Sebuah Jalan yang Ditempuh Cinta

Apa jadinya ketika sepasang suami istri berbudi menjodohkan masing-masing sahabat mereka yang belum pernah saling mengenal, memiliki karakter berlawanan serta kultur yang begitu berbeda?

“Mereka akan menjadi pasangan yang hebat!” kata sang istri. Sambil mempromosikan gadis berjilbab sahabatnya.

“Sangat menarik dan akan saling melengkapi!” tutur si suami sambil dengan semangat menceritakan tentang jaka yang saleh, sahabatnya.

“Jika Allah mengizinkan, mereka akan menjadi pasangan yang cocok!”

Gadis dan jaka sama-sama kuliah di UI, namun berbeda fakultas. Mereka sama-sama aktif dalam kegiatan kerohanian Islam. Dua kali pasangan suami istri sahabat mereka itu mencoba mempertemukan jaka dan gadis dalam satu forum. Namun saat Jaka datang, si gadis tiba-tiba berhalangan. Ketika gadis hadir, si jaka yang tak bisa. Akhirnya sepasang suami istri tersebut mencoba mengatur pertemuan ketiga sambil memberikan data “orang” yang ingin mereka perkenalkan masing-masing pada jaka dan si gadis--- secara sendiri-sendiri.

Di kamar kos-nya gadis melihat data-data si jaka dan fotonya. Ini yang mau diperkenalkan itu…dan diharap oleh sahabatnya bisa menjadi pasangan hidup abadi si gadis? Priyayi Solo? Bagaimana cara berbicara yang dianggap santun oleh orang Solo? Si gadis geleng-geleng kepala. Jangankan menjadi istri, bisa-bisa dia kabur melihat gaya bicaraku…

Dalam kamar kos yang lain, di seberang gang kober, jaka tertegun. Sudah lumayan sering aku mendengar kiprah gadis itu di kampus dan majalah. Tapi apa tak salah? Si kelahiran Medan ini punya penyakit begitu banyak? Jantung, pernah gegar otak, paru-paru, kelenjar getah bening? Waduh, bagaimana bila “si penyakitan” ini kelak menjadi istrinya? Tapi prestasinya lumayan…rekomendasi dari sahabatku bukan sembarangan.

Tak dinyana, sebelum sempat diadakan ta’aruf, dalam salah satu forum di universitas, jaka dan gadis bertemu. Apa yang terjadi dalam diskusi pagi itu?

Sebuah perdebatan yang panjang. Cara pandang yang begitu berbeda. Dan tiba-tiba pagi di UI menjadi tak cerah.

Pria yang membosankan dan keras kepala, pikir si gadis.

Dasar keras hati! Belum ada perempuan yang berbicara menentangku seperti gadis ini! Pikir si jaka.

Lelaki seperti ini yang ingin diperkenalkan padaku? Si gadis nyengir. Dia akan kapok denganku dan segera melupakan langkah lanjut perkenalan kami…

Si jaka tak kalah gerah. Perempuan seperti ini? Aku selalu berpikir perempuan adalah kelembutan, kematangan, kepatuhan…, pikir si jaka. Tapi ini?

Sepanjang forum kata-kata berseliweran dalam ruangan itu, terutama dari mulut gadis dan jaka tersebut. Forum tersebut bukan tak penting, sebab mereka dan semua teman yang hadir pada saat itu tengah membicarakan suksesi kepemimpinan mahasiswa di universitas mereka.

“Menurut saya tidak bisa seperti itu!”

“Mengapa tidak? Menurut saya yang demikian yang paling mungkin!”

“Tidak bisa! Karena….”

“Bisa! Karena…."

Setelah perundingan yang melelahkan, akhirnya dicapai kesepakatan. Sebuah kesepakatan yang didapat dengan catatan.

Ini mungkin pertama dan terakhir kali kami bertemu dan berbicang, pikir si gadis. Dia pasti kapok dan tak ingin mengenalku lebih dalam. Tapi tak apa, setidaknya aku tak berpura-pura membuat ia terkesan….

Jaka resah. Gadis seperti ini? Entahlah. Keras kepala, penyakitan pula! Apa harus diteruskan?

Tak pernah ada perkenalan yang direncanakan lagi setelah itu. Kelihatannya mereka memang tak cocok dan mungkin akan saling melupakan.

Namun tak lama kemudian, pada suatu pagi, seseorang datang ke tempat gadis dan berkata: “Saya sudah istikharah dan kamu selalu muncul. Bersediakah?” (lupakan ia penyakitan, ia baik untuk menjadi istriku. Allah menunjukkannya!)

Gadis tak mengerti. Dia diam. Apa yang dilihat lelaki muda itu dari dirinya? Tak cantik. Tak kaya. Tak terlalu cerdas. Sangat biasa. Pernah “bertengkar” pada pertemuan pertama pula. Apa? Apa yang dilihat lelaki itu? Pilihan yang tak lazim…

Gadis pun memilih istikharah sebelum menjawab.

Sesuatu yang menakjubkan dan tak terduga muncul! Seperti ada yang membimbing ketika si gadis berkata “Ya”.

Sebulan kemudian, jaka melamar gadis. Dan hanya diperlukan waktu sebulan lagi sebelum kemudian jaka dan gadis menikah! Sungguh akhir yang tak terduga!

Sebuah pernikahan berlangsung sederhana namun meriah, di Jakarta. Banyak sekali saudara dan sahabat yang hadir. Mereka bertanya-tanya, bagaimana dua pasangan ini bisa bertemu?

Pada malam pertama gadis dan jaka berbicara hingga dinihari, shalat malam dan tilawah bersama.

“Jadi bagaimana sampai bisa kamu punya penyakit sebanyak itu?” tanya jaka pada istrinya tiba-tiba.

“Apa, Mas? Penyakit? Maaf, penyakit apa ya?” gadis balik bertanya.

“Jantung, gegar otak, paru-paru, kelenjar getah bening, ….”

“Apa?” gadis bingung.

“Mas baca di datamu. Data yang diberikan oleh sahabat kita itu! Tapi Mas sudah ikhlas kok menerima dengan segala kelebihan dan kekurangan. Semoga kamu juga begitu ya….”

Gadis ternganga. "Penyakit?"

“Mas, aku nggak punya penyakit seperti itu. Paling-paling cuma mag…,” gadis nyengir lagi.

Jaka terkejut sekali. Tak lama wajahnya berseri-seri. “Alhamdulillah” (ia ingat, ia sudah mengambil resiko untuk memilih gadis yang keras kepala itu, meski ia “penyakitan,” meski orangtuanya sangat keberatan dengan ragam penyakit calon menantu mereka). Mata jaka berkaca.

Allah Maha Besar! Allah Maha Besar!

Malam itu si gadis menyempatkan diri mengirim pesan via pager pada sahabat perempuan yang sangat disayanginya: Mbak sayang, datanya ketuker ya? Or salah tulis soal penyakit? Hebat dia masih maju terus! Aku tahu dia memang bukan lelaki biasa! ;)

Bulan bahkan sudah tidur sejak tadi. Tapi jaka dan gadis seperti tak ingin memejamkan mata. Mereka tak berhenti menatap satu sama lain; sebuah pesona yang lama dinanti, hadir dari lintasan misteri, menerpa hati dan wajah mereka. Menyala. Ini cinta? Atau belum lagi sampai pada cinta? Apapun itu, mereka percaya, kebaikan menumbuhkan cinta; keindahan yang tangguh. Dan pacaran sesudah menikah? Hmm mungkin itu kenikmatan berlimpah berikutnya :)

Subuh pun hadir membasuh kembali wajah mereka. Suara adzan terdengar menggetarkan. Jaka dan gadis sadar, telah mereka genggam anugerah tak terkata itu: bertemu dengan pasangan jiwa yang sudah dituliskan Illahi.

Kini telah lebih dari sepuluh tahun, cinta menemukan dan menempuh jalannya.

Semoga abadi!



Read more


Indonesia Belum Menyerah

“Aku seorang seniman,” lelaki berambut gondrong itu berkata padaku. “Tapi tidak sepertimu, aku cuma seniman pinggiran,” tambahnya lagi seraya menyebut namanya: Iwan, tinggal di Tanjung Priok.

Waktu itu Desember, 2000, hari sudah senja di Taman Ismail Marzuki. Aku baru saja berkenalan dengan Iwan dan Ratri adik perempuannya, di toko buku Jose Rizal Manua.

“Aku tidak percaya partai, Mbak,” tiba-tiba Ratri berkata, pada pertemuan kami yang berikut, dua minggu kemudian, di tempat yang sama “Apalagi pada tokoh-tokohnya. Muak sekali melihat mereka,” tambahnya sinis.

“Ya…, aku juga. Nggak ada yang benar. Partai yang besar kubenci, yang kecil bikin aku geli. Lihat deh partai-partai gurem itu kan nggak jelas. Ada juga yang membawa agama untuk kepentingan partai, sekadar memanipulasi ayat Tuhan!” nada suara Iwan agak geram.

“Ya, tapi tak semua….,” bantahku.

Sayang percakapan kami terhenti karena tiba-tiba hujan turun begitu deras.

Kami berpisah, dua tahun lalu, di TIM tanpa pernah bertukar alamat dan tak pernah bertemu lagi setelah itu. Sampai akhir November 2002, seseorang menyapaku, di tempat yang sama: Taman Ismail Marzuki.

“Assalaamu’alaikum, Mbak! Masih ingat saya? Saya Iwan, seniman pinggiran itu….saya sudah potong rambut. Apa Mbak masih mengenali saya?”

Sesaat aku mengernyitkan dahi. Sosok di depanku sangat rapi dan sopan. Tapi ia memang Iwan. Dan topi yang dipakainya? Aku kembali mengerutkan dahi…, Iwan memakai topi berlambang Partai Keadilan?

Ia membuka topinya dan tersipu. “Sekarang saya jadi aktivis PK, Mbak. Masih kecil-kecilan.”

Aku tersenyum. Bagaimana bisa?

Segera kuajak Rita teman yang sejak tadi bersamaku dan Iwan makan siang bersama.

“Tahun lalu banjir besar melanda Tanjung Priok. Teman-teman dari partai itu yang pertama datang ke lokasi. Mereka membantu kami bukan hanya pada hari itu, tapi berbulan-bulan kemudian masih memantau keadaan kami. Mereka melakukan semua tanpa pamrih, tanpa mengajak kami masuk partai mereka. Mereka juga membuka pos-pos pelayanan masyarakat secara gratis,” kata-kata Iwan meluncur begitu cepat.

“Lalu?”

“Saya mulai ingin tahu tentang PK. Mereka memang unik. Saya berkali-kali mengadakan demonstrasi dengan kelompok saya. Jumlahnya cuma seratusan, tapi pasti ricuh. Sementara saya lihat setiap teman Partai Keadilan turun melakukan aksi di jalan, sampai ribuan orang, tak sedikit pun ada keributan. Kelihatannya kok tenang, kok asyik,” Iwan menghirup air jeruknya.

Aku dan Rita berpandangan. Nyengir.

“Saya bertemu DR. Hidayat Nurwahid awal tahun ini. Wah, dia memeluk saya. Padahal saya bukan apa-apa. Waktu itu saya mengikuti ceramahnya di Al Azhar. Saya salami dia. Eh, dia menjabat tangan saya erat, malah memeluk saya,” Kenang Iwan haru. “Waktu itu Hidayat Nurwahid berkata pada banyak orang, termasuk saya: Bahkan seandainya Anda tidak masuk ke Partai Keadilan sekali pun, tapi Anda mendukung, menegakkan dan melaksanakan keadilan, yang itu berarti Anda mengamalkan Islam, maka Anda sesungguhnya sudah menjadi bagian dari kami. Saya terharu sekali, mbak!”

Lagi-lagi aku dan Rita saling berpandangan. Itu perkataan yang memang sering diucapkan Presiden PK: Dr. Hidayat Nurwahid.

Iwan masih terus bercerita. Angin kencang Kafe Musi di area terbuka TIM tempat kami duduk, menyentuh dan menggeser lembaran-lembaran Majalah Tempo edisi terbaru, November 2002 yang ada di pangkuanku. Tak sengaja ekor mataku membaca tulisan itu sekali lagi: “Indonesia Belum Menyerah!”

