompul dan menangis terharu,

“Aduh, bagaimana caranya saya bilang terimakasih sama bapak, bagaimana, pak...”

“Sudahlah kau Karmat, serahkan saja kapada yang Kuasa, nasib itu ada di tanganNya, yang penting kau kerja di sini".

“Terimakasih pak, saya insya Allah, akan bekerja sebaik-baiknya”

“Iya..., ya..., aku percaya, selama ini kau memang kerja baik, tanpa kau bilang aku yakin kau kerja baik-baik”.

***

Sekarang Karmat sudah resmi dinas di Penerbitan itu, setiap harinya bertumpuk-tumpuk makalah-makalah Bahasa Arab, ia terjemahkan, koran-koran, bahkan Lailat Az Zifaf, buku kegemaran Kiai Rozikin Ozi Aje, tak luput dari garapannya. Ia tak peduli lagi dengan julukan baru yang diberikan masyarakat dengan Resi Karmat singkatan dari Residivis. Ia sudah tuli dengan cemoohan, karena ia sudah bahagia dengan kesibukannya, selain itu hobi memecah botol sudah mulai berkurang.

Status penterjemah sudah cukup baginya, walau masyarakat lebih suka memanggilnya dengan Sang Resi. Siklus kegiatan antara rumah, kantor dan masjid cukup baginya untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidup. Istirahat, kerja dan berdoa adalah kehidupan yang paling vital. Mau apa lagi, ceramah tidak bisa, ngajari ngaji bahasa Inggris sistim gandulan kayak ngaji kitab ‘Uqudulijain kala masih jadi santrinya mbah kiai Kasilan, tidak diterima masyarakat. Apa lagi? mendingan baca cerpen, sambil korek-korek kuping dengan bulu angsa di rumah, menerjemah di Kantor dan memperbanyak doa di masjid. Satu-satunya sahabat yang ada di kampungnya, adalah Marten, tukang Azan dan juru kunci Masjid An Najah, sebuah masjid yang terletak di tengah-tengah padatnya kampung Karmat. Masjid yang cukup besar, biasanya penuh setiap kali sholat Jum’at, namun sangat longgar setiap Isya’, Subuh, Dzuhur dan ‘Ashar. Kalau sholat Magrib mendingan, ada dua shaf jama’ah. Pada dasarnya suara Karmat merdu, jika mengumandangkan azan, tapi Marten biasanya sewot kalau Karmat suatu kali minta untuk azan.

“Ah..., nggak usahlah Mat..., aku takut Ustadz Mazdu’ marah-marah sama aku, aku takut dipecat” kata Marten, “Beliau bilang kalau beliau nggak kuat menggaji dua muazin”.

“Kau jangan prasangka begitu Mar..., aku ini ikhlas wal afiat lho, aku cuma pingin azan saja, nggak butuh duit”.

“Bukan begitu Mat, aku percaya kamu nggak butuh uang, tapi...”

“Ah..., nggak jadi..., aku nggak jadi kok, takut aku jadi riya’. Sudahlah aku sholat sunat dulu..., nanti kau saja yang azan”

“Sorry ya..., Mat, bukan aku nggak boleh, cuman itu...tu, ustaz yang pernah belajar di Mesir, bisanya cuman marahin melulu, habis itu kerjanya promosi ziarah kubur kanjeng Husein, atau ziarah ke tempatnya Imam Syafi’i, di setiap pengajian mingguan, emangnya kuat ziarah sampai Mesir”

“Ah...kamu itu nggunjing orang nggak boleh, lagian apa salahnya sih ngajak orang dalam kebaikan. Kamu itu ..., lihat orang senang nggak boleh, makanya kalau sekolah yang bener biar bisa bikin travel, nggak kayak kamu. Sudah azan dulu sana!”

Marten memang lugu, walaupun pernah jadi bintang film, yang pernah shooting sebagai figuran, Marten cukup bangga. Wajahnya seperti Roy Marten namun jika dilihat lekat-lekat wajahnya lebih condong mirip Presiden Nilson Mandella. Ia suka sekali dijuluki dengan Marten Mandella, karena Nilson Mandella itu orang hebat pernah dipenjara kayak Karmat. Makanya ia kagum juga sama Karmat dan pingin sekali Marten merasakan dipenjara, tapi ia takut sama Polisi. Kemarin ia mencoba maling ayam di peternakan milik orang cina, akan tetapi alangkah terkejutnya ketika diintip dari belakang ternyata ada Pak Guncil yang jadi Polisi Militer, ia sempat bingung, peternakan ayam ini milik Kopral Guncil atau milik Cik Wan. Akhirnya ia balik dengan tangan hampa.