Dalam edisi tersebut terdapat “Figur Pahlawan Pilihan Pembaca”, sebuah polling yang melibatkan ratusan pembaca Tempo. Sholahudin Wahid, Hidayat Nurwahid, Abdullah Gymnastiar, Kwik Kian Gie, Susilo B Yudhoyono, Sri Sultan Hamengkubuwono dan Iwan Fals adalah tujuh nama yang menjadi pilihan pembaca secara berurutan.

Iwan masih terus bercerita. Angin meliukkan jilbab putihku sesekali. Tiba-tiba aku teringat wajah teman-temanku yang tak henti memikirkan masalah ummat itu….

Ah, Indonesia tak akan menyerah, Wan! Tak akan pernah!



Read more


Sebuah Harapan

DIARY-ku. Jam delapan malam. 17 Nopember. Suasana pelabuhan masih terasa padat. Angin laut yang membawa butiran-butiran air terasa dingin menusuk hingga ke tulang. Pukulan angin cukup kencang memukul-mukul benda-benda yang berusaha menghalangi lajunya.

Di atas kapal yang hendak berangkat, aku berdiri tegak dan melemparkan pandanganku ke lautan luas, meski gelap dan angin begitu kencang memukul-mukul tubuhku. Sesekali aku membenarkan letak jilbab hijau esmeralda yang berkibar-kibar diterjang angin. Aku melangkah dan merapat ke sisi kapal yang dibentengi pagar besi. Menunduk sebentar dan membenarkan letak kacamataku.

Diary, bagi seorang wanita, usia dua puluhan, telah nampak tanda-tanda kedewasaan. Dan itu pula yang selama ini sedang aku pikirkan seorang diri. Pikiranku mengembara menembus mega-mega hitam.

Ah, hidup ini memang misteri. Nggak nyangka. Betul-betul nggak nyangka kalau Mas Rahadi ternyata mau menikahi aku.

Aku mulai mempermainkan jari dan mengepal-ngepalkannya untuk mengusir hawa dingin yang mulai merayap di sekujur tubuhku.

Angin malam ini jadi saksi. Kalau aku ternyata diam-diam mulai menyukainya, kalau diam-diam aku memiliki sebuah harapan. Aku kenal Mas Rahadi meski baru luarnya saja. Tapi cukup membuat aku berdebar-debar saat dia menyatakan berminat menjadi pendamping hidupku. Ia mau berusaha menjadi teman sekaligus suami yang bisa membina dan membimbingku. Benar-benar misteri.

Kuseret kaki menuju bangku kecil yang ada dekat musholla di kapal ferry ini. Kaki yang dari tadi sudah mulai gemetaran menahan terjangan dingin angin malam.

Tapi... kenapa orang rumah nggak begitu menyukai kehadirannya, kenapa papa dan mama begitu membencinya. Adakah yang salah dalam dirinya? Adakah sesuatu yang mengerikan dalam jiwanya? Aku sama sekali tak mengerti. Sepertinya aku harus berusaha keras. Berusaha dan berusaha sampai papa dan mama mau menerima Mas Rahadi apa adanya.

Sejurus kemudian aku jemu memandang laut dan langit yang ditaburi bintang-bintang. Kuturuni tangga kapal yang mulai meninggalkan pelabuhan Bakauheni menuju pulau Jawa, yang selama ini jadi tempat awal bertemu dengan pria yang hendak menjadi pendamping hidupku. Detik-detik berikutnya aku terlelap dalam sebuah ruangan ber-AC setelah agak lama mataku berusaha memelototi gambar-gambar hidup di layar televisi.

****

Diaryku. Jam lima sore awal Desember. Langit kotaku tak lagi mendung. Angin siang tadi baru saja mendorong mega-mega menjauhi kota. Sinar matahari yang mulai meredup menambah suasana sore yang cerah lebih bernuansa. Selembar foto diri Mas Rahadi tergeletak tak jauh dari meja yang dipenuhi beberapa buku dan catatan-catatan pengajian siang tadi.

Ah, aku sudah dikhitbah Mas Rahadi. Dan sebenarnya aku sudah siap menjadi pendamping hidupnya. Hari bahagia itu ingin segera kuraih. Ingin segera merasakan bagaimana menjadi seorang istri dan ibu dari anak-anakku. Ya, sudah sebulan ini Mas Rahadi mengkhitbahku. Sering juga aku berkomunikasi dengannya. Lumayan juga. Ia bisa mengerti segala keinginanku. Bahkan ia pernah mengatakan bahwa ia bersedia menerima aku apadanya. Ia bilang bahwa manusia itu nggak ada yang sempurna. Justeru dengan hidup berdampingan sebagai suami istri nanti, di situlah seseorang harus bisa bersikap bijaksana dengan menghargai pasangannya. Saling mengisi di antara kelebihan dan kekurangannya. Jangan sampai egoisme menjadi penghalang untuk saling menghargai. Mas Rahadi juga pernah bilang, bahwa keluarganya siap menerima aku apa adanya. Karena pilihan Mas Rahadi adalah pilihan keluarganya. Aku yakin, kalau dia berkata sesungguhnya.

Namun, itu tak berarti pihak keluargaku menerima juga kenyataan ini. Terutama mama, beliau masih menyimpan misteri tentang penilaiannya sama Mas Rahadi, yang aku sendiri tak pernah bisa mengerti sampai sekarang. Yang pasti beliau nggak suka dengan kehadiran Mas Rahadi. Entahlah, aku tak habis pikir. Kadang-kadang aku bertanya, kurang apa sih sebenarnya Mas Rahadi dalam pandangan mereka? Apa kurang ganteng? Ah, masak seorang aktivitis pengajian masih melakukan penilaian seperti itu hanya untuk menyenangkan hati ortunya. Tapi mungkin wajar juga ya? Entahlah, aku sendiri sebenarnya tak terlalu memikirkan. Mau tampangnya mirip Leonardo Di Caprio atau Jared Letto, nggak peduli, yang penting akhlaknya baik. Biarin cakep juga asal taat. Hi..hi.. (enak dong kalau gitu).

Eh, benar nggak sih, kalau Mas Rahadi itu orangnya eksentrik? Kata Ria, sohib karibku, ia nggak nyangka kalau Mas Rahadi suka nonton film-film yang romantis, kayak Sleepless In Seatle, Romeo and Juliet, The House of Spirit atau Titanic, juga Hope Floats. Emang sih, Mas Rahadi pernah bilang kalau kenyataan yang sedang dihadapinya mirip di film Hope Floats yang pernah ditontonnya. Entahlah, karena aku sendiri belum pernah menontonnya. Maklumlah di tempat kostku nggak ada VCD Player atau komputer yang dilengkapi dengan program MPEG. Beda dengan tempatnya tinggal, nyaris perangkat teknologi informasi ada semua. Termasuk komputer yang sudah dilengkapi dengan program untuk nyetel VCD.

My Diary. Akhir Nopember. Hari ini aku baru saja menjelaskan sama papa dan mama soal hubunganku selama ini dengan Mas Rahadi. Seperti biasa mereka nggak terlalu antusias menanggapi. Aku bingung. Aku jadi salah tingkah. Konsentrasiku buyar, hingga membuat aku selalu melakukan kesalahan-kesalahan yang tak perlu dalam setiap pekerjaanku. Papa selalu diam kalau aku tanya kenapa papa mempersulit aku untuk menikah dengan Mas Rahadi. Dengan memasang target yang menurutku tak masuk akal. Bayangkan, tiga tahun. Sekuat-kuatnya keimanan seseorang, aku khawatir goyah juga. Apalagi jaman sekarang, dimana informasi begituan bisa dengan mudah diakses lewat internet atau majalah-majalah. Ditambah dengan kehidupan sosial yang amburadul seperti sekarang ini. Pendek kata, godaan ke arah sana semakin berbahaya.

Papa selalu beralasan soal mengenal pribadi. Padahal aku sudah kenal. Aku sudah yakin kalau Mas Rahadi adalah pilihanku. Dari informasi-informasi yang sampai kepadaku soal Mas Rahadi hampir seluruhnya adalah informasi yang baik. Tentang dakwahnya, tentang akhlaknya, tentang tanggung jawabnya, tentang kepribadiannya. Segalanya deh. Insya Allah Mas Rahadi telah jadi pilihanku. Lalu, alasan primadona yang sering dilontarkan papa adalah bahwa untuk sampai ke pernikahan, butuh banyak biaya.

Aduh, diary. Aku harus bilang apa lagi. Aku sudah katakan sama papa bahwa yang penting dari pernikahan itu adalah akadnya. Bukan rame-ramenya. Buat apa nabung uang berjuta-juta hanya dihabiskan dalam waktu sehari, dan hanya untuk sebuah alasan klise; prestis? Betapa naifnya. Lagi pula papa mestinya ngerti ya, diary. bahwa memasuki dunia baru lewat pintu gerbang pernikahan itu bukan berarti harus selalu sudah siap segalanya. Sudah punya rumah, punya pekerjaan yang benar-benar mapan dengan gaji gede, punya kendaraan yang lux, memiliki status sosial yang gemerlap dan aksesoris-aksesoris duniawi lainnya, sementara mengesampingkan aspek akhlak, keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. Menurutku, pernikahan adalah gerbang menuju kehidupan baru yang akan dibangun bersama-sama. Membangun dari nol. Dengan suka dan duka. Dijalani bersama. Tentu itu akan lebih menambah nilai ibdah. Karena nikah termasuk salah satu ibadah kepada Allah Swt. Ya, itulah pendapatku. Nggak salah kan diary-ku?

Namun, apa reaksi papa, diary. Papa hanya diam seribu bahasa. Yang aku khawatirkan diamnya papa adalah diamnya gunung berapi. Diam, tapi suatu saat akan memuntahkan lahar panas yang mematikan. Mungkin papa mau mengekpresikan kasih sayang kepada anaknya, tapi menurutku itu tak pada tempatnya. Penyataan yang salah pada waktu yang salah. Karena standar penilaiannya berbeda jauh dengan nila-nilai Islam. Ah, entahlah diary, aku nggak ngerti sampai sekarang.

***

Diary-ku sayang. Jam tujuh pagi, awal Desember. Ria, sohibku yang paling setia baru saja mengabarkan via telepon bahwa Mas Rahadi bakal ngirim surat sore nanti. Terus terang aku deg-degan nggak karuan. Bagaimana tidak, aku merasa ada yang salah setelah peristiwa beberapa waktu lalu, ketika Mas Rahadi selalu bertanya kepadaku soal apakah aku masih tetap mencintainya, apakah aku masih tetap menyukainya, aku selalu tak bisa berterus terang. Maklumlah aku ini kan perempuan yang masih menyimpan rasa malu ketika harus berhadapan dengan sebuah pertanyaan tentang keterus-terangan dalam urusan yang sensitif seperti itu. Padahal, aku benar-benar menyukainya, aku sungguh-sungguh mencintainya. Meski ketika itu aku diam saja.

Masih kuingat komentar Ria kemarin sore. "Nuri, kamu ini kok kayaknya aneh banget, deh. Katakan terus terang dong. Jangan membuatnya selalu was-was. Tahu, nggak, Mas Rahadi itu butuh support dari kamu. Ia akan lebih merasa senang ketika kamu terus terang mengatakan cinta atau suka kepadanya. Kamu kan suka baca buku-buku psikologi. Masak belum ngerti juga? Tahu nggak, ini waktu yang tepat!" begitu kata Ria penuh semangat dan membuat aku terpojok dan tak mampu berkata-kata banyak.

Diary, jarum jam sepertinya malas untuk berputar. Kamar ini terasa dingin membeku. Waktu terasa begitu lambat berjalan. Aku sudah nggak sabar lagi menerima surat dari Mas Rahadi yang tentunya rada-rada spesial. Maklumlah, selama ini aku nggak pernah menerima surat dari laki-laki. Khususnya, yang telah mengkhitbahku. Kira-kira apa yang bakal dibahas dalam suratnya yang selalu bertabur kata-kata indah. Paling tidak itu menurutku. Ya, kita tunggu aja yuk?

Jam lima sore. Diary, ia benar-benar memenuhi janjinya. Ia datang di saat aku membutuhkannya. Tepat. Senyum khas yang selalu menghias bibirnya kembali hadir di hadapanku. Deg-degan juga. Ah, betapa kuatnya energi cinta seorang yang sedang kasmaran. Amplop biru muda berisi lipatan-lipatan kertas yang telah ditulisi sekarang ada dalam genggamanku. Selalu singkat pertemuan itu. Ia segera menghilang dalam pandanganku dan meninggalkan rasa senang yang hebat. Tak sabar aku ingin melihat isi tulisan yang bermuatan kata-katanya yang khas. Oh, ternyata dilengkapi sebuah pita kaset The Beatles. Ah, eksentrik memang. Aku buru-buru membacanya dengan debaran jantung yang tak karuan.


Ba’da tahmid dan salam.

Dik, Nuri. Gimana kabarnya? Semoga tetap dalam keadaan sehat dan senantiasa dalam lindungan-Nya, serta tetap beraktivitas dalam dakwah. Semoga kita tetap bisa menjaga batas-batas kesucian. Kita berharap semoga Allah memberkahi kita semua.

Dik Nuri. Langsung saja. Mas Rahadi minta maaf bila selama ini selalu bertanya soal kesetiaan dan keteguhan hati Dik Nuri dalam mencintai Mas Rahadi. Sekali lagi, mohon maaf. Dik, jangan kaget kalau surat Mas Rahadi, kali ini agak aneh dan mungkin terkesan “nakal” dengan menyisipkan kaset. Nggak ada maksud apa-apa selain ingin membuat adik bahagia. Ya, barangkali hal yang mubah ini bisa menjadi sarana kebahagiaan adik. Bisa jadi, ini adalah wujud ekspresi dari rasa kasih sayang Mas Rahadi sama adik. Khusnudzan saja, ya? Sebagian jawaban dari rasa penasaran adik terhadap pertanyaan Mas Rahadi, mungkin ada dalam salah satu judul lagu The Beatles tersebut. Yang jelas, Mas Rahadi hanya berusaha untuk meyakinkan saja dengan apa yang selama ini Mas Rahadi harapkan.

Dik Nuri, Mas Rahadi sangat kagum dengan apa yang adik katakan beberapa waktu lalu bahwa adik rela dibawa sama Mas Rahadi dalam kondisi apa pun, selama masih dalam naungan Islam. Mas Rahadi pikir, itu adalah jawaban bijaksana dan dewasa. Karena belum pernah mendengar sebelumnya dari seorang wanita. Terus terang itu menambah point tersendiri bagi Mas Rahadi.

Dik, kayaknya sekarang singkat saja ya, suratnya. Soalnya masih banyak persoalan lain yang harus Mas selesaikan. Dik, tolong putar lagu Jealous Guy, ya! Eh, kok malah ngasih bocoran, ya? Afwan. Syukron.

Salam
Rahadi


Aku segera melipat kembali kertas wangi berwarna hijau muda tadi. Kemudian kumasukkan kembali ke amplop. Ah, memang eksentrik makhluk satu ini. Kaset The Beatles segera kuputar. Dan sesuai dengan pesanan dalam surat, aku lebih dulu memutar lagu Jealous Guy. Diary. aku perhatikan bait demi bait dalam syair lagu itu , sampai pada kata-kata begini.: I did’nt mean to hurt you, I’m sorry that I made you cry. I did’nt want to hurt you, I’m just a jealous guy.

Diary, akhirnya aku ketawa sendiri dengar lagu itu. Ternyata Mas Rahadi itu jealousy juga orangnya, ya? Ah, ada-ada saja. Tapi benar juga sih. Kadang kala aku pun berpikir hal yang sama (hi..hi..hi..).

Aduh, diary. Aku kembali “perang” dengan mama dan papa. Hal yang selama ini tak pernah kuinginkan itu terjadi lagi. Sebenarnya, papa sangat menyayangi aku. Malah perhatiannya itu boleh dikatakan sangat berbeda bila dibandingkan dengan sikapnya kepada kakak-kakak dan adikku. Aneh memang. Tapi itulah faktanya. Sehingga membuat aku selalu tak pernah ingin menyakiti hatinya. Pernah suatu ketika aku minta sama papa supaya beliau membiaya kuliahku. Ia manut saja, bahkan bersedia mengeluarkan biaya berapapun. Tapi, karena berbagai alasan, akhirnya terpaksa mengubur keinginanku untuk kuliah. Karena aku pikir kondisi keuangan keluarga tak memungkinkan. Meski papa tetap semangat.

Seminggu menjelang Idul Fitri.

Diary, aku baru saja bilang sama papa, bahwa hubunganku dengan Mas Rahadi nggak mungkin kalau harus kandas begitu saja. Jangan sampai cinta suciku terganjal sebuah keinginan orang tua yang senantiasa mengusung prestise. Aku malu. Betul-betul aku malu, diary. Gimana nggak, itu kan hal-hal yang seharusnya tak perlu terjadi pada sebuah keluarga aktivis sepertiku. Aku hampir saja putus asa, bahkan patah arang, kalau saja aku tak punya keimanan. Untung Mas Rahadi selalu membantuku menyelesaikan masalah-masalah yang aku hadapi. Aku terkesan dengan omongannya, bahwa manusia hidup itu senantiasa memiliki masalah. Meski dalam kadar yang berbeda tiap individu tersebut.

Diary, tahu nggak yang aku bilang sama papa? Kata-kataku itu membuat papa mengamuk hebat dan bahkan memaki-maki aku. Habisnya aku kesal. Papa selalu berlindung di balik pernyataan sayang. Dia bilang, aku adalah anak yang paling disayanginya. Tapi faktanya, ternyata aku malah menderita dengan sikapnya yang sebenarnya menurutku egois. Papa hanya mencintai dirinya sendiri. Terbukti ketika aku memohon untuk meluluskan permintaanku untuk menikah dengan Mas Rahadi, beliau menolaknya dengan berbagai alasan. Saking kesalnya, aku bilang begini sama papa, “Pa, Nuri tahu kalau Papa memang sangat menyayangi Nuri. Menyayangi lebih dari saudara yang lain. Entah atas dasar apa papa menyayangi Nuri. Apa karena Nuri anak baik-baik? Nuri masih meragukan.”

Diary, Papa begitu marah. Terlihat wajahnya merah menyala. Tapi ia hanya diam. Diam menahan amarah. Mungkin juga dilematis, karena ternyata justru anak kesayangannya yang berkata seperti itu. Kata-kata yang sepertinya menikam tepat di nyawanya.

Aku bilang lagi, “Kalau memang Papa benar-benar menyayangi Nuri, coba tunjukkan rasa kasih sayang itu dengan nyata. Papa sedih nggak kalau Nuri menderita? Pasti sedih kan, kalau memang benar-benar menyayangi. Nah, Papa harus tahu, justru Nuri sedih dengan sikap Papa seperti itu. Nuri menderita. Sepertinya Papa sayang sama Nuri hanya sebagai lipstik saja karena sebenarnya Papa lebih cinta pada diri papa sendiri. Papa lebih sayang sama diri Papa sendiri. Mungkin Papa takut kehilangan muka bila Nuri harus menjadi pendamping Mas Rahadi. Iya, Pa? Iya kan Pa? Atau.. karena Papa terlalu sayang sama Nuri, sehingga Papa khawatir bila ada orang lain yang mau menyayangi Nuri, mau membimbing Nuri merebut hak Papa dalam menyayangi Nuri? Benar nggak, Pa? Bila demikian, Nuri sama sekali nggak nyangka kalau ternyata di jaman yang serba modern ini masih hidup orang-orang kuno seperti Papa. Dan....”

“Diam!” suara Papa menghentikan ocehanku, diary. Aku takut melihat mata Papa yang melotot ke arahku.

“Pa..” aku mencoba meneruskan meski agak takut.

“Plak!’ pukulan tangan kanan Papa tepat mengenai pipi kiriku, diary. Diary. aku meringis dan menangis. Menangis karena ternyata yang memukul adalah papaku sendiri, yang katanya sangat menyayangi. Aku jadi nggak percaya sama papa.

Diary, aku berlari menuju kamarku. Aku tahu papa kelihatannya menyesal. Namun aku berusaha untuk tetap mengunci diri di kamar. Diary, papa mengetuk-ngetuk pintu sambil memohon maaf. Tapi aku tetap tak mau membuka pintu. Bahkan semakin membenamkan mukaku ke bantal. Kutumpahkan semua kekecewaan ini. Pokoknya kecewa berat.

Diary, hari ini hari bahagia. Idul Fitri. Aku masih trauma dengan kejadian beberapa hari lalu yang tentu saja menimbulkan kekakuan hubunganku dengan papa. Hambar.

Mama memang cenderung tak mau tahu dengan kejadian beberapa hari yang lalu. Apalagi memang mama sangat nggak peduli sama aku. Hanya karena gara-gara aku menyukai Mas Rahadi. Yang mungkin menurut Mama adalah salah. Yang bisa dikatakan itu adalah kesalahan berat. Ibarat pemain sepak bola. Aku kayaknya sudah melakukan pelanggaran keras, hingga berhak menerima kartu merah. Ah, aku sendiri jadi serba salah. Siapa sebenarnya yang salah, aku ataukah mereka, atau malah Mas Rahadi? Otakku berputar keras bagai sebuah hardi disk komputer yang harus memproses file ukuran raksasa.

Diary, hari bahagia yang seharusnya menjadi hari kasih sayang dalam keluarga, ternyata bagiku tak beda dengan masa-masa sulit yang biasa aku terima sejak aku memilih Mas Rahadi sebagai calon pendamping hidupku. Ah, entahlah diary. Aku kok seperti kehilangan semangat hidup. Gairah hidupku lenyap begitu saja ketika aku harus menghadapi semuanya sendirian. Aku gamang. Meski belakangan aku ceritakan juga masalah ini kepada Mas Rahadi. Ajaib, Mas Rahadi mau ngerti soal ini. Ia malah memberikan pemecahan yang terus terang saja menerbitkan sebuah harapan. Tidak saja itu, ia mampu memberikan semangat kepadaku untuk tetap hidup dan berdakwah. Ah, memang lain Mas Rahadi ini. Tapi sayang, hati papa dan mama masih sulit untuk diluluhkan. Hati mereka masih tegar kokoh dengan segala keinginannya yang hampir menenggelamkan harapan-harapanku, juga harapan kakak-kakakku. Ah, papa dan mama memang egois, diary. Betul-betul egois. Aku jadi iri dengan beberapa orang tua sohibku. Mereka kok kayaknya bijaksana banget dengan keinginan-keinginan anaknya. Keinginan yang wajar tentunya. Ah, semoga papa dan mamaku demikian pula. Aku berharap semoga papa dan mama menyadari kekeliruannya selama ini. Aku tetap menghormati mereka, meski tak semua keinginannya aku penuhi, terutama keinginan-keinginan tak wajarnya. Seperti mempersulit aku untuk menikah dengan Mas Rahadi.

Diary, kalau memang papa dan mama sayang sama aku, tentu sudah sejak lama ia memberikan harapan terhadap keinginan-keinginanku. Papa dan mama memang egois, diary. Kayak mereka nggak pernah muda aja, ya?

Diary, aku capek mengikuti kemauan mereka yang aneh-aneh dan tak masuk akal. Tapi suatu saat aku harus mampu membuat mereka berpikir, bahwa sebenarnya akupun bisa berbuat banyak untuk urusan ini. Kenapa aku cenderung nrimo akhir-akhir ini, itu karena aku ingin menunjukkan sikap hormatku pada mereka. Namun, kelihatannya sikap lemahku itu hanya membuat papa dan mama merasa ada di atas angin. Merasa menemukan jurus-jurus ampuh untuk memojokkanku. Hingga aku diharapkan tak bisa mengelak lagi dan harus ikut dengan kemauan papa dan mama.