Pada hari-hari menjelang PEMILU, memang banyak sekali penyelenggaraan demonstrasi, para buruh yang terkekang pada turun jalan, biasanya para mahasiswa yang suka sekali ngutak-atik kesenjangan, sangat rajin unjuk rasa. Kesempatan ini takkan lepas dari perhatian Marten, ia memang melihat kesenjangan tapi tidak bisa membuktikan. Ia mencari peluang untuk ikut unjuk rasa, setiap kali melihat selebaran ia ambil, kalau-kalau ada kabar tentang unjuk rasa.

“Kapan ya... ada demonstrasi...” batin Marten, sambil mencoba jaz dan dasi, dan kepalanya diikat kain yang bertuliskan “Hidupkan Demokrasi”.

Ia pandangi cermin lama-lama.

“Ah... sudah pantas...”

“Karmat..., Demokrasi itu apa sih, kok mahasiswa itu suka teriak : ‘Demokrasi!, Demokrasi, sambil mengepal-ngepalkan tanngannya?” tanya Marten seusai shalat Isya’.

“Menurut cerita yang sering aku pelajari di kampus, Demokrasi itu banyak macamnya, ada demokrasi liberal, demokrasi Terpimpin, demokrasi pancasila, demokrasi Islam, pokoknya banyak. Ya.. berhubung aku jarang masuk kuliah, aku nggak tahu, setahuku dosen yang paling baik adalah Pak Sitompul, direkturku itu."

Mendadak Karmat seperti dapat ilham, “Oh..., begini kalau nggak salah kata Sitompul, demokrasi itu negara terserah rakyat, tapi kalau demokrasi menurut kenyataannya itu negara terserah penguasa,... katanya....itu yang dia lihat lho Mar bukan aku, betul ini”.

“Hus...jangan keras-keras, nanti kamu ditangkap lho, ini menjelang PEMILU, biar aku saja yang bilang nanti, pas kalau ada demonstrasi”

“Ah... terserah... aku nggak mau ikut-ikut, yang penting aku selamet, aku nggak mau neko-neko, kayak nggak tahu aku saja, orang-orang sudah kadung membenciku”

“Termasuk aku?”

“Ah...entahlah...,” Karmat menunduk sendu.

“Lho..., kamu jangan begitu, aku nggak pernah benci sama siapa-siapa, apalagi sama kamu, aku malah sebaliknya, kagum sama kamu, kamu itu pemberani sampai-sampai mau dipenjara, aku pingin lho kayak kamu”.

“Eh! kenapa sih sekarang kamu suka tanya demonstrasi”

“Enggak...ah..., aku...aku... aku pingin kayak Mandella”

“O...oo...” Karmat mengambil sandal dan bergegas pulang ke rumah.

********

“Hidupkan Demokrasi!, Hidup-kan Demokrasi!,” teriak Marten di tengah-tengah lautan para pengunjuk rasa, yel-yel keadilan seperti koor perjuangan, keadilan seperti lautan yang luas dan sukar untuk diterjemahkan.

“Bersihkan korupsi, bersihkan kolusi, hilangkan nepotisme” teriak Marten menirukan orang- orang yang lagi kalap. Lalu ia ikut naik mimbar dan mengambil corong.

“Nyanyi...!,nyanyi...!, suarakan kebenaran...!” teriak massa. Marten tersadar bahwa ia sekarang di gelombang massa, ia nggak tahu apa yang harus diperbuat di saat corong di genggamannya.

“Nyanyi...! Serukan keadilan!”

Keringat Marten bercucuran, apa yang harus diperbuat.

“Eh..., cepat nyanyi atau baca puisi!” bisik seseorang ada disampingnya. Tanpa sadar Marten menyanyikan lagu kesukaannya pada waktu TK:

“Bebek, bebekku, mari kemari, ikutlah aku ke kebun bibi....”

“Hu.....huu..., lari....lari ... ada polisi...lari..., bubar..., ada tentara...., pakai panser,” seru massa.

Semuanya lari tunggang-langgang diantara mereka ada yang selamat, sebagian mereka ada yang apes, sebab kena pentungan petugas, dan digiring ke Posko Kewaspadaan Nasional. Sesampai di Posko mereka mulai diperiksa satu-satu, ada yang dipukuli, ada yang disuruh ngaku, ada yang teriak menangis, ada yang lantang, ada yang diseret di penjara.

Tubuh Marten menggigil ketakutan. Matanya melirik-lirik ingin tahu bentuk penjara, tapi...keringat dingin menguasai rasa ketakutannya. Marten, antara mau cari pengalaman dan juga mau pingsan.

“Hei, siapa namamu?” Tanya polisi.

“M...m...mm...Marten Pak”

“Kuliah di mana...?”