Diary, hari ini aku ulang tahun. Tepat di usiaku yang ke dua puluh dua. Aku bahagia. Tentu saja, karena ini adalah hari bersejarah bagiku. Aku tetap menyalakan sebuah harapan dalam hatiku. Harapan yang senantiasa menjadi obsesiku. Tak ada ucapan atau bingkisan dari papa dan mama. Aku tahu mereka sangat kecewa dengan keputusanku selama ini dalam memilih Mas Rahadi sebagai calon pendamping hidupku. Ya, calon, karena papa pernah mengatakan setuju dengan pilihanku, meski dengan syarat. Tiga tahun, baru boleh menikah. Berat memang. Namun aku dan Mas Rahadi tetap berharap waktu itu tak begitu lama. Setahun adalah waku normal yang kuinginkan. Semoga papa dan mama mau mengerti keinginanku. Keinginan yang menurutku adalah wajar, bila kejadian terdahulu yang menimpa kakak-kakak perempuanku tak ingin terulang. Meski aku nggak ingin itu terjadi padaku. Tapi mungkin dalam bentuk lain.

Ya, kalau memang papa dan mama sayang sama Nuri, diary. Mereka pasti sudah menyambut kehadiran Mas Rahadi sebagai menantunya. Ya, mungkinkah itu terjadi? Setidaknya itulah harapanku, diary. Kira-kira menurutmu, diary, papa dan mama akan meluluskan keinginanku nggak? Kalau nggak, aku sangat kecewa sama mereka. Dan aku tetap menderita atas sikapnya yang sok menyayangi aku. Ya, kadangkala sebagai anak, aku harus menerima perlakuan yang tak wajar. Papa dan mama selalu berlindung di balik alasan "demi kebahagiaan kamu”. Seolah kalimat itu dijadikan tameng untuk menentramkan pikiranku. Yang sebenarnya justru membuatku semakin gelisah dan menderita.

Diary, Mas Rahadi hari ini datang menemuiku dan mengucapkan selamat ulang tahun dalam bentuk lain. Aku merasakan ini adalah ekpresi kasih sayang Mas Rahadi padaku. Tentu aku bahagia. Karena belum pernah ada seorang lelaki yang memberikan ucapan itu sebelumnya di hari bahagiaku.

Diary, aku cukupkan sampai sini dulu ya. Yang jelas harapanku tetap besar untuk menjadi pendamping hidup Mas Rahadi. Siapa tahu catatan ini nanti bisa dibaca sama papa dan mama. Moga-moga juga mereka mau ngerti penderitaan dan keinginan-keinginanku. Semoga, ya diary?





Read more


KISAH SABRINA


Sabrina Nur Laily. Sabrina cahaya malam. Ah, cocok sekali namanya. Ia memang bersinar, tapi sinarnya tak menyilaukan. Aku pertama kali mengenalnya saat masa orientasi mahasiswa baru dan penataran P4. Seluruh mahasiswa baru dikumpulkan, lalu dibagi dalam beberapa kelompok dan regu. Aku satu regu dengannya.

Sabrina, anak dari Fakultas Teknik itu, ternyata pandai berdebat. Diskusi dalam regu lebih mirip pertarungan satu lawan satu antara aku dan dia. Yang lain berfungsi sebagai penonton. Yang berpikir-pikir akan memihak aku atau dia.

"Aku nggak setuju sama Pancasila. Memang dia itu apa? Agama? Ideologi yang benar itu Islam." Gadis yang selalu memakai rok dan jilbab lebar itu berkata penuh semangat. Aku melirik ke semua anggota regu. Untungnya kita muslim semua. Kalau tidak, wah bisa rame nih.

"Iya. Tapi Indonesia itu Bhinneka Tunggal Ika. Ada lima agama yang diakui negara. Pancasila berfungsi mempersatukan perbedaan-perbedaan itu. Indonesia bukan negara agama." Aku pun tak kalah bersemangat.

Begitulah awal perseteruan kami. Aku si Pembela Pancasila dan Sabrina si Pejuang Islam. Sabrina pasti jenis Islam yang "begitu", pikirku. Aku tidak menemukan definisi yang tepat dengan "begitu" yang aku maksud. Masa itu jumlah jilbaber masih sedikit sekali. Jadi jilbaber identik dengan Islam yang "begitu".

"Hukum negara itu buatan manusia. Nggak mungkin adil. Hukum Allah yang paling adil. Syariat Allah harus ditegakkan." Seperti biasa, Sabrina berapi-api. Eitss, biar masih culun begini, aku sudah resmi jadi mahasiswa Fakultas Hukum. Baru tadi pagi kartu mahasiswanya dibagikan. Aku mulai terbakar.

"Keadilan? Di Pancasila juga ada. Nggak inget ya? Sila kelima." Aku menyindir.

"Hukum itu tergantung dimana dia diletakkan. Hukum turut mengakomodasi budaya dan adat setempat. Maka itu ada hukum adat. Kalau disahkan, ia jadi hukum yang mengikat."

"Kalau begitu, hukum sifatnya relatif?" tanyanya.

"Ya. Seperti di Amerika Serikat, negara federal. Setiap negara bagian mempunyai hukum sendiri-sendiri yang berbeda dengan negara bagian lain. Yang penting hukum disepakati dan disahkan." Uhh, gayaku menerangkan layaknya pengacara kondang saja.

"Kalau relatif, dimana letaknya keadilan?"

"Keadilan itu ketika setiap orang berusaha menegakkan hukum-hukum yang berlaku di wilayah tersebut." Aku menangkis pertanyaannya.

"Sumber hukumnya apa? Darimana?"

"Sumber hukumnya banyak. Hukum yang sudah berlaku sebelumnya, adat, norma, kebiasaan yang ada di wilayah tersebut. Kalau di Indonesia, nggak perlu ditanya. Kan baru kemarin materinya. Ada Pancasila, UUD 1945, UU, dan yang lainnya. Kamu kemarin pasti nggak nyimak deh!"

"Memang yang menciptakan Pancasila siapa?" Sabrina tetap memburu.

"Uh pakai nanya. Kalimat retoris. Aku nggak mau jawab!" tukasku.

"Kalau yang jadi sumber hukum saja buatan manusia, bagaimana mungkin bisa tercipta keadilan? Sumber hukum hanya Al Quran dan Sunnah." Suara Sabrina melunak. "Dari kedua sumber hukum itu, bisa ditarik berbagai macam hukum yang berkaitan dengan kehidupan manusia. Hukum masalah ibadah maupun hukum dalam hubungan antar manusia. Kalau mau diteliti lebih lanjut, ada banyak hikmah dibalik hukum-hukum Islam. Seperti qishash, potong tangan, rajam. Memang perlu waktu untuk memahaminya."

Aku diam, yang lainnya juga. Sabrina melanjutkan. "Hukum di Indonesia hanya mengakui yang sudah tertulis. Hukum Pidana secara formal adalah peninggalan Belanda. Dengan kata lain sebenarnya untuk kasus pidana tidak ada yang berdasarkan adat atau kebiasaan setempat. Sedangkan hukum Islam itu universal, berlaku untuk siapa saja. Mencakup segala segi kehidupan, baik kehidupan pribadi, keluarga, maupun masyarakat. Pokoknya komplit. Kesimpulannya Pancasila nggak pantas jadi sumber hukum karena buatan manusia."

Rupanya anak Teknik yang satu ini pintar berceloteh tentang hukum. Jangan-jangan Sabrina salah masuk jurusan?

"Eh, nanti dulu. Pancasila itu pemersatu dari Indonesia yang heterogen. Jangan lupa kemajemukan kita," aku menukas.

"Iya nih Sabrina. Bagaimana dengan agama lain. Kita nggak boleh egois begitu," ujar salah satu teman seregu menimpali.

"Islam itu rahmatan lil 'alamin. Islam pemersatu dan melindungi agama-agama lain. Contoh kongkritnya ada di masa Rasulullah dan kekhalifahan Islam." Sabrina tak mau kalah.

"Ah, sudah nggak usah bawa-bawa agama deh! Sabrina tuh aliran Islam fundamentalis ya?"

"Nggak usah ribut-ribut. Pokoknya ditulis, dikumpul, dapet A. Beres!"

"Bener tuh! Ribut amat sama Pancasila. Gue kagak ngarti dah. Bukan urusan gue."

Serentet komentar meluncur keluar dari bibir teman-teman seregu. Dari tadi mereka bungkam, sibuk mengunyah snack yang dibagikan panitia penataran.

Waktu yang tersisa tidak banyak lagi. Hasil diskusi harus segera dikumpulkan. Semua sependapat denganku, kecuali Sabrina. Aku bersemangat merangkai kata hasil diskusi. Salah satu teman mencatat perkataanku. Kami tidak memperdulikan Sabrina yang duduk diam memperhatikan kami. Hahaha, aku merasa di atas angin sekarang. 1-0 pikirku. Yang banyaklah yang menang. Namanya juga demokrasi.

Sebetulnya Sabrina orangnya enak diajak bicara. Pikirannya cerdas. Kadang aku mencoba memulai percakapan ringan. Tapi sayang, kami terlanjur saling beroposisi. Layaknya Tom & Jerry. Geram sekali aku kalau melihat Sabrina tetap teguh pada pendiriannya. Padahal jelas-jelas dia kalah. Satu regu mana ada yang mendukung pendapatnya.

"Keras kepala! Egois!" desisku sambil melotot. "Akui saja kekalahanmu Sabrina."

"Ini bukan soal menang atau kalah. Pijakanku kuat, landasanku kokoh. Hati-hati, justru kamu yang akan jatuh. Toh aku tidak pernah memaksakan pendapatku pada siapa pun. Kamu bebas. Mau tetap berpendapat seperti itu, itu urusanmu." Gayanya seperti orang yang acuh tak acuh. Huh sombong, pikirku.

Sehabis masa orientasi dan penataran P4, praktis aku hampir tak pernah bertemu lagi dengan Sabrina. Jarak antar fakultas di kampusku lumayan jauh. Cukup lumayan kalau berjalan kaki. Dan lagi, aku tidak punya urusan yang mengharuskanku ke gedung Fakultas Teknik.

Lima semester kemudian, aku mulai memahami apa yang pernah Sabrina ucapkan. Aku bukan lagi si Pembela Pancasila. Tapi tak cocok juga disebut Pejuang Islam. Pergaulanku mulai merambah ke mushola dan masjid kampus. Daus, temanku satu jurusan, yang menculikku dan menceburkan aku ke kehidupan bernuansa Islami. Isi otak Daus tak berbeda jauh dengan Sabrina. Jenis Islam yang "begitu". Bedanya, Daus sabar meladeni sikapku. Dia selalu saja bisa mematahkan serangan argumenku yang membara. Pemahamanku tentang Islam mulai bergerak perlahan. Merayap, merangkak, dan tertatih-tatih. Aku paham sekarang. Ternyata akulah si egois dan keras kepala itu.

Universitas akan mengadakan perhelatan akbar. Forum silaturahmi antara mahasiswa muslim seluruh Indonesia. Daus menyeret aku ke dalam kepanitiaan. Jadilah aku di seksi transportasi. Lebih tepatnya, aku jadi sopir yang siap mengantar panitia untuk mengurus segala macam urusan kesana kemari. Untuk sementara, selama aku di kampus, Audi A4 merah milikku jadi aset panitia. Kalaupun aku sedang ada jam kuliah, mobilku boleh dipakai anak lain untuk urusan penting. Tentu saja dengan pendahuluan wejangan berhati-hati plus ancaman kalau ada apa-apa dengan si Audi tersayangku.

"Sabrina," ucapku lirih melihat sosoknya. Aku baru melihatnya di rapat kali ini. Rapat yang lalu ia tak muncul. Ia bertugas sebagai koordinator seksi yang harus menghubungi universitas se Jakarta. Seusai rapat aku menyapanya.

"Sabrina, apa kabar? Masih ingat aku?"

Bibirnya membentuk lengkung indah bak pelangi terbalik. "Alhamdulillah. Kabarku baik. Bagaimana kabar si Pembela Pancasila?" Kami tertawa bersama.

"Ah, jangan begitu. Aku juga baik-baik. Aku mau minta maaf atas semua yang dulu-dulu. Aku mengaku kalah. Ternyata kamu yang benar."

"Tidak ada yang kalau atau menang. Memangnya siapa yang bikin pertandingan?"

"Hahaha. Ya....siapa ya? Eh...bagaimana kuliahmu?" Aku balik bertanya.

"Lancar-lancar semua. Sekarang lagi banyak tugas. Kamu?"

"Lagi getol-getolnya belajar. Aku nggak mau kalah sama anak Teknik yang ngerti Hukum. Betul nggak?" godaku.

"Semangat belajarnya bagus. Cuma, apa di otak kamu nggak ada persoalan lain selain menang dan kalah?" Aku tergelak tapi tak menjawab.

"Kamu panitia juga?" tanyanya. Kujawab dengan anggukan. "Kalau begitu selamat bekerja. Sukses ya!!!" katanya. Sedetik kemudian ia sudah berlari menyusul temannya.

Beberapa kali Sabrina dan timnya harus mendatangi kampus-kampus di seputar Jakarta. Posisi di bagian transportasi mengharuskanku mengantarnya. Dengan senang hati aku menjalankan tugas. Kami selalu pergi beramai-ramai. Aku mulai bisa menangkap sisi lain dari Sabrina. Orangnya lumayan kocak.

Aku menoleh dengan cepat. Ujung bola mataku menangkap sekilas sosok Sabrina. Yah, itu memang dia. Meski dari belakang setiap akhwat tampak serupa, tapi kuyakin itu ia. Lambaian ujung jilbabnya. Sosok tubuhnya. Caranya mengayunkan langkah. Aku jadi kaget sendiri. Sebegitu dalamkah Sabrina tersimpan dalam memoriku? Acara akbar itu telah usai. Aku tak pernah lagi bertemu Sabrina. Kecuali beberapa kali aku melihatnya dari kejauhan saat aku sedang sholat di masjid kampus. Seperti saat ini.

Aku terpekur diam. Sekilas tampak bagai orang sedang berzikir. Tapi tidak. Tepatnya aku sedang melamun. Bingung. Aku dilanda penyakit aneh. Satu saat aku merasakan ekstasi. Perasaan melayang yang bergelora. Kadang-kadang ada sedikit rasa nyeri di dada, lalu seperti dikerumuni semut-semut kecil, dan ada rasa nyaman yang mengalir ke seluruh tubuh. Tidak jarang pula aku senyum-senyum sendiri. Semua karena sebuah nama. Sabrina.

Ia tak bagai bidadari. Bidadari seperti apa wujudnya aku juga tidak tahu. Yang pasti ia jauh dari sosok Cindy Crafword, apalagi Pamela Anderson. Hahhh?? Ngaco pikiranku. Apa miripnya. Kalau Cindy Crafword pakai jilbab, yah....agak-agak mirip juga dengan Sabrina. Yang mirip...jilbabnya. Wah! Pikiranku makin tak karuan. Cantik? Cantik itu relatif, kata banyak orang. Jaman Renaissance, cantik identik dengan tubuh besar dan pipi tembem berisi. Masa sekarang, cantik adalah ramping bak sosok boneka Barbie. Bagiku dia cantik. Sorot matanya tajam tapi teduh, alisnya tebal, bulu matanya lentik, bibirnya merah. Belum lagi ia cerdas dan wawasannya luas. Yah, dia memang tak seperti bidadari. Tapi, urusan jatuh cinta kan tidak ada hubungannya dengan sosok bidadari. Uppsss!!! Apa kataku tadi? Jatuh cinta?!

Aku termangu-mangu dalam posisi bersila. Sebuah tepukan hangat mendarat di punggungku. "Hei jangan melamun!" Aku menoleh. Ternyata Daus.

"Sudah sholat?" Aku mengangguk. "Aku cari-cari kamu kemana-mana. Rupanya sekarang kamu lebih sering sholat di masjid kampus daripada di mushola fakultas." Daus memandang lekat ke mataku. "Ada apa? Ceritalah. Aku melihat sesuatu di matamu." Daus ini, firasatnya memang tajam. Selalu tahu kalau aku sedang ada yang dipikirkan.

"Puyeng nih!!" kataku mendengus.

"Just tell me. I'll be a shoulder to cry on," Daus nyengir sambilmenepuk-nepuk pundaknya sendiri.

"Huuu....Kapan aku pernah nangis di pundakmu? Eh aku lapar nih! Kita makan yuk, sambil cerita. Tenang saja, kutraktir."

Kali ini tujuan kami adalah restoran bakmi langgananku yang lokasinya tidak terlalu jauh dari kampus. Setelah sampai, memesan makanan dan minuman, barulah aku pada kondisi siap menumpahkan perasaanku. Daus duduk di depanku. Genggaman tangannya menopang dagunya yang ditumbuhi jenggot, dan sikunya menjadi tumpuannya. Aku hafal gayanya. Ia siap "to be a shoulder to cry on". Lalu tumpah ruahlah semuanya. Mulai saat perjumpaanku pertama kali dengan Sabrina, hingga rasa yang melandaku akhir-akhir ini.

Selesai aku bercerita Daus tertawa. "Hahaha, sobatku ternyata terkena virus merah jambu." Namun, begitu tawanya selesai, Daus menatap mataku dalam-dalam. "Kamu serius sama Sabrina?"

"Serius?" tanyaku mengernyitkan dahi.

"Kamu jatuh cinta sama dia? Kamu serius?" tanyanya lagi.Aku menarik nafas dalam lalu menghembuskannya lagi. "Jatuh cinta.....ya! Serius......mmm....apa maksudmu dengan serius?"

"Serius ya serius. Kalau kamu serius, sudah cepetan nikah saja!"

"Hahh?! Nikah? Belum pernah ada sejarah dalam keluargaku anak ingusan semester lima mau nikah," tukasku. "Kalau kasih saran yang rasional dong!"

"Kurang rasional apa lagi? Kalau sudah punya perasaan macam begitu, daripada macam-macam, lebih baik nikah saja. Terhindar dari zina, halal pula."

"Kamu ngomong begitu 3 tahun lagi. Pasti akan langsung kulamar dia. Kalau sekarang? Nggak mungkin!" Kusulut sebatang rokok untuk meredakan kekalutanku. Daus sudah sering memperingatkanku, "Awas kalau asapnya sampai terhisap olehku. Itu namanya sudah menzholimi orang lain. Aku tuntut kamu nanti di Yaumil Akhir." Betapa seram ancaman Daus. Daripada berdebat, daripada dituntut di akhirat, biasanya aku memilih tidak merokok di hadapannya. Tapi kali ini lain. Tumben, Daus tidak melarangku merokok.

"Jadi, apa maumu sekarang?" tanya Daus. Bahunya bersandar ke kursi, menjauh dari kepulan asap rokokku.

Mataku menerawang. "Aku nggak tahu."

Bakmi pesanan kami datang. Tapi, aku tidak lagi berselera. "Memangnya tidak boleh kalau aku jatuh cinta? Apa jatuh cinta itu dosa?" ucapku setelah menyedot jus alpukat yang langsung habis.

"Tidak. Tapi cinta perlu dimanajemen agar tidak berubah menjadi dosa. Kita yang harus menguasai cinta. Bukan cinta yang menguasai kita."

"Aku toh tidak berbuat apa-apa. Bagaimana akan jadi dosa? Gini-gini aku masih bisa membedakan mana yang dosa dan mana yang tidak." Sifat keras kepalaku mulai keluar. Daus diam, sibuk dengan bakminya. Kini aku menyulut batang ke dua.

"Aku akan bilang perasaanku ke Sabrina. Berani taruhan berapa? Aku yakin dia pasti akan jadi kekasihku."

Daus mendongak. "Eh, apa maksudmu? Jangan macam-macam dengan Sabrina."

"Ah lihat saja," kataku mencibir. "Cepat atau lambat, Sabrina pasti aku dapatkan."Daus menarik nafas panjang.

"Kamu lupa bahwa tidak ada pacaran dalam Islam?"

"Masih ingat. Tapi, kalaupun aku pacaran dengan Sabrina, pasti nggak akan terjadi apa-apa. Percaya deh. Memang mau ngapain sih?" kataku meyakinkan Daus. Daus lalu berceloteh tapi tak lagi kudengarkan. Ditelingaku suaranya lebih mirip nenek-nenek nyinyir yang bicara tanpa koma dan titik. Sedang pikiranku melayang-layang......kepada Sabrina.

Hari-hari selanjutnya aku melancarkan aksi pedekate alias pendekatan. Aku semakin rajin sholat di masjid kampus, walau sebenarnya jaraknya tidak dekat dari fakultasku. Biasanya kutunggu sampai Sabrina and the gank selesai dari sholat. Lalu aku lewat di depan mereka, menyapa Sabrina dan mengajaknya ngobrol.

Suatu siang yang terik, saat aku mengemudikan mobil keluar dari kampus, aku melihat Sabrina berdiri di halte bus. Sendirian. Wah kesempatan nih, pikirku. Kulambatkan mobil dan kuturunkan jendela kiri dari panel dekat persneling. Mobilku berhenti tepat di sampingnya.

"Hai Sabrina, mau kemana?" sapaku nyengir.

"Mau pulang."

"Ayo ikut aku sekalian. Aku antar deh sampai di rumah." Aku mencoba menawarkan tumpangan.

"Terima kasih. Tapi nggak usah repot-repot. Eh....dari jauh itu sepertinya bisku. Aku naik bis saja." Tangannya menunjuk ke arah belakang. Mataku melirik ke kaca spion yang tergantung di depan. Tak tampak bis di sana. Kubuka pintu mobil dari dalam.

"Mana bisnya? Daripada panas-panas naik bis, lebih baik sama aku. Aku siap kok mengantar Sabrina kemana saja." Kukeluarkan jurus-jurus rayuanku.

"Nggak deh. Makasih tawaran kamu. Tapi aku nggak bisa."

"Ayo masuk. Kamu kepanasan tuh!" Kulihat diatas alisnya ada butir-butir keringat mengucur. Sabrina tak bergeming.

"Kenapa sih kamu?" tanyaku mulai tak sabar.

"Maaf, aku nggak bisa."

"Kenapa?"

"Aku nggak mau berdua saja dengan kamu di dalam mobil. Kecuali seperti dulu. Kita beramai-ramai dan pergi memang ada keperluan. Maaf. Aku naik bis saja."

Ternyata dia masih saja tetap teguh kalau punya pendirian. Sabrina tidak berubah. Aku mengatupkan gerahamku. Kesabaranku habis sudah. Kubanting pintu mobil lalu kularikan Audiku dengan suara menderu. Huh! Beraninya dia menolak tawaranku. Aku mendidih.

Esok harinya, di kampus, begitu bertemu Daus, langsung saja kutumpahkan kekesalanku. Kuceritakan kejadian kemarin bersama Sabrina. Daus malah nyengir sambil geleng-geleng kepala.

"Kamu yang salah. Sabrina kok dirayu."

"Lho?! Aku hanya menawarkan diri mengantar dia pulang. Apa salahnya?"

"Jelas dong. Dia nggak mau berduaan di mobil sama kamu."

"Siang-siang bolong. Memangnya aku mau ngapain sama dia? Apa aku ada tampang pemerkosa?" Aku tambah kesal.

"Bukan begitu. Dan tidaklah perempuan dan laki-laki berduaan tanpa disertai muhrimnya, melainkan yang ke tiga adalah syetan." Daus mulai berkhotbah. "Islam mengajari untuk menutup segala kemungkinan sejak awal. Sabrina pastitahu hal seperti itu. Dia menolak naik mobil berdua kamu untuk mencegah segala macam hal."

"Apa sih yang harus dicegah? Apa salahku? Kamu nggak percaya sama aku?"

"Kalau Sabrina kemarin mau diantar, pasti kamu nggak akan berhenti sampai di situ kan?" tanya Daus.

"Hehehe...iya dong! Kalau dia mau, tiap hari kuantar dan kujemput juga boleh."