“S..ss..ss..Saya tukang azan, itu pak... di..ddddi Mesjid An Najah...pak..., Pengajiannya.... Ustadz Mazdu’, pak...., benar pak...sssumpah pak, saya nggak salah, saya cuman disuruh nyanyi...., saya nggak tahu...., jangan dipukul pak...ssssakit...”

“Lho! kamu anak buahnya Mas Mazdu’?, kenapa kamu ikut-ikutan demonstrasi, sana pulang sana, memalukan, jangan bilang-bilang kalau kamu saya pulangkan, dan jangan sekali-kali diulangi lagi ikut-ikutan demonstrasi, biar orang gendeng saja yang teriak-teriak” kata seorang anggota ABRI yang ternyata saudaranya ustadz Mazdu’.

“Lho kok pulang..., sssaya pingin dipenjara Pak”

“Kamu itu ada-ada saja, sana pulang, sudah saat waktu ‘Ashar, nanti telat azannya”

“I..iya..., tapi...nanti...balik lagi nggak pak?”

“Oo...nih sedikit buat ongkos naik bis kota, sana pulang nggak usah balik lagi”

“M..mmm...makasih Pak”

***

Sudah seperti biasanya, Karmat beranjak ke mesjid. Dengan memakai peci dan sarung, ia mulai mendendangkan zikir, seirama dengan langkahnya.

“Mat..., tolong kamu saja yang azan, saya pulang dulu” sapa Marten di tengah jalan sambil terengah-engah.

“Dari mana kamu Mar...,”

“Nih kuncinya”

“Lha iya..., masjid kok ya... dikunci..., orang mau ke rumah Tuhan kok dikunci, seharusnya dibuka 24 jam. Aku jadi sedih. Coba bayangkan kalau orang mau sholat malam, masa dikunci. Sini kuncinya! Nggak usah dikancing pintu masjid itu. Biar aku buka saja".

“Ya terserah, asal jangan ketahuan Ustadz Mazdu”.

“Boleh..., boleh...., tapi...” Marten berlalu.

Sembari bertanya-tanya dalam hati, Karmat masuk ke Mesjid, ia kumandangkan azan dengan suara merdu, menggantikan kebiasaan Marten. Ia nggak tahu kenapa Marten tiba-tiba berubah, dulu ngotot megang kuncinya sekarang malah dikasihkan.

“Ah..., biarlah..., itu urusan orang lain” batin Karmat, sambil meneruskan wirid shalawat Nariyahnya. Kini Karmat jadi lebih leluasa ke Mesjid, berlama-lama i’tikaf sambil mendengung kecil wirid-wirid. Bila malam-malam tanpa harus mencari Marten, ia bisa buka pintu sendiri, bahkan ia nggak mau lagi mengunci pintu mesjid itu.

“Masa masjid kok dikunci, wah..., bener-bener pergeseran nilai. Gimana nanti bila ada yang pingin sholat, atau i’tikaf, atau istirahat atau kegiatan yang lain susah...., mengamalkan hadits nabi ‘Rojulun qalbuhu mu'allaqun bil Masjid’ susah..., jadi orang modern susah. Masjid dibangun besar-besar, yang shalat cuman dua tiga orang, emangnya masjid itu kayak gereja yang hanya dikunjungi setiap minggu sekali, dasar "kristenisasi budaya...” omel Karmat dalam hati sambil memandangi masjid sejenak lalu ia tinggalkan untuk istirahat di rumah menunggu subuh.

Matahari pagi menyengat, membuat Karmat gelagapan. Dilihat jam sudah menunjukkan jam enam seperempat.

“Ya...Allah! kenapa aku bangun terlambat”, sesegera mungkin ia mengambil wudlu, tak lupa meraih peci dan menggelar sajadah. Ia menunaikan shalat Subuh di rumah. Seribu penyesalan ia tangisi dengan doa, seribu kekecewaan ia tumpahkan dengan air mata.

“Ya...Allah! kenapa aku laksana terbius seperti ini hingga aku tak tahu lagi ganjaran apa yang akan kuperoleh... Oh Tuhan, my God, Ya Allah... ampuni hambaMu, aku bagai Abu Nawas yang sama sekali tak kuat dengan gelombang siksa neraka, dan kelemahanku inilah yang menjadikan tak patut masuk ke gerbang istana firdaus-Mu. Oh Tuhan, benar... dengan tulus aku mohon ampunan, dosa-dosaku penaka hamburan debu yang terbang hinggapi nafsu... Tuhan... meledak tangisku... membuat kebodohanku muncul..., tiada lagi yang mampu melindungi alam semesta kecuali diriMu".

“Karmat!!!”

“Ya Allah..., kekasihku..., kurajuk diriMu untuk penuhi ampunanku”

“Resi Karmat!!!”

“Ya... Rabbi...dengan keadilanMu, terimalah taubatku”

“Hai...!!! Karmat keluar kau...”