"Hmm....dan kalau Sabrina juga mau diantar dan dijemput tiap hari?" Tanya Daus lagi.

"Berarti tinggal satu langkah lagi dan dia akan jadi pacarku," kataku penuh nada kemenangan.

"Pacar? Ngaco kamu!" Mata Daus membelalak. "Pacaran itu mendekati zina."

"Aku janji deh akan menjaga Sabrina sebaik-baiknya. Aku kan sayang sama dia."

"Apa kamu yakin?" Kening Daus berkerut. "Kamu yakin bisa mengatasi keinginan untuk saling berdekatan? Kamu yakin nggak ada dorongan dalam diri kamu untuk menggandeng tangannya? Kamu yakin bisa mengatasi nafsumu ketika hanya berdua, nggak ada orang lain, sedang kamu ingin menciumnya?"

Aku diam, berpikir sebentar. "Suer deh. Dia nggak akan kusentuh. Paling banter kita jalan-jalan ke mal, ngobrol-ngobrol." Aku berusaha meyakinkan Daus kalau aku pacaran dengan Sabrina pasti tidak akan ada apa-apa.

"Oke. Satu tahun mungkin bisa seperti itu. Tapi, tahun ke dua pacaran, tahun ke tiga? Katanya tiga tahun lagi baru mau nikah. Selama tiga tahun pacaran itu....beneran nih kamu sanggup? Yakin nih sama-sama cinta sudah tiga tahun pacaran bisa tahan cuma liat-liatan?" Daus menepuk pahaku. "Yakin nih? Ayolah, aku juga laki-laki. Jangan sok kuat iman."

Aku bungkam tak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaannya.

"Kalau aku sih pilih cara paling aman. Nikah, terus bebas ngapain aja sama istri. Kalau belum mampu nikah, ya puasa." Daus terkekeh.

Hmmm....sekarang saja rasa kangennya pada Sabrina sudah merambat ke ubun-ubun. Kalau lihat dia tersenyum atau cemberut rasanya jadi gemas. Lalu bagaimana kalau pacaran? Benarkah aku sanggup tidak menyentuhnya sama sekali? Bahkan sekadar mengandengnya saat menyeberang jalan misalnya. Aku mulai ragu pada diriku sendiri.

"Kupeluk ia dengan sepenuh buncahan rindu, namun terobatikah rindu setelah itu? Kukecup bibirnya demi melampiaskan tuntutan hati, namun ia justru semakin menjadi-jadi. Sepertinya kegelisahan jiwa tak bakal terobati. Selain jika dua ruh itu bersatu padu."

Daus membacakan syair Ibnu Ar Rumi yang terkenal itu. "Percuma kalau pacaran. Dua ruh bersatu padu itulah pernikahan. Jangan nanggung friend!" kata Daus. "Masih punya niat mau pacaran?" Daus meninju bahuku, pelan. "Yakin Sabrina mau sama kamu? Ngaca dulu sana!"

"Tampang oke, otak encer, tongkrongan yahud begini apa yang kurang?" kataku pede.

"Sabrina nggak butuh cowok macem begitu. Kamu baca Al Quran tajwidnya masih belum beres. Makhrojnya juga masih belum tepat. Lancar juga enggak. Beresin dulu tuh. Makanya jangan suka males kalau diajak BBQ sama anak-anak."

"Ayo deh! Kalau begitu sekarang juga aku mau belajar," ujarku bersemangat.

"Deuuu....segitu semangatnya," goda Daus.

Berdebat dengan Daus memang percuma, karena dia memang benar. Dasar aku yang susah dinasehati. Kupikir, bodoh juga aku. Mana mungkin Sabrina mau diajak pacaran. Ah, kalau sedang dilanda cinta, akal pun sulit diajak kompromi.

"Heh!" Daus menepuk lenganku keras.

"Wadawwww!! Apaan sih bikin kaget begini?" protesku.

"Itu Pak Sugito udah keluar dari ruang dosen. Kita kan sekarang ada kuliahnya dia. Keasyikan ngobrol jangan sampai lupa kuliah dong!"

"Memang sekarang sudah jam berapa?" Aku melirik Rado di pergelangan tanganku. "Hahh iya! Udah jamnya. Cepetan lari. Nanti duluan Pak Sugito masuk kelas bisa-bisa kita nggak boleh masuk."

Lalu aku dan Daus terbirit-birit lari menuju kelas.

Hilang sudah keinginanku untuk memacari Sabrina. Sudah pasti ditolak! Akupun mulai paham mengapa Islam melarang sesuatu hal. Setelah dicermati, ternyata besar sekali hikmah yang tersimpan di balik dilarangnya sesuatu. Waktu makan siang biasanya aku habiskan untuk diskusi dengan Daus, tentang banyak hal. Aku juga mulai rajin ikut kajian dan BBQ (Belajar Baca Quran). Bukan sekadar ber-say hello dengan anak-anak Rohis seperti yang dulu aku lakukan.

Perasaanku kepada Sabrina, tentu masih ada. Rindu itu sering menggelitik. Terkadang sebuah senyum dan seraut wajah terlukis di dinding ruang kelas atau kamarku. Tapi, seperti kata Daus, perasaan itu harus dimanajemen. Aku tak lagi menuruti hawa nafsu mencari-cari kesempatan bertemu Sabrina.

Dari kejauhan, tampak Daus menuju ke arahku dengan berlari-lari. Saat itu aku sedang di mushola sambil mengerjakan paper. "Sabrina...!!" Nafas Daus terengah-engah. Tersentak aku, mendengar nama dia disebut.

"Kenapa Sabrina?"

"Sabrina kecelakaan!!" ujar Daus dengan nafas satu-satu.

"Hahh?! Yang benar kamu? Di mana?"

"Di halte depan kampus. Dia terseret dan jatuh waktu mau naik bis."

Wajahku pucat, kehilangan sebagian darahnya dan kehilangan kata-kata.

"Ayo cepat! Kita antar ke rumah sakit."

Dengan membereskan kertas-kertas dan memasukkannya dengan terburu-buru ke dalam ranselku. Aku, Daus, dan dua orang teman lagi yang ikut mendengar berita ketika di mushola, berlari menuju Audiku. Begitu kustarter, langsung kutancap gas menuju halte.

Di halte, masih banyak orang berkerumun. Di aspal ada ceceran darah segar. Masya Allah, jeritku dalam hati. Aku tak sanggup membayangkan bagaimana keadaan Sabrina. Ternyata Sabrina sudah dibawa ke rumah sakit. Tanpa buang waktu lagi, kami menyusul ke rumah sakit.

Sabrina sedang berada di ruang ICU. Kami duduk di ruang tunggu. Sahabat Sabrina terlihat sangat shock. Ia menangis sesenggukan. Di sampingnya, beberapa akhwat sedang merusaha menenangkannya. Ingin rasanya aku mendobrak pintu ruang ICU untuk dapat melihat kondisi Sabrina. Parahkan ia? Masih sadarkah ia? Namun aku tak punya kekuatan lagi.Aku hanya sanggup terduduk lemas. Daus berbisik di telingaku, "Berdoa! Terusberdoa!" Aku menurut. Mulutku komat kamit. Mengucap segala permohonan untuk Sabrina.

Seorang laki-laki berbaju putih keluar dari ruang ICU. "Teman kalian kekurangan banyak darah. Siapa di sini yang golongan darahnya A?" Aku mengacungkan jari, juga beberapa teman yang lain. "Kami minta kesediaannya untuk bisa menyumbangkan darahnya. Keadaannya sangat kritis. Tulang rusuk, tulang panggul, dan beberapa persendian patah. Di otaknya terjadi pendarahan."

Suara dokter itu terdengar sayup-sayup di kupingku. Pandanganku kabur. Pikiranku kalut membayangkan kondisi Sabrina."Ya Allah," bathinku menjerit. "Tolong selamatkan dia. Jangan Kau ambil nyawanya. Aku sungguh mencintainya."

Oh.....Andai Sabrina tahu apa yang tersimpan di dalam hati ini. Sabrina, mengertikah kau sebesar apa cintaku padamu. Sebesar bumi yang kita pijak. Seluas alam semesta. Dan sebesar cinta itu sendiri tanpa batas. Sabrina, sadarkah kau sedalam apa sesungguhnya gejolak rasa ini. Sedalam kau gali bumi ini hingga ke belahan bumi yang lain. Sedalam hati ini. Dan sedalam kau pikir kau sanggup bayangkan.

Sabrina, andai kau tahu seperti apa getaran ini menyelimutiku. Jika kau terengah, aku bersedia serahkan nafasku. Jika kau terguncang, aku rela menjadi pijakanmu. Jika kau sekarat, aku mau berikan nyawaku, jiwaku, dan sepanjang urat nadiku. Andai boleh, aku ingin berada di sampingmu. Mengalirkan kehidupan kepadamu. Baru saja aku selesai dari ruang transfusi lalu duduk di ruang tunggu.

Laki-laki berjas putih itu keluar lagi dari ruang ICU. Ia memandangi kami satu persatu. "Maaf, kami sudah berusaha. Tapi Tuhan berkehendak lain. Teman kalian tidak bisa diselamatkan."

Rangkaian kalimat yang diucapkan dokter itu jadi sulit kucerna maknanya. Ah....mungkin aku salah menangkap maksudnya. Sabrina tidak meninggal kan? Dokter itu tadi tidak bilang seperti itu. Lalu........kata-kata dokter itu maksudnya apa????

Begitu pecah tangis di antara para akhwat, barulah aku sadarsesadar-sadarnya. Sabrina sudah meninggal. APPPAAAAAA???!!!! SABRINA MENINGGAL????!!! Aku ingin berteriak sekeras-kerasnya. Tapi tidak. Teriakan itu hanya bathinku yang mampu mendengar. Teriakan yang menyisakan gumpalan yang menyesakkan hati. Aku ingin menangis sekencang-kencangnya. Tapi tak ada air mata yang keluar dari mataku. Kelopak mataku terasa panas. Tubuhku limbung. Goyah. Daus merangkulku dari samping. Erat. Dan aku terduduk tanpa daya.

Di pemakaman Sabrina, aku berdiri mematung. Tegak, kokoh, dan memandang lurus ke liang lahat tempat peristirahatan terakhir Sabrina. Jasad Sabrina tergeletak di dalam liang. Perlahan-lahan gumpalan tanah merah menimbunnya. Akhirnya jasad itu tak tampak lagi. Seusai doa-doa, para pelawat satu persatu pergi. Daus merangkul dan menggamit bahuku.

"Ayo pulang!" Ditariknya tubuhku diajak berjalan. Namun aku tetap membatu dengan mata menerawang. Aku menggeleng pelan. Daus tetap mencoba menggerakkan tubuhku. "Ayolah! Kutemani kau pulang."

"Biarkan aku sendiri di sini." Akhirnya aku mampu bersuara.

"Untuk apa? Pemakaman sudah selesai. Ayolah!" Daus membujukku.

"Aku ingin di sini dulu. Tinggalkan aku! Kamu pulang saja duluan. Please.....?!" Daus diam lalu merangkulku erat.

"OK. Tapi jangan lama-lama. Cepat pulang. Aku agak khawatir dengan kamu. Sudahlah, lupakan Sabrina. Dia sudah pergi. Sekarang kita cuma bisa mendoakannya. Bagaimanapun perasaanmu terhadap Sabrina, kamu harus......."

"Sssssttt.....!!" Aku menoleh, menatap mata Daus. Telunjukku membuat tanda di depan bibir, memintanya untuk diam. Daus menghela nafas.

"OK, OK! Aku pulang. Assalamu'alaikum."

Aku menjawab salam dengan pandangan tetap lurus ke depan. Ke arah pusara Sabrina. Sabrina memang telah pergi. Tapi ia menorehkan sejuta kenangan dalam memoriku. Langit mendung yang sejak tadi bergayut, kini mencurahkan titik air kecil-kecil. Aku sadar waktuku di sini sudah habis. Aku berlari menuju mobilku. Di dalam mobil, aku merasa kosong melingkupiku. Rasanya dada ini jadi berongga besar sekali. Menyisakan rasa hampa yang memenuhi hingga ke sudut-sudutnya.Aku tak tahu mau kemana. Kubiarkan saja arah putaran roda ini mengikuti kata hatiku. Saat aku ingin belok ke kiri maka kubanting stir ke kiri. begitu pula saat instingku berkata ingin ke kanan. Lalu aku memilih satu mobil di depanku, dan aku biarkan diriku mengikuti kemana saja mobil itu berjalan.

Tak terasa, setelah berputar putar, melewati berpuluh persimpangan, akhirnya mobil itu berhenti. Masuk ke sebuah rumah asri dalam sebuah kompleks di wilayah Bekasi. Jauh juga rupanya perjalananku. Aku pun menghentikan mobilku. Penumpang mobil itu kini telah keluar semua. Aku termangu bingung. Tak tahu lagi mau melakukan apa.

Ah.....aku harus membuat tujuan lain. Jelas-jelas bukan ke sini tujuanku. Lalu kemana aku harus pergi? Yang pasti aku tak mau pulang ke rumah malam ini. Pulang dan membenamkan diri dalam kesunyian kamarku? Oh tidaaaakkk...! Yah...rasanya aku perlu mengobati kehampaan ini dengan keramaian. Sebuah tujuan terpola dalam benakku. Aku kini tahu kemana Audi ini harus mengarahkan haluannya. Jakarta Pusat. Hotel Borobudur. Musro.

Mobilku melambat memasuki tempat parkir. Tampaknya pengunjung malam ini banyak juga. Mobil-mobil keluaran terbaru berjajar rapi. Ketika melangkah turun dari mobil, aku sempat ragu. Sudah lama aku tak menjejakkan kaki di tempat ini. Tapi kutepis rasa itu. Sudahlah, aku butuh keramaian. Aku tak mungkin menghabiskan malam ini dengan digerogoti sepi.

Musik menghentak menyambutku, mulai menyapu rasa hampa. Aku duduk dan menyulut sebatang rokok. Waitress mendekat. Aku tidak lapar. Aku hanya ingin minum. Aku memesan fruit punch.

Malam makin pekat di luar. Di dalam suasana pun makin panas. Ternyata malam ini sedang ada party. Puluhan wanita cantik ber-dress code "white tank top & blue jeans pants" bergoyang histeris di lantai disko. Suara musik yang berdentam diusung oleh dua DJ handal dari luar negeri. Mataku nanar memandangi perempuan-perempuan pamer aurat di floor yang bergerak semakin liar. Sekumpulan pria tampak tak mampu lagi bertahan berdiam diri. Mereka ikut terjun ke floor, melebur dalam tarian panas. Seperti di pemakaman tadi, aku tetap membatu. Sesekali meneguk fruit punch dan menghisap rokokku. Waitress bolak balik menawariku bir. Tapi aku masih waras untuk tidak meneguk barang haram.

Keramaian yang memekakkan telinga ini tampak tak menyisakan ruang lagi bagi yang namanya kehampaan. Bagaiamana mungkin masih ada partikel yang kosong sedang Musro kini penuh sesak? Namun di ujung lorong hati, tetap saja sunyi, kosong, hampa. Bahkan di tempat ini rasa hampa itu makin menjadi-jadi.

Bayangan Sabrina berkelebat dalam benak. Sabrina, sosok yang anggun, bersahaja dan sangat terjaga. Benakku penuh dengan Sabrina. Di saat yang sama aku disuguhi pemandangan wanita-wanita bergincu dan berpakaian minim. Bagai bumi dan langit saja antara Sabrina dengan mereka. Tiba-tiba perutku mual. Muak dan jijik melihat perempuan-perempuan itu menggeliat erotis bagai cacing kepanasan. Aku bangkit dan bergerak dari mematungku. Aku tinggalkan hiruk pikuk ini dan segera melarikan Audiku ke tempat lain. Cuma satu tempat yang terpikir di otakku. Rumah Daus.

Sebetulnya bukan rumah Daus. Daus mengontrak bersama kawan-kawannya yang berasal dari berbagai pulau. Ini sudah jam 1 malam. Tapi aku tak peduli. Aku gedor pintu rumahnya. Untung saja wajah Daus yang muncul di balik pintu, bukan temannya. Daus melongo melihat aku yang kusut masai.

"Masya Allah, ada apa malam-malam begini?"

"Malam ini aku mau nginap di sini." ujarku.

"Ya sudah. Ayo masuk!"

Selama ini aku belum pernah mampir dan masuk ke dalam kontrakan Daus. Paling-paling hanya mengantar Daus sampai depan pintu kontrakannya. Aku takjub melihat kamar Daus. Rapi, sederhana dan tidak banyak barang-barang. Tidak ada TV dan segala macam player. Tidak ada stereo set dengan speaker surround system-nya. Tidak ada PC dan segala peripheral-nya. Yang ada cuma meja belajar, kursi, tempat tidur, dan lemari baju dari kayu sederhana. Lalu buku-buku yang disusun dalam rak yang terbuat dari kardus bekas yang dilapis dengan kertas kado.

Daus menggelar tikar di bawah lalu duduk. "Kamu tidur di atas saja. Biar aku yang di sini." Tempat tidur Daus ukuran single, jadi tidak mungkin kan kita berdua satu tempat tidur. Sebetulnya aku tak enak hati melihat dia menyilakan aku tidur di kasurnya. Tapi aku mengangguk, karena aku tak biasa tidur beralas tikar.

Bermenit kemudian, aku tak bisa memejamkan mata. Tubuhku berbalik, berguling, ke kanan, ke kiri, terlentang, tengkurap. Tapi mata ini tetap saja melek. Sedang Daus langsung terlelap, terdengar dari dengkur halusnya. Aku tidak mengerti. Apa yang kumau. Apa yang kucari. Semua tampak samar-samar. Yang kutahu saat ini aku hanya ingin rasa hampa ini menghilang.

Kulirik Timex di pergelangan tangan kananku. Sudah jam setengah tiga. Dan mataku tetap saja nyalang. Jam tiga, Daus terbangun dan tampak heran melihat aku tetap terjaga.

"Kok masih melek?" tanyanya.

"Nggak bisa tidur!" jawabku.

Daus keluar kamar lalu kembali ke dengan wajah basah. "Mau ikutan tahajud? Kalau mau wudhu, ayo kuantar ke kamar mandi." Aku mengikuti Daus.

Setelah wudhu dan akan berbalik ke kamar, ternyata di ruang tengah sudah ramai sajadah ditata berjajar. Tak sampai lima menit seluruh penghuni kontrakan Daus sudah berkumpul dan menempati posisi masing-masing. Aku dan yang lain di posisi makmum, Daus di posisi imam.

Lantunan ayat suci Al Quran terdengar sangat syahdu, menelusup diantara kesunyian malam. Anehnya bukan kesunyian menggigit yang tercipta. Justru ketenangan yang mulai mengisi relung-relung ruang hampaku. Dan bagai anak kecil saja.....tiba-tiba aku menangis sesenggukan, di dalam sholat.

Dua rakaat tahajud ditambah tiga rakaat witir bahkan terasa kurang bagiku. Ingin rasanya mengulang kenikmatan itu. Setelah itu Daus tilawah Quran. Yang lain juga ada yang membaca Quran, ada yang berdoa, dan ada pula yang berzikir. Aku tidak membawa Al Quran. Jadi kucurahkan saja isi hatiku pada Allah dalam untaian doa. Perasaanku kini jauh lebih tenang.

Daus lalu mengajakku ke dapur untuk membuat mie untuk makan sahur. Besok hari Kamis. Seperti biasa Daus puasa sunnah. Aku jadi ikut-ikutan mau puasa besok.

"Mienya internet ya. Indomie pakai telor dan kornet." kataku menyebut model masak mie yang sering dibuat Mbok Mar di rumah.

Daus mencibir. "Kornet dari mana? Mana sanggup? Anak kos nih!" Aku terkekeh. Entah kenapa walau tanpa tambahan apa-apa, tapi mie buatan Daus terasa sangat nikmat di lidahku. Kami makan dengan lahap.

Adzan Subuh dan seluruh penghuni kontrakan Daus bersiap dan sholat Subuh di masjid yang hanya berjarak 50 meter. Bisa dibilang ini pertama kalinya aku sholat Subuh di masjid. Jumlah jamaah sedikit sekali. Hanya 5 orang bapak-bapak, plus 8 anak kontrakan Daus, ditambah dengan aku. Lalu kemana yang lainnya? Bukankan penduduk kompleks ini mayoritas muslim? Ehm...aku tersipu sendiri dengan pertanyaan yang muncul di pikiranku. Aku yakin mereka seperti aku. Sekadar bangun untuk sholat Subuh lalu kembali meringkuk atau malah yang lebih parah lagi : tetap terlelap walau adzan telah memanggil.

Usai shalat, imam memberikan kultum. "Laki-laki itu wajib shalat di masjid. Dahulu pernah ada seorang lelaki buta yang minta ijin kepada Rasulullah saw untu tidak sholat di masjid. Dan Rasulullah saw tetap tidak mengijinkan, tetap menyuruhnya sholat di masjid. Kalau orang buta saja tidak diberi dispensasi, bagaimana dengan yang masih muda, kuat, dan sehat?"

Aku senyum-senyum sendirian. Yah....padahal jarak masjid terdekat dari rumahku tidak jauh. Padahal kalau jogging atau bersepeda pagi-pagi aku sanggup sampai berkilometer. Padahal aku rela saat Subuh lari pagi di Senayan, demi semangkuk bubur ayam, santapan wajib setelah olahraga. Aku malu, entah pada siapa.

Hari itu aku tidak berangkat kuliah. Setelah sampai di kamar Daus, rasa kantuk datang menyerang. Semalaman aku sama sekali tak bisa memejamkan mata. "Daus, aku ngantuk berat nih!" kataku dengan mata sayu. "Aku mau tidur. Nanti kalau ke kampus, tolong absenin!"

"Uh, tak usah ya! Mau suruh aku berbuat curang?"

"Ayolah, sekali ini saja. Masa bantu teman nggak mau sih?" rayuku.

"Syarat kehadiran cuma 75%. Berarti dosen-dosen itu sangat mengerti kalau mahasiswanya itu kadang-kadang ada kepentingan yang membuat tidak bisa masuk kuliah. Kenapa harus bohong isi absen padahal tidak masuk? Pakai saja hak kita untuk tidak masuk kuliah, yang 25%-nya!"

Aku menepuk jidatku sendiri sambil terkekeh. "Betul juga katamu. Asyik juga ya......kita punya hak untuk membolos. Ya sudah, aku tidak jadi pesan absennya." Segera kupeluk guling dan semenit kemudian aku terdampar di alam mimpi.

Setelah hari itu, aku minta ijin ke Papa dan Mama untuk sementara tinggal di rumah kontrakan Daus. Mama kebetulan sedang ke Australia, menemani kakakku yang mengambil Master di sana. Papa tidak keberatan, asal aku tetap komunikasi dengan rumah. Aku belum sanggup untuk sendirian. Aku tak mau rasa kehilangan akan Sabrina menyergapku lagi.

*****

Di kontrakan Daus, aku tidak pernah merasa kesepian. Ada Daus yang siap berceloteh menghiburku atau kadang-kadang bawel menceramahiku. Ada teman-teman Daus satu kontrakan. Bergaul dengan mereka sehari-hari dalam 24 jam memberikan suatu pencerahan bagiku. Bangun sebelum Subuh, shalat tahajud dan Subuh bersama. Lalu beraktivitas dalam kesibukan masing-masing. Ada yang belajar atau mengerjakan tugas-tugas kuliah. Ada yang piket membereskan rumah, menyapu, mengepel, memasak air. Ada yang mencuci baju atau menyeterika. Ada yang antri kamar mandi. Dan ada pula yang melanjutkan meringkuk di balik selimut, yaitu aku.Siang sampai sore, kontrakan berubah senyap. Semua sibuk di kampus masing-masing. Maghrib dan Isya sholat berjamaah di masjid. Setelah itu makan malam.