“Ya...Rahman...Ya Rahim..., KasihMu tak terhingga, tujuh samudra... takkan bisa menandingi limpahan sayangMu, hambaMu mohon maaf...”

“Prak...” suara pintu didobrak dan orang-orang mulai masuk ke rumah.

“Ya...Hayyu.. Ya Qayum..., kurayu asma-Mu, agar bisa tentramkan hatiku, diriku hancur kala aku lengah dengan janji-Mu. Masjid itu kayak gereja yang hanya dikunjungi setiap seminggu sekali....."

“Ini malingnya...., ayo kita pukulin..."

Pura-pura berdoa lagi “Ya...Allah telah datang bala-ganjaranMu”

“Bug...!!!, bug...!!!, plak....!!!”

“Alhamdulillah, ternyata Kau dengar suara hambaMu, karena aku lebih takut dengan siksa JahimMu”

“Ayo..., Resi...!, Ayo...Sudra!, ngaku..., mana tape recorder..., mana pengeras suara..., kau sembunyikan di mana kotak amal. Jangan pura-pura diam..., ayo.., hei maling..., mana...” teriak orang-orang sambil menggebuki Karmat.

“Seret dia!! Bawa ke kantor Polisi....”

“Pukuli dulu..., sampai setengah mampus”

“Iya. Pukuli baru serahkan ke Polisi”

“Ya...Allah....” desis Karmat.

“Dia tetap diam..., nggak mau ngaku, kasih bogem dulu...”

“Ya...Allah...Allah..., Ahad..., Ahad...., Ahad....”

Karmat mendesis sambil membayangkan Bilal disiksa oleh Umayah, kesadarannya telah hilang, darah segar mengalir membanjiri seluruh tubuhnya, namun ia seperti terhibur dengan senandung dzikir itu, sampai tidak tahu di mana ia berada....

***

“Karmat..., maafkan Aku...”, seru Marten sembil melelehkan air mata,

“aku menyesal..., dan nggak menyangka sampai dipukuli sekejam itu. Aku kira jalan itu yang dapat mengantar aku ke penjara, tapi aku takut dipukuli hingga aku bilang yang nyolong adalah kamu, lalu mereka melabrak rumahmu, mereka pukuli kamu, dan barang-barang seisi rumahmu”.

“Yang salah aku Marten. Aku telat shalat Subuh” elak Karmat dari balik jeruji.

“Uh… uk.... Bukan, itu salahku... kenapa aku penakut..., walau ingin rasanya aku seperti Mandella yang pernah merasakan penjara, seperti kamu Karmat. Kata orang penjara itu untuk mukmin dan sorga bagi orang kafir” dalih Marten tambah sesenggukan.

“Hus! Emangnya orang yang beriman suka dipenjara..., bagaimana bisa maju, Marten, bagaimana bisa kerja, bagaimana bisa haji...?”

“Tapi orang hebat belajarnya di penjara!”

“Itu Soekarno, Hatta, Mandella..., dipenjara bukan karena nyolong pengeras suara mesjid..”

“Oh..., maafkan aku Karmat...aku nggak tahu, aku mau ngaku biar dipenjara..., disana aku bisa belajar, dan kamu bisa pulang..., aku ingin pinter seperti Mandella. Ya...Marten Mandella...Karmat..., maafkan aku... Karmat”

“Yah..., pingin sekolah gratis..., nyari penjara..., eh..kadang-kadang penjara bisa menelurkan alumnus yang besar dan hebat...” Karmat sejenak menengok kantor Polisi, tak sadar ia geleng-gelengkan kepala melihat gigihnya usaha dan luhurnya cita-cita Marten. Ia tinggalkan penjara setelah tak terbukti kesalahannya, Ia tinggalkan Marten yang kini meringkuk di penjara sesuai dengan pengakuanya.

“Semoga kau cepat pandai dan berani, Marten...!”

***

Malam-malam Karmat mulai bertandang ke Masjid, dingin menyelimuti tubuhnya, sepi..., tak ada orang..., dan Masjid itu terkunci..., tak ada lagi yang ia cari..., Marten yang dulunya setia membukakan pintu kini tak tampak lagi. Ya! masjid itu terkunci, di malam-malam sunyi..... Masjid itu tak akan berfungsi......



Read more

Mengenai Saya

Foto saya
orangnya gokil abizzz, ga suka marah..., hidup heppy aj kaleee..., ojo gae susah...!!! orep mong cuma sekali... tapi klo leh jujur, q orangx ga neko-neko... paling ngga bisa ngomong yang jelas-jelas... mudah ngga nyambung klo diajak ngobrol... yang jelas gwa CUPU bangetzzzzzzzzzzzz.......

About This Blog

Web hosting for webmasters