Baru kutahu Daus ternyata pandai memasak. Walau masakan sederhana macam sop, sayur asem, lodeh, dan sekali-kali ayam bumbu kecap atau semur daging. Daus adalah pecinta tahu. Aku tahu karena ia sering sekali masak tahu. Tahu bumbu bali, tahu bacem, semur tahu, tahu telor, oseng-oseng tahu.....pokoknya segala yang berbau tahu. Lama-kelamaan aku ikut-ikutan piket di kontrakan. Ternyata mencuci piring, menyapu dan mengepel itu asyik juga. Bahkan mencuci celana dan jacket jeans yang berat, kuanggap fitness gratis. Aku menikmati kehidupan di kontrakan Daus, yang jelas-jelas sangat berbeda dengan di rumah.

Kampus kini jadi tempat pelampiasanku memuaskan diri bersama nikotin. Merokok bagiku adalah pelampiasan sekaligus obat. Rasanya setiap kali gumpalan asap rokok menari-nari di hadapanku, rasa sakitku kehilangan Sabrina pun sirna. Yang jadi masalah hanyalah sekarang aku jadi susah untuk merokok. Merokok di kontrakan Daus rasanya jengah. Mereka satu pun tak ada yang merokok. Aku pun takut nanti di akhirat mereka semua menuntutku karena terganggu oleh asap rokokku. Tapi heran, diantara mereka tak ada yang melarangku merokok secara langsung, walaupun mendapatiku sedang merokok di teras. Paling banter mereka menjauh dari asapku.

Keesokan harinya Togar, pemuda dari Tarutung memberiku sekantong besar permen mint sambil berpesan, "Setiap kali kau ingin merokok, tahanlah! Kau ambil saja permen ini sebagai gantinya." Akhirnya aku kaget sendiri. Jumlah rokok yang kukonsumsi perharinya berkurang drastis setelah aku tinggal bersama Daus. Bahkan rasanya mulutku jadi tidak enak kalau merokok. Lebih enak mengulum permen dari Togar.

Daus mengemblengku habis-habisan macam di pesantren saja. Ia tidak memperbolehkanku tidur sebelum aku menyelesaikan 1 juz dalam sehari semalam. Kalau aku pura-pura tidur, digelitikinya kakiku, atau digodanya aku dengan segelas susu atau semangkuk indomie. Awalnya berat, apalagi aku masih terbata-bata. Tapi banyak latihan justru membuat aku semakin lancar membaca Al Quran. Kemajuanku jauh melesat. 24 jam aku bergaul dengan Daus dan teman-temannya. 24 jam aku dibimbing untuk menjadikan segala kegiatan sebagai ibadah. Semakin intens hubunganku dengan Al Quran. Semakin tenanglah jiwaku. Rasa hampa yang dulu menyelimuti telah pergi.

*****

"Mama pulang besok, kamu juga pulang dong! Kamu tega ya sama Papa, masa ditinggal sendirian di rumah?!" Papa menghubungiku lewat telepon. "Besok kita jemput Mama sama-sama ke bandara."

"Iya Pa. Sekarang juga deh langsung pulang ke rumah." kataku menyanggupi.

Dihitung-hitung cukup lama aku tinggal di kontrakan Daus. Sudah sampai hitungan bulan. Untung saja Mama keterusan betah di Australia menemani kakakku yang belum mau ditinggal sendirian. Kalau tidak, pasti aku sudah diomeli Mama gara-gara nginap di rumah teman tidak pulang-pulang.

Sambil menjinjing tas ditangan, aku termangu berdiri di depan kamarku. Rasanya aneh. Seperti sudah bertahun aku meninggalkan kamar tercinta ini. Kamar bercat ungu tua, dengan satu dinding bercorak kotak-kotak hitam putih. Ada rasa kangen. Aku menghempaskan tubuh di atas springbed. Kupandangi satu persatu barang-barangku. Semua masih tertata rapi, bersih tanpa debu. Aku yakin Siti pasti membersihkan kamarku setiap hari walau kamar ini tidak digunakan.

Rasa sunyi menyergap, hanya ada suara dengungan halus dari AC. Kusentuh tombol di remote stereo system, lalu suara Sade berkumandang dari CD player. Ordinary Love. Di depanku, bertumpuk-tumpuk kaset, CD, VCD. Mereka sudah berulang berputar, menemaniku sejak remaja. Mengisi hari-hariku. Menemaniku di saat-saat senang dan sedihku. Mereka, sejak zaman AHA, Arcadia, Duran-Duran, NKOTB. Lalu White Lion, Scorpion, Fire House, Red Hot Chili Peppers, Guns 'N Roses, Metallica, Nirvana, Eagles, Gorky Park. Poster-poster mereka yang sempat menghisasi kamarku. Lalu sang dewa gitar yang pernah kupuja, Yngwie Malmsteen dan Joe Satriani. Aku merasa punya kedekatan emosional dengan Yngwie karena konon aku mirip dengannya. Minus rambut gondrong tentunya. Kemudian lagu-lagu yang sweet, Mariah Carey, Whitney Houston, Boyz II Men, Celine Dion, David Foster, Brian McKnight, George Benson. Lalu Fourplay, The Brand New Havies, Incognito, Yellowjackets, The Rippingtons, Bob James, George Duke, Michael Franks, David Sanborn, Sade, Siedah Garrett. Tiupan saxophone Dave Koz, Richard Eliot dan Eric Marienthal. Dentingan piano dari David Benoit. Petikan gitar dari para dewa gitar jazz, Earl Klugh, Lee Ritenour, dan Stanley Jordan.Semuanya, walau tak menyebut satu persatu dari semua koleksi. Walau tak mungkin menyebut setiap lagu dan memori yang menyertainya. Tapi semuanya membuatku rindu. Serindu aku pada Sabrina.

Kamar ini terasa kosong dan dingin, padahal baru saja aku dari tempat Daus yang ramai dan hangat. Kosong ini membawa ingatanku kepada Sabrina, seiring lantunan suara Sade dalam lagu King of Sorrow. Hampir dua bulan ini aku tidak pernah mendengarkan lagu. Setiap kali aku mencoba menyetel kasetku di kamarnya, Daus selalu menggantinya, entah dengan bacaan Al Quran atau dengan nasyid. Begitu juga kalau berangkat dan pulang dari kampus di mobil. Daus selalu menggantinya dengan murottal yang selalu dibawanya di dalam walkman. Masih kuingat kami yang saling berbantah-bantahan. Aku merasa kalau di mobil Daus tidak berhak menggantinya, walaupun dengan bacaan Al Quran, karena ini kan mobilku. Tapi kalau di kamarnya bolehlah dia mengganti. Itu kan kamarnya. Aku tantang ia menjelaskan hukum mendengarkan musik dan lagu.

"Sebetulnya masalah musik dan lagu ini ada perbedaan pendapat di antara para ulama. Ada yang mutlak mengharamkan dan ada yang membolehkan." Daus menjelaskan.

"Tuh kan ada yang boleh. Kalau ada yang bilang boleh ya berarti boleh!" tukasku ngotot.

"Nanti dulu, aku belum selesai," sahut Daus. "Para ulama mengharamkan musik disandarkan kepada beberapa hadits. Tapi setelah diteliti hadits-hadits itu lemah. Sedangkan dalam beberapa riwayat ketika Rasulullah saw hijrah ke Madinah disambut dengan shalawat badar yang dinyanyikan oleh seluruh penduduk Madinah baik laki-laki maupun perempuan. Rasulullah saw juga membolehkan adanya rebana saat pernikahan. Menurut DR Yusuf Qardhawy, setelah diteliti dari berbagai ayat dan hadits, hukum nyanyian pada dasarnya boleh, karena tidak ada nash yang mutlak mengharamkannya. Tapi ada beberapa catatan, seperti syair dan cara menyanyikan lagu tidak boleh bertentangan dengan syariat, tidak mengandung sensualitas, tidak dibarengi dengan sesuatu yang haram, dan tidak berlebihan dalam mendengarkan."

"Kalau lagu romantis?" tanyaku.

"Romantis itu kan cinta-cintaan. Membuat orang yang jatuh cinta makin rindu, padahal belum jadi istri atau suami. Biasanya yang menyanyi juga pakai mendesah-desah, atau gayanya sensual. Pikiran jadi melayang-layang. Ini sih jelas hukumnya haram." kata Daus. "Lagu yang sedih juga bisa membuat perasaan jadi mengharu biru dan tambah sedih. Ini juga tidak boleh."

"Kalau begitu yang boleh yang seperti apa?"

"Ulama juga masih berbeda pendapat, tapi pada dasarnya nyanyian yang membawa kita mengingat Allah, yang berisi nasehat, memberi semangat ke-Islaman, dan semacam itu masih dibolehkan."

"Semacam nasyid, begitu ya?"

"Ya! Betul! Tapi kalau terlalu banyak mendengarkan nasyid, juga tidak boleh lho. Sesuatu yang berlebihan itu kan tidak boleh."

"Wahhhh......susah juga nih! Dengerin nasyid banyak-banyak juga nggak boleh. Jadi yang boleh banyak-banyak dengerinnya itu apa dong?" tanyaku protes.

"Yang boleh banget itu bukan dengerin nyanyian, tapi mendengarkan ayat-ayat Al Quran. Lebih bagus kalau berusaha mengerti artinya. Lebih bagus lagi kalau Al Quran dihafal. Kamu tahu? Si Togar itu bercita-cita jadi penghafal Quran. Dia Alhamdulillah sudah hafal 10 juz."

"Hahh??!! 10 juz? Hafal semua tuh? Apa nggak ketuker-tuker ayatnya, suratnya? Kok bisa ya?"

"Ya bisa dong. Jangan norak begitu dong ah! Temanku banyak kok yang hafidz, hafal Quran. Mau kukenalkan sama mereka? Supaya kamu bisa belajar dari mereka."

Daus tersenyum memandangku.

"Heh, ngomong-ngomong kamu sudah hafal berapa juz?" tanyaku penuh rasa ingin tahu. Kala itu Daus cuma tersenyum simpul tak menjawab. Dugaanku sudah berjuz-juz, kutahu dari bacaannya ketika mengimami sholat tahajud. Hidup dua bulan tanpa nyanyian, berteman murottal dan sesekali nasyid.

Dan kini baru saja menginjakkan kaki di kamar sendiri, aku sudah tergoda. Memutar lagu, mengingat-ingat Sabrina. Oh tidakkkkkkkkk! STOPPP!!! Kuraup semua koleksi kaset, CD, dan VCDku, kumasukkan ke dalam kantong plastik besar, dan kuserahkan pada Mbok Mar. "Mbok, ini dibuang ya. Kalau bisa dibakar saja dulu." Mbok memandang wajahku dengan tatapan penuh tanya.

"Ini kan kasetnya Aden. Apa enggak sayang?"

"Si Mbok! Nggak usah dibilangin saya juga tahu ini punya saya!" bentakku. Lalu suaraku melunak, "Tolong Mbok Mar bakar saja. Saya sudah tidak butuh." Aku menutup perintahku dan membalikkan badan.

Yah....kuakui.....IT'S SO HARD TO SAY GOODBYE TO YESTERDAY. Terutama pada semua yang kucintai. Sabrina, musik, dan kebiasaan burukku. Yesterday is yesterday. Sabrina sudah meninggal. Mungkin kelak ia akan jadi bidadari surga. Aku pun kelak akan menemukan bidadariku sendiri, entah di dunia atau di surga. Ya, kelak, kalau aku telah pantas mendadapatkan bidadari ataupun surga.

GOODBYE YESTERDAY! Bagaimanapun episodeku cintaku pada Sabrina telah menggoreskan pelajaran yang mendalam. Membawaku kepada perjalanan mencari cinta yang sejati.

Read more

Mengenai Saya

Foto saya
orangnya gokil abizzz, ga suka marah..., hidup heppy aj kaleee..., ojo gae susah...!!! orep mong cuma sekali... tapi klo leh jujur, q orangx ga neko-neko... paling ngga bisa ngomong yang jelas-jelas... mudah ngga nyambung klo diajak ngobrol... yang jelas gwa CUPU bangetzzzzzzzzzzzz.......

About This Blog

Web hosting for webmasters